Keluarga suamiku merendahkanku setiap hari, aku di jadikan babu di rumah itu, rumahku sendiri. Tapi suamiku tak peduli, ia hanya bisa terus berselingkuh dengan wanita di Bar.
Satu malam, aku mabuk berat dan tidur dengan pria asing yang ku temui di parkiran, kami melakukannya di mobil.
"Ah...lakukan dengan pelan." Kataku, karena hanya itu yang bisa ku balas pada dunia yang menyakitiku.
Tapi aku tak tau, pria itu ternyata....ketua organisasi paling berbahaya di kota ini.
Sekarang aku terjebak
Antara pernikahan yang akan membunuhku pelan pelan, atau pria yang bisa membunuhku dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Clue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Di kantin Anata group
Clare duduk sendiri di satu meja, ia sedang memakan makanan di hadapannya tanpa bicara. Tiba-tiba Jhon menghampirinya, dengan makanan yang ia bawa.
Dari meja lain terdengar riuh bisik-bisik saat Jhon duduk di samping Clare.
"Tumben sekali Presdir Jhon makan di kantin kita" satu bisikan
"Siapa sebenarnya gadis di samping Presdir itu, aku belum pernah melihatnya" dua bisikan
"bukankah Presdir pilih-pilih makanan" tiga bisikan
"Apakah wanita itu kekasih Presdir?" empat bisikan
Suasana kantin mendadak hening. Semua mata mengarah ke meja pojok tempat Jhon dan Clare duduk.
Clare menunduk. Sendok di tangannya berhenti di tengah. Ia bisa merasakan puluhan pasang mata menusuk ke arahnya. Pipinya memanas.
Jhon tetap tenang. Ia membuka tutup makanan, lalu menyodorkan ayam goreng ke piring Clare tanpa menoleh ke kiri kanan.
"Makan." Perintahnya singkat.
Clare mengangguk kecil. Ia belum sempat menyuap, terdengar suara dari belakang mereka.
"Ehem"
Bima berdiri di ambang pintu, membawa makanan. suara deheman itu berat. Sengaja.
Semua kepala serentak menoleh.
"Ehem," ulang Bima sekali lagi. Lebih keras.
Kantin yang tadinya riuh langsung hening. Hanya suara sendok dan piring yang beradu pelan.
"Permisi, Tuan," kata Bima sambil melangkah ke meja Jhon. Ia membungkuk 45 derajat. "Bolehkah saya makam dengan anda?"
Jhon tidak langsung menjawab. Ia mengusap bibirnya dengan tisu, lalu menatap Bima.
"Silahkan"
Bima melirik sekilas ke arah meja-meja karyawan. Tenggorokannya bergerak.
"Saya... mendengar ada bisikan aneh!"
Beberapa karyawan langsung salah tingkah. Berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Dan mempercepat makannya
Jhon mendecak pelan. Ia menoleh ke Clare yang masih menunduk.
"Masih mau makan?" tanyanya
Clare belum sempat menjawab ponselnya berbunyi terlebih dahulu.
Clare langsung mengangkatnya.
"Apa, Ay. Kamu mau nanyain hal yang sama lagi!" ujar Clare
"Bukan," Jawab Ayana cepat. "Kamu punya tabungan lebih nggak, Clare?" tanya Ayana tiba-tiba
Clare mengerutkan kening. Di seberang telepon suara Ayana terdengar panik dan serak.
"Tabungan lebih? Buat apa?" tanya Clare hati-hati.
Di ujung telepon, Ayana menarik napas panjang. Suaranya bergetar.
"Sinta... neneknya Sinta masuk UGD, Clare. Harus operasi sekarang. Butuh 65 juta, sementara aku nggak punya uang sebanyak itu!"
Clare langsung terdiam. Sendok di tangannya jatuh ke piring. Klang
Jhon yang duduk di sampingnya langsung menoleh. "Ada apa?" cemasnya
"Aku... aku cuma ada 20 juta di tabungan. Apa kamu bisa pinjam ke tuan Jhon?"
"Aku nggak tahu, tapi.Tunggu." Clare menutup mic ponselnya sebentar.
Clare menoleh ke samping. Jhon masih menatapnya dengan alis bertaut.
"Ada apa?" tanya Jhon lagi. Suaranya lebih rendah, nadanya cemas.
"Jhon..." Suara Clare pelan. Ia menunduk, memainkan ujung bajunya. "Boleh... boleh aku minta tolong?"
Jhon menyandarkan punggung ke kursi. "Minta tolong apa?"
"Karyawan Dewana group. Neneknya harus operasi hari ini. Butuh 65 juta."
Clare melirik cepat ke arah Jhon, lalu buru-buru menunduk lagi. "Aku nggak punya uang sebanyak itu... Apakah kamu mau meminjamkan nya padaku?"
Hening.
Jhon tidak langsung menjawab. Ia mengambil gelas air dan meneguknya pelan. Tatapannya tajam menelusuri wajah Clare.
"Dan kamu mau aku yang pinjamkan?" tanya Jhon datar.
Clare langsung menggeleng cepat. "B-bukan, aku tidak bermaksud begitu. Aku... aku cuma mau tanya. Apa kamu kenal siapa yang bisa bantu pinjamkan? Atau... atau ada cara lain?"
Suaranya makin kecil di akhir kalimat. Pipinya memanas karena malu.
*Dasar bodoh, Clare. Mana mungkin dia mau bantuin* batin Clare bersorak saat itu juga
Jhon meletakkan gelasnya. Duk!
"Berapa lama?"
Clare kaget. "Eh?"
"Butuh uangnya berapa lama lagi?" ulang Jhon.
"Sekarang, Jhon. Dokternya bilang harus operasi hari ini juga."
Clare mengepalkan tangan di bawah meja. "Kalau kamu keberatan, lupakan saja. Aku bisa cari cara lain."
Ia sudah mau mengangkat ponselnya lagi untuk bilang "nggak bisa" ke Ayana.
Tapi tiba-tiba pergelangan tangannya ditahan.
Jhon meraih ponsel Clare, lalu menekan tombol speaker.
"Halo?" Suara Ayana langsung terdengar panik dari seberang. "Clare? Gimana?"
Jhon menatap Clare sekilas, lalu bicara ke telepon dengan suara dinginnya yang khas.
"Kirim nomor rekening kamu. Sekarang."
"Ha? Siapa ini?"
"Jhon."
Di seberang langsung terdengar suara isakan. "Terima kasih..."
Clare masih bengong. Matanya berkaca-kaca. "Kamu beneran mau bantu?"
Jhon mengangkat wajahnya. Tatapannya tajam.
"Kamu meragukan ku?"
Dengan cepat Clare mengirim screenshot nomor rekening dari Ayana ke ponsel Jhon.
Beberapa detik kemudian.
Tring..
Notifikasi masuk di ponsel Ayana yang masih tersambung:
*Transfer masuk Rp 100.000.000 *
Dari seberang terdengar jeritan Ayana yang langsung disusul tangis. "Tuan Jhon... makasih. tapi, anda kelebihan mengirim nya"
"simpan saja"
Jhon mematikan sambungan itu. Memberikan ponsel nya kepada Clare
"Makasih, karena kamu mau bantu dia!"
"bukan masalah"