Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.
***
Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Gelang Pasangan
Senyum Aira mengembang saat ia mulai mendengar langkah kaki samar di luar rumah. Ia yang baru saja menata lauk pauk untuk santap malam itu berlari perlahan menuju pintu depan. Ia mengintip sedikit di sela-sela tirai jendela. Matanya berbinar seketika.
Baskara pulang!
Aira menahan napas sejenak. Ia merapikan pakaian dan tatanan rambutnya sebelum akhirmya membuka pintu.
Di luar pintu, Baskara melangkah lelah. Ia berjalan dari lapangan batalyon menuju ke rumah dinasnya dengan membawa tas ransel tempurnya. Langkahnya berat. Wajahnya kusam dan tampak jelas gurat-gurat kelelahan dan kurang tidur. Baskara baru akan mengetuk, tapi ia terkejut saat pintu tiba-tiba terbuka.
Baskara termangu. Sejurus kemudian rasa lelah dan penatnya mendadak hilang saat ia melihat Aira, wanita yang selama ini ia rindukan menyambutnya dengan senyum semringah dan mata berbinar-binar.
"Mas!" sapa Aira dengan senyum yang susah payah ia tahan.
Baskara tersenyum. Lega rasanya tiba kembali di rumah.
"Baru mau diketuk."
"Aku tahu. Makanya langsung buka pintu."
Baskara masuk. Ia meletakkan tas ransel tempurnya, lalu duduk untuk melepas sepatu yang seolah sudah menyatu dengan kakinya selama dua minggu ini. Baskara mengerutkan dahi manakala ia melihat Aira tampak menelengkan kepalanya, tangan bersedekap di depan dada, dan seolah seperti sedang memindai sesuatu.
"Mas kurusan ya?"
"Enggak ah! Masih sama seperti kemarin."
Raut wajah Aira berubah. Meragukan jawaban Baskara.
"Kulit mas lebih gelap sekarang."
Baskara mendongak. Ia tersenyum lucu.
"Namanya juga pulang latihan, Ai."
Aira masih terus memindai, menghalangi langkah Baskara saat ingin meletakkan sepatu lapangannya di rak belakang. Tangan Aira terulur, ia menyentuh bagian dagu Baskara yang mulai ditumbuhi rambut-rambut halus.
"Kok ada jambangnya sekarang?"
Baskara tersenyum lucu. Ia menatap wajah Aira yang tampak menggemaskan karena terus memprotes penampilannya saat ini. Ia menangkup wajah Aira dengan kedua tangannya.
"Namanya juga nggak sempat cukur. Dikasih mandi sehari sekali saja sudah untung."
Aira mengerutkan dahi. "Ih! Pantes bau asem!" ucapnya seraya mengerutkan hidung.
Baskara melepas seragam lorengnya dan menyisakan kaos hijau lumutnya.
"Aku mandi dulu ya. Udah gerah banget rasanya."
Aira mengangguk. Ia pun kembali ke dapur. Membuka lemari pendingin dan mengeluarkan dua gelas es kopi yang sengaja sudah ia buat sebelumnya.
Berbeda dengan wanita, pria apalagi tentara waktu mandinya dapat dihitung hanya dalam hitungan jari. Baru juga Aira mengambil gelas dari kulkas, pintu kamar mandi sudah terbuka menampilkan Baskara yang telanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek saja. Baskara sudah jauh lebih segar, wangi, dan bersih.
"Kamu beresin baju-baju aku di kamar ini, Ai?" tanya Baskara saat ia mencari pakaian gantinya di kamar yang ia sebut gudang itu.
Aira mengangguk.
"Iya. Aku pindahin ke kamar."
Baskara mengerutkan dahi. Ia pun mengekori Aira menuju kamar utama dan terkejut saat melihat almari pakaiannya sudah berada di sana.
"Kok ... lemari bajuku di sini, Ai?"
Aira tersenyum malu-malu.
"Ya, aku pindahin aja daripada disana. Ini, kan, juga kamar Mas Baskara."
Aira segera menggigit bibir bawahnya. Wajahnya sudah entah semerah apa. Malu sekali rasanya. Ia bahkan tidak berani menatap Baskara.
Baskara tersenyum. Ia pun berjalan mendekati Aira dan membuka pintu lemari yang ada di samping Aira.
Senyum Aira menghilang seketika saat ia melihat luka memar di pundak Baskara. Ia pikir hanya itu, tapi setelah Aira melihat lebih dekat lagi, ada luka gores halus di sekitar lengan dan bekas luka lecet di area siku yang sudah mulai mengering.
"Itu ... kenapa?"
Baskara mengenakan kaosnya. Seraya mengerutkan dahi.
"Apa?" tanyanya bingung.
"Itu. Mas luka?" tanya Aira seraya menunjuk ke bagian luka Baskara.
"Oh. Biasa."
Aira kembali mengerutkan dahi. Ia mulai menatap Baskara lebih intens dari ujung kepala hingga kaki. Aira terkejut saat melihat jari kaki Baskara tampak melepuh dan memerah.
