NovelToon NovelToon
Cinta Sang Penguasa Hidden

Cinta Sang Penguasa Hidden

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Deddy kris

​Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dituduh melakukan kejahatan yang tidak pernah ia lakukan oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa menjadi menantu numpang di keluarga kelas menengah, Reno diperlakukan seperti pelayan, dihina oleh ibu mertuanya, dan dianggap suami "tidak berguna" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, satu-satunya alasan Reno bertahan dan berpura-pura menjadi orang miskin adalah untuk melindungi istrinya, Alya, perempuan polos yang pernah menyelamatkan nyawanya.
​Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan Alya dengan seorang pria kaya raya yang sombong. Di hari yang sama ketika surat cerai disodorkan ke wajahnya, organisasi rahasia terbesar di dunia—Grup Naga Hitam—akhirnya menemukan keberadaan Reno.
​Ternyata, Reno bukanlah orang biasa. Dia adalah Tuan Muda Penguasa Tunggal dari keluarga terkaya di benua ini yang sengaja menghilang untuk menyelesaikan misi rahasia.
​Begitu batasan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Era Baru Naga Hitam

Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui jendela kaca raksasa di lantai teratas Istana Naga Hitam ibu kota. Kamar tidur utama yang sangat luas itu didominasi warna putih gading dan emas, memancarkan kemewahan yang tenang dan berkelas.

Alya terbangun dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya. Ia mengerjapkan mata, menyesuaikan diri dengan pendar cahaya pagi. Di sampingnya, sisi tempat tidur sudah kosong, namun jejak kehangatan masih terasa. Alya meraba bantal di sebelahnya, lalu tersenyum getir mengingat betapa sibuknya suaminya itu, bahkan setelah malam pernikahan mereka yang megah.

Alya beranjak dari tempat tidur, melangkah menuju balkon pribadi. Angin pagi yang segar menerpa wajahnya, memainkan rambut hitamnya yang terurai. Dari ketinggian ini, ia bisa melihat seluruh penjuru ibu kota yang terhampar megah. Gedung-gedung pencakar langit berjejer rapi, dan kesibukan kota mulai berdenyut.

Di kejauhan, di area taman Istana yang sangat luas, Alya menangkap sosok Reno. Pria itu mengenakan pakaian olahraga santai, sedang melakukan latihan bela diri rutinnya. Gerakannya sangat presisi, cepat, dan penuh tenaga. Reno tidak pernah melalaikan latihannya, bahkan setelah penobatan dan pernikahan agung. Baginya, kekuatan adalah alat untuk melindungi, dan ia harus selalu siap.

Alya menatap Reno dengan pendar cinta yang amat dalam. Pria yang dulu dianggap 'benalu' oleh keluarganya kini adalah Penguasa tertinggi di negeri ini, pria yang melindunginya dengan seluruh jiwa dan raganya.

Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian kerja yang elegan—setelan blazer berwarna biru dongker yang dipadukan dengan celana kain tegap—Alya turun ke lantai bawah. Di ruang makan kerajaan, Reno sudah menunggunya. Pria itu sudah berganti pakaian dengan setelan jas hitam tanpa dasi, terlihat segar dan tampan.

"Selamat pagi, Permaisuriku," sapa Reno dengan senyuman hangat yang hanya ia tunjukkan pada Alya. Ia berdiri, menarik kursi untuk Alya dengan penuh kesopanan.

"Selamat pagi, Reno," jawab Alya manis, duduk di kursi yang ditarik Reno. "Kamu selalu bangun lebih awal."

"Kebiasaan lama," jawab Reno santai. "Latihan pagi membuat pikiranku jernih sebelum menghadapi tumpukan berkas."

Pelayan menyajikan sarapan mewah—kombinasi hidangan internasional dan lokal yang disiapkan oleh koki-koki terbaik. Mereka sarapan dalam keheningan yang nyaman, sesekali bertukar pandang dan senyum.

Setelah sarapan, mereka melangkah bersama menuju ruang kerja pribadi Reno di Istana. Ruangan itu sangat luas, dengan dinding yang dilapisi rak buku berkayu gelap penuh dengan dokumen dan literatur bisnis global. Di tengah ruangan, terdapat meja kerja raksasa berbahan kayu jati utuh.

