Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Dia datang menemui sang panglima bukan dengan gaun anggun atau busana yang sopan, wanita itu justru mengenakan dress hitam ketat yang terbuka. Riasan wajah tebal yang terlihat berlebihan. Yang paling mencolok adalah pipi dan bibirnya yang dicat dengan lipstik merah menyala kontras dengan kulitnya yang putih. Axel masih bisa menerima. Trik Aruna berlanjut dengan mengajak si pria berburu belanjaan mewah. Bagaimana kelanjutan kisahnya? Apakah Axel mampu mengikuti setiap alur cerita yang dibuat gadis itu? atau justru menyerah? ikuti terus kisah serunya hanya disini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Zayn berulah lagi.
Sore itu, matahari mulai perlahan tenggelam, menyisakan cahaya oranye yang memantul di jendela kamar. Axel sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin pulang. Meski sudah disuruh berulang kali oleh Aruna, pria itu malah semakin lengket dan manja seolah ingin menempel 24 jam non-stop.
Namun Aruna tetap tegas, ia merasa tidak enak hati jika membiarkan tunangannya itu berlama-lama di sana sementara orang tuanya pasti sudah menunggu di rumah, dan jelas melarang mereka bertemu dulu.
"Axel Ayo pulang nanti Om dan Tante marah lho," bujuk Aruna lembut.
"Hm... baiklah." balasnya enggan.
Akhirnya dengan berat hati, Axel pun pasrah. Ia melepaskan pelukannya, mencium kening Aruna untuk terakhir kalinya lalu berjalan keluar rumah.
Begitu pintu depan tertutup, Aruna buru-buru berlari kecil menuju kamarnya sendiri. Ia ingin segera masuk dan mengunci pintu agar Axel tidak kembali lagi dengan alasan apa pun.
Namun... saat tangannya hendak memegang gagang pintu kamarnya, ia menyadari sesuatu yang aneh.
Kamarnya gelap gulita. Padahal biasanya ia selalu membiarkan lampu menyala. Aruna tidak suka kegelapan dan itu membuat bulu kuduknya meremang seketika. Dengan hati-hati ia melangkah masuk, tangan kanannya meraba dinding mencari tombol lampu.
Tapi tepat saat jari-jarinya hampir menyentuh saklar...
Sebuah tangan besar menarik pinggangnya dengan kuat ke belakang. Tubuh mungil itu langsung terpental masuk ke dalam pelukan hangat yang kokoh.
Jantung Aruna berdegup kencang, tapi ia berusaha tenang. 'Pasti Axel! Pasti dia nggak jadi pulang dan mengintip dari tadi.' batinnya meyakinkan diri.
"Axel... aku kan sudah menyuruh kamu pulang..." gerutu Aruna sambil berusaha melepaskan tangan yang melingkar di perutnya itu.
Namun... detik berikutnya darah Aruna seakan berhenti mengalir.
"I miss you... my queen..."
Bisikan itu terdengar berat, serak, dan sangat seksi... tapi jelas sekali bukan suara milik Axel. Aruna membeku. Ia tahu persis siapa pemilik suara itu. Siapa lagi kalau bukan Zayn?!
"ZAYN?!! LEPAS!!"
Aruna langsung berontak hebat memukul, mendorong, dan mencoba melepaskan diri. Tapi kekuatan Zayn jauh di atasnya. Pria itu tak bergeming sedikitpun.
Dengan gerakan cepat dan mahir, Zayn memutar tubuh Aruna hingga mereka saling berhadapan di dalam kegelapan. Tangannya yang besar terangkat menyentuh pipi gadis itu dengan lembut, seolah Aruna adalah benda paling berharga di dunia.
"Kenapa marah sayang? harusnya kamu senang aku datang?" ucap Zayn pelan, lalu wajahnya mendekat seolah ingin mengecup pipi Aruna. Dengan cepat Aruna memalingkan wajahnya, menolak sentuhan itu dengan tegas.
"Zayn lepaskan aku!! Jangan ganggu aku lagi!! Aku akan menikah. Dengar itu baik-baik. AKU AKAN MENIKAH!!" bentak Aruna sekuat tenaga, air matanya siap tumpah.
Namun Zayn hanya tersenyum misterius, senyum yang terlihat menyeramkan namun memikat. Ia justru semakin menarik tubuh Aruna hingga menempel sempurna pada dadanya.
"Hn... aku tidak peduli," jawab Zayn santai tapi nadanya penuh ancaman. "Aku tidak peduli kamu akan menikah atau bahkan sudah menikah sekalipun. Kalau aku sudah kangen... akan aku culik kamu kapanpun aku mau, Aruna."
"Uuhh... kurang ajar sekali kamu!! Lepas!!"
"Semakin kamu marah dan memerah begini... aku malah makin suka. Kamu semakin terlihat cantik bahkan dalam kegelapan begini." bisik Zayn tak peduli matanya menatap lekat wajah kekasih hatinya yang penuh amarah.
"Kamu... bagaimana bisa kamu masuk ke dalam kamarku?!" tanya Aruna gemetar.
