Ivy Zhang, seorang pengacara cerdas, akhirnya ingin mengakhiri pernikahannya dengan Leo Fung setelah kehilangan bayi mereka.
Namun Leo, suami yang masih mencintainya, menolak melepaskan Ivy.
Di saat yang sama, Calvin Duan, pria berkuasa sekaligus rival Leo, tiba-tiba menjadikan Ivy sebagai pengacara pribadinya. Dengan tujuan yang sulit ditebak, Calvin menyeret Ivy ke dalam perseteruan dengan suaminya sendiri.
Di antara suami yang berkuasa dan klien yang tak kalah berkuasa, siapa yang harus dibela Ivy?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Keesokan harinya.
Fung Group.
Leo sedang berada di ruangannya ketika Wendy tiba-tiba masuk dengan wajah serius. Di tangannya terdapat sebuah dokumen yang baru saja diterima bagian administrasi perusahaan.
"Tuan, ada sesuatu yang harus Anda lihat," ujar Wendy sambil menyerahkan dokumen tersebut.
Leo menerima dokumen itu dengan dahi berkerut.
"Apa ini?"
"Surat gugatan cerai dari Nyonya Zhang."
Tangan Leo yang hendak membuka dokumen itu berhenti sejenak.
"Ivy?"
"Benar, Tuan."
Leo segera membuka dokumen tersebut. Matanya bergerak membaca setiap baris di dalamnya.
Nama Ivy Zhang tercantum sebagai pihak yang mengajukan gugatan perceraian. Alasan perceraian juga tercantum dengan jelas, termasuk bukti-bukti yang telah disiapkan untuk mendukung gugatannya.
Wajah Leo perlahan berubah.
"Dia benar-benar melakukannya..."
"Tuan, surat ini sepertinya juga sudah didaftarkan secara resmi. Pihak pengadilan akan segera memprosesnya."
Leo menutup dokumen tersebut dengan keras.
"Dia bahkan tidak memberitahuku?"
"Tuan, setelah percakapan kalian tadi malam, mungkin Nyonya sudah mengambil keputusan."
Leo terdiam. Ia kembali membuka dokumen tersebut dan membaca isinya sekali lagi.
"Dia ingin benar-benar meninggalkanku..." gumam Leo pelan.
"Tuan..."
"Jangan lakukan apa pun dulu," potong Leo dengan suara dingin.
Wendy terdiam.
Leo menggenggam dokumen itu erat-erat. Untuk pertama kalinya, dia benar-benar merasakan bahwa Ivy tidak lagi sekadar mengancam untuk pergi.
Ivy sudah mengambil langkah pertama untuk meninggalkan pernikahan mereka.
***
Malam hari.
Sebuah club malam.
Ivy sedang duduk bersama Ferry sambil menikmati minuman. Keduanya mengangkat gelas dan bersulang.
"Surat gugatan cerai sudah diterima oleh pihak Leo Fung. Selanjutnya, apa rencanamu?" tanya Ferry.
"Menunggu," jawab Ivy singkat.
"Kalau dia tidak hadir di persidangan?"
"Dia pasti akan melakukan berbagai cara agar perceraian ini tidak berjalan lancar. Tapi kalau dia tetap menolak, aku akan terus mengajukan gugatan sampai dia tidak punya pilihan selain melepaskanku," jawab Ivy tegas.
"Semoga saja keinginanmu segera terkabul. Lebih cepat lepas dari ikatan dengan pria seperti dia, tentu lebih baik," kata Ferry.
Ivy terdiam sejenak sebelum menatap Ferry.
"Kakak, apakah aku sangat bodoh? Seharusnya aku bisa menilai seseorang dengan lebih baik. Tapi aku malah terjebak dalam pernikahan ini."
"Kau bukan bodoh. Dia yang salah karena tidak bisa menjaga dirinya dan terus bermain dengan wanita lain. Itu bukan kesalahanmu," jawab Ferry.
"Dia terlihat seperti pria yang sempurna dari luar. Tapi siapa sangka, setelah bersamanya, aku justru tidak pernah merasakan kebahagiaan. Hatiku sudah lama terasa hampa sampai akhirnya aku tidak sanggup melanjutkan pernikahan ini lagi."
Ivy menundukkan pandangannya.
"Setiap kali melihatnya, aku hanya merasa menyesal dengan pernikahan ini. Kalau dia menyukai wanita lain, baiklah... aku akan pergi. Tapi anakku meninggal karena semua masalah itu. Sekarang, setelah semuanya terjadi, dia malah mempertahankan pernikahan ini."
Ferry mengangkat gelasnya dan bersulang dengannya.
"Ivy, jangan putus asa. Aku akan selalu mendukungmu."
"Kakak, di dunia ini hanya kau yang paling baik kepadaku. Keluargaku sendiri bahkan tidak begitu peduli padaku," ujar Ivy sambil kembali mengangkat gelasnya.
"Kalau begitu, anggap saja aku sebagai keluargamu. Selama ini kita memang sudah seperti adik dan kakak."
"Kakak yang baik," ucap Ivy sambil tersenyum tipis.
Ferry ikut tersenyum, tetapi kemudian wajahnya berubah serius.
"Ivy, belakangan ini apakah kau sudah mendengar kabar tentang Fung Group dan Zhang Group?"
