NovelToon NovelToon
IBU TIRI LUAR BIASA

IBU TIRI LUAR BIASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Tiri / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Duda / Cinta Murni
Popularitas:16.4k
Nilai: 5
Nama Author: YoshuaSatrio

Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.

Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.

Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’

Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HIDUP BERDAMPINGAN DENGAN MASALAH

Seorang wanita berpenampilan modis berdiri di ambang pintu, menjinjing tas mahal, bibirnya dipoles merah menyala. Ia menatap jengah pada dua orang yang berdiri terlalu berdekatan di kantor Reylan. Itu Bu Lita.

"Dasar bocah! Ini masih sore, woy! Lagian di luar banyak pengunjung! Dasar nggak tahu malu!" cercanya dengan suara melengking. Lalu ia melenggang angkuh masuk dan melemparkan tubuhnya duduk di sofa kecil di sudut ruangan, seolah kantor itu adalah miliknya.

Kirana menatap canggung pada Bu Lita, wajahnya memucat. Ia langsung mundur dua langkah menjauhi Reylan.

Reylan memutar bola matanya jengah, menatap kakaknya itu lalu kembali duduk di meja. "Kau datang merusak suasana!" ketusnya. "Mau ngapain ke sini?"

Bu Lita tak menggubris ucapan adiknya. Ia menoleh menatap tajam pada Kirana, dari atas sampai bawah. "Kau ke mana saja, Kirana? Ribuan kali aku telepon kamu! Set skincare-ku sudah habis, kau sengaja ya nggak menyisakan untukku? Kau lupa aku ini pelanggan VVIP-mu?" semprot Bu Lita.

Kirana tergagap. Dalam hati ia merasa lelah, muak, dan jijik dengan sikap arogan Bu Lita, tapi di sisi lain ia tak bisa berkutik. Ada rasa takut yang mengikatnya. "E... aku lupa mengisi daya semalam, Mbak. Jadi HP mati," jawabnya terbata.

"Jangan banyak alasan, mana set skincare punyaku!" bentak Bu Lita sambil menengadahkan tangan.

"Tapi... Mbak Lita bisa kasih aku sebagian tagihan yang nunggak dulu? Baru nanti aku kasih yang baru. Soalnya modalnya..." Kirana memberanikan diri memberi alasan.

"Kamu perhitungan padaku!" potong Bu Lita dengan kasar. Ia berdiri. "Hari ini, harusnya kamu berterima kasih karena aku menyelamatkan keperawananmu dari nafsu nakal adikku! Kenapa kau pelit begitu sih?!"

"Hei, kenapa kau menggunakan aku untuk kepentinganmu, Kak?!" sahut Reylan, tidak terima. "Jangan ikut campur urusanku dengan Kirana!"

Bu Lita tertawa licik. "Dia masih terlalu muda untuk kau rusak, Rey! Terimalah dia apa adanya, setidaknya tunggu dia di semester akhir kuliahnya. Kakak akan menikahkan kalian!" ujar Bu Lita, kata-katanya terdengar manis tapi isinya adalah racun. Lalu ia menoleh pada Kirana dengan tatapan mengancam.

"Kau lihat kan, adikku hanya menurut padaku, kau kan cinta mati padanya, hanya aku satu-satunya jalanmu, jadi jangan terlalu pelit padaku, atau kusebar video tanpa busanamu yang itu?"

Darah Kirana seketika berdesir, wajahnya terasa memanas,enahan malu,arah dan lelah di saat yang bersamaan. Tubuhnya gemetar hebat. Ancaman itu, video itu. Satu hal yang membuat Kirana merasa tercekik di depan Bu Lita juga Reylan.

Kirana tak punya jalan keluar selain menurut. Jika video itu tersebar, hancurlah hidupnya, hancurlah nama baik ayahnya, dan yang bagi Kirana paling menakutkan adalah kemarahan Arka, kakaknya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Kirana keluar sejenak dari kantor itu. Ia mengambil ransel besarnya yang ia bawa-bawa ke kampus dan ke beberapa tempat tongkrongan teman-temannya untuk jualan.

Dengan tangan gemetar, ia mengambil satu set skincare yang harganya hampir lima ratus ribu, set terakhir yang seharusnya ia jual untuk menutup modal, lalu kembali masuk ke kantor Reylan dan menyerahkannya untuk Lita.

Bu Lita merebutnya dengan cepat. "Baiklah, terima kasih, kau boleh pergi. Reylan, buatkan aku kopi yang baru ya!" ujarnya dengan santai dan licik, seolah tidak ada yang terjadi. "Eh, yang ini jangan dianggap hutang ya, ini balasan karena aku menyelamatkan wajahmu dan keluargamu! Kau mengerti kan, Kirana?"

Kirana tidak menjawab. Ia hanya menunduk, air matanya sudah hampir pecah. Ia berlari keluar dari kantor itu, keluar dari cafe itu, dengan hati yang berkecamuk pilu, sedih, tertekan, bingung, semua bercampur menjadi satu.

Malam itu, Kirana tidak langsung pulang. Ia memilih berjalan pelan menyusuri trotoar yang sepi, dengan pikiran kalut penuh penyesalan. Menangis tanpa suara sambil memeluk ranselnya, menghabiskan malam tanpa tujuan.

.

.

.

Lampu warung kopi itu menyala temaram. Tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa anak muda yang sedang mengerjakan tugas dan sepasang suami istri tua.

Sutami duduk bercengkerama dengan Bu Wati di meja pojok. Di depan mereka ada dua gelas kopi hitam dan sepiring pisang goreng yang masih hangat.

