"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."
Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?
💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB EMPAT: Dua Sisi Koin (Bagian 1)
“Eh, ayo kumpul! Ada meeting bentar,” seorang wanita di pertengahan usia tiga puluhan menepuk pundakku.
“Coming!” kusahut buku catatanku di ujung meja. Buru-buru kususul wanita tadi ke ruang rapat.
Halo! Jangan kaget dengan percakapanku barusan. Aku masih Izang Rahadian Pangestu. Hanya saja aku sedang menjadi pegawai kantoran sekarang. Sudah enam bulan aku bekerja di sini. Entah takdir seperti apa yang kupunya. Aku, yang tidak menggemari komputer, diterima bekerja menjadi software engineer di salah satu perusahaan IT swasta ternama di kota Bandung. Agak mengejutkan memang karena hobiku adalah utak-atik motor, bukan komputer. Awalnya kukira aku tidak akan betah, tapi ternyata di sini juga tidak sesulit kelihatannya. Ara? Ah, dia masih jadi pacarku. Dan tentu dia lebih bahagia karena aku sekarang lebih banyak berdasi dan bercelana kain. Bukan bercelana jeans belel dan berhelm full face.
“Izang, gimana proyek dari pemkot? Lancar?” ketua divisiku menanyaiku.
“So far lancar, Bos. Tinggal butuh sedikit revisi sebelum diujicobakan,” ucapanku barusan mendapat jempol darinya. Yah, untuk ukuran anak baru proyekku sudah bukan proyek kecil-kecilan. Meskipun masih belum pernah ditunjuk sebagai ketua proyek, Andra selalu menempatkanku di proyek-proyek penting. Demi mengejar pengalaman, kilahnya. Ini juga yang membuatku tidak bisa kembali ke hobi balapanku. Sekalinya aku dapat proyek, aku bisa seharian duduk di depan komputer. Terkadang bolak-balik ke lapangan hanya untuk meeting dengan klien. Hm, kunikmati saja. Demi modal menikah dengan Ara sih, aku juga tak peduli kalau disuruh lembur saat weekend.
“Zang, kalau butuh bantuan call me! Jangan sungkan!” Andra menyenggol bahuku saat kami keluar ruangan bersamaan.
Andra, dia anak dari sahabat bapak yang merangkap jadi ketua divisi di kantorku. Dia terpaut delapan tahun denganku dan memang sudah lama bekerja di perusahaan ini. Keisengan bapak saat menceritakan tentangku berbuah rasa penasaran Andra yang ingin merekrutku di divisinya. Dia meminta bapak untuk menyuruhku melamar ke perusahaan. Ada bagian yang kosong tapi Andra ingin tahu detailku secara langsung agar dia bisa menempatkanku di tempat yang tidak akan menyulitkanku sebagai ‘orang awam’. Saat itu bapak sudah mewanti-wanti Andra bahwa aku bukanlah orang yang dia butuhkan, tapi Andra tetap saja nekat dan masa bodoh dengan peringatan bapak. Karena toh, aku tetap harus ikut training dan tes selama tiga bulan penuh. Ya, ya, aku tahu. Kami makhluk sejenis memang. Mungkin ini juga faktor kerasanku di kantor. Karena aku tahu, Andra pasti bisa membackupku bagaimanapun situasinya.
“Santai! Nanti kalau klien udah ngomel-ngomel, baru kukasih ke kamu,” jawabku enteng. Andra menoyor kepalaku.
“Sialan!” dia tergelak sebelum berjalan lebih dulu ke ruangannya. Aku baru berbelok menuju ruanganku saat kudengar ada suara wanita memanggil seseorang. Kutolehkan kepalaku ke belakang. Wanita itu melihat ke arahku.
“Ian!”
Oh, kupikir namaku yang dipanggil. Ternyata Ian.
Aku kembali berjalan karena sadar bukan aku yang dimaksud. Baru berapa langkah, lagi-lagi wanita itu memanggil.
“Ian!”
Ini yang namanya Ian siapa sih? Dipanggil sampai kayak gitu kok belum nongol-nongol juga.
Kudengar derap langkah mendekat ke arahku. Mungkin si wanita tadi berniat menghampiri si empunya nama Ian karena tak kunjung datang saat dipanggil. Aku masih sibuk mencoret-coret buku catatanku saat tiba-tiba lenganku ditarik dari belakang. Aku menoleh dan mendapati wanita yang tadi memanggil-manggil Ian.
“Ian, kamu ini dipanggil bukannya berhenti malah jalan terus aja. Nih, ada tugas dari si Vanno! Katanya kamu suruh nerusin kerjaannya Amel buat bikin kode program. Terus nanti jangan lupa ketemu sama klien di ruang meeting lantai 1, itu proyek divisi kita buat minggu depan. Terus...” wanita dengan identity card Cintya itu berbicara kesana-kemari, menjelaskan sesuatu yang jelas-jelas bukan tugasku. Dan seingatku, Vanno adalah teman Andra. Dia ketua divisi programming yang ruangannya bersebelahan dengan divisi kami. Kusilangkan tanganku di depan dada. Wanita ini jelas mengada-ada.
“Mbak, saya bukan Ian,” perkataanku barusan menghentikan ocehannya. Tak kusangka dia malah tertawa.
“Ian, jangan bercanda! Aku ini lagi serius.”
“Saya lebih berius-rius lagi, Mbak,” kutunjukkan identity cardku di depan matanya.
“Saya Izang. Junior engineer dari divisi Andra, bukan analyst programmer dari divisi Vanno,” wanita itu terkejut, menyadari bahwa aku memang tidak bercanda.
“Lho? Tapi...”
“Permisi, Mbak!” pamitku sambil mengembangkan senyum tipis. Aku meninggalkannya sambil geleng-geleng kepala. Tak habis pikir dengan kejadian barusan. Mungkin wanita bernama Cintya itu kurang fokus. Saking kurang fokusnya sampai salah mengenali orang dari divisi orang lain.
Pandanganku masih tertuju pada catatanku saat tanpa sengaja aku menabrak seseorang yang sepertinya terburu-buru berjalan melawan arahku. Kertas pun berhamburan. Aku dengan sigap membantu laki-laki yang kukacaukan berkasnya itu dan dengan segera menyerahkan berkas yang sudah kupungut dari lantai. Dan saat itulah aku shock setengah mati. Dulu, aku tak percaya dengan omongan bahwa masing-masing kita memiliki tujuh kembaran di dunia. Come on, man! Stop living in delusion, pikirku. Tapi sepertinya aku harus percaya omongan itu sekarang. Laki-laki di hadapanku ini sangat mirip denganku. Rambut, mata, hidung, bibir, tinggi badan, proporsi badan, semuanya. Kukerjapkan mataku beberapa kali, berharap aku sedang berhalusinasi, atau mungkin kelilipan. Tapi laki-laki itu tetap di situ, memandang balik ke arahku dengan tatapan serupa. Kami saling menunjuk satu sama lain sembari berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa ini serius terjadi.
“Kamu divisi apa?” tanya kami bersamaan nyaris seperti saudara kembar yang baru saja bertemu setelah terpisah berpuluh tahun lamanya.
...***...