NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dicintai Chef Eksekutif

Dikhianati Suami, Dicintai Chef Eksekutif

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: Tulisan_nic

"Luka ini masih menganga, kata maaf dan khilaf tidak bisa menguburkanya. Pengkhianatan ini terlalu pahit, hingga aku susah untuk lupa!"

Ini adalah kisah Isana, seorang wanita yang dikhianati Andreas dengan begitu pahit, saat sedang mengandung anaknya. Namun menemukan kisah manis dibalik Cupcake kegemarannya, bersama Althaf Rafardhan, seorang chef yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara.
Andreas yang terpuruk karna menyadari, cintanya hanyalah untuk Isana, bukan Risa perempuan penggoda. Ingin kembali lagi, memperbaiki hubungan yang kandas. Mencoba membujuk Isana untuk rujuk, dengan dalih sebagai Ayah biologis anak laki-laki mereka.
Akankah Althaf membiarkan wanita yang ia cintai itu kembali pada pria yang sudah mengahancurkanya?
Dan apa keputusan Isana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kilat Menyambar

Andreas meremuk kertas itu, setelah ia baca berulang. Dari sekian banyak deretan huruf yang Isana tulis, yang menjadi fokusnya hanyalah tulisan yang mengatakan dirinya sedang menuju Serang. Kediaman mertuanya.

Jakarta Selatan dan Serang, butuh waktu sekurang-kurangnya satu setengah jam. Andreas melirik arlojinya, lantas beralih pada Dokter Syarifah.

"Dok, sejak kapan istri saya pergi dari Rumah Sakit ini?" tanyanya dengan nada cemas.

"Sekitar satu jam yang lalu ..." Ujar Dokter Syarifah, tenang.

Andreas menelan ludah, menguatkan lagi lututnya yang tadi sempat luruh. "Berarti, sebentar lagi sampai." Gumamnya lirih, pada diri sendiri.

Tanpa banyak basa-basi lagi, Andreas melebarkan langkah. Sepatu pantofel nya terdengar mengetap-ngetap, menghantam lantai marmer berwarna putih yang bersih mengkilap.

"Isana, maafkan aku. Aku akan menjemput kamu dan anak kita. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian menahan sakit akibat sikap burukku."

Suara Andreas bergetar, ketika duduk dibelakang kemudi. Tidak ada yang ia pikirkan, selain fokus pada perjalanan menuju Serang.

***

Sementara itu, ...

Isana baru saja turun dari mobil yang dikendarai Anton. Memintanya untuk menurunkan barang-barang persiapan persalinan yang ia bawa saat ke rumah sakit dan juga perlengkapan Ghazi.

Langkahnya sedikit terhuyung, wajahnya sedikit meringis menahan sakit. Bagaimana tidak sakit, jika memang ada bagian yang robek dibawah sana.

Pengalaman pertama melahirkan bayi laki-laki, cukup membuat Isana tahu. Kenapa surga berada di telapak kaki seorang Ibu. Karna nyatanya, menjadi seorang Ibu perlu pertaruhan nyawa, yang sakitnya tak pernah ada pembandingnya.

"Assalamualaikum, Ummi ..." Isana memaksakan salamnya terdengar sampai kedalam rumah.

Tidak terlalu lama, muncul seorang wanita paruh baya, mengenakan gamis hijau sage dengan jilbab instan senada. Tergopoh-gopoh menyambut Isana.

"Wa'alaikumsalam, Maasyaallah!" Wanita bernama Iffah itu terperangah. Sampai menutup mulutnya, melihat kehadiran Isana yang berdiri di ambang pintu— menggendong seorang putra.

"Isana ... Ya Allah ...!" ucapnya begitu panik. "Abah... Isana Abah ...!"

Ummi Iffa cepat-cepat mendekat. Meraih tangan Isana begitu erat ketika ia mengulurkan tangan untuk bersalaman.

"Ya ... Allah ... , Isa ... kamu sudah lahiran nak?" luruh tangis bahagia di pelupuk mata Ummi Iffa. Segera ia mengambil alih bayi yang ada di gendongan putrinya itu.

"Isana ...?!"

Suara berat dari seorang pria, yang baru saja keluar dari kamarnya.

"Iya Mas ... Ini aku." sahut Isana, bergantian menyalami Kahfi—Kakak satu-satunya yang ia punya.

Pria dengan postur tegap dengan rahang yang tegas itu, melongokkan kepalanya kearah luar. Gerakan seperti mencari-cari seseorang.

"Mana Andreas?" tanyanya.

Isana menjawab hanya dengan gelengan kepala. Membuat Ummi Iffa dan Kahfi terdiam, kemudian saling menatap.

"Kamu ke sini sendiri? Suamimu nggak nganterin kamu? Kapan kamu lahirannya?"

Di tanya dengan pertanyaan beruntun itu, membuat Isana justru menitikkan air mata yang sejak tadi ia tahan.

