Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29 - Rumah Sempit di Ujung Gang
Bu Nanik tinggal di rumah kontrakan kecil di Depok, di gang yang hanya muat satu motor.
Siska mengatur semuanya rapi. Ia membawa surat kuasa, rekaman suara disiapkan dengan izin, dan seorang staf perempuan sebagai saksi. Ratna ikut. Arga juga ikut, meski awalnya Ratna menolak.
"Ini bukan rapat perusahaan," kata Ratna di mobil.
"Aku tahu."
"Kamu tidak perlu hadir di semua luka."
Arga menatap jalan. "Aku tidak hadir untuk menonton."
"Lalu untuk apa?"
"Kalau kamu perlu seseorang membawamu pulang."
Ratna diam. Ia tidak terbiasa menerima jawaban seperti itu tanpa curiga. Namun sejak hasil DNA keluar, tenaga curiganya habis.
Di depan rumah Bu Nanik, seorang perempuan paruh baya membuka pintu. Ia memperkenalkan diri sebagai anak Bu Nanik. Setelah Siska menjelaskan, wajah perempuan itu berubah takut.
"Ibu sudah tua. Jangan bikin beliau stres."
Ratna berkata pelan, "Saya juga sudah tua, Mbak. Tapi saya baru tahu anak saya mungkin diambil orang. Saya hanya ingin bertanya."
Perempuan itu akhirnya mempersilakan mereka masuk.
Bu Nanik duduk di kursi rotan dekat jendela. Tubuhnya kurus, rambutnya putih semua. Matanya buram, tapi ketika mendengar nama Sulastri dan Klinik Bersalin Melati, tangannya bergetar.
"Saya tidak ingat," katanya sebelum ditanya.
Siska duduk di depannya. "Bu, kami tidak datang untuk menyalahkan Ibu tanpa dasar. Tapi ada dua bayi laki-laki lahir pada malam yang sama sekitar dua puluh delapan tahun lalu. Satu dari Ratna, istri Hendra. Satu dari keluarga Darma dan Tari. Benar?"
Bu Nanik memejamkan mata.
Nama Darma membuat Ratna menoleh.
"Darma siapa?"
Siska menjawab pelan, "Adik Hendra. Dalam catatan keluarga, Darma dan istrinya Tari punya anak laki-laki bernama Bagas. Umurnya sama dengan Raka."
Ratna merasa udara di ruangan itu menipis.
Bu Nanik berbisik, "Saya disuruh diam."
"Oleh siapa?" tanya Ratna.
Bu Nanik membuka mata. Air matanya jatuh ke pipi keriput. "Sulastri."
Tidak ada yang bergerak.
Bu Nanik mulai bercerita dengan suara putus-putus. Malam itu hujan deras. Ratna melahirkan lebih dulu, bayi laki-laki sehat, menangis kuat. Beberapa jam kemudian Tari melahirkan bayi laki-laki yang kecil dan lemah. Darma panik karena tidak punya uang untuk rumah sakit besar. Sulastri datang membawa amplop, marah-marah pada semua orang, mengatakan cucunya harus selamat.
"Cucu yang mana?" suara Ratna serak.
Bu Nanik menutup wajah. "Yang dari Darma. Dia bilang Hendra dan Ratna punya gaji tetap. Bayi lemah itu kalau dibawa mereka akan lebih mungkin hidup. Bayi sehat dari Ratna bisa bertahan di rumah Darma."
Ratna berdiri.
Kursinya jatuh ke belakang.
Arga langsung berada di sampingnya, tapi Ratna mengangkat tangan, meminta tidak disentuh dulu.
"Jadi anakku diberikan ke keluarga yang lebih miskin karena dia sehat?"
Bu Nanik menangis. "Saya salah. Saya takut. Dulu klinik kecil, kami butuh izin, Sulastri mengancam akan melapor macam-macam. Saya muda, saya bodoh."
"Anakku namanya Bagas?"
"Iya."
Nama itu masuk ke tubuh Ratna seperti benda asing.
Bagas.
Anak yang ia lahirkan punya nama.
Siska melanjutkan dengan hati-hati. "Bu Nanik, apakah ada bukti?"
Bu Nanik meminta anaknya mengambil kotak plastik dari lemari. Di dalamnya ada buku catatan lama, beberapa foto polaroid pudar, dan fotokopi surat lahir yang tidak pernah didaftarkan resmi.
"Saya simpan karena takut dosa," katanya. "Tapi saya juga takut bicara."
