Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29
Naura baru menangis setelah kembali ke rumah Pakde Darma.
Tangisnya tidak keras. Tidak dramatis. Ia hanya duduk di kursi dapur, menatap gelas teh yang dibuat Bude Sari, lalu air matanya jatuh satu per satu.
Salsa langsung berlutut di sampingnya.
"Kak..."
Naura menggeleng.
"Aku tidak apa-apa."
Bude Sari duduk di sisi lain dan menarik kepala Naura ke bahunya.
"Kalau tidak apa-apa, nangis saja."
Kalimat itu menghancurkan pertahanan terakhir.
Naura memeluk Bude Sari.
Tubuhnya bergetar.
Ia menangis untuk kamar kecil yang hilang. Untuk buku-buku yang dibuang. Untuk foto masa sekolah yang mungkin sudah jadi sampah. Untuk dirinya yang dulu selalu pulang membawa oleh-oleh, berharap kali ini akan disambut seperti anak.
Pakde Darma berdiri di pintu dapur, diam.
Tangannya mengepal, tetapi ia tidak mengganggu.
Beberapa menit kemudian, Salsa ikut menangis.
"Aku benci mereka," bisiknya.
Naura menghapus air mata dan menatap adiknya.
"Jangan habiskan hidupmu untuk membenci."
"Tapi mereka jahat."
"Iya."
"Kakak masih membela?"
"Tidak. Aku cuma tidak mau hidup kita tetap berputar di mereka."
Bude Sari mengusap rambut Naura.
"Anak pintar."
Naura tertawa kecil di sela tangis.
"Bude, jangan puji. Nanti saya nangis lagi."
"Nangis saja. Air mata tidak bayar."
Salsa tertawa basah.
Pakde Darma akhirnya duduk di seberang.
"Kamu sudah rekam semuanya?"
Naura mengangguk.
"Simpan. Jangan disebar kalau tidak perlu. Tapi kalau mereka memutar cerita, kamu punya pegangan."
"Iya, Pakde."
"Transfer juga simpan."
"Iya."
Pakde Darma menghela napas.
"Pakde dulu seharusnya lebih keras."
Naura menatapnya.
"Jangan bilang begitu."
"Pakde tahu kamu susah. Tapi Pakde pikir, selama kamu masih sekolah, Pakde bantu dari belakang cukup. Ternyata tidak."
"Pakde dan Bude sudah menyelamatkan saya."
Bude Sari langsung menyeka mata.
Pakde Darma memandang meja.
"Kalau kamu dulu bilang mau tinggal di sini, Pakde pasti terima."
"Saya tahu."
"Kenapa tidak bilang?"
Naura tersenyum pahit.
"Karena waktu itu saya masih ingin mereka memilih saya."
Bude Sari tiba-tiba berdiri. Ia masuk ke kamar tengah, lalu kembali membawa map plastik kusam berwarna biru.
"Bude tidak tahu harus kasih kapan," katanya.
Naura menerima map itu dengan bingung. Di dalamnya ada fotokopi piagam lomba debat SMA, foto wisuda kecil yang dulu tidak pernah dipasang di rumah Harto, dan beberapa kuitansi SPP yang dibayar Pakde Darma saat Harto mengaku tidak punya uang.
Jari Naura berhenti di satu foto. Ia berdiri di depan gerbang sekolah, kurus, rambut diikat seadanya, tetapi tersenyum lebar.
"Bude simpan?"
"Tentu. Anak kita lulus sekolah, masa tidak disimpan?"
Pakde Darma menunduk, suaranya serak. "Waktu itu Pakde cuma bisa datang sebentar. Tapi Pakde ingat kamu salim ke guru satu-satu. Kamu selalu tahu cara menjaga nama baik sendiri, bahkan ketika orang rumah tidak menjagamu."
Kalimat itu membuat sesuatu di dada Naura runtuh lebih pelan. Bukan runtuh karena hancur, melainkan karena akhirnya boleh berhenti menahan beban sendirian.
Tidak ada yang bicara.
Di luar, suara anak-anak bermain petasan terdengar. Dunia tetap berjalan meski di dapur kecil itu, seorang perempuan dewasa sedang mengubur harapan lamanya.
Sore hari, kabar pertengkaran di rumah Harto menyebar ke beberapa tetangga.
Seperti biasa, versi pertama tidak berpihak pada Naura.
Seorang tetangga datang mengantar rantang sambil berkata hati-hati, "Lastri bilang Naura datang marah-marah, mau semprot Bagas."
Bude Sari tersenyum tajam.
"Oh ya? Lastri bilang juga tidak, Bagas mau mukul kakaknya?"