Ummi Iffa, mencelos. Melihat kedatangan putrinya dengan wajah sembab dan mata memerah.

"Isa, kemana dia?" Kahfi terus bertanya, dengan tatapan lekat pada mata adiknya.

Isana ingin menjawab, tapi suaranya tidak kunjung keluar. Tertahan di tenggorokan. Hanya bahunya saja yang naik turun tanpa bisa ia cegah.

"Sudah ... Sudah ... Jangan di cecar terus adikmu. Suruh dia duduk dulu. Kasian dia baru dari perjalanan jauh." Ucap Ummi Iffa dengan nada ia buat selembut mungkin. Dan berhasil membuat Kahfi bungkam.

"Loh ... Mobil didepan nganterin Isana to? Abah kira tadi siapa ..." Ujar pria paruh baya, yang menyebut dirinya Abah.

Melihat pria paruh baya itu, serta merta Isana menghambur. Meluruhkan semua tangis yang sedari tadi tak menemukan tempat berlabuh.

Abah Rohidin, pria bertubuh gempal dengan rambut putih keperakan itu menepuk-nepuk punggung putrinya. Pandangannya terpaku pada bayi mungil yang berada di gendongan istrinya.

"Duduk dulu Isa ..." ujar Abah.

Menemukan tempat pulang, yang ia tidak pernah khawatir akan mendapat penolakan membuat Isana mencurahkan segala kesakitannya.

Kilatan amarah di mata Andreas, sikap dingin yang selalu mempertebal dinding jarak terus berputar-putar di kepala Isana. Terlebih, fakta bahwa suaminya itu tidak menyentuh bayinya sedikitpun. Hal yang sangat menyesakkan untuk Isana, yang bertarung melahirkannya.

"Minum dulu, Dek ..."

Suara Kahfi lebih tenang, sembari menyodorkan segelas air putih pada Isana.

Isana mengangguk, mendengar panggilan Dek, dari kakak yang sebelumnya menjadi penjaga untuknya. Sudah lama Isana tidak mendengar panggilan itu, karna setelah menikah dengan Andreas hanya sekali ia berkunjung. Itupun karna mendapat kabar ada salah satu kerabatnya yang meninggal.

Alasannya sudah pasti, kesibukan Andreas yang seolah-olah tidak pernah bisa dipangkas. Kesibukan yang menjadi alasan Andreas untuk menolak ajakan Isana untuk mengunjungi keluarganya.

Air di gelas yang diberikan Kahfi, ia teguk setengah. Meski ditiap tegukan itu, terasa bagai duri-duri tajam yang menerobos masuk kekerongkongannya.

"Abah ... Lihat Abah, kita sudah punya cucu ..." Ucap Ummi Iffa, mencondongkan Ghazi lebih dekat ke arah Abah.

"Maasyaallah, siapa namanya Sa?" Sahut Abah, namun tatapannya tak lepas pada bayi tersebut.

Belum sempat Isana jawab, deru mobil memasuki halaman. Mesinnya padam, namun Isana cukup kenal dengan suara derunya.

Terlebih saat pengemudi itu melompat keluar. Tampak sosok Andreas, dengan wajahnya yang panik sekaligus cemas.

"Isa ... Isana?!" Panggilnya, sejak dari halaman.

Kahfi berdiri dari duduknya, segera bangkit mendekati Andreas. Emosi yang tadi ia tahan sejak kedatangan Isana begitu memuncak ketika bertemu langsung dengan orang yang ia duga menjadi penyebab tangis adiknya.

"Kamu apakan Isana, Ha?!" bentaknya, tak lagi punya kesabaran.

Andreas menelan ludah, wajah begitu kebingungan harus menjawab apa. Namun sedikit lega, karna tatapannya bertemu dengan tatapan Isana di dalam rumah.

Abah cepat-cepat menyusul, menepuk punggung Kahfi pelan. "Ke dalam dulu, nggak enak dilihat tetangga ..." ujarnya.

Kahfi mencoba menetralkan emosinya, tangannya yang masih mengepal, perlahan mengendur, meski bahunya masih nampak tegang.

Andreas menyalami Abah, mencium punggung tangannya dengan takzim.

"Masuk An, Anak dan Istrimu sudah ada didalam. Kita bicarakan semuanya baik-baik." Suara bijaksana dan begitu berwibawa milik Abah, membuat Andreas merasa takut sekaligus bersalah secara bersamaan.

Kesalahan yang sudah ia perbuat, rasanya ia tidak pantas mendapat perlakuan lembut dari mertuanya itu.

Andreas mengikuti langkah Abah, untuk segera masuk menemui istrinya.

Setelah menyalami Ummi Iffa, Andreas meluruhkan tubuh, bertumpu dengan lutut didepan kursi Isana duduk.

"Isa, Mas minta maaf ... Mas minta maaf." ucapnya lirih, tanpa peduli dengan tatapan Kahfi yang kembali menyala.