"Itu kakinya?"
Baskara menunduk menatap jari-jari kakinya.
"Lecet aja, Ai."
Aira mendorong tubuh Baskara agar duduk di tepi ranjang. Sementara ia berlari mengambil kotak P3K.
Aira duduk di lantai menatap nanar jari-jari kaki Baskara yang kemerahan dan ada bintik-bintik berisi air yang tampak seperti melepuh. Beberapa bahkan sudah terlihat pecah. Ia menggigit bibir bawahnya, menatap miris saat melihat kulit di tumit Baskara ada yang mengelupas sebagian.
Aira mengambil larutan saline, lalu membersihkan bagian yang terluka. Ia menatap Baskara yang terlihat sedikit meringis.
"Sakit?"
"Sekarang baru sakit."
Aira mengerucutkan bibirnya.
"Yang kayak gini tuh harus dirawat, Mas!" ucapnya sedikit kesal.
"Aku pikir lecet biasa aja. Lagian masih bisa jalan juga. Nggak perlu ke dokter."
Aira melirik. Tatapannya tajam dan sempat membuat Baskara tersenyum kaku.
"Istrimu dokter! Nggak usah cari dokter lain!"
Ucapan Aira barusan membuat senyum Baskara kembali mengembang. Ia menatap Aira yang begitu telaten menangani luka di tubuhnya. Setelah membalut kaki Baskara dengan kassa, Aira berpindah pada memar di pundak suaminya. Ia mengoleskan salep agar memarnya cepat memudar.
"Kemarin bukannya baru latihan ya?"
"Iya."
"Kok, badanmu sudah penuh luka begini, Mas?"
Baskara mengembuskan napas pelan. "Biasa, Ai. Latihan memang harus keras karena di medan tugas nanti jauh lebih ganas," jawab Baskara.
Gerakan tangan Aira berhenti. Ia menatap nanar Baskara yang masih dapat tersenyum seolah tubuhnya baik-baik saja.
"Yang biasa buat mas, belum tentu biasa buat aku."
Baskara terdiam.
Ia menoleh menatap Aira yang menunduk seraya membereskan kotak p3knya. Baskara tahu, dari suaranya Aira terdengar sedang menahan tangis. Tangan Baskara terulur. Ia menarik tangan Aira agar istrinya itu kembali duduk di sampingnya.
Aira terkejut. Ia menoleh menatap Baskara dengan mata berkaca-kaca.
"Ada apa, Ai?" tanya Baskara heran.
Aira terdiam. Wajahnya benar-benar memerah, menahan tangis. Dadanya terasa sesak. Suaranya pun tercekat. Ia memandangi lekat-lekat wajah Baskara yang kini kulitnya sedikit menggelap. Perbedaan kulit di pergelangan tangannya sangat kentara. Terlebih saat Aira menyentuh telapak tangan Baskara yang teraba lebih kasar dari sebelumnya. Tanpa terasa, air matanya menetes perlahan.
Baskara yang melihatnya pun terkejut.
"Kamu kenapa nangis, Ai?"
"Kamu baru latihan saja begini. Aku nggak bisa bayangin kalau nanti kamu bener-bener pergi tugas. Nggak kebayang di sana bakal kayak apa," ucap Aira dengan suara bergetar seraya mengusap lembut telapak tangan Baskara.
Baskara tersenyum tipis. Hatinya menghangat. Ia baru sadar jika ada orang lain yang mengkhawatirkan dirinya selain kedua orang tuanya. Baskara menautkan jemari di sela-sela jemari Aira dan memandang Aira lekat-lekat.
"Janji sama aku, mas harus pulang dan jangan sampai terluka," ucap Aira lirih.
Baskara diam sesaat.
"Mas?"
Baskara mengambil napas panjang. Ia membenarkan rambut yang menjuntai turun di wajah Aira. Ia mengulas senyum dengan sorot mata yang begitu teduh saat menatap Aira.
"Aku akan berusaha."
Aira menggeleng.
"Aku mau mas pulang. Berjanjilah."
"Aira, dalam setiap tugas, terkadang banyak hal yang terjadi diluar kendali kita. Aku nggak bisa janji karena aku nggak tahu bisa menepati itu atau enggak, tapi ... aku akan berusaha. Berusaha untuk kembali lagi sama kamu."
Aira terdiam. Matanya beradu dengan mata Baskara. Saling memandang dengan sorot yang sulit di artikan. Baskara mengusap lembut air mata Aira dengan ibu jarinya. Ia menangkup wajah Aira sebelum kembali mendaratkan kecupan hangat di puncak kepala Aira.
"Aku izin istirahat dulu ya."
"Nggak mau makan dulu. Aku udah siapkan atau mau minum es kopi dulu?"
Baskara menggeleng.
"Badanku capek sekali. Rasanya pengen cepat-cepat istirahat. Boleh, kan?"
Aira mengangguk. "Nanti, kalau lapar, jangan sungkan bangunin aku ya."