Tetangga itu langsung diam.
Pakde Darma dari ruang tamu menambahkan, "Kalau mau dengar cerita lengkap, nanti saya putarkan video."
Tetangga itu buru-buru tertawa canggung.
"Tidak usah, Pak Darma. Saya cuma dengar-dengar."
"Kalau cuma dengar, jangan tambah-tambah."
Tetangga itu pulang dengan langkah lebih cepat.
Salsa memberi dua jempol kepada Pakde.
"Pakde keren."
Pakde Darma menatapnya. "Keren apa? Ini rumah orang tua, bukan lokasi syuting."
Salsa langsung duduk manis.
Naura tertawa.
Malamnya, setelah tarawih di musala dekat rumah, beberapa ibu menghampiri Bude Sari. Naura tahu mereka ingin bertanya. Bude Sari hanya menjawab singkat, "Naura capek. Jangan ganggu dulu."
Ajaibnya, mereka menurut.
Mungkin karena Bude Sari selama ini dikenal halus, jadi ketika ia tegas, orang lebih segan.
Naura duduk di teras setelah semua tamu pergi. Angin malam Kudus membawa aroma tanah dan makanan Lebaran dari rumah-rumah sekitar.
Ponselnya bergetar.
Arkan.
`Kamu aman?`
Naura menatap pesan itu lama.
Ia mengambil foto gelas teh di teras, lalu mengirim.
`Aman. Di rumah Pakde.`
Arkan:
`Kamu menangis?`
Naura terkejut.
`Kenapa Bapak tanya begitu?`
Arkan:
`Jawabanmu terlalu singkat.`
Naura tersenyum kecil.
Orang ini.
Ia bisa membaca laporan keuangan, risiko bisnis, dan sekarang membaca panjang-pendek pesannya.
`Sedikit. Tapi sudah lebih baik.`
Balasan datang:
`Kalau mau cerita, saya dengar. Kalau tidak, saya tetap di sini.`
Naura menatap kalimat itu.
`Saya tetap di sini.`
Tidak memaksa. Tidak menghilang.
Ia menekan tombol panggilan sebelum sempat berpikir terlalu lama.
Arkan mengangkat cepat.
"Naura?"
Suara rendahnya masuk ke telinga. Malam di teras tiba-tiba terasa lebih tenang.
"Pak Arkan sibuk?"
"Tidak."
Padahal mungkin ia punya banyak pekerjaan. Tapi ia menjawab tidak.
Naura memandang jalan kecil di depan rumah Pakde.
"Kamar saya sudah tidak ada."
Arkan diam.
Naura melanjutkan, suaranya pelan.
"Barang-barang saya dibuang. Buku, foto, semuanya. Kamar itu jadi ruang gim Bagas."
Di seberang, suara napas Arkan terdengar lebih berat.
"Mereka menyentuhmu?"
"Tidak. Bagas hampir, tapi Pakde ada."
"Bagus."
"Saya bawa semprotan merica."
Hening.
"Bagus," kata Arkan lagi, kali ini lebih tegas.
Naura tertawa kecil.
"Pak Arkan tidak bilang itu berlebihan?"
"Tidak. Saya justru ingin memberi yang lebih kuat."
"Jangan."
"Baik."
Mereka diam sebentar.
Lalu Arkan berkata, "Kamu pasti sedih."
Naura menunduk.
Tiga kata itu membuat air matanya hampir jatuh lagi.
Orang lain berkata, jangan sedih. Sudah besar. Ikhlaskan. Mereka tetap orang tua.
Arkan hanya berkata, kamu pasti sedih.
"Iya," jawab Naura.
"Tidak apa-apa."
"Saya merasa bodoh karena masih sedih."
"Kehilangan sesuatu yang seharusnya menjadi milikmu tetap sakit, meski benda itu tidak layak dipertahankan."
Naura memejamkan mata.
Di dalam rumah, Bude Sari sedang tertawa bersama Salsa. Pakde Darma menonton berita. Di luar, Arkan berada jauh di Jakarta, tetapi suaranya membuatnya merasa tidak sendirian.
"Pak Arkan."
"Ya?"
"Terima kasih sudah tidak menyuruh saya kuat."
Arkan terdiam sebentar.
"Kamu sudah kuat. Tidak perlu disuruh."
Air mata Naura akhirnya jatuh lagi.
Namun kali ini, ia tidak membenci air mata itu.
Ia membiarkannya turun, sambil memegang ponsel dan mendengar Arkan tetap diam di seberang.
Diam yang menemani.
Bukan diam yang meninggalkan.
jgn setengah 2 ya