"Haha... itu mudah sekali sayang," Zayn terkekeh pelan. "Aku ini bos mafia. Masuk ke rumah orang tanpa sepengetahuan mereka, itu adalah hal yang biasa aku lakukan untuk misi-misiku. Apa yang mustahil buatku?"
Wajah Zayn semakin mendekat. Tanpa aba-aba, bibirnya langsung menyambar bibir ranum Aruna secara paksa.
MMMMPHH!!
Aruna berontak sekuat tenaga, memukul dada pria itu tapi pergerakannya terkunci rapat. Tubuhnya dihimpit kuat ke dinding.
Saat ada celah sedikit saja, Aruna langsung memalingkan wajah membuka jendela kamarnya lebar-lebar dan siap berteriak sekuat tenaga.
"Zayn jangan begini, aku gak bisa. Aku gak mau, aku lemah sama sentuhan kamu.. Kamu kan sudah janji untuk melepasku dan membebaskanku. "
Zayn justru tersenyum puas mendengar jawaban itu. Tangannya mulai mengelus bahu terbuka Aruna, seketika membuat Aruna bergidik sensasi yang bagaikan listrik mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia tak bisa pergi karena pergerakannya di kunci penuh oleh Zayn.
"Kalau begitu nikmati saja sayang.. Aku mau dengar suara manja kamu saat kamu mendayu di telingaku.. Itu membuatku kecanduan dan tan bisa lepas Sayang.. "
Merasa ada kesempatan bicara, Aruna dengan cepat berteriak ke arah jendela kamarnya yang terbuka.
"AXEL!!!!!! TOLONG AKU AXEL!!!!"
Teriakan itu memecah keheningan sore.
Mendengar teriakan itu Zayn langsung menutup mulut Aruna dengan telapak tangannya yang besar. Posisinya kini berada di belakang Aruna, menahan tubuh yang meronta liar itu.
"Diam sayang... jangan membuat keributan..." bisik Zayn dingin di telinga gadis itu.
Dan dalam sekejap, Aruna merasakan sesuatu yang tajam menusuk pelan di lengannya. Cairan dingin mengalir masuk.
Seketika kepalanya terasa pening kakinya lemas tak bertenaga dan matanya perlahan terasa berat.
BRUK!
Tubuh mungil itu lemas dan jatuh tepat ke dalam gendongan Zayn yang siap menangkapnya.
"Kamu lebih baik tidur dulu dengan tenang Aruna..." bisik Zayn lembut menatap wajah polos gadis itu yang sudah tak sadarkan diri.
Di luar rumah...
Axel yang baru saja membuka pintu mobilnya, tiba-tiba menghentikan gerakannya. Telinganya menangkap samar suara teriakan yang sangat ia kenal. Itu suara Aruna memanggil namanya.
Tanpa pikir panjang, rasa khawatir dan cemas langsung meledak. Axel memutar balik tubuhnya dan berlari secepat kilat kembali masuk ke dalam rumah menaiki tangga menuju kamar Aruna.
Namun saat ia sampai di depan pintu... pintu itu terkunci rapat dari dalam.
"ARUNA!! ARE YOU OKAY??!" teriak Axel sambil menggedor-gedor pintu dengan panik. "JAWAB SAYANG!! ARUNA!!"
Tak ada jawaban. Hanya keheningan yang mencekam. Axel semakin panik. Otaknya bekerja cepat. Ia tidak punya waktu untuk menunggu atau mencari kunci cadangan. Satu-satunya cara adalah...
BRAAKK!!!
Dengan satu tendangan kuat menggunakan sisi kakinya yang terlatih bela diri Taekwondo, pintu kayu itu hancur berkeping-keping dan terbuka paksa. Axel melangkah masuk dengan napas memburu. Matanya melotot tak percaya melihat pemandangan di hadapannya.
Di tengah ruangan yang remang-remang, Zayn duduk santai di tepi ranjang, sedang Aruna terkulai lemas tak berdaya di pangkuannya.
Dan yang paling membuat darah Axel mendidih... Zayn justru terlihat sangat tenang, bahkan tersenyum sinis, tangannya dengan bebas membelai pipi dan rambut panjang Aruna. Di tangan satu lagi gelang pemberiannya untuk Aruna sengaja ia mainkan begitu saja. Tahu jika Aruna lebih memilih membuangnya, dari pada memakai atau menyimpannya. Gelang itupun ia temukan di tong sampah dekat Sofa.
Axel terdiam kaku. Tangannya terkepal kuat hingga bergetar. Ia ingin langsung menerjang dan menghajar pria itu, tapi ia tak bisa bertindak gegabah. Aruna ada di sana dan gadis itu sedang tidak sadarkan diri.
"ZAYN!! LEPASKAN ARUNA SEKARANG JUGA!!" teriak Axel suaranya melengking penuh amarah.
Zayn mendongak menatap Axel dengan tatapan menantang.
"Hm... aku terlalu mencintainya untuk rela melepaskannya begitu saja..." jawab Zayn santai. Ia bahkan menunduk dan mencium lembut punggung tangan Aruna yang tergantung lemas. Bahkan sampai mengecup pipi dan bibirnya berulang kali. Semakin membuat Axel mendidih, tapi tak bisa mendekat sembarangan.
