NovelToon NovelToon
Ratu dari Empat Bintang

Ratu dari Empat Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Satu wanita banyak pria
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Felicia Winarko bukan gadis biasa.

Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.

Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.

Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.

Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.

Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.

"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."

Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23 - Harga Diam

"Barang ini," bisik Bu Gina, "bukan milik kami."

Kotak perhiasan bayi itu diletakkan di atas meja kecil dekat ranjang Felicia.

Benda itu kecil, tetapi efeknya lebih berat daripada semua teriakan Pak Tono. Kulit luarnya merah tua, sudutnya aus, kuncinya patah, tetapi lapisan dalamnya masih terlihat mahal. Di tengah kain beludru yang memudar, ada gelang bayi emas tipis dan liontin kecil dengan lambang Tanuwijaya yang hampir tidak terlihat karena goresan.

Hendrick menatapnya seperti orang yang baru saja ditampar oleh masa lalu.

Mama Wenny berdiri diam. "Jadi kamu memang pernah melihatnya."

Hendrick menutup mata. "Itu dari rumah lama."

"Rumah lama yang mana?" tanya Calvin.

Tidak ada jawaban cepat.

Felicia menatap gelang itu tanpa menyentuh. Ada dorongan aneh dari tubuh ini, semacam getaran yang bukan miliknya. Bukan rindu. Bukan sedih. Lebih mirip rasa lapar seorang anak kecil yang dulu tidak pernah diberi jawaban.

Felicia membiarkannya lewat.

Anak itu sudah tidak ada di sini untuk meminta.

Ia yang sekarang hanya mengambil.

"Bu Gina," kata Nathan dengan suara rendah, "tolong jelaskan dari awal. Kami akan mencatat."

Pengacara keluarga segera membuka perekam suara setelah meminta persetujuan. Bu Gina mengangguk, tangannya masih gemetar.

"Saya tidak tahu semua," katanya. "Tono yang lebih banyak tahu. Waktu bayi itu dibawa ke rumah kami, saya baru menikah. Dia pulang malam-malam membawa bayi dan tas. Katanya ada orang kaya yang tidak mau ribut, hanya butuh anak itu disimpan jauh."

Ruang observasi menjadi sangat sunyi.

Om Charles berkata cepat, "Cerita seperti ini tidak bisa dipercaya tanpa bukti."

"Karena itu kotaknya ada," kata Felicia.

Bu Gina mengangguk pelan. "Di tas itu ada beberapa pakaian bayi, uang, dan kotak ini. Tono bilang jangan pernah dijual karena mungkin suatu hari berguna. Saya pikir dia hanya serakah. Beberapa tahun pertama ada uang datang, tidak selalu banyak, tapi cukup. Setelah uang berhenti, Tono mulai sering marah."

Hendrick membuka mata. "Uang dari siapa?"

Bu Gina menggeleng. "Saya tidak pernah melihat orangnya. Hanya transfer dan kadang amplop lewat sopir ojol. Tono yang ambil."

"Nama pengirim?"

"Tidak ada. Atau saya tidak boleh lihat."

Tante Lina mendesis, "Ini semua terlalu nyaman. Tiba-tiba ada cerita, tiba-tiba ada barang. Bisa saja mereka mengarang demi mendapat uang dari keluarga Tanuwijaya."

Bu Gina mengangkat kepala. "Kalau saya ingin uang, saya akan ikut Tono berbohong tadi."

Kalimat sederhana itu membuat Tante Lina terdiam.

Felicia memandang Bu Gina. Untuk pertama kalinya, wanita itu tidak terlihat seperti bagian dari dinding rumah murah. Ia tetap pengecut, tetap terlambat, tetapi setidaknya hari ini ia memilih berdiri di tempat yang membuat kakinya gemetar.

"Kenapa baru sekarang?" tanya Felicia.

Bu Gina menelan air mata. "Karena saya takut."

"Aku tahu."

Jawaban itu membuat Bu Gina menangis lagi.

"Tapi tahu bukan berarti memaafkan."

"Saya mengerti."

Bagus. Setidaknya ia tidak meminta ampun di waktu yang salah.

Calvin mendekat ke meja. Ia tidak menyentuh gelang itu, hanya melihat lambangnya. "Papa?"