Baskara mengangguk, ia beranjak dari tempatnya. Namun, Aira tidak melepaskan tautan jemarinya. Baskara menoleh, menatap tangan Aira yang masih menahannya.
"Mas mau kemana?"
"Tidur di luar."
Aira mengernyit.
"Kenapa?"
Baskara tersenyum. "Biasanya juga begitu."
Aira diam beberapa detik. Ia berpikir sejenak. Menimbang dan dengan sedikit ragu akhirnya ia berkata, "Mas tidur disini saja."
Baskara terhenyak. Terkejut dengan ucapan Aira barusan.
"Kalau begitu aku ambil tikar dulu," ucap Baskara. Namun, Aira menggeleng.
"Bukan ditikar. Maksudku di sini," ucap Aira seraya menepuk ranjangnya.
Baskara diam. Ia masih mencerna ucapan Aira dan mencoba memastikannya lagi.
"Kamu yakin?"
Aira mengangguk.
"Nggak apa-apa aku di sini?" tanya Baskara mencoba kembali memastikan.
Aira mengangguk.
"Ini juga kamar mas."
Baskara mengangguk. Dengan sedikit ragu, ia berjalan ke bibir ranjang, menata bantal, dan membaringkan tubuhnya di ujung ranjang.
Aira tersenyum lucu.
"Kok tidur di situ?"
Aira ikut naik ke atas ranjang dan menarik tubuh Baskara agar lebih mendekat ke arahnya. Baskara menurut. Ia menatap langit-langit. Matanya masih terjaga. Entah kenapa rasanya kantuknya hilang seketika. Mungkin karena hari belum terlalu malam atau karena ada Aira yang ikut berbaring di sampingnya.
Baskara takut bergerak. Ia hanya diam terlentang. Takut jika gerakannya akan mengganggu Aira. Ia coba memejamkan mata, tapi sialnya tidak juga bisa terlelap.
"Mas?"
Baskara membuka mata seketika. Ia menoleh menatap Aira yang posisinya kini sudah menghadap ke arahnya dan memandanginya.
"Ya?"
"Boleh pinjam lengannya?"
Baskara merentangkan tangan kekarnya dan membiarkan saat Aira mendekat, lalu memindahkan kepalanya dan tidur di atas lengannya.
Aira mendekatkan kepalanya ke dada bidang Baskara, lalu meremas ujung kaos Baskara.
"Aku takut," cicit Aira.
Baskara menekuk lengan dan melingkarkannya di tubuh Aira.
"Takut apa?"
"Aku tahu, sebagi istri prajurit diwajibkan harus siap jika ditinggal suami bertugas, tapi aku nggak siap, Mas," gumam Aira dengan suara tercekat.
Baskara melingkarkan tangan lebih erat. Ia mendaratkan ciuman di puncak kepala Aira mencoba menenangkan istrinya itu.
Tangan Aira meraba gelang pasangan yang masih dikenakan Baskara di tangan kirinya. Ia menatap gelang itu dan teringat dengan tulisan dibaliknya. Aira meraba perlahan sisi bagian dalam dari ornamen gelang, lalu tersenyum tipis.
"Masih ingat?"
Baskara mengerutkan dahi saat Aira meraba gelang yang ia kenakan.
"Mas, tahu hadiah ini sengaja aku kasih bukan tanpa alasan. Selain ini gelang pasangan ada harapan kecil yang aku selipkan di dalamnya."
Aira menarik sedikit ornamen pada gelang Baskara dan menunjukkan sisi bagian dalam dari gelang itu. Bukan nama Aira yang terukir di dalamnya, tapi satu kata yang maknanya sangat dalam bagi Baskara.
Pulang.
Baskara terdiam.
"Aku sengaja nggak bilang sama mas soal tulisan ini."
"Kenapa?"
"Aku mau mas menemukan sendiri tulisan ini saat mas butuh. Ini bukan sekedar kata, tapi harapan. Nggak cuma harapanku, tapi juga ayah, bunda, mama, dan Bian."
Aira menghentikan ucapannya. Ia diam beberapa detik. Menatap lekat wajah suaminya.
"Aku nggak minta mas untuk berjanji, tapi aku percaya ... Mas akan menemukan jalan pulang."
Aira mendekat, ia mengecup lembut pipi Baskara. Tidak tergesa-gesa, tapi kecupan singkat yang sangat lembut.
"Selamat tidur, Mas."
Aira memejamkan mata. Sementara itu, Baskara terdiam. Ia termangu seraya menyentuh bagian pipinya yang terasa begitu hangat. Istrinya baru saja menciumnya. Baskara tersenyum tipis.
Ia kembali melihat ukiran kata di balik ornamen gelang yang ia gunakan. Hatinya menghangat. Ia tahu ada harapan yang terselip di balik satu kata itu. Kata yang menjadi mantra bagi Baskara. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa satu kata sederhana itu bukan sekedar tujuan tanpa makna. Kini, selain kedua orang tua dan adik laki-lakinya, ada satu orang lagi yang menunggunya, Aira.
______________________