Sir Leonardo, Komandan Militer Inggris, memburu pemberontak yang membunuh orang tuanya. Setelah berhasil menemukan si pemberontak dan membunuhnya beserta istri tapi menyisakan putri mereka. Balas dendam Leo tidak berhenti hanya dengan kematian pembunuh kedua oran tuanya, namun menjadikan putri si pemberontak sebagai pelampiasan amarah, nafsu, gairah dan perasaan lainnya. Apa yang terjadi dengan putri si pemberontak kemudian? Apakah dia akan bertahan atau menyerang balik seorang Leonardo?
Cerita lainnya :
1. Putri Jenderal bersama Mafia (Haile & Antonio)
2. Putri Duke bersama Bos Wine (Katy & Terios)
3. Cinta saudara Tiri (Eliza & Zane)
Mana cerita pemaksaan cinta yang paling kalian sukai? Jangan lupa dukung author yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WANITA WANITA KERAS KEPALA
Setelah menulis surat untuk Haile, kedua pengawal yang sudah menjalankan tugasnya, pergi dari kamar inap Thur.
Tapi sebelum itu, Fero yang lebih dulu keluar ruangan digunakan Thur untuk memberikan pesan kepada Hans untuk kerjasama mereka.
"Besok datanglah ke jalan Roadstreet, rumah pojok nomor 33. Aku menunggumu untuk membantuku, Hans" ucap Thur.
Hans tidak menjawab dan hanya mengangguk saja, lalu keluar ruangan.
Hans lebih senior daripada Fero dalam militer, tapi seumuran dengan Thur sehingga lebih bisa diajak kerjasama dan memang keduanya sudah berteman. Fero baru saja bekerja di kediaman jenderal beberapa hari lalu.
Thur terbaring lagi diranjang. Tubuhnya benar benar masih lemas efek alergi parang yang kambuh.
Tapi dirinya tersenyum smirk sambil memandang langit langit ruangan.
"Ternyata dia bisa mengenaliku secepat ini. Aku rasa istriku benar benar mengenalku meskipun membenciku" gumamnya.
"Atau dibalik itu sebenarnya dia sudah memiliki perasaan kepadaku? Namun karena sikapku yang sangat buruk padanya dia tidak berani merasakan itu?" lanjutnya.
"Hmm...aku janji, Haile. Jika kamu tidak bisa memaafkanku, aku akan tetap mencintaimu. Seumur hidupku, aku akan memohon kepadamu agar memaafkanku" tambahnya.
"Dan kali ini, anak kita akan lahir dengan selamat" ucapnya lagi pada diri sendiri.
Karena efek obat dan infus yang masuk ke tubuhnya, Thur berlahan memejamkan mata kembali untuk tidur.
Di kediaman Jenderal, Haile tidak bisa tidur. Pikirannya kemana mana.
"Apakah dia mati?"
"Apakah alerginya sudah mereda?"
"Apa aku terlalu kejam?"
"Kenapa dua pengawal itu tidak segera kembali?"
"Apa Thur..eh salah..apa Antonio belum sadarkan diri?"
pertanyaan pertanyaan mengkhawatirkan suaminya yang ia benci tiba tiba sangat mengganggu ketenangannya.
Tok..tok..tok..
Pintu kamarnya diketuk seseorang.
"Nona Muda, saya Hans dan Fero, ingin melaporkan jika tugas untuk membawa Thur sampai dia sadar sudah selesai. Barang barang di kamarnya juga sudah kamu bereskan" seru Hans.
Haile bisa mendengarnya dan bernafas lega.
"Baiklah, terima kasih atas laporannya" sahutnya dari dalam kamar.
"Oh iya, Nona. Mohon maaf, Thur meminta kami menyampaikan surat untuk anda. Apakah anda mau menerimanya?" tanya Hans.
Haile diam sesaat. Apa dirinya harus membawa surat itu?
"Masukkan lewat celah bawah pintu saja" jawabnya.
"Baik, Nona" sahut Hans.
"Saya taruh melalui bawah pintu" lanjutnya sambil memasukkan secarik kertas yang dilipat dari celah pintu.
"Kami undur diri , Nona. Selamat beristirahat kembali" pamit Hans lalu meninggalkan lantai 2 diikuti oleh Fero.
Haile berjalan mendekati pintu dan mengambil surat dari mantan supirnya yang ternyata suaminya sendiri.
Ia berjalan ke kursi dalam kamarnya dan duduk disana lalu membuka secarik kertas tersebut.
"Dear, Haile, istriku yang sudah kusakiti selama ini.
Izinkan aku untuk meminta maaf telah membuatmu melalui pernikahan yang sangat buruk selama 3 tahun. Aku membiarkanmu tersakiti terus menerus dengan sikapku yang dingin dan mengabaikan perasaanmu.
Aku membiarkan ibu dan adik adik perempuanku menyakitimu juga. Maafkan aku. Aku benar benar tidak terbiasa berkomitmen dengan seseorang. Hidupku sejak remaja kuhabiskan untuk berdagang dan berbisnis.
Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki diri sebagai suami dan ayah yang baik untuk anak anak kita. Kali ini, dengan nyawaku aku bersumpah akan melindungi kalian. Tidak akan kembali ke America sebelum kamu memaafkanku"
Tes.
Air mata Haile menetes diatas surat itu. Ia remat kertas itu lalu melemparkannya.
Namun beberapa saat kemudian, ia ambil lagi surat suaminya dan ia simpan di laci.
Haile memilih menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang sambil memikirkan isi pesan dari suaminya.
"Memaafkanmu? Ck...tidak semudah itu..Waktu 3 tahun ini bukan waktu yang singkat dan kamu baru sadar? Hahaha jangan harap aku lunak kepadamu" gumamnya.
Ia pun memegang perut.
"Kita bisa hidup tanpa dia. Mami janji sayang, mami akan menjagamu sampai kapanpun" lirihnya.
Perasaan benci pada suaminya masih terasa membara di hati Haile.
.
2 hari kemudian, ibu Haile sudah pulang dari Italia. Haile menceritakan rencananya untuk pindah ke Dover, daerah pesisir pantai, dan juga kehamilannya.
"Apakah tidak bahaya sayang jika tinggal di Dover jauh dari daerah kekuasaan ayahmu dalam kondisi hamil?" tanya Hana, sang ibu.
"Aku rasa Dover wilayah yang aman karena disana kan tempat keluarga ibu berasal. Aku ingin hidup sederhana disana, tidak hidup dengan keramaian perang ataupun kerusuhan pemberontak" jawab Haile.
"Tapi kamu kan tau jika sejak kakek nenekmu meninggal, keluarga kita tidak pernah kesana dari 10 tahun yang lalu. Ibu tidak tau kondisi rumah keluarga ibu disana. Ibu juga anak satu satunya" ucap Hana.
"Hmm...apakah ibu tidak ingin kembali ke kampung halaman? jika ibu memang keberatan, selama ibu memperbolehkan ku tinggal disana, aku tidak masalah. Ibu menemani ayah saja disini" balas Haile.
"Ya gak bisa begitu. Kamu sedang hamil pasti butuh seseorang yang menemanimu, ibu tidak mengizinkan mu kesana jika sendirian" ujar Hana.
"Aku pasti tidak sendirian, Bu. Ayah akan memberikan beberapa pengawalan untuk menjagaku. Ibu tau sendiri ayah seprotektif itu kepadaku" balas Haile.
"Hmm..kamu sangat keras kepala kayak ibu ternyata" ucap Hana.
"Hahaa..yakan memang aku anak ibu" canda Haile.
"Selalu saja suka bercanda kayak ibu juga" sahut Hana.
Keduanya pun tertawa bersama.
"Yasudah, jika kamu memaksa untuk tinggal ke Dover, ibu yang akan menemanimu. Setidaknya sampai kamu terbiasa disana dan ibu memastikan mu serta cucu ibu aman" ucap Hana kemudian.
Haile tersenyum.
Grep.
Haile memeluk sang ibu.
"Terima kasih, bu. Aku sangat menyayangi ibu" ujarnya.
"Ibu juga sangat menyayangimu" balas Hana.
Ibu dan anak itu melepaskan rindu serta bonding kasih sayang.
.
Di tempat lain, di kediaman Duke London, alias Duke William, Katy sudah mau keluar kamar.
Kini dirinya duduk bersantai di taman belakang rumah.
"Akhirnya putriku keluar dari kamar juga, ayah sangat merindukanmu" sapa William yang baru saja berolahraga pagi.
"Pagi, Ayah. Sudah kubilang, aku hanya ingin menyendiri dan memahami perasaanku" sahut Katy.
Wiliam duduk di kursi samping putrinya.
"Perasaan apa? Perasaanmu sama Leo? Kamu seperti ini setelah malam dinner bareng dia kan? Apa dia sudah memperlakukanmu dengan buruk hah?" tebak William dengan sedikit emosi, mengingat Leo memang tidak pernah menunjukkan perasaan sukanya kepada sang putri.
"Ya, ternyata aku tidak mencintainya, Yah. Mangkanya dia pun tidak mencintaiku. Aku sudah capek memaksakan pernikahan ini" sahut Katy.
"Tapi kamu harus menikah dengannya! Ayah tidak akan membatalkan pernikahan ini karena menghormati keinginan orang tua Leo juga" kekeh William.
"Orang tua Leo sudah tiada, Yah. Perjodohan aku dan Leo ketika mereka masih ada. Intinya aku sudah tidak ingin menikah dengannya" balas Katy lalu berdiri dan meninggalkan taman belakang.
"DASAR ANAK MANJA! AYAH TIDAK AKAN MENURUTI KEINGINAN MU KALI INI! DENGAR TIDAK, KATY!" teriak William.
Katy masih bisa mendengarnya namun memilih mengabaikan dan meneruskan tujuannya kembali ke kamar.
cerita nya seru👍