Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.
Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.
Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 : Mode Senggol Bacok dan Jaket di Lorong Toilet
Kamis pagi di SMA Cahaya Permata diwarnai langit mendung tipis. Jika tadi malam Kiara kegirangan setengah mati sampai menepukkan kakinya ke kasur gara-gara chat dari Khafi, pagi ini ceritanya beda seratus delapan puluh derajat.
Tamparan Pre-Menstrual Syndrome (PMS) ditambah serangan kram hari pertama menstruasi datang tanpa permisi.
Sejak melangkah masuk ke kelas XI IPS 2, raut wajah Kiara sudah tertekuk sempurna. Matanya sayu, pinggangnya serasa mau patah, dan perut bagian bawahnya dihantam kram melilit yang luar biasa menyiksa.
"Pagi, Kia! Wah, cerah banget muka lo hari ini!" sapa Bimo dengan nada ramah yang dibuat-buat sambil tersenyum lebar saat Kiara baru melewati pintu kelas.
Kiara mendelik tajam, menyemburkan kekesalannya tanpa aba-aba. "Bimo! Bisa diam nggak sih?! Muka lo yang sok manis itu bikin pusing kepala gue pagi-pagi! Gak usah nyapa-nyapa deh, risih tau nggak!"
Bimo kaget setengah mati, melangkah mundur dua tindak dengan wajah ketakutan. "Buset... Gue salah apa, Kia? Cuma nyapa doang padahal..."
Belum sempat Bimo bernapas lega, Ferdi yang berjalan dari arah berlawanan sambil membawa buku paket tak sengaja menyenggol ujung meja Kiara saat mau menaruh tasnya.
Brak!
"Ferdi! Punya mata nggak sih?!" omel Kiara melengking sambil memegangi perutnya yang makin melilit akibat hentakan meja. "Jalan tuh pakai kaki sama mata, jangan pakai dengkul! Sengaja banget mau bikin meja gue jatoh?!"
"Aduh, Neng Kiara... hampura pisan, aa teu sengaja," bisik Ferdi panik setengah mati sambil mengangkat kedua tangannya ke udara. "Perasaan cuma nyenggol seujung kuku..."
"Dikit-dikit! Tau nggak perut gue lagi sakit banget?! Sana pergi! Jauh-jauh dari meja gue!" usir Kiara galak dengan mata membelalak.
Bahkan Pandu yang cuma lewat santai di lorong meja sambil bersiul-siul kecil pun tak luput dari sasarannya.
"Pandu! Siul-siul apaan sih?! Sumbang tau gak suara lo! Mending diem deh daripada bikin telinga orang pecah!" semprot Kiara lagi.
Pandu melongo, menunjuk dirinya sendiri dengan penuh kebingungan. "Lah? Gue bersiul pelan banget padahal... Kok gue juga yang kena amuk?"
Melihat 'pembantaian' pagi itu, seisi kelas XI IPS 2 yang biasanya bising kaya pasar kaget mendadak hening seketika. Para cowok langsung merapat ke dinding, takut salah bernapas lalu disemprot oleh Kiara yang sedang berwujud singa betina mengamuk. Bahkan anggota piket hari kamis pun mendadak rajin tanpa harus disuruh dengan omelan membahana Kiara.
Kiara menghentakkan kakinya kasar, menjatuhkan tas cokelatnya ke meja hingga bersuara nyaring, lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi. Ia melipat kedua tangannya di atas meja, menungkupkan kepalanya sambil merintih lemas dan memegangi perutnya yang melilit.
Di deretan belakang, Khafi baru saja selesai merapikan tasnya. Cowok itu melirik jam tangan hitam di pergelangan tangannya, lalu menatap punggung Kiara dengan dahi bertaut tipis.
Semalam di chat nih anak masih aman banget, malah ngambek-ngambek lucu. Lah, pagi ini napa seisi kelas disemprot semua? Gue juga ada salah apa gimana? batin Khafi kebingungan setengah mati.
Khafi bangkit berdiri, melangkah santai dengan gaya penuh wibawa menghampiri meja Kiara. Ia menyandarkan bahunya di tepi meja Neona yang masih kosong.
