NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:8M
Nilai: 4.9
Nama Author: Lea

WARNING!!! BIJAKLAH MEMBACA!!! NOVEL DEWASA!!! JIKA TIDAK SUKA SKIP SAJA .

Laura Elsabeth Queen tidak menduga ia akan bertemu kembali dengan Zafran Volkofrich mantan kekasihnya, di acara ulang tahun teman sekelas mereka, 10 tahun yang lalu mereka berpisah dengan tidak damai, orang tua Laura menentang keras hubungan mereka karena Zafran pria miskin. Zafran masih sakit hati pada Laura dan ingin membalas dendam.

Di sisi lain Laura mengetahui rahasia kedua orang tuanya setelah mereka meninggal, dan kini beban berat berada di pundak Laura.

Sedangkan Zafran pria miskin itu kini telah berubah menjadi penguasa dunia bisnis.

Bagaimana kisahnya yuk baca kelanjutannya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 30

Setelah perdebatan yang panjang, Zafran memilih untuk meninggalkan tempat itu, tentunya dengan tatapan saling siaga di dua kubu.

Zafran menggandeng Laura untuk pergi sedangkan Luwis hanya berdiri mematung melihat kepergian Laura.

Saat berada di koridor Laura penasaran dengan masalah apa yang terjadi di masa sekolah.

"Zafran bisakah kau jelaskan ada masalah apa kalian saat masih sekolah?"

Tanya Laura yang lagi-lagi terseok mengimbangi langkah Zafran, nafas gadis itu terengah.

Zafran berhenti dan menoleh pada Laura.

"Apa kau sesenang itu bertemu Luwis? Sehingga harus tertawa seperti itu dengannya."

"Aku..."

Laura kebingungan bagaimana ia harus menjawab.

Zafran kemudian melepaskan genggaman tangannya pada Laura.

"Sepertinya aku tahu jawabannya."

Kata Zafran, kemudian pria itu pergi meninggalkan Laura yang masih di tengah koridor, Zafran berjalan dengan cepat menuju kamarnya, namun tiba-tiba pria itu menghentikan langkahnya.

"Haish...!!!"

Teriak Zafran membuat Laura terkejut.

"Ada apa dengannya..."

Sahut Laura lirih.

Zafran kemudian berbalik mendatangi Laura lagi dengan langkah kaki yang cepat, Laura menatap Zafran, ia sedikit memundurkan tubuh dan wajahnya seolah tidak ingin tertabrak oleh Zafran.

Dengan cepat Zafran kembali meraih tangan Laura, pria iti menggandeng Laura dan mengajaknya kembali ke kamar.

Setelah sampai di dalam kamar Zafran, pria itu meminta Laura untuk mengambil beberapa berkas yang ada di laci meja.

Zafran duduk di dek kapal lobby kamar nya, meminum alkoholnya.

"Apakah ini?"

Kata Laura menyerahkan berkas tersebut, angin kencang membuat rambut Laura berkibaran.

"Hm... Duduklah."

Kata Zafran menunjuk tempat duduk di sampingnya dengan kode mata nya.

Laura menurut dan duduk di samping Zafran, kemudian pria itu membuka berkas yang sudah Laura ambil, dan menyerahkan pada Laura lagi.

"Falco adalah pria pebisnis dari Afrika, ia sedang berusaha menarik seluruh pebisnis agar mau menanam modal pada proyeknya, dan proyeknya adalah membangun kasino atau tempat perjudian terbesar dan club malam terbesar di dunia, Falco juga akan mempekerjakan gadis-gadis di bawah umur di club tersebut."

Jawab Zafran.

"Apa? Gadis dibawah umur?"

"Ya, dan kabar terakhir yang ku terima tadi pagi, Luwis adalah penanam modal terbesar, aku juga mendapat undangan itu, tapi aku paling benci semua hal yang menyangkut perjudian dan tentang pelanggaran Hak Asasi Manusia, Falco selalu memainkan bisnis kotor."

Laura termenung tidak tahu harus berkata apa.

"Lalu masalah tentang di sekolah itu?"

Tanya Laura masih penasaran.

