Karena terlilit hutang, Lucia harus rela menjadi pelayan di sebuah mansion dan mengabdikan dirinya pada pria yang menjadi tuannya. Bukan hal mudah untuk Lucia bekerja di sana, tuannya adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di Madrid.
Louis nama pria yang mendapat julukan jaguar hitam. Dengan masa lalunya yang kelam, dia membunuh tanpa kasihan. Hatinya dingin tidak tersentuh, hanya ada kekejaman dalam hidupnya.
Lucia mencoba tidak terlibat apa pun dengan Louis. Sayangnya, malam yang kelam memaksa Lucia menerima semua benih dari Louis. Sampai akhirnya Lucia hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alianna Zeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
La Señorita 28 : Los sentimientos de Louis
Vote sebelum membaca😘
.
.
Mata hitamnya terpejam, dengan mulut yang terbuka, membuat Louis tidak tahan untuk memotret putri kecilnya. Begitu menggemaskan hingga membuatnya ingin mencubit pipinya yang membentuk seperti tahu. Tanpa aba-aba, Louis merebahkan tubuhnya di bagian kasur yang kosong, tangannya mencolek pipi putrinya berulang kali. Memaksanya untuk terjaga.
"Bangun, Little Bunny, ini sudah siang, ayo bangun…."
Perlahan, bulu mata lentiknya bergerak, tapi enggan untuk membuka mata. Louis menciumnya sebelum membuka tirai yang mana membuat Louisa merengek dan membalikan badan menyembunyikan wajah di badan Louis.
Pria itu tertawa. "Kau tidak boleh malas, ayo bangun, Lee."
Tidak ada lagi gerakan dari putrinya. "Lee, ayo bangun, akan Daddy buatkan susu dan sandwich."
"Lee ingin tidur," ucap Louisa mengucek mata.
Melihat putrinya hendak kembali tidur, Louis segera duduk sambil menarik tangan Louisa agar ikut bangun. Rengekan kembali terdengar, dia menutup wajahnya sambil menangis, yang mana malah membuat Louis tertawa geli.
"Sayang, ini sudah pagi, kau tidak boleh malas."
Tangisannya malah semakin kencang, apalagi ketika Louis berdiri sambil menggendongnya. Mulutnya yang terbuka dan mengeluarkan suara, membuat Louis berinisiatif menepuk-nepuknya hingga tangisan Louisa terdengar menggelikan.
"Daddy…."
"Lee, tidur sampai siang membuat kepalamu sakit."
"Lee menunggu Daddy pulang sampai malam," ucapnya meredakan tangis saat mendengar suara penuh penekanan milik ayahnya. "Daddy bilang kita akan berlibur."
"Um, maaf, Sayang, minggu ini Daddy sibuk. Minggu depan kita bisa berlayar."
Wajah cemberutnya menandakan Louisa tidak mempercayai, Louis segera melanjutkan, "Daddy serius, kita akan pergi, dengan pesta besar di kapal."
"Pesta apa?"
Tangannya mengusap pipi putrinya yang basah oleh air mata, Louis membawanya ke kamar mandi. "Pesta untuk Mum, jika berjalan sesuai rencana."
"Benarkah?" Matanya berbinar. "Apa Mum dan Daddy akan menikah?"
Louis terkekeh. "Kita lihat nanti. Sekarang, mandi sendiri apa Daddy yang memandikan?"
"Di mana Nanny?"
Louis berdiri, dia melipat tangannya di dada. "Belajar mandi sendiri, oke? Daddy akan menyiapkan bajumu," ucapnya menyalakan shower, yang mana langsung membasahi tubuh putrinya.
Pria itu meninggalkan anaknya di kamar mandi, dia menyalakan monitor tablet yang terhubung langsung dengan kamera di dalam kamar mandi. Sambil memilih pakaian untuk putrinya, mata Louis sesekali menatap layar memastikan dia baik-baik saja di sana. Bukan niatnya mengintip orang mandi, Louis hanya ingin putrinya belajar mandiri tanpa kehilangan rasa aman untuknya.
