Putri Wening adalah seorang gadis yang lemah lembut. Dia tinggal bersama ibu dan ayah angkatnya. Suatu hari Wening mendapati ayah angkatnya bersikap tidak wajar. Saat dia tau sikap ayahnya yang tidak baik, lantas dia pun ketakutan. Hingga dia langsung mencari sahabatnya untuk mencari jalan keluar.
Ayu Pratama teman Wening memberi saran agar dia menikah dan pindah dari rumah. Wening setuju, atas usulan Ayu dia membuat janji dengan seseorang yang diatur Ayu.
Tapi setelah bertemu orangnya, Wening kaget ternyata orang yang dipilih oleh Ayu adalah Paman Ayu, Max Pratama.
CEO terkaya dikota Jakarta.
Apakah mereka akan menikah dan hidup bahagia?
Apakah Wenning akan berhasil pergi dari rumah? Dan mendapatkan Suami yang baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon мυмυ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir Anton & Bertemu Mama Mertua
Setelah mengurus semua keperluan Ibunya. Max dan Wening memutuskan untuk pulang kerumah. Wening yang kelelahan langsung tidur dipelukan Max. Saat sudah sampai dirumah. Max menggendong Wening masuk kedalam kamar.
Dengan hati-hati Max meletakan Wening diatas ranjang. Dia membenarkan posisi Wening dan menyelimutinya. Saat dia ingin menelepon seseorang, tangannya dipegang erat oleh Wening. Dalam tidurkan Wening mengigau. Tolong ... tolong. Mendengar itu Max tidak jadi pergi.
Dengan setia Max menemani Wening tidur. Tangannya tak sedikitpun melepas pegangan tangan Wening. Dalam tidurnya Wening selalu merasa gelisah. Max dengan lembut mengelus tangannya, agar lebih tenang. Dan respon Wening pun langsung tenang.
Dirasa sudah tenang, Max merapikan selimut nya. Lalu dia berdiri, expresi wajahnya berubah menjadi lebih bengis. Seperti menahan emosi yang besar. Lalu dia pun keluar dari dari kamar.
Setelah dia keluar dari kamar, langsung menelepon Rama. "Bagaimana keadaan nya, apa masih hidup"ucapnya. Diseberang Rama menjawab, "Dia masih sadar, hanya keadaannya sedikit kasihan, karena saya memberinya sedikit pelajaran."
"Jangan sampai mati dulu, aku yang akan memberikannya sebuah hadiah. Tut sambungan teleponnya langsung Max tutup setelah mengatakan itu.
Disuatu tempat yang sangat gelap. Seseorang terlihat mengenaskan. Wajahnya penuh dengan luka, dengan tangan yang terikat keatas. Siapa lagi dia kalau bukan Anton. Tua bangka yang hampir saja membuat celaka Wening.
Saat itu juga ada seseorang yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan tersebut. Tuk ... tuk suara sepatu menggema diruangan tersebut. Seseorang dengan berpakaian serba hitam, memakai kaca mata dengan, kemeja hitam dengan kancing dua atasnya dibiarkan terbuka. Sarung tangan hitam yang menghiasi tangannya. Dan Membawa sebuah cambuk ditangannya.
Perlahan dia berjalan mendekati Anton. Sambil bersiul dan memainkan cambuk ditangannya. Saat sampai didepan Anton. Dia langsung mencambuk badan Anton. Cetar ... Anton hanya diam karena dia merasakan sakit yang luar biasa.
Seseorang tersebut lalu berkata. "Sudah aku bilang! Berani sentuh dia lagi! Kamu harus mati!ucapnya. Lalu dia kembali mencambuk beberapa kali ke badan Anton Cetar ... cetar ... bunyi nya sangat sakit ditelinga. Pertanda betapa kerasnya dia memukul Anton."
Anton yang menerima itu hanya terbatuk batuk. Saat ingin mencambuknya lagi. Seorang bodyguard membisikan sesuatu. "Pak Pratama, kalau begini terus, dia bisa mati."ucapnya. Iya seseorang tersebut adalah Max Pratama. Dia ingin memberikan pelajaran kepada penjahat tersebut.
Max tidak menghiraukan, dia tetap melanjutkannya. Tanpa rasa belas kasian. Dia terus memberikan Anton sebuah cambukan. Cetar ... cetar ... cetar. Rama yang melihat itu hanya diam saja, dia pun ingin melarang tuannya tapi tidak berani berbicara. Saat ingin mencambuknya lagi Anton berani berbicara. "Pak Pratama, saya salah ucapnya."