"Kau pernah bertanya bukan siapa yang menyebarkan berita mengenai aku adalah anak buangan dan anak jalanan, sehingga di sekolah ada grup yang di beri nama Anti Anak Buangan?"

Kata Zafran.

Laura membelalakan matanya.

"Apakah Luwis?"

Tanya Laura.

"Ya, dia juga yang membuat ku selalu dalam masalah di sekolah, ku pikir karena saat itu kita berpacaran dan Luwis juga menyukaimu."

"Kau ingat ketika pulang sekolah dan ketika kita berkencan ada sejumlah preman mengeroyokku?"

Laura mengangguk.

"Luwis yang membayar mereka. Meskipun aku tidak memiliki bukti sampai sekarang, keluarganya sangat memiliki pengaruh besar, tidak akam membiarkan berita buruk mengerang mereka, tapi aku tahu itu adalah perbuatannya."

Laura hanya diam mendengar apa yang Zafran katakan, ia ingin bilang bahwa tidak 100% tuduhan Zafran berdasar, karena Zafran hanya menebak bahwa dalangnya adalah Luwis tapi Zafran tidak memiliki bukti.

Namun Laura tahu, hal yang sangat sensitif jika ia mengatakannya, ia tahu bagaimana perjuangan Zafran saat berada di sekolah, Zafran pintar dan mengandalkan beasiswa sedangkan ia juga bekerja kasar setelah jam sekolah usai.

***

Malam sudah datang, dan sudah beberapa hari kapal pesiar berlayar mengelilingi samudra, kini saatnya kapal akan kembali pulang.

Pesta terakhir akan di adakan malam ini.

Laura sudah mengenakan gaun yang beberapa jam lalu dibawakan Stark atas perintah Zafran. Gaun panjang tanpa lengan itu memeluk tubuhnya dengan anggun, perpaduan warna biru salem dan dusty pink membuat kulitnya terlihat semakin lembut di bawah cahaya lampu kapal.

Seperti biasa Gaby menempel pada Zafran bak lem yang sulit di lepaskan.

Laura datang sendiri, ia tidak ingin membuat Zafran dan juga Edward berselisih. Apalagi siang tadi Zafran juga hampir berkelahi dengan Luwis.

“Aku benar-benar malas,” gerutu Laura pelan.

“Kenapa harus selalu berpesta? Seolah uang mereka tak akan pernah habis. Apa tak ada kegiatan lain selain minum-minum dan omong kosong?”

Jane datang menghampiri Laura yang berdiri menyendiri, sedikit menjauh dari keramaian.

Jane datang menghampiri Laura yang berdiri memisahkan diri dari kerumunan.

"Apa kau sakit?"

"Tidak Jane, aku hanya sedikit lelah, mungkin aku belum terlalu terbiasa dengan acara seperti ini."

Jane tersenyum.

"Kalau begitu istirahatlah ke kamarmu."

Laura menghela napas pelan.

“Aku juga ingin begitu. Tapi kau tahu sendiri, Zafran akan mengeluarkan taringnya jika aku berada di luar jangkauan matanya.”

Jane terkekeh kecil.

"Zafran sebenarnya pria baik, coba kau lihat dia dari sisi yang lain."

Laura tertawa lirih.

“Dari sisi mana, Jane? Aku sudah melihatnya dari sudut-sudut yang bahkan orang lain tak pernah bayangkan.”

"Maafkan aku Laura, aku harus pergi, Philip sudah memanggilku, kau bersenang-senanglah."

Kata Jane berpamitan dan membelai lengan Laura lembut.

"Iya, pergilah."

Sahut Laura sembari tersenyum.

Tak berapa lama...

Laura..."

Panggil seorang pria.

"Luwis..."

Jawab Laura

Senyum ramah mengembang di wajah pria itu.

"Bagaimana kalau kita berjalan-jalan, suasana disini terlalu ramai."

Kata Luwis.

"Aku juga merasa begitu, semua orang sibuk berpesta."

Laura memandang ke sekeliling dan ia sangat tidak suka.

"Mungkin ku tinggal sebentar tidak apa-apa, Zafran juga sedang asik dengan pacarnya."

Imbuh Laura lirih.