Kemeja bunga-bunga, dengan rok selutur dan legging menjadi pilihan Louis.
"Lee, jangan lupa sikat gigimu!" Teriaknya memperingati ketika melihat putrinya hendak keluar kamar mandi.
Senyuman Louis tidak bisa ditahan saat melihat Louisa melakukannya.
Mengurus anak adalah hal tabu bagi Louis, yang menyebabkannya baru bisa selesai dalam waktu tiga puluh menit bahkan untuk mengikat rambutnya saja. Yang pada akhirnya, rambut Louisa dibiarkan terurai. Bibir kecil itu mengerucut dengan tangan dituntun ayahnya saat menuruni tangga.
"Daddy akan belajar mengikat rambut lain kali."
Tidak ada jawaban dari Louisa, anak itu hanya menatap ayahnya sambil mengerucutkan bibir, mengingat Louis membuat rambutnya menjadi berantakan.
Dia menduduka putrinya di kursi khusus yang membuat tingginya setara. "Dimana Lucia?" Tanya Louis pada Andrean.
"Dia masih di gazebo depan, Señor."
"Tunggu di sini, oke?" Perintahnya pada Louisa. "Daddy akan memanggil Mum."
Anggukan putrinya membawa Louis untuk berjalan keluar mansion. Langkahnya terhenti sesaat ketika dia melihat sebuah motor sport datang ditunggangi pria. Dia berhenti tepat di depan Louis, membuka pelindung kepalanya. "Anda baik-baik saja, Señor?"
"Bagaimana terlihat?"
"Señorita Lucia berkata kau sakit semalam, dia memintaku membawamu ke dokter."
Louia terdiam, dia memasukan tangannya ke dalam saku. "Itu hanya efek mimpi buruk, kembalilah."
"Dia juga melakukannya 'kan?" Tanya Norman menghentikan Louis yang kembali melangkah. "Lucia membuatkan aroma therapy dari lavender, dia merawatmu semalaman 'kan?"
Louis tetap bungkam, dia pergi begitu saja tanpa berkata apapun. Pikirannya melayang pada kejadian tadi malam yang dipikirnya itu adalah mimpi. Melangkah di atas jalan setapak yang dikelilingi pohon rimbun, persis seperti pulau tropis yanh sejuk.
Dan di sana, Louis melihat Lucia sedang menyiram bunga. Lucia menyadari kedatangan Louis, tapi dia tetap diam berpura-pura tidak mendengar kedatangannya.
"Pelayan bisa melakukannya. Masuklah dan sarapan."
"Aku ingin melakukan ini sekarang."
"Kau ingin membantahku?" Tanya Louis menyandarkan punggungnya di tiang gazebo dengan tangan terlipat di dada. "Lucia."
"Aku akan ke sana jika lapar."
"Louisa harus ditemani."
"Bukannya ada bodyguard dan pengasuh yang menjaganya?" Nada suara Lucia terdengar tidak suka, ditambah bahasa tubuhnya yang memperlihatkan jelas bagaimana dia membenci kedatangan Louis.
"Apa yang sedang kau tahan?"
"Kenapa kau tidak pergi bekerja?"
"Aku tidak akan pergi sebelum kau menyelesaikan masalah denganku."
Lucia membalikan badan. "Masalah? Apa kau berpikir sedang bermasalah denganku?"
"Oke, tenanglah, kau menaikan nada bicaramu."
"Berhenti!" Lucia mengarahkan air peda Louis yang hendak mendekat. "Cukup tinggalkan aku sendiri."
"Kenapa kau semarah ini?"
"Kenapa aku semarah ini? Karena aku terkurung di tempat ini entah sampai kapan, aku ingin keluar dan bebas seperti yang lainnya."
"Kau bisa keluar jika itu yang kau inginkan," ucap Louis dengan tenang. "Kau bisa melakukan apapun yang kau mau."
"Oh, benarkah? Semua yang aku mau? Aku mau keluar dari sini."
Pria itu menyeringai. "Kau sakit, Lucia."
"Tidak, kau yang sakit. Semalaman kau sakit dan membuat tidurku terganggu."