"Kuntil," panggil Khafi pelan dengan suara beratnya. "Lo kenapa sih? Anak-anak sekelas lo omelin semua. Ketinggalan dompet lo?"
Kiara mendongak tajam. Sorot matanya yang galak melotot lurus tepat ke arah mata Khafi. "Apaan sih, Khaf?! Nggak usah ikut-ikutan nanya! Pusing kepala gue ngeliat muka lo pagi-pagi!"
Khafi mengerjap pelan. Rasa kagetnya ditutup rapat-rapat lewat ekspresi datarnya yang khas. "Biasa aja dong, nggak usah ngegas. Gue kan cuma nanya baik-baik. Lagian semalam lo—"
"GAK USAH BAHAS SEMALAM!" potong Kiara melengking, tangannya mengepal kencang di atas meja. "Gue lagi males banget ngomong sama lo! Sana pergi! Ngapain masih berdiri di situ kayak patung?!"
Neona yang baru masuk pintu kelas buru-buru berlari menghampiri mejanya. Melihat situasi yang makin memanas, Neona langsung memegang lengan baju Khafi, menarik cowok itu mundur dua langkah menjauhi Kiara yang kembali menungkupkan kepalanya ke atas meja sambil merintih pelan.
"Khaf, Khafi... mundur dulu, Khaf Bahaya!" bisik Neona pelan dengan mimik wajah prihatin dan cemas. "Jangan dipancing. Dia lagi PMS hari pertama. Mode senggol bacok itu mah. Kram perutnya lagi parah banget."
Khafi menaikkan sebelah alisnya, dahinya berkerut. "PMS?"
"Iya, dapet hari pertama! Sensitif banget. Semua orang disemprot gara-gara dia lagi nahan sakit luar biasa di perutnya," jelas Neona telaten. "Biarin dulu aja, ntar kalau dipaksa diajak ngobrol malah makin ngamuk se-RT."
"Oh... PMS," gumam Khafi pelan. Cowok itu tidak membalas lagi, tapi pandangan matanya sempat tertuju cukup lama pada jari-jemari Kiara yang meremas kuat ujung rok seragam abu-abunya di bawah meja. Ada rasa cemas yang tak bisa dijelaskan mulai merayap halus di dada Khafi.
Saat jam istirahat pertama, Khafi kumpul bareng Pandu, Ferdi, dan Kevin di warung belakang kantin. Khafi duduk bersandar di kursi plastik sambil memutar-mutar botol minuman di tangannya, pandangannya agak melamun menatap lantai.
"Khaf, lo napa dah dari tadi diam aja? Kesambet setan apaan nih?" tegur Pandu sambil menyantap gorengan hangatnya.
"Cewek kalau lagi PMS... emang separah itu ya sakitnya?" tanya Khafi iba-tiba. Suaranya datar tapi raut mukanya amat serius.
Ferdi yang lagi minum es teh manis langsung tersedak heboh. "Uhuk! Uhuk! Naon?! Si Kapten mendadak nanyain materi biologi cewek?!"
"Serius gue nanya, Di," potong Khafi dingin, menatap Ferdi tajam tanpa bercanda.
Kevin terkekeh pelan, langsung paham arah pembicaraan ini. "Parah banget, Khaf. Nyokap sama adik cewek gue kalau lagi dapet hari pertama tuh, jangankan diajak bercanda ya, dengar suara piring beradu di dapur aja bisa langsung ngamuk. Perutnya tuh kayak diperas atau dikuras dari dalam, makanya lemas, pusing, sama bad mood parah."
"Makanya tadi si Kiara gamuk-ngamuk kayak harimau lepas dari kandang," celetuk Pandu sambil mengelus dadanya prihatin. "Gue cuma bersiul santai aja dibilang suara sumbang bikin telinga pecah."
"Oh... gitu," gumam Khafi pelan sambil mengangguk-angguk kecil. Sekarang dia paham kenapa raut wajah Kiara seharian ini campur aduk antara mau menangis dan mau mencakar orang.
