Xiao Lin seorang pemuda murid pelayan di sebuah sekte di bagian timur kekaisaran Angin Surgawi. terkenal sebagai sampah dan selalu di bully oleh murid lain.
Hingga suatu hari saat ia melihat teman nya hampir terbunuh. tiba tiba ia kalap mata dan membunuh murid luar tersebut. namun ia tak menyadari hal apa yang sudah terjadi.
nasib apakah yang di tanggung Xiao Lin di sekte setelah pembunuhan terjadi? mampu kah ia keluar dari masalah itu?
saksikan perjalan hidup Xiao Lin untuk menjadi kuat. membantai setiap musuh yang menghalangi jalan kultivasi nya. hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: kemunculan Jian chen
Lei Hu melangkah maju dengan angkuh, membiarkan percikan listrik ungu melompat-lompat di antara buku-buku jarinya. Tatapan matanya yang haus darah terkunci rapat pada kantong penyimpanan di pinggang Xiao Lin, tempat Inti Kristal Angin Murni raksasa itu baru saja disimpan.
"Lei Geng, apa yang kau lakukan bersujud di depan sampah Pedang Benua ini?" bentak Lei Hu pada murid Kuil Guntur yang diselamatkan Xiao Lin. "Sungguh memalukan! Berdiri di belakangku, dan biarkan aku menguliti bocah tingkat 4 ini!"
Lei Geng gemetar, namun dia tidak berani membantah sang nomor lima. Dia perlahan mundur bersama Liu Ran, menatap Xiao Lin dengan pandangan penuh kekhawatiran.
"Senior Lei Hu," Xiao Lin memiringkan kepalanya, wajah polosnya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. "Gua ini sangat luas. Jika Senior menginginkan Kristal Angin, ada banyak monster lain yang menjaga kristal serupa di lorong-lorong dalam."
"Hahaha! Jangan melucu, bocah sialan!" raung Lei Hu, tawa liarnya menggema di langit-langit kubah batu. "Kenapa aku harus repot-repot mencari monster jika ada mangsa empuk yang sudah mengumpulkannya untukku? Di dalam gua ini, yang kuat berhak mengambil segalanya!"
WUSH!
Tepat saat Lei Hu hendak meledakkan Qi petirnya untuk menerjang maju, dari arah lorong yang dilewati Xiao Lin sebelumnya, berembus sepasang angin tajam yang membawa niat pedang sedingin es. Langkah kaki yang lambat namun berirama terdengar dari kegelapan.
"Ternyata benar tebakanku, jika aku mengikutimu, pasti ketemu jambul merah ini. Xiao Lin, hehe."
Sebuah suara tenang bernada santai memotong atmosfer tegang tersebut. Sosok pemuda berjubah biru tua melangkah keluar dari kabut kegelapan gua dengan tangan kanan bertumpu malas pada gagang pedang tipisnya.
Dia adalah Jian Chen, murid dalam terkuat nomor lima dari Sekte Pedang Benua!
Xiao Lin menoleh dan mengerjipkan matanya terkejut. "Senior Jian Chen? Anda mengikuti saya?"
Jian Chen terkekeh pelan, melirik Xiao Lin dengan binar mata penuh penghargaan. "Sejak di kapal, aku merasa instingmu dalam mendeteksi energi alam sangat tajam. Jadi, aku sengaja menjaga jarak dan mengikutimu dari belakang. Siapa sangka, kau tidak hanya membawaku ke sarang kristal murni, tapi juga mempertemukanku dengan si anjing gila berambut merah ini."
"Jian Chen!" raung Lei Hu, wajahnya seketika menggelap melihat musuh bebuyutannya tiba-tiba muncul. "Kau lagi! Di atas langit kemarin kita terganggu, tapi di dalam labirin bawah tanah ini, tidak akan ada Lei Dong atau Ye Ling yang bisa menghentikan kita!"
"Memang itu yang kuharapkan," jawab Jian Chen dingin. Sepasang matanya menajam, dan dalam sekejap, aura Qi Gathering tingkat 6 puncak miliknya meledak sepenuhnya. Niat pedang yang tajam mengkristal di sekeliling tubuhnya, memotong udara lembap gua hingga berdesis.
Jian Chen melirik Xiao Lin sekilas tanpa menoleh. "Xiao Lin, kau sudah bekerja keras mengalahkan penjaga batu itu dan mengamankan kristalnya. Sekarang, istirahatlah di belakang. Serangga jambul merah ini... biar aku yang meladeninya."
Melihat Jian Chen berdiri membelakanginya untuk melindunginya, Xiao Lin merasakan kehangatan di hatinya. Dia mundur beberapa langkah dengan patuh, sambil terus mengamati situasi dengan cermat.
"Hmph, dua serangga tingkat 6 puncak bersiap untuk saling menggigit," desis Sang Iblis di dalam kepala Xiao Lin dengan nada mencemooh. "Tapi bocah, perhatikan baik-baik cara si anak pedang itu mengalirkan energinya. Dibanding si rambut merah yang hanya mengandalkan otot kasar, anak pedang itu memiliki pemahaman niat pedang yang sedikit lumayan. Ini bagus untuk referensi mata fanamu."
‘Aku mengerti,’ sahut Xiao Lin dalam hati, matanya tidak berkedip sedikit pun.
Di tengah kubah gua raksasa, Lei Hu telah menarik sebilah kapak besar berlapis petir dari punggungnya. Percikan listrik ungu berderit dahsyat, menerangi dinding-dinding gua yang gelap. Di sisi lain, Jian Chen perlahan mencabut pedang tipisnya, memancarkan cahaya perak sedingin salju.
"Mati kau, Jian Chen! Kapak Guntur Pemusnah!" Raungan Lei Hu meledak, menandai dimulainya duel maut antara dua genius nomor lima!
bossss
🐉🐉🐉🐉💪💪💪💪
wuss
🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉
👻👻👻👻👻👻
jedug
🐉🐉🐉🐉🐉
🐉🐉🐉🐉🐉
fgjkitrcv
🐉
🐉🐉
🐉🐉🐉
uh
kejam
kejam
7
🐉🐉🐉
pitu
bantai
🐉🐉🐉🐉
🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉
wolu
🐉👻🐉👻🐉
10
🐉
11
hukum Konoha
👻👻🐉🐉
9
🐉👻
8
🐉
12
🐉