Hendrick seperti menua beberapa tahun dalam satu menit. "Lambang itu dipakai di kotak perhiasan keluarga inti. Tidak dijual bebas."

"Jadi tidak mungkin milik Pak Tono," kata Sebastian.

"Tidak."

"Dan tidak mungkin kebetulan ada di rumah keluarga asuh Felicia."

Hendrick menunduk. "Tidak."

Mama Wenny menatap suaminya. Kali ini tidak ada air mata. Hanya kekecewaan yang terlalu kering untuk jatuh. "Berapa lama kamu tahu ada kemungkinan dia anakmu?"

Hendrick tidak sanggup menatapnya. "Beberapa waktu."

"Sebelum Calvin membawa dia ke studio?"

Diam.

Calvin tertawa pelan.

Itu suara yang membuat Felicia menoleh.

Senyum Calvin muncul, tetapi tidak ada lucunya. "Jadi semua orang dewasa di rumah ini punya rahasia, lalu aku yang disebut terlalu dekat dengan Ci."

"Calvin," kata Mama Wenny.

"Tidak apa-apa, Ma." Ia menatap Hendrick. "Aku cuma sedang belajar betapa kreatifnya keluarga kita."

Om Charles menggunakan kesempatan itu. "Lihat? Inilah alasan pengakuan ini harus ditunda. Anak-anak saja sudah kacau. Hendrick, pikirkan posisi Wenny, posisi Calvin, posisi keluarga besar."

Felicia bersandar kembali ke bantal. "Kamu sangat peduli pada posisi orang lain."

"Tentu."

"Terutama posisimu sendiri."

Wajah Om Charles menegang.

Felicia menunjuk kotak perhiasan dengan dagu. "Terima kasih sudah membawa Pak Tono dan Bu Gina. Tanpa mereka, kotak ini mungkin masih terkubur di rumah murah itu. Kamu membantu membuktikan aku bukan orang luar yang bisa kamu usir dengan kata aib."

Clarissa menatap ayahnya. Untuk pertama kalinya, rasa percaya diri di wajahnya retak karena ia sadar serangan keluarga mereka baru saja memperkuat musuh.

Nathan berkata kepada pengacara, "Kotak ini diamankan sebagai barang bukti. Bu Gina perlu membuat pernyataan tertulis. Insiden Pak Tono dan riwayat kekerasan juga harus masuk catatan."

Pengacara mengangguk. "Akan saya siapkan."

Sebastian menambahkan, "Sampel sidik jari pada kotak mungkin sudah tercemar karena lama disimpan, tapi dokumentasi foto tetap perlu dilakukan sebelum disentuh lagi."

"Lakukan," kata Felicia.

Tidak ada yang bertanya mengapa pasien di ranjang itu memberi perintah. Mereka hanya bergerak.

Yesika masih berada dekat dinding, terlalu pintar untuk menyela, terlalu terlambat untuk pergi tanpa terlihat. Ponselnya kembali bergetar. Ia menunduk, membaca pesan, lalu wajahnya berubah sedikit.

Felicia melihatnya. "Rekaman parkir?"

Yesika mengangkat mata. "Sedang diambil."

Ponselnya bergetar lagi sebelum ia sempat menurunkan tangan.

Kali ini Nathan juga menerima pesan dari staf sekolah. Ia membuka file tanpa suara. Di layar, rekaman kamera parkir sponsor muncul dalam kualitas yang tidak sempurna, tetapi cukup jelas.

Pukul 09.07, sebuah Alphard putih berhenti di dekat jalur samping kandang. Platnya tertutup pantulan lampu, tetapi stiker akses sponsor di kaca depan memakai kode keluarga Prasetyo. Seorang perempuan berseragam panitia turun dari kursi belakang. Wajahnya tertutup masker dan topi acara, tetapi casing ponsel putih di tangannya menangkap cahaya sebentar.

Bunga kecil di sudut kanan bawah.

Yesika tidak bergerak.

Nathan memperbesar frame itu. "Ini belum membuktikan kamu yang menuangkan sesuatu ke kuda. Tapi ini membuktikan kendaraan sponsor Prasetyo berada di pintu samping pada waktu kamera kandang mati."

Sebastian menambahkan, "Dan ponsel dengan pola casing yang sama berada di lokasi."