"KAU APAKAN DIA?!!" tanya Axel, emosinya sudah memuncak di ubun-ubun.
"Hanya membuatnya tidur sebentar... supaya dia tenang dan tidak takut melihat kita berdua," balas Zayn enteng. Lalu memasukan gelang di tangannya ke saku jasnya.
"ZAYN!! HADAPI AKU!! JANGAN JADI PECUNDANG YANG SELALU MANFAATKAN KELEMAHAN ORANG!!" teriak Axel lagi, matanya berkaca-kaca menahan amarah. "HADAPI AKU SECARA JANTAN!! JANGAN LIBATKAN ARUNA, LEPASKAN DIA SEKARANG!!"
Axel mulai sadar suasana ini terlalu sunyi. Tidak ada satu pun pelayan atau pengawal yang datang berlarian mendengar keributan ini. Itu artinya... Zayn sudah merencanakan semua ini dengan sangat matang bahkan jauh sebelum Axel masuk ke dalam kamar ini. Permainannya baru saja dimulai.
"Aku terima tantanganmu Axel..." ucap Zayn santai sambil mengusap lembut rambut Aruna yang terkulai di gendongannya. "Tapi... aku culik dulu dia. Aku ingin manja dengannya dulu. Sudah lama rasanya kita tidak berduaan."
Ucapan itu bagaikan minyak yang disiramkan ke api yang sudah besar. Wajah Axel memerah padam menahan amarah yang tak tertahan lagi.
"JANGAN COBA-COBA BAWA DIA KABUR ZAYN!! ANCAMANKU SERIUS!!" teriak Axel siap menerjang.
"Hah... Menarik sekali..." Zayn tertawa mengejek, suaranya terdengar dingin dan meremehkan. "Kamu mengancamku seolah-olah kamu punya kekuatan besar untuk melawanku disini? Sadarlah Axel... kamu hanya sendirian."
Zayn melirik sekeliling ruangan dengan tatapan menang.
"Pengawalmu? mereka sudah tertidur lelap di bawah sana. Bahkan semua penghuni rumah ini... mereka semua sudah tak sadarkan diri. Tapi tenang saja, tidak ada yang akan terluka asal kamu tidak menghalangi jalanku."
Napas Axel tercekat. Jantungnya berdegup kencang bukan main.
"Dan aku?" sambung Zayn lagi sambil tersenyum menyeringai. "Pengawalku sudah berjaga ketat di depan gerbang. Mereka semua berpakaian seragam sama persis dengan pasukanmu. Jadi jangan harap ada bantuan yang masuk."
DEG!
Axel terpaku. Ia baru sadar betapa liciknya musuh di hadapannya ini. Orang-orang yang tadi ia lihat berjaga di depan yang ia kira adalah anak buahnya sendiri... ternyata itu adalah pasukan Zayn. Mereka menyamar sempurna. Axel benar-benar terjebak sendirian di sarang musuh.
Tanpa menunggu lagi rasa putus asa bercampur amarah membuat Axel melangkah lebar. Ia mendekat dengan cepat, berniat merebut Aruna paksa dari pelukan Zayn.
Namun Zayn jauh lebih cepat.
Dengan gesit dan lincah pria itu berdiri sambil tetap menggendong tubuh lemas Aruna, lalu mengelak dengan mudah serangan jangkauan tangan Axel. Ia mundur beberapa langkah tetap menjaga jarak aman.
"Ha... ironis sekali bukan melihat keadaanmu sekarang?" ucap Zayn tiba-tiba, nada suaranya berubah menjadi lebih berat dan penuh dendam masa lalu.
"Seorang panglima muda pewaris kekayaan besar... pada akhirnya jatuh cinta pada seorang wanita. Padahal dulu... kamu pernah mempermainkan perasaan adik perempuanku Axel."
Axel terdiam kaku. Ia ingat masa lalu itu.
"Aku kira sampai di situ saja rasa benciku padamu..." lanjut Zayn, matanya memancarkan aura gelap yang mencekam. "Aku kira aku hanya ingin membalas dendam karena kamu menyakiti keluargaku. Tapi siapa menyangka takdir berputar begitu gila. Kamu justru jatuh hati pada wanita yang kini menjadi obsesiku... kekasihku."
"Dia tidak pernah jadi kekasihmu Zayn!!" potong Axel tegas, suaranya bergetar menahan emosi. "Dia tidak pernah mencintaimu seperti caranya mencintaiku!!"
"Belum tentu..." jawab Zayn pelan namun penuh tantangan. Matanya menatap tajam manik mata Axel.
"Karena bagaimanapun juga... tubuh ini, hati ini, dan kenangan ini... adalah bagian yang hanya aku yang punya. Dan kamu tahu itu Axel... satu hal yang tak bisa terbantahkan, aku jauh lebih dulu mengenalnya dari pada kamu. Jauh lebih dulu masuk kedalam kehidupannya. Harusnya, kamu sadar itu. "