Bagas sudah menunggu di dalam ruang kerja, berdiri tegap dengan iPad di tangannya. Tangan kanan Reno itu membungkuk hormat saat Reno dan Alya masuk.

"Selamat pagi, Tuan Muda, Nona Alya," sapa Bagas profesional.

"Pagi, Bagas," jawab Reno datar seraya duduk di kursi kebesarannya. Alya duduk di kursi di samping Reno. "Bagaimana situasi hari ini?"

Bagas mengaktifkan layar hologram dari iPad-nya, menampilkan grafik dan data bursa saham global. "Setelah penobatan dan pernikahan agung kemarin, sentimen pasar terhadap Konsorsium Naga Hitam sangat positif, Tuan Muda. Saham anak-anak perusahaan kita di seluruh dunia mengalami kenaikan signifikan, mencapai rekor tertinggi dalam lima tahun terakhir."

Bagas menggeser layar, menampilkan grafik lain. "Pembersihan total terhadap sisa-sisa aliansi Klan Cendana di ibu kota dan daerah juga berjalan lancar. Seluruh aset korup mereka telah disita oleh negara, dan pengaruh mereka di pemerintahan dan jaringan bisnis telah sepenuhnya dilumpuhkan."

Reno mengangguk tipis, ekspresinya tenang. "Pastikan tidak ada celah bagi mereka untuk bangkit kembali. Pengaruh klan toksik seperti itu harus dimusnahkan sampai ke akar-akarnya."

"Petunjuk dipahami, Tuan Muda," tegas Bagas. "Selanjutnya, mengenai program investasi sosial sebesar seratus triliun rupiah yang Anda umumkan saat penobatan. Dewan Direksi telah merancang struktur organisasinya."

Bagas menoleh ke arah Alya. "Sesuai perintah Tuan Muda, Nona Alya akan memimpin Divisi Pengembangan Sosial dan Kesejahteraan Masyarakat Global Naga Hitam. Divisi ini akan mengawasi penyaluran dana untuk proyek-proyek pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur di wilayah berkembang."

Alya menegakkan tubuhnya, matanya berbinar penuh semangat. Ini adalah tanggung jawab besar yang ia impikan. Ia tidak ingin hanya menjadi istri yang duduk diam menikmati kekayaan Reno, melainkan ingin memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

"Terima kasih, Reno," ujar Alya tulus, menatap Reno. "Aku akan memastikan dana ini disalurkan dengan tepat sasaran, jujur, dan transparan."

Reno memegang tangan Alya yang berada di atas meja, meremasnya lembut. "Aku percaya padamu, Alya. Visi Naga Hitam di era baru ini adalah membawa keadilan dan kemakmuran, bukan hanya menumpuk harta. Dan kamu adalah sosok yang paling tepat untuk memimpin misi mulia ini."

Alya mengangguk mantap. Ia menyadari bahwa posisinya saat ini bukan hanya sebagai Permaisuri Naga Hitam, melainkan sebagai sosok mitra sejajar yang memegang otoritas penuh atas dana yang sangat fantastis. Kekuasaan yang ia miliki sekarang jauh melampaui imajinasinya dulu, namun ia siap mengembannya demi kebaikan.

Sementara itu, di sebuah sudut kota asal Alya, ribuan kilometer dari ibu kota yang megah.

Maya berdiri di depan kompor gas yang usang di dapur rumah kontrakannya yang sempit dan pengap. Ia mengenakan daster batik kusam, wajahnya yang dulu selalu dipoles *make-up* mahal kini tampak kuyu, berkeringat, dan penuh gundukan lemak yang tak terawat.

Tangan Maya yang dulu hanya tahu cara memegang kartu kredit kini sibuk membalik gorengan di dalam wajan berisi minyak panas. Suara desisan minyak terdengar memekakkan telinga, beradu dengan suara batuk Maya akibat asap dapur yang mengepul.

