NovelToon NovelToon
Bukan Pembantu, Aku Istrinya

Bukan Pembantu, Aku Istrinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Tiga tahun menikah, tiga kali pula Rena harus kehilangan buah hatinya akibat kelelahan fisik dan mental. Di rumah besar milik ibu mertuanya di Solo, Rena bukan dianggap sebagai menantu, melainkan pembantu tanpa gaji yang harus melayani seluruh keluarga besar suaminya tanpa kenal lelah. Ketika kesabarannya habis dan nyawanya terancam, sebuah keputusan besar diambil: Keluarga atau rumah petak sederhana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Skakmat

Map biru berisi salinan laporan keamanan pabrik sawit dan cetakan foto wajah Jefri tergeletak tepat di atas meja kaca teras rumah mewah itu. Suasana di halaman depan mendadak membeku. Siska dan Mira terdiam kaku, sementara napas Mira mulai memburu tidak beraturan saat matanya menangkap foto lelaki suruhannya terpampang nyata sebagai bukti kejahatan.

Bu Darmi yang berdiri di ambang pintu mematung dengan tatapan kosong. Wanita paruh baya itu tidak menyangka rahasia gelap anak bungsunya akan terbongkar secepat ini dan langsung diserahkan di hadapan mereka sendiri oleh anak kandungnya, Gunawan.

"Apa... apa ini maksudnya?" suara Bu Darmi bergetar parah, mencoba mempertahankan wibawanya di hadapan Rena dan Gunawan. "Jangan sembarangan menuduh keluarga sendiri! Mau cari alasan apa lagi kalian untuk memeras kami, hah?"

Rena melangkah maju perlahan. Tidak ada kilatan amarah meledak-ledak di wajahnya; yang terpancar justru ketenangan yang jauh lebih mematikan bagi mental orang-orang bersalah. Dengan anggun, Rena menatap tajam ke arah Mira yang kini salah tingkah dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

"Memeras, Bu? Bukannya justru sebaliknya?" suara Rena terdengar lembut namun menusuk tajam ke dalam hati setiap orang yang mendengarnya. "Selama ini kami hidup tenang, bekerja halal, dan tidak pernah mengganggu kehidupan keluarga di rumah ini. Tapi anak kesayangan Ibu justru menyewa orang bayaran untuk menyelipkan serbuk berbahaya ke dalam katering kami, berniat menghancurkan mata pencaharian puluhan orang demi memuaskan rasa irinya."

Mira yang panik setengah mati berusaha membela diri dengan suara melengking tinggi. "Jangan asal memfitnah ya, Rena! Mana buktinya kalau itu perbuatanku?! Bisa saja itu rekayasa kalian sendiri supaya bisa menjelek-jelekkan keluargaku!"

Mendengar sanggahan penuh dusta itu, Gunawan mendengus sinis. Lelaki itu menatap adiknya dengan sorot mata penuh kekecewaan yang mendalam. "Rekayasa kamu bilang, Mira? Jefri sudah tertangkap basah oleh pihak keamanan pabrik. Dan tidak butuh waktu lama bagi dia untuk bernyanyi dan menyerahkan bukti transfer uang muka dari rekening pribadi kamu!"

Skakmat telak. Nama, bukti transfer, hingga rekaman percakapan digital antara Mira dan Jefri terungkap tanpa ada celah untuk mengelak lagi. Wajah Mira seketika berubah pucat pasi bagaikan mayat hidup. Mulutnya terbuka lebar, namun tidak ada sepatah kata pun yang keluar untuk menyangkal bukti digital yang begitu telak tersebut.

Siska yang berdiri di samping Mira langsung menjauhkan diri, menatap iparnya itu dengan pandangan ngeri dan tidak percaya. "Kamu benar-benar gila, Mira! Mencelakai orang lain cuma gara-gara iri? Kalau sampai perusahaan tahu dan menyeret kita ke jalur hukum, hancur sudah nama keluarga kita!"

Bu Darmi merasakan dadanya kembali dihantam rasa sesak yang luar biasa. Seluruh pertahanan diri dan gengsi yang selama ini ia junjung tinggi runtuh berkeping-keping. Di hadapan menantu yang dulu diusirnya dengan hinaan keji, kini ia dan anak kandungnya justru berdiri sebagai Pesakitan yang tertangkap basah melakukan kejahatan keji.

Rena menarik napas panjang, menatap keluarga mertuanya dengan sisa rasa iba yang perlahan berubah menjadi ketegasan mutlak.

"Kami datang ke sini bukan untuk merusak rumah ini seperti cara kalian merusak usaha kami," ucap Rena penuh wibawa. "Laporan dan bukti digital ini sudah kami pegang salinannya secara resmi. Pihak manajemen pabrik dan kepolisian memberikan hak sepenuhnya kepada kami untuk meneruskan kasus ini ke ranah hukum jika kalian masih mencoba mencari gara-gara lagi."

Mendengar kata kepolisian dan hukum disebut, Bu Darmi langsung kehilangan seluruh tenaganya. Wanita paruh baya itu terhuyung dan hampir jatuh terduduk di lantai teras jika tidak segera ditahan oleh Siska.

"Jangan... jangan laporkan anak saya ke polisi, Gun... Rena..." rintih Bu Darmi dengan suara parau penuh air mata penyesalan yang terlambat. "Mama mohon..."

Rena dan Gunawan berbalik perlahan meninggalkan pelataran rumah mewah tersebut tanpa menoleh lagi ke belakang. Hari itu, sebuah kemenangan telak bukan hanya mengamankan bisnis mereka, tetapi juga meruntuhkan benteng keangkuhan keluarga Bu Darmi untuk selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!