Max tidak menghiraukan omongan Anton. Dia hanya tersenyum devil dan ingin mencambuknya lagi. Tapi suara Rama menyadarkan nya. "Pak Pratama, Nona Pratama sebentar lagi pasti terbangun, kalau dia bangun dan tidak melihat anda, dia pasti akan ketakutan,"ucapnya.
Max akhirnya mengalah, dia tidak jadi melanjutkannya. Dia langsung melempar cambuknya ke lantai. Lalu mengatur nafas nya agar emosinya mereda. Dia melihat ke arah Anton dan berkata. "Patahkan tangan dan kaki nya. Buang ke Myanmar Utara, dan jangan biarkan dia mati cepat ucapnya sambil melepas sarung tangannya."
Rama yang mendengarnya, hanya menganggukan kepalanya. Lalu Max pun pergi meninggalkan tempat tersebut. Lalu pulang untuk menemani Wening tidur. Saat sampai dirumah Wening masih terlelap dalam tidurnya, dan dia memutuskan untuk pergi membersihkan diri. Agar bisa tidur bersama. Beberapa saat kemudian, Max sudah selesai mandi. Dia langsung membaringkan badannya disamping Wening. Dan memeluknya hingga tertidur.
Pagi hari telah datang. Mereka berdua masih santai tidur dengan nyaman dikamar. Tapi diluar rumahnya, terdengar suara ribut seseorang. "Dasar anak nakal, tidak mau bawa menantuku pulang untuk bertemu denganku. Memangnya aku tidak bisa datang sendiri?ucap Maya sambil melipat kedua tangannya didada. Dan melihat ke arah rumah Max."
Saat ingin membuka pintu seseorang memanggilnya. "Nenek ucap Ayu. Saat bersamaan dia pun datang ke rumah Max. "Ayu ucapnya sambil memegang tangannya. Kok kamu bisa ada disini?tanyanya."
"Wening dia habis celaka?ucap Ayu. "Hah kenapa dengan cucu angkatku?tanya balik Maya. Diapun tidak tau kalau menantunya adalah cucu angkatnya alias Wening.
Sementara sang Tuan rumah. Mereka masih terlelap dalam tidurnya. Mereka saling berpelukan satu sama lain. Sesaat kemudian Wening terbangun duluan, dia melihat dengan dekat wajah suaminya. Dia tidur dengan damai dan memeluknya erat.
Saat dia sadar, dia langsung panik dan melepaskan pelukannya dengan pelan. Dan dia langsung berbalik badan karena malu. Max yang merasakan pergerakan langsung membuka matanya. Dia melihat Wening yang sedang berpura pura tidur.
Lalu dia pun mulai mendekati Wening dan berkata. "Sudah bangun?ucapnya. Wening yang gugup langsung menjawab. "Belum ucapnya sambil memejamkan matanya." Max yang gemas melihat tingkah Wening langsung mengeratkan pelukannya.
"Kenapa harus menghindar, kenapa tidak lihat saja. Nanti juga terbiasa ucap Max menggoda Wening. Aku ... aku ... ucapnya terhenti karena Max memeluknya lebih erat. "Jangan bergerak,biar aku memelukmu sebentar lagi ucap Max."
Wening akhirnya mengalah dan membiarkan Max memeluknya. Merasa Max berbeda Wening pun berpindah posisi menghadapnya. "Tuan Pratama, kamu kenapa?ucapnya. Max hanya diam dan mendekatkan wajahnya ke wajah Wening.
"Aku takut,takut terlambat sebentar saja. Aku tidak bisa melindungimu. Lalu Wening bangun dari tidurnya. Max pun mengikuti Wening. Saat mereka sudah duduk, Wening memegang tangan Max. Dan tanpa aba-aba dia mencium pipi Max.
Max langsung terdiam, dia tidak menyangka Wening akan mencium nya. Lalu dia pun perlahan mendekat ke wajah Wening. Perlahan tapi pasti wajah mereka berdua sangat dekat. Dan hanya berjarak beberapa centi saja, tapi saat hampir Max bisa mencium Wening. Tiba-tiba seseorang menerobos masuk tanpa mengetuk pintu dulu.
"Wening. Kamu tidak apa apa kan?ucap Ayu menerobos masuk bersama Maya dan pengurus rumah utama. Wening dan Max yang kaget langsung menjauhkan wajah mereka. Saat tahu siapa yang datang, Wening langsung mendorong sedikit Max agar tidak ketahuan. Max pun kaget dengan dorongan Wening, sampai berteriak.