Di ruang tamu yang sempit, Hendra duduk di atas kursi kayu tua yang rapuh. Ia mengenakan kaos oblong putih yang sudah menguning dan celana kain yang lusuh. Hendra baru saja pulang dari pasar, mengantarkan gorengan buatan Maya kepada para pedagang. Wajahnya tampak sangat lelah, penuh garis penyesalan yang mendalam.

Setiap pagi, Maya harus bangun sebelum subuh untuk menyiapkan bahan-bahan gorengan. Ia harus mengupas pisang, memotong tahu, dan membuat adonan tepung dalam jumlah besar. Tidak ada lagi pelayan yang membantunya, tidak ada lagi barang-barang mewah yang bisa ia pamerkan. Hidupnya kini dihabiskan di depan kompor, bergelut dengan minyak panas dan asap dapur demi menyambung hidup dan membayar sisa utang gaya hidup mereka.

"Papi..." panggil Maya dengan suara serak, mengusap peluh di dahinya dengan ujung daster. "Gorengan di pasar laku berapa hari ini?"

Hendra menghela napas panjang, tatapannya kosong menatap lantai semen. "Hanya laku setengah, Mami. Persaingan di pasar sangat ketat. Uang yang kita dapat hari ini hanya cukup untuk membeli bahan-bahan besok dan membayar cicilan utang."

Maya terduduk lemas di bangku kayu kecil di dapur, air mata penyesalan menetes menyusuri pipinya yang kuyu. Ia teringat kembali pada masa-masa saat Reno masih hidup bersama mereka. Pria yang dulu ia maki-maki sebagai 'benalu' itu setiap pagi selalu menyiapkan sarapan mewah untuk mereka, membersihkan rumah tanpa mengeluh, dan selalu sabar menghadapi caci makinya.

Andai saja dulu ia tidak serakah, andai saja ia melihat ketulusan Reno, andai saja ia tidak memaksa Alya bercerai... saat ini ia pasti sedang duduk manis di Istana Naga Hitam, menikmati kemewahan sebagai mertua dari pria terkaya di dunia.

"Mami... penyesalan tidak ada gunanya," bisik Hendra pelan, seolah bisa membaca pikiran istrinya. "Ini adalah hukuman bagi keserakahan kita. Kita harus menjalani hidup ini dengan jujur, seperti yang diminta Alya."

Maya menangis sesenggukan, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang kini kasar dan berbau minyak. Penyesalan itu membakar jiwanya, menjadi penderitaan batin yang jauh lebih menyakitkan daripada kelelahan fisik yang ia rasakan. Mereka telah membuang permata terbaik dalam hidup mereka demi mengejar bayang-bayang semu, dan kini mereka harus membayar harganya seumur hidup.

Di Istana Naga Hitam, Reno dan Alya baru saja menyelesaikan rapat kerja mereka. Alya merapikan berkas-berkas program investasi sosialnya dengan senyuman puas.

Reno berdiri, melangkah mendekati Alya. Ia merangkulkan lengan tegapnya ke pinggang Alya, menarik wanita itu ke dalam dekapannya yang hangat dan protektif.

"Permaisuriku tampaknya sangat bersemangat hari ini," bisik Reno lembut di samping telinga Alya.

Alya menyandarkan kepalanya di dada bidang Reno, menghirup aroma maskulin yang menenangkan. "Aku tidak sabar untuk mulai bekerja, Reno. Aku ingin membuktikan bahwa aku pantas berdiri di sisimu, bukan hanya sebagai istri, tapi sebagai mitra yang bisa kamu andalkan."

Reno tersenyum, mencium kening Alya dengan penuh kasih sayang. "Kamu tidak perlu membuktikannya lagi, Alya. Kamu adalah Permaisuriku, hatiku, dan pilar kekuatanku. Di era baru Naga Hitam ini, kita akan melangkah bersama, membawa keadilan dan kemakmuran, selamanya."

Di puncak Istana Naga Hitam, di bawah pendar sinar matahari pagi yang cerah, Reno dan Alya berdiri bersama, menatap masa depan yang cerah dan penuh harapan. Panggung penyamaran telah runtuh, dan kini mereka membangun panggung kehidupan yang sebenarnya, panggung yang penuh dengan kejujuran, ketulusan, dan cinta yang hakiki.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!