Abah menghela nafas, "Kalian sedang ada masalah? Selesaikanlah dulu berdua. Isa, ajak Andreas bicara berdua di kamarmu. Suami istri bertengkar karna salah paham itu biasa, yang penting kalian punya cara untuk memperbaiki nya."

Ucapan bijaksana dari Abah, lagi-lagi menyelamatkan Andreas, dari amukan Kahfi yang sejak tadi masih tak terima dengan tangisan Isana.

Isana menuruti nasehat ayahnya itu, dengan wajah meringis menahan sakit, ia berdiri melangkah gontai dengan sisa-sisa kekuatan yang ia punya.

Andreas mengikutinya dari belakang, ragu-ragu tangannya terangkat untuk merengkuh bahu Isana.

"Kamu mau minta maaf soal apa Mas?"

Suara Isana begitu pelan, namun bagai bom yang meruntuhkan saat itu juga bagi Andreas. Suasana kamar mendadak membeku, pertanyaan Isana soal 'maaf untuk apa' bagai paku yang menghujam tak memberinya peluang untuk mengelak.

Andreas menelan ludah, mengatur detak jantungnya yang menggila. Nafasnya tertahan, dengan mulut terbuka namun tanpa suara.

Baru saja, Andreas menutup pintu kamar mereka, terdengar panggilan Ummi Iffa dari luar.

"Isana, Andreas ... Itu ada perempuan nyari Andreas! Katanya namanya Risa!"

Suara Ummi Iffa selalu lembut, namun kali ini ... bagi Andreas bagai kilatan petir yang keras. Menghantam sisi dirinya yang sejak tadi ia sembunyikan mati-matian.

*

*

*

~Salam hangat dari Penulis 🤍

1
Black Swan
Hadeuh jangan bilang itu isana yang masih penasaran sama andreas
mawar merah
Sakit ya andreas...makanya jadi suami itu yang bersyukur🤭🤭🤭🙏
_Nic: Denger tu Andreas, kamu sih nggak bersyukur🤭
total 1 replies
neny
gpp ketemu sm risa jg,,isana kan baik,,gk bakal berantem,,suami nya ajh di kasih sm isana ke risa,,🤭
_Nic: Iya ya kak, tungguin cerita selanjutnya ya🤭
total 1 replies
_Cherryl🍒
Udah pasti si Risa lah, siapa lagi mana mungkin Isana. angkut tuh barang bekas Risa, Isana nggak butuh.
_Cherryl🍒
aku pengen gampar balik bu Dewi, sumpah, berani banget nyentuh Isana ku. tapi tiba-tiba marahku mereda saat Isana mendapatkan perhatian dari Althaf.
Black Swan
Althaf jangan bujuk isana buat balikan sama Anreas ya
Black Swan
Ya elah Isa jangan melembek please. Althaf udah nunggu kamu tuh
mawar merah
Alhamdullilah Isana menerimanya, semoga dengan bekerja dia bisa melupakan sakit hatinya.
_Nic: Aamiin semoga ya ka
total 1 replies
mawar merah
Semoga pernikahan Khafi dan Gendhis SAMAWA ya🤭🤭🤭
neny
gk ush nyalahin orang,,itu semua murni kesalahan km,,althaf hanya menggambil jodoh nya yg dititipkan sebentar ke kamu🤣🤣
neny: klau lama mah bukan titipan kak,,nanti jd hak milik🤣🤣
total 2 replies
neny
cie,,cie,,yg bs lebih deket sm calon istri🤭🤭
neny
sang pangeran yg akan membahagiakan mu isana🤭🤭
mawar merah
Selamat Isana sudah menjadi janda yang terhormat...
_Nic: Janda terhormat buat Mas Althaf 🤣
total 1 replies
mawar merah
Jangan-jangan laki-laki yang akan dijodohkan dengan Isana itu Althaf ya
_Nic: Jangan-jangan iya, duh
total 1 replies
_Cherryl🍒
kamu memang terlalu baik Isana. Jadi aku yang akan mewakili kamu tertawa jahat disini melihat kondisi Andreas. hahahaha mampus.
_Cherryl🍒
Kata aku mah cuekin aja bang, anggap aja Abang nggak liat apa-apa, ayo tutup matanya 🙈
_Nic: pura-pura nggak liat
total 1 replies
Black Swan
Mohon kerja samanya ya Mas Khafi, jangan kasih tau Isana atau siapapun juga😏😏😏
_Cherryl🍒
boleh nggak sih ketawa diatas penderitaan orang lain.
Black Swan
Saya bantu cari tukang gali kubur ya Risa
_Cherryl🍒
ngapain sih pake nyusulin segala nggak tau malu banget. Itu lagi ular Keket memang susah ya bikin geram saja nanti aja kalau udah selesai sama Isana tinggal giliran kamu pepet si Andreas biar nggak kabur kaburan Mulu.
_Nic: Mau klarifikasi hasil zina kek nya🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!