Bu Rena adalah guru kelompok bermain (KB) Mentari, sosoknya yang ceria dan supel menjadikannya disukai banyak anak dan teman sejawatnya,
Berkisah tentang segala aktivitas kegiatan mengajarnya, kisah percintaannya, kegiatan dengan masyarakat sekitar dan kesabaran dia dalam menangani banyak anak yang berbeda karakter.
Hingga berakhir dengan kehilangan suami tercintanya yang menjadikan dia kuat harus dalam memulai hari barunya.
Akankah dia bertahan dengan keadaan yang ada? Menikmati kesendirian dan segala kesibukannya? Atau membuka lembaran baru dengan menerima seseorang yang mampu dijadikan sebagai Ayah pengganti untuk anak semata wayangnya Khayrullah Hizam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Widiawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satgas covid (2)
Semangkuk sup iga dan mendoan beserta pelengkap sambal kecap sudah tersaji rapih di meja makan. Siap untuk dinikmati. Piring dan perkakas bekas memasakpun sudah dengan indah berjejer di rak piring . Urusan perbajuan juga tidak luput, sudah terjejer rapih siap untuk menyambut mentari yang akan mengeringkannya.
Rena bersiap, dengan pakaian training, dan masker yang sudah menutup sempurna hidung mulut dan dagunya. Ia beranjak ke arah pawon, mencari suaminya yang seperti biasa terjatah memasak air untuk di minum.
Ya, hari ini ia akan melakukan tugas yang diamanahkan kepadanya oleh pak RT tadi malam.
"Pak, Berangkat dulu ya, si adek masih bobok" Rena meraih tangan suaminya dan menciumnya dengan takzim. Tak tertinggal pula aktivitas rutin suaminya yang mencium dahi dan ke kedua pipinya.
"Iya biarin aja nanti bangun sendiri, ibu hati-hati yaa, semangat dalam bertugas" Suaminya memberikan semangat.
Banu libur lebaran selama 1 minggu. Senin depan dia mulai berangkat. Rena sedikit tenang akan hal itu. Banu menjadi lebih banyak waktu di rumah, meminimalisir berjumpa dengan banyak orang diluaran sana dan otomatis mengurangi resiko terkontaminasi oleh virus korona.
Rena sampai di mushola, tempat yang menjadi titik kumpul untuk pengisian tangki disinfektan yang nanti akan digunakan untuk menyemprot ke seluruh rumah warga.
Ternyata pak RT, pak Darsino selalu sekertaris, Pak Kaswo sebagai bendahara dan pak Sagi sebagai perwakilan seksi keamanan sudah bersiap.
"Asalamualaikum, wah sudah menunggu ya bapak-bapak? Maaf ibu-ibu banyak yang di pegang jadi terlambat. " Rena menyapa mereka satu persatu.
"Ya bu Guru pun paham. " Pak Darsino menjawab di iringi oleh gelak tawa yang lainnya.
"Ngomong-ngomong foto disit kie ya sedulur, mumpung wis kumpul kabeh nggo laporan meng desa bahwa RT ne dewek wis melakukan penyemprotan. "
(ngomong-ngomong foto dahulu ya saudara, mumpung sudah kumpul semua buat laporan ke desa bahwa RT kita sudah melakukan penyemprotan) Pak RT mengeluarkan ponselnya dan meminta kepada salah satu warga yang kebetulan lewat untuk dimintai tolong memotret mereka ber 5.
"Suwun kang. " (Terimakasih kang) Pak RT menerima ponselnya.
Pak RT memberikan beberapa arahan dan pesan-pesan yang harus disampaikan kepada masyarakat tentang cara pencegahan virus korona ini dengan menerapkan langkah 3 M yakni Mencuci tangan, Menjaga jarak dan Menggunakan masker kepada warga. Setelah sekiranya cukup, dilanjutkan dengan doa. Agar dalam melakukan tugas diberikan keselamatan dan kelancaran.