Masuk pelajaran Geografi sebelum jam kosong terakhir, Pak Bambang yang super bawel tiada hentinya menerangkan materi pemetaan sambil melempar pertanyaan mendadak ke siswa. Kiara yang perutnya makin melilit cuma bisa menahan napas, berdoa dalam hati agar jam pelajaran cepat usai.
"Dinda! Sama Kiara!" panggil Pak Bambang di akhir jam pelajaran. "Tolong bantu Bapak bawakan tumpukan buku tugas kelas kalian ini ke kantor guru ya, mau Bapak nilai sore ini."
Kiara yang badannya lemas terpaksa berdiri dari kursinya. Bersama Dinda—sekretaris kelas—mereka membawa tumpukan buku tebal menyusuri koridor menuju kantor guru.
Setelah selesai menaruh buku di meja Pak Bambang, Dinda mendadak dipanggil oleh guru piket. "Kia, lo balik ke kelas duluan aja ya! Gue disuruh ambil lembar soal jamkos dulu nih di ruang piket!"
"Oh, oke, Din..." gumam Kiara lemas. Ia melangkah sendirian menyusuri selasar dekat kantin yang agak sepi gara-gara sebagian kelas sedang jamkos.
Namun, saat berjalan melintasi lorong menuju kantin buat beli air putih hangat, Grizelle merasa ada yang aneh. Beberapa siswi dari kelas lain yang jalan berlawanan arah mendadak menghentikan langkah, melirik ke arah belakang badannya, lalu berbisik-bisik sambil menutupi mulut dengan tangan.
"Ih, kok gak berasa ya tembus gitu?" bisik salah satu siswi pelan tapi masih terdengar.
Kiara makin mengernyitkan dahi. Apaan sih orang-orang? Muka gue aneh ya? Atau ada sampah nempel di baju? batinnya risih setengah mati, tapi badannya terlalu lemas buat peduli.
Saat melangkah dekat belokan kantin, sosok tinggi Khafi mendadak muncul dari arah berlawanan. Cowok itu membawa botol minuman di tangannya.
"Ngapain lo jalan sendirian di sini?" celetuk Khafi begitu melihat Kiara.
Kiara yang memang sudah siap mode senggol bacok langsung mendelik malas. "Terserah gue lah! Lorong sekolah bukan punya bapak lo ya, Khafi! Gak usah kepo!"
"Dih, galak amat. Gue cuma nanya," sahut Khafi seperti biasa, mau mulai membalas ledekan.
Tapi Kiara yang sudah tidak tahan rasa kram dan risih diperhatikan orang-orang langsung memutar badannya malas. "Udah ah, males gue ngomong sama lo!"
Kiara berjalan melewati Khafi begitu saja, berniat langsung kembali ke kelas.
Namun, saat Kiara berjalan membelakanginya, mata tajam Khafi refleks menatap bagian belakang rok seragam abu-abu yang dikenakan Kiara.
Di bagian tengah kain abu-abu itu, tampak noda merah pekat yang cukup lebar tercetak jelas.
Mata Khafi seketika membelalak kaget. Anjir... tembus!
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Khafi langsung melangkah lebar-lebar mensejajari langkah Kiara, lalu berbelok cepat mengambil posisi tepat rapat di belakang punggung cewek itu. Khafi melebarkan bahunya yang tegap, menutupi seluruh pandangan dari arah belakang lorong.
"Heh! Ngapain lo jalan mepet-mepet di belakang gue?!" semprot Kiara kaget, mencoba menoleh galak ke belakang. "Sana jauh-jauh! Nanti dikira orang apaan!"
Khafi tidak mundur sedikit pun. Wajahnya yang biasa datar kini tampak sedikit tegang, tapi suaranya dipelankan sangat rendah saat ia menunduk dekat sekali dengan telinga Kiara.
"Ara, diam dulu," bisik Khafi tegas, dalam, dan sangat serius. "Jangan nengok ke belakang. Rok lo tembus."
Deg.
Dunia Kiara rasanya berhenti berputar saat itu juga. Wajahnya yang tadinya pucat pasi seketika membara panas sampai ke ujung telinga. "A-apa...?"