Ratna mengambil salah satu foto. Dua bayi dibaringkan berdampingan. Di belakang foto, ada tulisan tangan: bayi Ratna, bayi Tari.
Ia tidak tahu yang mana anaknya. Dua wajah kecil itu sama-sama merah dan rapuh.
"Di mana Bagas sekarang?" tanya Arga.
Bu Nanik menatap Siska. "Saya dengar dia masih tinggal dengan Tari di Bekasi. Darma meninggal lima tahun lalu. Anak itu... tidak hidup mudah."
Ratna memegang foto lebih kuat.
"Apa maksudnya tidak hidup mudah?"
Bu Nanik tidak menjawab.
Anak Bu Nanik yang menjawab dengan suara kecil, "Saya pernah lihat di pasar. Bagas kerja angkut barang. Kadang jualan spare part bekas. Orang-orang bilang dia anak yang paling sering dimarahi di rumahnya."
Ratna merasa panas naik ke kepala. Bukan marah biasa. Ini marah seorang ibu yang baru diberi tahu anaknya tumbuh di tempat yang salah dan mungkin diperlakukan seperti beban.
"Alamatnya?"
Siska menulis alamat yang diberikan.
Dalam perjalanan ke Bekasi, tidak ada yang bicara. Ratna duduk di belakang bersama Siska. Arga di depan dengan sopir. Foto lama itu ada di pangkuannya.
Ia mencoba membayangkan Bagas. Apakah matanya mirip dirinya? Apakah ia pernah sakit dan tidak ada yang begadang? Apakah ia pernah ulang tahun? Apakah ia pernah merasa tidak pantas dicintai?
Ponselnya bergetar. Raka.
Ratna mengangkat.
"Ma, Mama ke mana?"
"Mama mencari seseorang."
Raka terdiam. "Anak Mama?"
Ratna menutup mata. "Mungkin."
Di seberang, suara Raka terdengar pecah. "Aku mau ikut."
"Jangan sekarang."
"Kenapa? Karena aku bukan keluarga?"
"Karena Mama belum siap melihat kamu terluka lagi."
Raka diam lama.
"Aku sudah terluka, Ma. Tapi aku tetap mau tahu siapa yang hidupnya tertukar denganku."
Ratna menggenggam ponsel.
"Nanti Mama kabari."
Ia menutup panggilan sebelum tangisnya keluar.
Alamat itu membawa mereka ke rumah petak di dekat bengkel kecil. Cat temboknya mengelupas. Di halaman sempit, seorang perempuan gemuk sedang menjemur pakaian sambil memarahi anak remaja.
Siska berbisik, "Itu Tari."
Ratna tidak langsung turun. Ia melihat sekitar. Bau oli, asap gorengan, selokan, suara motor, anak-anak berlari.
Lalu seorang laki-laki muda keluar dari bengkel di sebelah rumah. Usianya sekitar dua puluh delapan. Kaosnya kotor, lengannya penuh bekas goresan. Ia membawa kardus berat sendirian.
Tari berteriak, "Gas! Cepat sedikit! Jangan lembek!"
Laki-laki itu tidak membantah. Ia hanya menunduk dan mengangkat kardus ke dalam rumah.
Ratna membuka pintu mobil.
Siska menahan lengannya. "Tunggu. Kita perlu pendekatan."
"Aku hanya mau melihat wajahnya."
Ratna turun.
Laki-laki bernama Bagas itu menoleh karena suara pintu mobil. Untuk satu detik, mata mereka bertemu.
Ratna berhenti bernapas.
Ia tidak perlu hasil laboratorium untuk merasa sesuatu di dadanya mengenali anak itu.
Bagas mengernyit, bingung melihat perempuan asing yang menatapnya seolah baru menemukan separuh nyawa.
"Cari siapa, Bu?"
Ratna hampir menjawab, "Kamu."
Tapi kata itu terlalu besar.
Ia hanya mampu berkata, "Saya Ratna."
Bagas mengangguk sopan. "Ada perlu dengan bengkel?"
Dari belakang, Tari melihat mereka. Wajahnya langsung berubah keras.
"Bagas, masuk!"
Bagas menoleh. "Tapi Bu, tamu..."
"Masuk!"
Ratna menatap Tari.
Tari menatap balik dengan mata orang yang tahu masa lalu akhirnya berdiri di depan pagar.
Dan di antara mereka, Bagas masih tidak mengerti mengapa namanya tiba-tiba terasa seperti rahasia.
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