Mata Lucia tetap fokus pada Louis yang berjalan memutari gazebo. Tanpa disangka pria itu mematikan kran, yang membuat air berhenti mengalir. Tubuh Lucia menegang ketika pemilik manik hitam itu mendekat dengan wajahnya yang datar, dia menahan air matanya atas semua rasa sakit di hatinya.
"Kau menahan sesuatu."
"Kau sebaiknya kembali, Señor, aku hanya ingin ketenangan."
Tangannya menahan Lucia yang hendak pergi, dia menarik paksa perempun itu hingga dada mereka beradu. "Lepaskan itu, Lucia," ucapnya sambil mengusap wajah cantik Lucia. "Kau mencintaiku 'kan? Ini saatnya kau mengatakannya."
"Aku tidak mencintaimu," ucapnya penuh penekanan, kepalanya mengadah menatap manik hitam yang sebentar lagi mungkin akan menundukannya.
Louis menyeringai. "Mari kita lihat reaksi tubuhmu saat bersentuhan denganku."
"No, Louis, minggir!"
"Bercinta di alam bebas akan menyenangkan, Lucia, cobalah untuk redam desahanmu."
***
Kening Louis berkerut mendapati tempat yang dimaksud Ricco adalah hutan belantara. Sekian lama dirinya berkendara, tempat ini rawan bagi mereka yang akan membicarakan bisnia ilegal. Dengan segera Louis menghubungi Ricco, antek-anteknya yang bertanggung jawab atas semua pengedar.
"Pergi ke barat daya, ada tempat berkuda di sana."
Sebelum Ricco menjawabnya, Louis lebih dulu mengemudikan mobil. Dalam waktu 30 menit dia sampai ditempat yang dimaksud. Sebuah tempat berkuda, yang cukup ramai apalagi di musim panas. Festival air limun sedang diadakan di halaman depan tempat itu, diikuti oleh berbagai anak-anak yang menginginkan liburan.
Louis yang memakai pakaian layaknya coboy itu turun, dengan kacamata hitamnya dia mendekat pada seorang wanita tua yang bertanggung jawab atas tempat itu. "Señora, bisa aku menunggang kuda?"
Wanita itu menurunkan kacamata, dia berdehem menyadari siapa yang datang. "Señor De La Mendoza?"
"Dimana kudaku?"
"Silahkan," ucapnya mempersilahkan masuk ke dalam, melewati jajaran anak yang bersenang-senang. Dibagian belakang kandang kuda, Louis diberikan kuda berwarna hitam. Selegam maniknya.
Dia menungganginya. "Aku akan berkeliling."
"Sí, Señor," ucapnya membiarkan Louis menunggang dengan kecepatan penuh. Dia ahli dalam menaklukan hewan itu.
Tidak sampai lima menit Louis mengelilingi tempat itu, Ricco datang dengan mobil bak miliknya. Sambil merokok, dia melangkah ke belakang kandang, dimana Louis mendekat dengan kuda hitamnya.
"Señor…"
"Dimana kalian beroperasi kali ini?"
"Sesuai perintahmu, di Barcelona."
Pria bermanik hitam itu turun dari kuda, dia memgisyaratkan Ricco untuk ikut melangkah bersamanya. Mengelilingi lintasan kuda, dengan sesekali melihat sekitar. "Sejak kapan FBI mengincarmu?"
"Sejak Nona Amelia masuk rumah sakit."
Louis menghentikan langkah, dia menyeringai. "Kau bilang menemukan hacker ahli."
"Sí, tapi keamanan Nona Amelia lebih canggih, Señor. Dia bilang itu rumit, aku yakin dia menyimpan semua file transaksi kita di sana."
"Akan aku kirimkan orang-orang di bar, kalian bisa berhenti mengurusi Amelia."
Ricco mengangguk, dia mematikan rokok dengan menginjaknya ketika tinggal sedikit. Ricco melihat sekeliling. "Bagaimana dengan orang-orang FBI itu? Mereka berjaga di depan rumahku, Señor."
