Season 1 (tamat)
Farida tak menyangka, keputusan terlalu cepat yang diambilnya ternyata sangat mempengaruhi kehidupannya di masa depan. Yaitu menikah dengan pria yang sudah menikah sebelumnya dan telah mempunyai anak.
Sifat alpha suami istri yang masing-masing selalu ingin mendominasi juga terkadang menjadi problema. Ditambah lagi dengan usia yang terpaut jauh sehingga mereka harus berhadapan dengan karakter yang berbeda.
Mampukah pernikahan mereka bertahan dengan segala pelik permasalahan di dalamnya?
...
Season 2 (On going)
Segala bentuk keplagiatan bisa dilaporkan ya!
Area dewasa 21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curhat calon ayah di teras rumah
Pukul delapan malam.
Tidak seperti biasanya, Vano pulang mengendap-endap. Bukan tanpa sebab, tapi karena ada buah tangan yang tengah ia bawa. Ia akan sangat malu jika buah tangannya dipergoki oleh seseorang. Seorang Vano mengidam? What? Pasti akan menjadi bahan tertawaan. Ia yakini, ini adalah keanehan di dalam dirinya untuk kesekian kalinya. Bukan benda keramat, juga bukan benda hangat. Tapi buah mangga muda yang pasti asem sangat.
Langkah kakinya sudah sampai di ruang tamu, matanya melihat sekeliling. Dia tersenyum tipis. Sepertinya... situasi aman.
"Daddy bawa apa?"
Astaga, tuyul... Padahal Om tua sudah memastikan kondisinya tadi cukup aman. Kenapa tiba-tiba anak ini muncul dihadapannya? "Ssstt.. bukan apa-apa, ayo naik!" Bisiknya. Tangan kirinya sudah menuntun tangan kecil bocah itu.
"Va, sudah pulang?" Suara Mama terdengar membuat Vano semakin gusar.
"Sudah Ma," yang ditakutkan malah semakin mendekat.
"Itu kamu bawa apa?"
Vano menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Mangga Omaa?" Vano langsung membungkam mulut anaknya. Bocor sudah. Kenapa Jajam tahu nama-nama buah? Oh ya, Vano lupa dia kan sering belajar disekolah.
Mama tersenyum mengejek, "nggak sekalian kamu yang hamil saja Nak?"
"Mama!!" Satu kata yang keluar lumayan meninggi. Ahh, malu sekali.
"Hahaha..." Mama terbahak.
Sudahlah! Nikmati saja, kan dia yang buat anak sendiri.
"Suruh kupasin sama Mbak Min saja sekalian." Saran Mama membuat Vano berpikir. Terlanjur basah ya sudah mandi sekalian.
"Ya udah," Vano meletakkan kantong plastiknya di meja. Kemudian Mama memanggil Mbak Mina untuk mengupas mangga muda.
Rencananya mangga asem itu akan ia nikmati waktu malam nanti.
***
Malam berikutnya bersama makhluk lain.
"Rey, kamu mual nggak sih? Kan kita sama-sama punya bini bunting." Curhat Kakak adik yang sedang berada di teras rumah. Kali ini Rey ikut merokok juga ketularan si manusia horor. "Kalau nggak ngerokok nggak gentle." Rayunya.
"Ini kalau Fitri tahu aku diapain ya?" Gumam Mas Rey. Dia melihat langit-langit atap sambil menghembuskan asap. Membayangkan waktu itu pernah ketahuan merokok. Pulangnya dipukul pakai raket nyamuk.
"Kamu belum jawab pertanyaanku," Vano terus mendesak Reyhan agar menjawab pertanyaan konyolnya.
"Seolah-olah itu masalah terberat di dunia Kak. Ya udah, kalau muntah tinggal ke toilet. Emangnya mau gimana lagi?" Saran Reyhan datar. Dia tidak akan bisa mengerti begitu tersiksanya menjadi Vano sekarang ini.
"Kamu nggak ngalamin kayak aku, jadi kamu nggak ngerti kan?" keluhnya frustasi. "Percuma saja aku ngomong sama kamu."
"Masalahmu itu nggak ada solusinya Kak. Jadi nikmati saja." Jawab Reyhan.
Terdengar Vano mendengus kesal.
"Kamu udah ada nama buat anak kamu yang kedua?" Sama seperti dirinya yang setiap hari browsing. Waktu masih lama, tapi sepertinya dia sudah bingung memberi nama untuk calon anak keduanya.
"Belum, kan masih belum tau perempuan atau laki-laki." Jawab Mas Rey. "Tunggu sekitar dua bulan lagi."
"Menurutmu, nama yang bagus itu seperti apa?" tanya Vano. Dia berpikir, kali ini anak keduanya akan terlahir dari manusia lokal semua tanpa campuran dari manca negara. Yang pasti namanya bukan seperti Mr. James.
"Kalau aku ingin yang ada unsur jawa koreanya mungkin bagus." Sahut Mas Rey.
Jawa Korea? ... Otak keduanya saat ini sedang berkelana.
"Ja tim park!" Ide dari manusia horor. "Kalau bayinya laki-laki." sambungnya kemudian.
"Ada lagi nggak ya ampun, jadi bahan bully nanti di sekolahnya..."
"Katanya Jawa Korea?" Sungut Vano. "Sekarang semua nama pun di bully, namaku yang bagus saja di bully. 'Vano jadi panu." Ucapnya miris.
Vano mengingat waktu masih sekolah, bahkan bukan hanya di bully panu saja. Belakangnya di sertakan kutu, kadas, kudis, kurap dan lain-lain penyakit kulit.
"Gimana kalau Park Ro jikin saja Rey?" Ucapnya sambil menahan tawa.
"Hahahaha.... gila kau!" Reyhan terbahak. "Sekalian saja Park Ha ji, Park Ca mat, Kang pie jet, bang too yeep hahaha... "
"Kalau perempuan?" Reyhan kembali berpikir.
"Kok kita garing banget sih, jadi bahas hal receh begini." Vano menyulut batang rokok kedua. "Kalau see o mai... itu bagus juga Rey."
"Astaga... astaga..." Malah jadi nama jajanan. Reyhan kembali geleng-geleng kepala. Ada-ada saja saran nama-nama aneh itu. "Sudahlah serahkan saja sama yang ngelahirin. Kita hanya supplier benih saja."
Keduanya sempat terdiam beberapa saat. Dua laki-laki itu sedang kompak memikirkan istrinya.
"James lahir SC, itu pun aku nggak nemenin 'W'. Gimana rasanya kalau menemani lahiran normal Rey? Kamu yang sudah pernah mendampingi. Apa begitu mengerikan seperti kata orang-orang bercerita?"
Vano penasaran dengan cerita Rey waktu itu. Sudah dipastikan Vano akan menemani Farida jika jika anak keduanya akan lahir.
"Aku masih ingat benar bagaimana mengerikannya di dalam ruang persalinan." Seperti tercetak dalam-dalam di ingatannya. "Saat istriku mengejan kepalaku rasanya hampir botak karena di jambak dan di--" Cerita Reyhan sempat terpotong melihat ekspresi Kakaknya. Matanya membulat penuh.
Vano langsung mematikan rokoknya, ikut ngilu. "Sudah-sudah! Jangan cerita lagi. Kita bahas yang lain saja."
"Lah kan situ yang nanya tadi."
Rey menelan kembali cerita pahitnya. Heeuuu.... Alat reproduksi saja yang gede, ternyata nyalinya kecil umpat Rey dalam hati.
....
To be continued. @ana_miauw