"Nenek ucap Wening. Ayu dan Maya yang melihat kejadian itu jadi terdiam. Mereka merasa tidak enak hati telah mengganggu. Max yang mendengar Wening memanggil Mamanya Nenek langsung tertawa.
"Hahaha ... panggil Mama,"ucapnya. Wening yang kaget langsung menjawab Ini ... tapi terhenti karena omelan Mamanya Max. "Dasar anak nakal, bisa bisanya sama cucu angkatku, berani berbuat macam macam."ucapnya. Dia belum mengerti keadaan yang sebenarnya. Ayu hanya mengangkat alisnya saja.
Sesaat Maya tersadar. Tunggu!ucapnya. Max yang mendengar itu langsung menjawab omongan Mamanya. "Masih belum sadar juga, ini menantu yang mama dambakan, kenapa? Tidak kenal lagi?ucapnya sombong.
Maya yang sadar langsung tertawa. "hahaha Wening? Benarkah apa yang dia bilang?tanya Maya. Wening hanya tersenyum dan mengangguk saja.
"Ahayo ... pengurus cepat ambil semua yang sudah Ibu siapkan untuk menantuku. Rumah,mobil,perhiasan dan semua yang Ibu kumpulkan bawa semuanya!ucapnya pada pengurus.
"Baik Bu, ucap pengurus dengan semangat. Dia pun semangat sekali seperti majikannya Lalu Maya pun duduk disebelah Wening. Lalu dia memberikan gelang yang dia pake kepada Wening.
"Ini adalah pusaka keluarga Pratama. Ini warisan dari Nenek Max. Sekarang, Mama serahkan padamu. Ucapnya sambil memasangkan gelang tersebut ke tangan Wening.
Wening yang melihat itu terlihat ragu. "Ini terlalu berharga, aku tidak bisa menerimanya. Tolak Wening."
Max langsung memegang tangan Wening. Dan mencoba meyakinkannya. "Mama sudah memberikannya kepadanya, terima saja. Mama sudah lama menantikan menantu."ucapnya.
Wening melihat ke arah Max lalu melihat ke arah Maya. "Wening, Max memang agak tua,dan dingin. Tapi dia perhatian. Max yang mendengar itu hanya menghela nafas mendengar perkataan Mamanya.
"Tapi jangan pernah meremehkannya iya, dikeluarga Pratama kalau seorang pria ditinggalkan istrinya. Nanti dia waktu meninggal,tidak akan dimakamkan dikeluarga Pratama.
Max hanya tersenyum melihat candaan Mamanya. Sementara Ayu dia tertawa melihat Pamannya di nistakan. Wening langsung tertawa dan berkata. "Nenek. Max, dia ... sangat baik padaku ucap Wening. Max tersenyum mendengar itu.
Maya yang mendengar Wening masih memanggilnya Nenek langsung menegur pelan. "Wening, kenapa masih memanggil Nenek. Wening yang mengerti, lalu dengan malu malu mengulang panggilannya. "Maaaa ucap Wening."
"Iya, jawabnya dengan tersenyum ceria. Max langsung menyela obrolan mereka. "Ma, Wening baru saja kaget. Butuh banyak istirahat ucapnya.
"Mama sudah dengar dari Ayu barusan. Mulai sekarang, kamu dikeluarga Pratama. Siapapun yang berani menggangumu, Mama yang akan belain kamu ucapnya."
"Dan aku juga! Ucap Ayu dengan mengangkat tangannya. Wening aku kangen sekali sama kamu,ucap Ayu sambil merentangkan tangannya ingin memeluk Wening. Wening pun dengan senyum lebar ingin membalas pelukan Ayu.
Tapi sebelum mereka sempat berpelukan. Mama nya Max langsung mencegah Ayu. "Sudah,sudah tahu Wening tidak apa-apa, Mama jadi lega ucap Maya. Tiba-tiba yang membuat Ayu jadi bingung.
"Kalian istirahat saja iya. Kami pergi dulu ucapnya sambil menarik Ayu keluar dari kamar Max. Ayu yang masih ingin mengobrol dengan Wening langsung memprotes Neneknya.
"Nenek, tapi aku belum selesai mengobrol dengan Wening."ucap Ayu. Tapi Neneknya langsung menariknya dan menutup pintu kamar. Dan membawa dia keluar agar tidak mengganggu mereka.