"Tetap melakukan apa yang biasa kau lakukan, kecuali mendistribusikan. Kita akan memindahkan markas sabu ke Barcelona, Madrid tidak lagi aman."
"Dan bagaimana dengan rumahku?"
"Kau akan mendapatkan yang baru. Tunggu selama dua minggu, tempat itu akan diratakan dan dijadikan real estate milikku."
Ricco terdiam, dia seakan tidak setuju akan hal itu. "Bagaimana dengan konsumen di Barcelona?"
"Aku menyiapkan kapal di laguna, kau bisa menggunakannya."
"Oke…" Matanya kembali melihat sekeliling. "Bagaimana dengan buku Silver, Señor? Kau sidaj menemukannya?"
Nada bicara Ricco membuat Louis menyeringai samar, pria itu kembali menunggangi kuda. Dia menatap pada pria yang ada di bawahnya. "Jika kau menemukannya, kau bisa mencapai posisi yang kau inginkan."
"Mengambil alih tempat Norman?"
"Jika itu yang kau mau," ucap Louis melemparkan koin pada Ricco. "Selamat mencari keberuntunganmu."
Pria yang dipenuhi tatto itu melihat kepergian Louis dengan kudanya. Dia bahkan masih berdiri di sana ketika Louis memgendarai mobil keluar dari tempat ini. Ricco menggenggam kuat koin di tangannya. "Aku akan menduduki puncak rantai makanan," ucapnya penuh janji pada dirinya sendiri.
Berbeda dengan Louis, pria itu menyeringai seakan tahu apa yang ada dalam pikiran Ricco. Obat-obatan terlarang, senjata api dan pemilik bar-bar malam, itulah yang dilakukan Dioses La Asesinos. Tiga kartel besar di Madrid dipersatukan dalam satu malam oleh Louis, membanjiri Palma dengan darah para pemimpin kartel hingga dirinya berada di puncak rantai makanan.
Bugatti biru kembali berhenti di salah satu rumah sakit di pinggiran kota, bersebelahan dengan alam. Dari luar, rumah sakit itu tampak seperti bangunan kosong. Louis memanipulasi semuanya, agar tidak ada yang curiga dengan asal uang untuk perbaikan rumah sakit ini.
Dia disambut baik oleh perawat di sana. "Selamat siang, Señor, dia baru saja makan siang."
Louis mengangguk, dia melangkah menunu ruangan di lantai dua, tempat dia biasa datang selama beberapa bulan sekali.
Louis menarik napas dalam sebelum membuka pintu, menampilkan seorang wanita gemuk paruh baya yang terbaring di ranjang rumah sakit. Penyakit stroke membuatnya tidak bisa banyak berkata, tapi matanya menjelaskan apa yang ingin diucapkan. Ditambah dengan suara geraman dan rontaan kecil dari tubuhnya yang tidak bisa digerakan.
"Hallo, Mama, kau terlihat baik-baik saja," ucap Louis pada wanita tua yang seluruh rambutnya sudah beruban, keriput pada kulitnya. Tubuhnya terbilang obesitas.
Pria itu duduk di kursi, tangannya terangkat untuk membuka jendela di samping kiri. "Kau harus merasakan udara segar, Mama."
Angin musim panas masuk ke ruangan, membuat wanita itu meronta dengan tatapan marahnya. Louis menatap malas, "Tenanglah, Mama, kau bisa hidup singkat jika tidak berdamai dengan waktu."
Tangan Rosita mengepal, menahan marah pada Louis. Pria itu melihatnya, bukan hal aneh baginya mendapat perlakuan seperti ini. "Aku memimpikanmu setiap malam, ini terjadi saat aku hendak mengunjungimu. Kau benar-benar berpengaruh dalam hidupku, Mama."
Rosita menggeram, ingin memberikan rangkaian kalimat yang nyatanya tidak tersampaikan.
"Aku dapat pelajaran dari seorang wanita. Bahwa kita harus menerima keadaan, dan yakin kebahagiaan akan datang. Tadinya aku ingin mewujudkan harapanmu, Mama, kau ingin mati 'kan? Tapi aku takkan membiarkannya, aku akan merawatmu, menemani sisa-sisa hidupmu, dan hanya wajah aku saja yang kau lihat di akhir hayat."
