NovelToon NovelToon
Residu Ingatan

Residu Ingatan

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Time Travel / Tamat
Popularitas:489
Nilai: 5
Nama Author: yopoyoi

Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.

Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.

Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?


Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Perpisahan Kala Itu

Babak II

Seorang anak kecil laki-laki sibuk sendiri di halaman rumah, menendang bola kesana kemari tanpa adanya sosok teman.

"Ayah ayo main bola!" ajak bocah berusia sekitar 2,5 tahun itu.

Ayahnya yang baru pulang dari berjualan di pasar hanya menggubris sekenanya. Karena ada hal lain yang perlu ia lakukan.

"Ari main sendiri dulu ya? Ayah mau jemput adik dulu," bujuk sang aayah

Bocah itu manyun sambil menendang-nendang bolanya malas. Padahal jarak rumahnya dengan rumah tempat penitipan adik hanya disebrang saja. Namun, ia tidak pernah mau ikut untuk masuk ke rumah itu.

"Assalamualaikum, permisi," ucap Zaid, ayah dari anak tadi.

Walaupun salamnya itu tak pernah mendapat jawaban, Zaid selalu reflek mengucapkannya saat datang ke rumah itu.

"Oh, Pak Zaid, silakan. Arintanya lagi bobo, kekenyangan nyusu ini kayaknya," ucap seorang bapak-bapak yang dari wajahnya terlihat masih muda.

"Oh iya, Pak Samuel, ngga apa-apa saya diluar aja. Ngga lama juga kok, kasian Ari daritadi ditinggal sendirian di rumah."

Menjadi single parent bagi seorang ayah itu cukup berat bagi Zaid, ditambah dengan luka-luka masa lalunya yang belum sempat pulih. Dulu setiap pagi-pagi buta, ia selalu pergi ke pasar membeli sayur untuk dijual berkeliling. Namun, kini rasanya mustahil untuk meninggalkan kedua buah hatinya di rumah sendirian.

Akhirnya dengan berat hati ia terpaksa menitipkan putri kecilnya yang masih bayi ke tetangga sebrang rumahnya yang juga memiliki bayi. Ia berjanji kalau nanti akan membayar upah karena telah menjaga putrinya. Walaupun keluarga Pak Samuel selalu menolak uang itu.

Sementara Ari alias Ghifari, karena ia tak mau dititipkan bersama Arinta ke tetangga sebrang, jadi ia ditinggalkan sendirian di rumah. Paling-paling kalau ia terbangun tak ada ayahnya, ujung-ujungnya tetangga sebrang yang membujuk.

Seringnya Ghifari selalu diajak ayahnya untuk ke pasar, untungnya bocah kecil itu selalu bisa diam tertidur dalam gendongan.

Tahun berganti tahun, tibalah waktunya Ghifari duduk di bangku sekolah dasar. Dengan tabungan yang ada, Ghifari bisa disekolahkan, karena Zaid punya prinsip kalau pendidikan itu nomor satu.

Sedang Arinta sudah menginjak usia lima tahun. Bocah kecil itu semakin sering bahkan pernah tidak mau pulang dari rumah tetangganya itu.

"Mau main sama Aguil! Mau sama mama disini! Ngga mau pulang! Mau disini!" begitu ucapnya.

Arinta benar-benar menganggap kalau keluarga Aguil itu keluarganya juga. Bahkan ia memanggil papa dan mama ke Samuel dan istrinya.

"Arin main dulu didalem sama Aguil ya?" pinta Samuel menyuruh dua bocah itu masuk dan bermain didalam.

Samuel terlihat ragu-ragu untuk menyampaikan sesuatu pada  Zaid. Istrinya hanya mengangguk untuk meyakinkan.

"Sebelumnya saya mohon maaf ya pak karena mungkin mulai minggu depan anak saya ngga bisa jadi temen mainnya anak bapak lagi."

Bukan tanpa alasan Samuel meminta maaf atas itu, karena ia tahu Arinta sangat lengket dengan putranya seperti saudara kandung.

"Mulai minggu depan saya pindah tugas keluar kota, mungkin sampe beberapa tahun kedepan."

Zaid tersenyum ramah, "Oh itu. Ya ngga apa-apa toh pak. Nanti Arinta biar saya yang urus. Lagi juga dia udah bisa sedikit dikasih tau."

"Eum.. Sebenernya Arin juga udah saya anggep anak saya sendiri, pak. Apalagi saya ngeliat Aguil juga bener-bener sedeket itu sama Arin. Kalopun nanti mereka harus dipisahin, saya ngga tega juga sama Aguil, sama Arin juga."

Zaid menepuk pundak Samuel pelan, "Ngga apa-apa kalo emang itu yang terbaik. Nanti seiring mereka tambah usia pasti bisa ngerti. Awal-awal mereka pasti susah buat dipisahin, tapi itu yang terbaik toh?"

Mulai dari hari itu, Arinta selalu dikurung dalam rumah. Arinta kecil awalnya tak mengerti kenapa ayahnya bisa sekejam itu. Dengan segala bujuk rayu dengan mainan yang Zaid belikan, akhirnya Arinta bisa sedikit melupakan keberadaan saudara sepersusuannya itu.

Sampai waktu itu tiba, Aguil tantrum saat orangtuanya sedang bersiap mengemas barang. Karena ia telah dijanjikan nanti akan main lagi dengan Arinta. Otak kecilnya sudah paham, kalau ia pindah, berarti ia tak akan bermain lagi dengan Arinta.

Begitupun Arinta. Ia mendengar bising-bising dari sebrang rumahnya malah jadi ikutan tantrum, padahal beberapa hari terakhir ia sudah sedikit lebih tenang.

"Kita cuma sebentar kok, nanti kita kesini lagi ya?" bujuk ibunya.

"Iya, nanti di kota kamu ketemu banyak temen ya? Nanti banyak mainan juga disana," bujuk Samuel.

Apapun yang keluar dari mulut orangtuanya tidak didengar sama sekali oleh Aguil. Sampai dengan sangat terpaksa Samuel menggendong dan memasukannya kedalam mobil sambil terus dibujuk.

Sementara itu Arinta langsung diam begitu dikasih paham oleh kakak laki-lakinya.

"Kalo Aguil disini terus nanti dia ngga punya temen, temenannya sama orang miskin doang kayak kita. Kalo dia pindah nanti temennya banyak, orang kaya semua," ucap Ghifari tanpa perasaan.

Zaid yang mendengar langsung meluruskan ucapan putranya, "Maksud bang Ari itu Aguil pindah buat nambah temen, nanti kalo temennya udah banyak, nanti kesini lagi main sama Arin."

"Emang kenapa kalo temennya cuma satu? Emang punya temen itu harus banyak?" tanya Arinta.

"Iya dong. Nanti bosen kalo dikit. Ari aja temennya banyak di sekolah," sahut Ghifari yang memang sudah duduk bangku Sekolah Dasar.

"Terus Arinta jadi ngga punya temen sekarang?" gumamnya.

"Main sama abang aja. Kalo abang pulang sekolah," sahut Ghifari.

Terbitlah Arinta dengan sifat introvert. Saat ia mulai masuk sekolah, ia selalu menutup diri. Menurutnya tak ada yang sama dengan Aguil. Dan juga ia sedikit trauma mengenal orang, ia takut keadaan akan merebut kawan baiknya lagi. Walaupun ingatan Arinta tentang Aguil hanya sedikit, karena waktu itu ia masih sangat kecil.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!