Bu Wati, dengan daster batik dan kerudung sederhananya, menatap Sutami lekat-lekat. Sebagai senior, ia tahu betul bagaimana wajah Sutami kalau sedang menyembunyikan sesuatu.

"Kau yakin kau baik-baik saja setelah menikah? Aku dengar suamimu punya seorang putera dan seorang putri lain selain Dara yang ikut denganmu ke sekolah waktu itu," tanya Bu Wati pelan, hati-hati.

Sutami tersenyum simpul. Senyum yang ia paksa. Meskipun hatinya begitu sesak, dadanya seperti diremas, tapi ia tidak ada keinginan sedikit pun untuk mengumbarnya dengan mudah. Ia bukan tipe orang yang suka mengumbar aib rumah tangganya.

"Kalau nggak baik-baik saja, aku tidak akan bisa berkeliaran malam-malam begini, Bu Wati," candanya sambil menyeruput kopinya. Pahit.

Bu Wati tidak tertawa. Ia justru menghela napas panjang. "Tami," katanya sambil meraih tangan Sutami di atas meja. "Kau ini muridku, sekaligus adik bagiku. Kau pikir aku tidak hafal caramu tertawa kalau sedang menahan tangis?"

Sutami terdiam, pertahanannya goyah. Ia menggigit bibirnya, sebagai pertahanan terakhir agar air matanya tak jatuh. "Aku tidak tahu harus mulai darimana, tapi hidup ini... hidupku... rasanya...." Sutami tertunduk.

"Baiklah, kau boleh cerita pelan-pelan." Bu Wati beringsut, menggeser kursinya ke samping Sutami.

Sutami menghela napas, mengatur emosinya. "Tadi siang... di rumah orang tuaku..." akhirnya suaranya pecah sedikit. "Aku bertemu Kuswara, Adikku."

Bu Wati mengerutkan dahi. "Kuswara? Kau sudah menikah, apa dia masih terus mencercamu?"

Sutami menghela napas lagi, "Aku sudah bercerita kan alasanku menikah dengan juragan Waluyo. Sekarang dia menekanku, memintaku membujuk Pak Waluyo untuk mengembalikan posisinya," bisik Sutami, air matanya jatuh. Tapi ia masih menahan diri, tidak bercerita tentang fitnah wali murid di sekolah Dara, tentang Kirana, tentang Arka. Ia hanya menceritakan satu bagian kecil yang paling menyakiti hatinya sebagai seorang kakak.

Bu Wati meremas tangan Sutami lebih erat.

"Astaga... Tami, kamu itu terlalu baik. Terlalu memendam semuanya sendiri," ucap Bu Wati dengan suara bergetar. "Kuswara itu sudah dewasa, Tami. Bukan tanggung jawabmu lagi untuk menanggung semua dosanya. Kamu punya Dara. Kamu punya kehidupan baru yang harus kamu jaga."

Sutami mengangguk sambil mengusap air matanya dengan tisu lalu mencoba tersenyum lagi.

"Sudah, Bu. Jangan bahas itu lagi. Saya cuma butuh ngopi malam ini. Terima kasih sudah mau mendengarkan saya. Saya sudah lega bisa keluar sebentar," katanya, mencoba mengalihkan pembicaraan.

Bu Wati menatapnya iba. Ia tahu, juniornya ini masih menyimpan lautan masalah di dalam dadanya yang tidak ia ceritakan. Masalah yang jauh lebih besar dari sekadar Kuswara. Tapi Bu Wati tidak mendesak. Ia hanya mendorong piring pisang goreng ke depan Sutami.

"Makanlah. Kamu kelihatan kurus sekali," kata Bu Wati.

Bu Wati menyandarkan punggungnya, menghela napas menatap kosong keluar jendela besar warung kopi itu. "Setiap orang pasti punya masalah hidup, dan kurasa gadis di trotoar itu juga sedang tak baik-baik saja," ucapnya asal.

Sutami mendongak, menatap ke arah yang sama, dimana seniornya sedang memperhatikan seseorang.

...****************...

Bersambung....

1
sutiasih kasih
kau kira.... iparmu mau khilangan karir demi manusia smpah sprtimu ray....
🙄🙄🙄
sutiasih kasih
lnjutkn kbusukanmu bu lita..... smoga suamimu segera tau wujud aslimu...
sutiasih kasih
tamat lah sudah.....
rasain km arka.... hncur sdh hidupmu....

baguslah klo km hncur... biar mulut busukmu kicep merendhkn ibu sambungmu...
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
habislah kau Arka😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ada karena ada maunya 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
kesempatan tuh Rosa😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sadarlah Kirana 😭😭😭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
woy pacarmu tuh yg palsu😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
good job Tami 👏🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dasar emosional, dengerin dulu alasannya 😏
sutiasih kasih
manusia macam arka.... klo tak dpt karma.... g akn sadar....
biarlah dia trsesat dgn hasutan" saiton.... biar tau rasa klo sdh brjumpa dgn yg nmanya khancuran🙄🙄🙄
juwita
ada org ky di arka goblok bin tolol. org berpendidikan sekolah tersebut tinggi tp bego😡😡
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
Bang yosh sehari up berapa kali woe?
pagi siang menjelang sore
dah kayak orang minum obat aja 🤣
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: pantesan 😄
total 5 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh 😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
🤭🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
semoga rencanamu gagal 😏
yosh—: hm.... kita lihat saja nanti/Casual/
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
itu karena kelakuan pacarmu 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh 😲
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
keputusan yg salah 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!