"Aku jarang mengikuti berita tentang mereka. Ada apa?" tanya Ivy.
"Kedua perusahaan itu sedang mengalami masalah. Beberapa proyek mereka gagal dan masing-masing mengalami kerugian yang cukup besar. Saham Zhang Group juga anjlok dan mereka sedang mencari cara untuk mengatasi krisis."
Ferry berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Menurutmu, semua ini hanya kebetulan?"
Ivy mengerutkan kening.
"Mereka bisa saja mengalami masalah serius seperti itu."
"Tapi ada sesuatu yang membuatku curiga," kata Ferry.
"Apa?"
"Saat itu kau pernah memberitahuku bahwa ketika ayahmu melukaimu, Calvin Duan datang dan membelamu. Jangan-jangan semua masalah yang dialami Fung Group dan Zhang Group sekarang ada hubungannya dengan dia?"
Ivy terdiam.
"Fung Group adalah perusahaan besar. Tidak banyak perusahaan dalam negeri yang mampu membuat mereka mengalami kerugian sebesar ini. Salah satunya adalah Duan Group."
Tatapan Ivy perlahan berubah serius.
"Menurutmu, Calvin yang melakukan semua itu?" tanyanya.
"Ini hanya dugaanku. Selain Calvin Duan, aku tidak tahu siapa lagi yang berani menyentuh Fung Group. Para pebisnis di luar sana saja sudah ketakutan hanya dengan mendengar nama Leo. Apalagi sampai berani menyerang perusahaannya. Kalau bukan Calvin, lalu siapa lagi?" jawab Ferry.
Ferry menatap Ivy dengan serius.
"Sepertinya bos barumu ini sangat memihak padamu."
"Dia memang baik, tapi semua itu karena hubungan kerja kami. Duan Group sangat kuat. Aku merasa bangga bisa bergabung dengan mereka," jawab Ivy.
Ivy kemudian melihat waktu.
"Sudah malam. Aku harus pulang."
"Aku akan mengantarmu. Kau sudah mabuk dan tidak bisa pulang sendirian," kata Ferry.
"Baiklah," jawab Ivy.
Mereka pun berjalan keluar dari club bersama.
Namun, baru beberapa langkah meninggalkan tempat itu, tiba-tiba beberapa pria berpostur tinggi menghadang jalan mereka.
Ferry langsung berhenti.
"Kalian siapa?" tanyanya dengan waspada.
Salah satu pria melangkah maju dan menatap Ivy dengan tajam.
"Ivy Zhang, kau telah menyinggung orang yang seharusnya tidak kau ganggu."
Ferry berdiri di depan Ivy.
"Siapa yang mengirim kalian? Kalau kalian berani menyentuh Ivy, kami bisa menuntut kalian."
Pria itu tertawa sinis.
"Hanya seorang pengecut yang berani membayar preman untuk menggangguku," kata Ivy dengan tenang.
Pria tersebut menatap Ivy tajam.
"Aku tahu kalian adalah pengacara. Lalu kenapa? Wilayah ini adalah milikku. Di sini, akulah yang berkuasa."
Dia tiba-tiba meraih tangan Ivy.
"Lepaskan tanganmu!" bentak Ivy sambil meronta dan berusaha menepis tangannya.
Melihat itu, Ferry langsung mendorong pria tersebut hingga mundur beberapa langkah.
"Jangan sentuh dia!"
Namun, beberapa pria lainnya segera maju dan menangkap Ferry dari belakang. Kedua tangannya ditahan kuat sehingga dia tidak bisa bergerak.
"Kakak!" seru Ivy panik.
Pria yang sebelumnya menarik tangan Ivy kembali mendekatinya.
"Jangan melawan kalau tidak ingin temanmu terluka."
Ivy mencoba melepaskan diri, tetapi tenaganya semakin lemah karena pengaruh alkohol.
Beberapa pria kemudian menarik Ivy menuju sebuah mobil yang sudah menunggu tidak jauh dari sana.
"IVY!" Ferry berusaha melepaskan diri dari cengkeraman mereka.
"Kakak!" seru Ivy ketika beberapa pria menariknya menuju mobil.
Ferry berusaha melepaskan diri dari cengkeraman mereka.
"Lepaskan Ivy!"
Saat Ivy hampir sampai di pintu mobil, tiba-tiba terdengar suara mesin mobil melaju kencang dari arah belakang.
BRAKKK!
Sebuah mobil mewah menghantam bagian belakang mobil para preman dengan sangat keras.
Mobil tersebut terdorong ke depan dan kehilangan kendali. Benturan keras membuat kaca belakang pecah, sementara pengemudinya terlempar ke depan akibat benturan.
Para pria yang sedang menarik Ivy sontak terkejut dan melepaskan tangannya.
Ivy segera mundur beberapa langkah.
Ferry juga memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan diri dari cengkeraman dua pria yang menahannya.
Pintu mobil mewah perlahan terbuka.
Seorang pria turun dengan tatapan dingin dan langkah tegas.
Ketika melihat sosok tersebut, Ferry langsung terkejut.
"Calvin Duan..."
sebagai penyemangat untuk memulai harimu😍😍😍😍😍
tambah lagi dooooong. supaya kita gak nunggu lanjutannya dengan penasaran.🙏🙏🙏🙏🙏