Luwis serta Laura berjalan bersamaan, menyusuri koridor, dan saat itulah pandangan Zafran bengis.

Di kejauhan, sorot mata Zafran berubah bengis.

“Bajingan itu…!” geramnya, tangan terkepal kuat.

"Siapa?" Tanya Gaby penasaran.

"Bukankah kau ingin membeli tas?"

Tanya Zafran.

"Apakah boleh, tapi harganya 250juta."

Gaby memainkan kancing baju Zafran dengan jarinya yang lentik.

“Sesuai kemauanmu,” jawab Zafran datar. “Pergilah ke kamarmu atau nikmati malam ini dengan teman-temanmu. Aku ada urusan.”

Kata Zafran sembari melepaskan tangan Gaby.

"Baiklah aku akan minum-minum dengan yang lainnya, jangan lupa untuk ke kamarku nanti malam."

Bujuk Gaby.

Zafran berdiri tanpa mengatakan apapun, pria itu kemudian berjalan dengan cepat, kakinya yang panjang membuat langkahnya terlihat lebar, pria itu menerobos dengan kasar kerumunan para pasangan yang sedang berdansa.

"Hey mau kemana?"

Tanya Edward, memegang bahu Zafran dan menghentikan langkah Zafran.

"Menghabisi pria b*jingan!!!"

Jawab Zafran singkat dan kemudian pergi meninggalkan Edward yang masih tidak mengerti, dan kemudian kembali menari dengan para wanita.

Zafran kalap mencari dimana Laura pergi, kemana Luwis membawa gadis itu, pikirannya kacau hingga ingin menendang dan meruntuhkan kapal itu.

Pria itu tanpa henti menyusuri kapal dengan langkah kasar. Pikirannya kacau. Amarahnya mendidih. Ia membuka beberapa pintu ruangan, menelusuri koridor demi koridor, hingga akhirnya tiba di geladak kapal pesiar menyapu seluruh pandangannya dengan bengis.

Angin laut menerpa wajahnya.

Pria itu mencengkram besi yang berada di dekatnya terlihat Laura dan Luwis mengobrol di sana, ketika Zafran berniat memisahkan mereka, pria itu mengurungkan niatnya dan lebih memilih memperhatikan terlebih dahulu.

Zafran memilih menunggu.

Mengamati.

Apa yang akan Luwis lakukan pada Laura.

bersambung~

1
evanindia
baca ulang lagiii
Novita Sari
Luar biasa
Novita Sari
Lumayan
Yon Taek
Biasa
Bastian Sipahutar
luar biasa keren/Drool/
SariRani
Terbaik author 👍🏻👍🏻semangaaat, maaf baru baca karyamu ini di 2025, keren
Ririn Nursisminingsih
laura juga kbanyakan tingkaj udah tau suaminya cemburuan
Siti Sa'diah
🪭
Noni Diani
Luar biasa
Eka Sri lestari
baru kali ini aku baca novel nangis sesenggukan😭 paling ga bisa klo udh nyangkut org tua,
Alifah Azzahra💙💙
Mampir Thor 🥰🥰
Arini Zain
mampir thor
Rita Murwanti
satu sisi di cintai secara ugal* an satu sisi ada penderitaan ortu untuk kebahagian anaknya
juwita
mampir
Sandisalbiah
intinya suka dgn hasil imajinasimu thor.. sangat puas dan terhibur.. dan abaikan koment yg gak penting.. semangat...
Sandisalbiah
myngkinkah Dex jatuh hati pd Laura...?
Sandisalbiah
lagian di mension Zafran kan banyak penjaga dan oelayan.. jelas² merwka tau Geby sangat berbahaya tp kok begitu mudah Geby bisa masuk slm mension..? apa pengawal mension ada yg berhianat juga?
Sandisalbiah
jila Luwis bukan penghianat jd siapa... Edward juga tdk.. apakah Kate...
Sandisalbiah
leuwis bekerja sama dgn Geby.. dan saat ini leuwis memanfaatkan amneaia Laura buat mendoktrin ingatanya.. dan Geby.. apa yg dia dapat setelah ini.. zonk..
Sandisalbiah
leuwis...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!