Damon terbangun dari mimpi buruknya.
Ia seperti mendapatkan ilham.
Ibaratnya, Damon bisa melihat makhluk-makhluk tak kasat mata dalam mimpinya.
Semua terjadi setelah ia tak sengaja menabrak batu nisan kuno di area Sungai Qinghe.
Apakah benar Damon bisa melihat sesuatu?
Mari ikuti kisah Damon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 The Dream Nibbler
Damon meloncat tinggi, menghindari ledakan keras tersebut.
Hamparan taman bunga Akasia ungu hancur rata dengan tanah, tapi muncul gelombang aneh setelah itu.
Damon terus siaga serta waspada terhadap bahaya yang akan datang di depannya.
Ia menggenggam erat-erat pedang Agni di tangannya sedangkan sorot matanya tertuju lurus.
Suara ledakan itu masih tersisa terdengar suaranya di sekeliling Damon.
"BOM..."
Tiba-tiba muncul diantara hamparan taman yang telah hancur di depan sana. Sebuah kunci perak ber simbol naga emas beserta kotak Kaca bermotif mata satu ungu diantara retakan tersebut.
Damon tercengang sesaat setelah melihatnya, tak menyangka dia akan mendapatkan benda yang dicarinya itu dengan sangat mudah.
Pelan-pelan Damon bergerak turun lalu melangkah ringan ke arah dua benda tersebut.
"Ternyata rahasia taman bunga ini menyimpan dua benda misterius itu, tanpa kesulitan, aku dapat menemukannya." gumam Damon seraya meraih kunci perak ber simbol naga emas serta kotak kaca bermotif mata satu ungu.
Damon memperhatikan dua benda misterius itu dengan seksama lalu berpikir serius.
"Kalau begitu aku tinggal memasukkan kunci ke lubang kunci pada kotak kaca ini." ucapnya lalu memasukkan kunci perak ber simbol naga emas pada lubang kotak kaca.
"Krek... Krek... Krek..."
Kunci diputar dengan cepat dalam kotak kaca bermotif mata satu ungu kemudian tutup kotak tersebut terbuka pelan.
Seketika itu juga pemandangan di hadapan Damon berubah, tampak sebuah pintu berukuran besar terpampang jelas di hadapan Damon.
Damon lagi-lagi tertegun, menatap lama dalam diam.
Suasana menjadi hening saat itu juga, bergegas Damon mengalihkan pandangan nya kembali pada kotak kaca di tangannya yang telah terbuka itu.
Dilihatnya satu kunci lagi terdapat dalam kotak tersebut.
"Satu kunci lagi..." pikirnya gamang seraya mengambil kunci perak yang sama dengan kunci pertama.
Sedetik kemudian tubuh Damon bergerak cepat ke arah pintu berukuran besar di depan sana. Dan salah satu tangannya terulur maju ke depan.
Tangan Damon yang memegang kunci perak mengarah pada lobang kunci pintu besar itu lalu berputar beberapa kali.
Pintu berukuran besar di hadapan nya kini terbuka dari dalam, Damon menunggu.
Namun bukan sambutan hangat yang Damon terima melainkan dorongan kuat dari arah pintu sehingga tubuh Damon terpental jatuh.
"Bruuuk."
Damon beringsut cepat dengan sorot mata tertuju tajam ke arah depan.
Ia duduk terdiam menunggu sesuatu datang dari dalam ruangan pintu berukuran besar itu, sedangkan salah satunya menggenggam kuat pedang Agni Prisma miliknya.
Suara langkah terdengar berdebum keras dari arah pintu besar yang terbuka lalu diiringi suara tawa parau terdengar dari sana.
Damon terhenyak sesaat, tapi pancaindra nya langsung bereaksi cepat, ia segera beranjak bangun menghadap lurus ke arah pintu.
Sesuatu meluncur kilat dari arah pintu besar yang terbuka di depan Damon, keluar dengan tenang seperti tanpa jejak tertinggal.
Bukan sesuatu yang indah layaknya peri ataupun bidadari melainkan sebuah Boneka yang wujud fisiknya telah rusak seperti lupa dikenang.
Boneka itu tidak punya wujud tetap. Bentuknya mengikuti rasa takut anak itu.
Perawakan tubuh boneka rusak itu kurus, jangkung, seperti bayangan manusia. Tulangnya kelihatan karena kulit nya tipis mirip kertas tisu basah. Warna abu-abu kebiruan, seperti jam tiga pagi.
Kepala boneka itu unik, kepalanya kebesaran dengan mata banyak, tapi semua terpejam. Ada tujuh hingga delapan kelopak mata menumpuk di satu wajah. Cuma buka kalau sudah dapat mimpi.
Dan mulutnya tidak ada bibir. Cuma sela-sela gigi jarum yang rapi melingkar, buat menyeruput mimpi layaknya sedotan.
Boneka rusak itu memiliki jari-jari yang panjang, ujungnya kuas lukis yang sudah kering. Dipakai buat mengorek dari kepala anak yang tidur.
Baunya mirip kamar anak yang seminggu tidak dibuka jendelanya. Apek dan bau bedak bayi basi serta bau sisa permen karet.
Boneka itu punya sebutan yaitu The Dream Nibbler atau Sanggar Penggigit Mimpi. Kalau bergerak akan terdengar suara berisik dari badan boneka rusak tersebut.