"Rok lo tembus," ulang Khafi sangat pelan, memastikan tak ada siswa lain yang mendengar. "Ikut gue sekarang. Jalan biasa, jangan terlalu cepat."
Kiara membeku. Rasa malu yang luar biasa hebat menghantam dadanya sampai matanya mendadak berkaca-kaca. Tanpa bantahan lagi, Kiara berjalan kaku dengan Khafi yang menempel ketat di belakang badannya sambil mendorong kedua bahunya dengan tangan—menjadi benteng manusia yang menghalangi tatapan mata orang-orang di lorong.
Khafi mengarahkan langkah mereka menuju toilet cewek di sudut lantai satu yang sepi. Mereka masuk melewati pintu utama area toilet cewek. Di dalam area wastafel, kebetulan ada seorang siswi kelas X yang sedang membetulkan rambutnya di depan kaca.
Kiara langsung bersembunyi kaku di balik punggung lebar Ghibran.
Khari menatap adik kelas itu dengan raut wajah tegasnya. "Dek, tolong bantuin bentar," panggil Khafi santai tapi menuntut.
Adik kelas itu kaget melihat sang Kapten Basket berdiri di dalam area toilet cewek. "E-eh, Kak Khafi? Ada apa, Kak?"
"Tolong beliin pembalut di warung kantin sekarang. Sama kantong plastik hitam," ujar Khafi cepat sambil merogoh dompetnya dan menyerahkan uang lima puluh ribuan. "Cepat ya. Teman gue nunggu di dalam bilik."
"O-oh! Oke, Kak! Siap!" jawab adik kelas itu cekatan, langsung berlari keluar area toilet untuk menolong.
Khafi lalu menoleh sedikit ke belakang punggungnya. "Ara, lo masuk ke bilik paling ujung dulu. Tunggu di dalam."
Kiara yang menahan malu setengah mati tanpa bersuara langsung melesat kaku masuk ke dalam bilik toilet paling ujung dan mengunci pintunya dari dalam.
Sementara itu, Khafi berjalan keluar dari pintu utama toilet cewek, berlari kencang menyusuri tangga naik ke lantai dua menuju kelas XI IPS 2. Cowok yang biasanya selalu berjalan santai dan penuh wibawa itu kini berlari cepat mengabaikan rasa gengsinya.
Brak!
Khafi masuk ke kelas, langsung menyambar jaket varsity bahan parasut tebal warna hitam milik pribadinya yang tergantung di sandaran kursinya.
"Woi, Khaf! Mau ke mana bawa-bawa jaket?!" teriak Ferdi bingung.
Khafi tak menjawab sepatah kata pun. Ia memutar badan dan kembali berlari kencang turun ke lantai satu.
Beberapa menit kemudian, adik kelas tadi sudah kembali dan memberikan kantong plastik hitam berisi pembalut kepada Khafi. Khafi mengucapkan terima kasih singkat, lalu melangkah mendekati pintu bilik paling ujung.
"Ara," panggil Khafi pelan dari balik pintu bilik. "Nih."
Pintu bilik terbuka sedikit. Tangan Kiara yang gemetaran terulur keluar. Khafi menyerahkan kantong plastik hitam disusul dengan jaket varsity hitam tebal miliknya yang menguarkan aroma wangi parfum maskulin khas cowok itu.
"Pakai jaket gue. Ikat lengan jaketnya di pinggang lo buat nutupin bagian belakang rok," kata Khafi pelan dari balik pintu. "Buruan ganti, gue tunggu di luar."
Kiara memegang pembalut dan jaket hitam hangat itu. Rasa haru dan luluh yang membuncah hebat seketika menghancurkan seluruh mode galak dan benteng gengsinya seharian ini.
Sekitar sepuluh menit kemudian, pintu bilik toilet terbuka. Kiara melangkah keluar dengan kepala tertunduk dalam. Jaket varsity hitam milik Khafi sudah terikat rapi di pinggangnya, menjuntai menutupi bagian belakang rok abu-abunya dengan sempurna.
Khafi sedang berdiri bersandar pada tembok sebelah pintu keluar toilet cewek, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Begitu mendengar langkah kaki, Khafi menoleh.