Tanpa diduga, Rosita meludah hingga mengenai wajah Louis dan dirinya sendiri. Pria itu terkekeh, dia mengusapnya dengan tissue. "Aku tahu kau membenciku, tapi aku akan selalu mencintaimu, Mama, berterima kasih karena kau telah melahirkanku dan memperlakukanku layaknya binatang hingga aku berada di puncak rantai makanan."
Geraman Rosita semakin keras. "Tenang saja, Mama, aku akan sering mengirim foto kebahagiaanku bersama putriku, yang mana akan membuatmu menyesal memperlakukanku seperti itu."
Dengan sekuat tenaga yang dikumpulkan, akhirnya mulut Rosita mengeluarkan kalimat, "Matilah…. Kau…. Anak…. Anak sialan."
Louis menyeringai. "Aku juga akan tetap mencari pria itu, aku akan membawanya untukmu dan menyuruhnya untuk berlutut padamu, Mama….. Tenang saja, anakmu dapat diandalkan."
"Mati…. Kau….."
Sebegitu bencinya Rosita pada dirinya, tidak ada pencapaian Louis yang membuatnya bangga. Dan pria itu tahu, sampai kapanpun, Rosita akan tetap membencinya. Perasaan itu mendarah daging, disaat dirinya hampir sekaratpun, Rosita mendorong putranya untuk segera mati, enggan mengakui.
***
"Sebenarnya kita mau kemana, Daddy?"
"Ada pesta yang akan kita hadiri, Sayang."
Lewat cermin, Lucia melihat bagaimana interaksi keduanya begitu alami. Louisa yang duduk di atas ranjang, dengan Louis yang berjongkok di depannya. Anaknya tampak cantik dengan gaun merah maroon, disertai bandana yang senada, membuat kulit putihnya begitu kontras.
"Apa sudah selesai?" Tanya Lucia pada pelayan yang sedari tadi menjahit di gaun makan malam Lucia yang juga berwarna merah, berlengan panjang dengan punggung terbuka. Berbahan satin, gaun itu terlalu panjang untuk Lucia hingga mengharuskan untuk memotongnya.
Agak kaget melihat pantulan dirinya sendiri dalam cermin, rambut Lucia digelung, menyisakan anak rambut dan poni di bagian depan. Make-up flawless, bibirnya berwarna peach. Sebuah kalung berlian menghiasi lehernya. Sebuah keadaan yang tidak pernah Lucia sangka sebelumnya, dia terlihat seperti nyonya.
"Apa kalian sudah selesai?" Tanya Louis mendekat, pria itu memakai turtleneck hitam dipadukan dengan mantel merah ati. Ketiganya benar-benar senada.
Dan Lucia tidak bisa menyangkal, bahwa Louis benar-benar tampan. Dan perempuan itu masih enggan bicara dengannya atas apa yang terjadi pagi ini.
"Selesai, Señor."
"Punggungnya terlalu terbuka, buat itu tertutup."
Pelayan itu terlihat kebingungan. "Memang seperti ini, Señor, tubuh Señorita kecil, membuat belahan punggungnya terlalu rendah."
Lama Louis menatap punggung terbuka itu. "Baiklah, kita akan terlambat."
"Kemana kita akan pergi, Daddy?"
"Oh, kita akan makan malam, Sayang," ucapnya menggendong anak perempuannya.
Lucia membiarkan pelayan mengenakan mantel berwarma hitam padanya sebelum dia melangkah beriringan bersama Louis, membiarkan tangan pria itu melingkar di pinggangnya.
"Dimana kita akan makan malam, Dad?"
"Diluar, ada pesta yang sedang diadakan."
"Oke," ucap Louisa dengan nada gembira.
Mereka menaiki limosin, Louisa terlihat bahagia dengan banyak makanan di dalamnya. "Daddy, Lee mau itu," tunjuknya pada permen lain saat permen dalam mulutnya hampir habis.