"Kie darsino sing nggendong tangki ne ya, ngko bu guru sing woro-woro nek ana wong sing lagi rubungan, kon bubar, nyampekn sing 3 M mau kae lah nyong kelalen malah jan, karo mbageni masker sedang ya, sewong siji" (itu Darsino yang menggendong tengkinya, nanti bu guru yang memberikan pengumuman jika ada orang yang sedang berkerumun disuruh untuk bubar dengan menyampaikan 3 M tadi itu apa lah aku lupa dan membagi masker satu orang satu) Pak Sagi memberikan tangki kepada Darsino untuk di gendong.
"Wis aja gujih ngko gulik nggendong gentenen, ra usah kawatir. " (Sudah jangan cerewet, nanti gantian menggendongnya, tidak usah khawatir) Pak Sagi membuka suara lagi, saat Darsino sudah mendirikan matanya hendak menjawab.
Mereka berjalan beriringan. Rencana dari ujung timur sampai barat semua rumah tersemprot tanpa terkecuali. Rena dengan ramah memberikan pengertian dan pengetahuan kepada warga apa itu virus korona dan bagaimana cara memutus rantai korona dengan melakukan hal-hal yang sedang digalakan oleh pemerintah. Dan membagi masker kepada masing-masing rumah tangga satu orang satu masker.
"Bu guru maskere namung setunggal nopo mboten kirang? " (Bu guru maskernya cuma satu apa tidak kurang?) Seorang ibu-ibu paruh baya yang sedang di bagikan masker membuka suara.
"Nggih bu, niki namung setunggal, mugi-mugi ngenjang malih dipun paringi masker malih nggih saking desa. " (Iya bu, ini cuma satu, semoga besok diberi lagi oleh desa).
"Berarti nyong ra olih metu-metu kie bu guru? " (berarti saya tidak boleh keluar-keluar nih bu guru) seorang lelaki sebaya dengannya tiba-tiba datang mendekat.
"Keluar boleh mas Eko, tapi harus tetap mematuhi protokol kesehatan. Dengan selalu memakai masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan ya. Di usahakan keluar rumah itu untuk melakukan kegiatan yang mendesak atau benar-benar harus dilakukan, seperti bekerja misalnya. " Rena menjawab dengan senyum mengembang di wajahnya. "Mulai sekarang diusahakan di setiap pintu masuk rumah di sediakan air dan sabun untuk mencuci tangan ya, kalau bisa air yang mengalir nggih pak bu" Rena menambahkan.
"Uis ayuh bu sambung maning, pak RT uis neng ngarep kae nggawa cairan disinfektan. " (Sudah ayok bu, sambung lagi, pak RT sudah di depan membawa cairan disinfektan) Pak Darsino mengingatkan Rena yang sedang asyik memberikan pengarahan kepada warga.
"Oh iya siap beres kemoon. " Rena menjawab pak Darsino. "Ya sudah begitu saja nggih ibu dan bapak semua, semoga informasi yang saya sampaikan bermanfaat, salam sehat selalu untuk warga RT kita. Asalamualaikum " Rena berjalan mengikuti langkah pak Darsino.
"Walaikumsalam" Jawab mereka serempak.
"Kudune tangki semprote kie ana loro ya bu guru, dadi ora kesuwen. Nggalih lah nyong tek balik disit baen. " (Harusnya tangki semprotnya itu ada dua ya bu guru, jadi tidak terlalu lama. Sudah lah saya pulang dulu saja.) Darsino melepaskan tangki yang berisi cairan disinfektan. "Bu guru kene bae disit ya, ngko nyong nyeluk wong siji maning kon ngrewangi, dadi ra kesuwen" (Bu guru sini saja dulu ya, nanti saya panggil orang satu lagi biar bantuin) Beranjak pergi mengabaikan Rena yang masih berdiri sambil memegang tangki.
Alhasil Rena hanya bisa memandang Darsino pergi sambil setengah berlari.
hemm pak Darsino.. Darsino, kenapa gak dari tadi ide briliant nya muncul coba.
seharusnya cerita2 gini nih yg banyak peminatnya bukan hanya tentang CEO aja
aku suka menceritakan kehidupan dan kesederhanaan hidup ,natural ceritanya
makasih y thor
sehat selalu
semangat dan semoga selalu sukses
😍😘🤗
ehhh,,,atau jangan2 emang kisah nyata yaaa
jempol banyak2 dech pokoknya
pinginnya ada bonchap 😁😁😁😁😁😁
terima kasih thor....sukses selalu...