Kiara berdiri di depannya dengan mata yang sudah berkaca-kaca merah, menahan tangis gara-gara panik dan malu luar biasa.
"Khafi...." gumam Kiara pelan, suaranya bergetar menahan tangis. "Makasih ya... tapi gue malu banget, sumpah..."
Khafi menghela napas pelan. Wajahnya yang biasa datar tampak melunak tatkala melihat mata berkaca-kaca cewek di depannya. Khafi menegakkan posisinya, mengusap tengkuknya canggung tapi berusaha terlihat biasa saja.
"Apaan sih, pakai nangis segala, kan wajar." ujar Khafi pelan dengan suara hangatnya. "Udah, nggak usah malu. Gak ada yang liat lagi. Kan udah ditutupin jaket gue."
Khafi berbalik badan, melangkah satu tindak di depan Kiara. "Jalan di belakang gue. Ayo bareng balik ke kelas."
Kiara mengangguk pelan, mengekor di belakang punggung tegap Khafi yang kembali pasang badan memagari pandangan orang-orang di koridor.
Begitu mereka sampai di pintu kelas XI IPS 2, suasana kelas yang tadinya riuh mendadak kaget. Semua mata tertuju pada sosok Kiara yang berjalan di belakang Khafi, lengkap dengan jaket varsity hitam milik Khafi yang terikat rapat di pinggang Kiara.
"Waw! Buset! Ada apaan nih?! Kok jaket si Kapten—" seru Pandu heboh mau menggodai.
"Aduh, Neng Kiaransama Kapten kok—" Ferdi ikut-ikutan mau bersuara.
Namun, sebelum sorakan heboh seisi kelas pecah, Khafi mendadak menghentikan langkahnya di depan pintu. Khafi mengedarkan pandangan tajamnya, melempar tatapan dingin dan peringatan mematikan yang menyapu seisi ruangan.
Seketika itu juga, kelas XI IPS 2 mendadak hening total. Pandu menelan ludahnya kaku, Ferdi langsung pura-pura sibuk membaca buku, dan Bimo mendadak batuk-batuk buatan. Tak ada satu pun cowok yang berani bersuara lagi.
Neona yang duduk di mejanya langsung notice situasi tersebut. Matanya bergulir menatap jaket hitam Khafi di pinggang Kiara, lalu melihat raut wajah Kiara yang memerah dan agak sembab. Neona seketika paham apa yang baru saja terjadi.
Neona langsung berdiri, menghampiri Kiara dengan raut penuh pengertian tanpa bertanya banyak. Ia merangkul bahu Kiara hangat. "Kia, duduk yuk. Gue temenin," bisik Neona lembut.
Kiara duduk di kursinya, mengelus bahan kain jaket hitam milik Khafi yang terasa begitu hangat dan wangi di pinggangnya.
Khafi kembali ke mejanya di belakang, duduk bersandar sambil melipat kedua tangannya di dada. Saat Kiara memberanikan diri menoleh sedikit ke belakang, matanya bertabrakan dengan mata Khafi.
Khafi menganggukkan kepalanya pelan sekali—seolah memberi isyarat 'lo aman sekarang'. Dan di saat itulah, Kiara tahu bahwa di balik sifat galak dan gengsi setinggi langit milik Khafi, cowok itu selalu punya cara paling hangat untuk melindunginya.
semangatt
Harus bngtttt sih kalian baca! Jngn lupa ramein komen, like, sama vote ya guys. Biar Author-nya makin semangat & rajin update! 🚀
gasss terus thor/Determined/
Vibesnya kaya balik lagi ke masa SMA wkwkwkk, karakter plus interaksi Kiara dan Khafi tuh relate dan beneran dapet banget vibes enemies to loversnya.
Awalnya cuman iseng baca tapi makin ke sini makin bikin senyum-senyum sendiri hahaha, alurnya ngalir terus penulisannya juga rapi yang bikin enaknya gitu.
Semangat terus thor, ditunggu update selanjutnya!
Wajib baca sih buat yang suka trope gini, rugi banget kalau kelewatan karena dijamin ketagihan kaya gua