Louis mengangkat toples ketika putrinya hendak meraih. "Jangan terlalu banyak makan permen, gigimu akan rontok, mau?"
Anak itu menggeleng. "Satu lagi?"
Tidak tega melihat manik bulatnya meminta, Louis memberikannya satu.
Berbeda dengan Lucia yang terpaku pada buket bunga lavender dan mawar yang diikat bersamaan. Untuk apa bunga itu? Lucia bertanya-tanya dalam pikiran. Begitu banyak spekulasi yang dipikirkannya, semua yang Louis dan Louisa katakan seakan tidak terdengar. Lucia fokus pada satu titik, ingin segera menumpas rasa penasarannnya.
Hingga akhirnya, mobil itu berhenti di sebuah pemakaman. Cahaya senja mencoba masuk menembus kaca mobil. Karena masih marah pada Louis, Lucia memilih bungkam. Namun, dia tidak bisa diam ketika Louis mengajak putrinya turun dengan buket bunga dibawanya.
Pemilik manik biru itu mengikuti dari belakang, jarak mereka kira-kira 5 meter. Mereka masuk ke pemakaman, membuat Lucia semakin bertanya-tanya. Dia memilih diam di dekat salah satu nisan berbeda saat Louis berhenti juga. Lucia enggan mendekat, dia memilih memasang indra pendengaran dan penglihatannya.
Udara terasa panas, angin membuai membuat dedaunan berjatuhan. Pemakaman yang gersang, tidak banyak pohon yang meneduhi.
Terlihat Louis yang menurunkan Louisa, kemudian memberi buket bunga itu pada nisan yang membuat Lucia penasaran. Jantungnya berdetak kencang saat Lucia tahu makam siapa itu, membaca nama depan Penelope saha membuat darahnya mendidih tidak menerima, apalagi ketika keduanya mulai berbincang, Louis dan Louisa.
"Siapa itu, Daddy?"
Louis berjongkok supaya bisa menyamakan tinggi badan dengan putrinya, dia menggenggam kedua tangan kecil Louisa. "Dia wanita yang Daddy cintai."
Kalimat yang membuat Lucia kehilangan tenaga, tubuhnya seakan tertembak sesuatu, bom atom kembali meledak di hatinya, membuat semuanya berkeping-keping. Lucia tidak tahan, dia memegang dadanya sambil melangkah pergi dari sana. Menggenggam seribu kekecewaan, dengan air mata yang kembali menetes.
"Wanita yang Daddy cintai?"
"Ya, namanya Penelope."
"Kenapa kita ke sini?"
Louis mengusap pipi putrinya yang putih. "Aku akan meminta izin, memberitahu Penelope bahwa Daddy menemukan seseorang yang sangat Daddy cintai dan sayangi."
"Siapa dia?"
Mata bulatnya menatap penasaran, Louis tersenyum kecil. "Kau dan Mum."
"Daddy me amas y Mum?" (Daddy menyayangi aku dan Mum?)
"Lebih dari apapun di dunia ini."
Tangan kecilnya menunjuk nisan Penelope. "Melebihi dia?"
Segera Louis menggenggam kembali tangannya. "Mum adalah orang yang sangat mulia, Sayang. Dia melahirkanmu, membesarkanmu, memberiku malaikat kecil yang sempurna. Tidak ada yang bisa menggantikannya."
Louisa seakan menahan senyumannya. "Apa Daddy sedang jatuh cinta pada Mum?"
Pria itu terkekeh. "Aku jatuh cinta padanya di awal bertemu, dan keberadaanmu menguatkan segalanya."
"Apa akan ada pernikahan besar?"
Louis mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, mengambil ponsel dan memperlihatkan gambar cincin safir. "Bagus 'kan? Cantik seperti mata Mum?"
Anak itu mengangguk setuju. "Apa Daddy akan berbuat baik pada Mum setelah menikah?"
"Oh, Sayang, dia memiliki ruang luas di hatiku. Kemarilah," ucapnya merentangkan tangan membiarkan putrinya memeluknya. "Ibumu adalah lentera hidupku."
----
Love,
ig : @Alzena2108
kereen