Damon terkesiap ngeri, bukan lantaran dia takut namun dia merasa iblis mimpi kali ini benar-benar memiliki perwujudan yang diluar nalarnya, seram, mengerikan bahkan ada rasa segan untuk membunuhnya.
Entah rasa apa itu, tapi Damon merasakan hal aneh ketika berhadapan dengan boneka tersebut.
Seperti ada rasa enggan untuk melawannya lantaran bentuknya yang memprihatinkan, iblis itu terlihat ringkih bahkan perlu dikasihani.
Damon terdiam cukup lama dalam keheningan. Pandangannya tetap fokus ke arah boneka rusak meski demikian urat sarafnya mulai mengendor.
Tidak ada kewaspadaan dari diri Damon, bukan dia meremehkan situasi sekarang ini melainkan semangat bertempur nya mulai ia rasakan melemah.
Apa sebabnya, Damon sendiri tidak memahami nya.
Hal unik dari The Dream Nibbler adalah Hal paling tidak iblis darinya. Sebab perwujudannya benar-benar berbeda dari sosok iblis mimpi yang rata-rata menyeramkan, The Dream Nibbler berbeda dalam bentuk Boneka rusak yang terlupakan.
Berangsur-angsur pemandangan disekeliling Damon berubah, berwarna-warni mimpi. Pintu besar di belakang sana menjelma menjadi Istana permen, bisa terbang, ketemu unicorn.
Damon semakin terhenyak kuat seakan tenggelam larut ke dunia mimpi Juang Liang yang diciptakan oleh The Dream Nibbler.
Tiba-tiba muncul Juang Liang berlarian kecil dari arah Istana permen, ia tertawa gembira.
Damon bertambah heran, karena dia tidak melihat kesedihan dari Juang Liang yang seperti dikhawatirkan oleh Tangki Mazu dari setiap ceritanya tentang sosok anak laki-laki itu. Tapi ia melihat wajah penuh keriangan dari ekspresi Juang Liang. Bocah itu berlarian senang di sekeliling area Istana Permen.
"Juang Liang... !!!" panggil Damon lantang.
Seketika langkah kecil Juang Liang terhenti, ia berbalik menghadap ke arah Damon yang berdiri menatapnya lurus.
Juang Liang seperti berpikir, ia asing terhadap Damon.
"Siapa kamu ?" tanyanya seraya memiringkan kepala ke kiri.
"Aku Damon. Aku diutus untuk membawamu kembali. Ikutlah denganku sekarang, Juang Liang." sahut Damon tegas.
"Ikut dengan mu...???" gumam Juang Liang dengan pandangan ke bawah.
"Juang Liang kita pulang sekarang." kata Damon.
"Pulang kemana ? Disini rumahku, aku tinggal di tempat ini. Kenapa aku harus pulang bersamamu ?" tanya Juang Liang kebingungan.
"Ke dunia nyata bukan di sini. Ini alam mimpi, sadarlah, Juang Liang." sahut Damon.
"Alam mimpi.... ?!" gumam Juang Liang semakin keheranan.
"Ya, disini adalah alam mimpi, bukan alam nyata, kau tidak semestinya tetap tinggal di sini, Juang Liang." kata Damon serius.
"Tidak... Di sini rumahku, aku tinggal di tempat ini sejak aku ada. Jangan berbohong pada ku lagi." kata Juang Liang.
"Percayalah pada ku, aku mengatakan yang sejujurnya, dan aku tidak berbohong padamu, Juang Liang. Mari ikut bersamaku !"
Damon mengulurkan tangannya ke depan, sambil melangkah pelan, ia mendekati Juang Liang yang berdiri mematung.
"Juang Liang..." panggil Damon yang mencoba menyentuh alam sadar Juang Liang.
Juang Liang menatap dingin Damon, ia melangkah mundur, menghindari jangkauan tangan Damon ke arahnya.
"Tidak... Aku tidak ingin ikut bersama mu, ini rumah ku, dan aku akan tetap di sini..." ucap Juang Liang.
"Keluarga mu menunggu mu kembali ke sisi mereka, dan mereka saat ini sedang menunggu kehadiran mu, Juang Liang." kata Damon serius.
"Tidak." sahut Juang Liang. Ia hentikan langkah kakinya lalu berdiri tertegun. "Aku tidak punya siapa-siapa dan aku sendirian, aku sebatang kara."
Kata-kata Juang Liang menghentakkan pikiran Damon, ia terdiam.
"Kenapa kau mengira bahwa aku punya keluarga yang menungguku?" tanya Juang Liang.
Damon agak gelagapan, tapi dia menjawab cepat.
"Tangki Mazu yang mengatakan semua itu." sahutnya.
"Bahkan kamu sendiri tidak mengenalku, tapi kenapa kamu mengatakan kalau keluarga ku sedang menunggu ku kembali." kata Juang Liang.
Damon semakin gelagapan sebab dia tidak tahu caranya menjelaskan pada Juang Liang, terus terang dia juga tidak kenal Juang Liang, tapi nekat menawarkan dirinya sendiri secara tolol untuk menolong jiwa anak laki-laki itu.
Pertanyaan kali ini adalah "Apakah Juang Liang benar-benar butuh bantuannya ?"