"Banyak orang punya casing bunga," kata Yesika.

"Benar," jawab Felicia. "Karena itu aku belum menyuruh Jayden menyeretmu keluar."

Jayden menoleh. "Jadi nanti boleh?"

"Tunggu giliranku."

Yesika menggenggam ponselnya sampai buku jarinya memutih.

"Aku akan minta Papa kirim data kendaraan," katanya kaku.

"Bagus," kata Nathan. "Kalau tidak dikirim, kami minta lewat sekolah dan klub."

"Jangan lambat."

"Felicia..."

"Tidak sekarang."

Yesika menutup mulut.

Om Charles akhirnya mundur setengah langkah. Senyumnya kembali, tetapi kali ini terlihat dipasang dengan paksa. "Baik. Karena pasien perlu istirahat, kami tidak akan memperpanjang."

"Keputusan pertamamu hari ini yang benar," kata Felicia.

Tante Lina ingin membalas, tetapi Om Charles menahan dengan satu gerakan kecil. Clarissa memandang Felicia seperti ingin menelannya hidup-hidup, lalu mengikuti orang tuanya keluar.

Sebelum pergi, Om Charles berhenti di pintu.

"Jangan terlalu puas dulu," katanya. "Masuk ke sebuah keluarga tidak sama dengan menguasainya."

Felicia tersenyum. "Kalau keluarganya rapuh, aku tidak perlu menguasai. Cukup berdiri, nanti retaknya terlihat sendiri."

Pintu tertutup.

Suasana di ruangan menyisakan orang-orang yang masih berdarah meski tidak ada luka baru.

Hendrick memandang Felicia. "Aku akan memperbaiki semuanya."

"Tidak," jawab Felicia.

Ia mengangkat mata, dingin dan jelas.

"Kamu akan melakukan apa yang berguna. Jangan terlalu percaya diri menyebutnya memperbaiki."

Hendrick seperti ingin bicara lagi, tetapi Mama Wenny menyentuh lengannya. Kali ini bukan untuk menenangkan. Lebih seperti peringatan agar ia berhenti merusak lebih banyak.

Bu Gina diminta duduk di kursi dekat pengacara untuk mulai memberi keterangan tertulis. Tangannya gemetar saat memegang pena.

Calvin tetap berdiri di samping ranjang. Matanya tidak lepas dari kotak perhiasan yang kini difoto oleh pengacara.

"Ci," katanya sangat pelan.

"Hm?"

"Aku masih boleh panggil begitu?"

Pertanyaan itu lebih rapuh daripada semua ucapan Calvin sebelumnya.

Felicia menatapnya.

Secara sosial, panggilan itu sekarang berlapis racun dan gula. Kakak. Saudara tiri. Perempuan yang ia inginkan. Satu kata kecil yang berubah menjadi labirin.

Felicia mengangkat tangan kanan yang baru dipasang ulang infusnya. Jarinya menyentuh ringan punggung tangan Calvin.

"Itu panggilanmu," katanya. "Pakai kalau masih berani."

Mata Calvin memerah sedikit.

"Aku berani."

"Bagus."

Di luar ruang observasi, Om Charles berjalan menjauh sampai melewati tikungan koridor. Senyum palsunya hilang sepenuhnya.

Ia mengeluarkan ponsel lain dari saku dalam jas. Bukan ponsel yang dipakai untuk urusan keluarga.

"Pekerjaan berubah," katanya setelah panggilan tersambung. "Jangan di rumah sakit. Terlalu banyak saksi."

Suara di seberang tidak terdengar jelas.

Om Charles menatap ujung koridor, tempat petugas keamanan baru saja membawa Pak Tono.

"Tunggu sampai dia keluar," lanjutnya. "Buat gadis itu paham bahwa nama Tanuwijaya tidak cukup untuk melindunginya."

Ia membuka galeri ponsel, memilih tangkapan layar video viral Felicia di atas kuda hitam, lalu mengirimkannya bersama lokasi rumah sakit dan catatan singkat: target masih cedera, jangan sentuh di dalam gedung.

Balasan datang kurang dari sepuluh detik.

Beres.

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan suara dingin.

"Pakai orang jalanan. Jangan tinggalkan jejak ke saya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!