Emma Taylor terpaksa harus melunasi hutang pamannya kepada seorang pria asing kaya raya yang tinggal di rumah besar Anggrek Residen.
Jatuh tempo pembayaran sudah sangat dekat bagi paman Broeri untuk membayar hutang tersebut namun dia tidak mempunyai uang sepeser pun saat dia ditagih oleh pria asing kaya raya itu yang bernama Noah Jones.
Terpaksa Emma yang harus menanggung hutang tersebut kepada Noah Jones pemilik rumah Anggrek Residen.
Karena Emma Taylor juga tidak mempunyai uang buat melunasi hutang paman Broeri maka dia dipaksa membayar dengan rahimnya.
Bagaimana nasib Emma Taylor selanjutnya, sanggupkah dia melunasi hutang milik paman Broeri Goldman atau dia memilih melarikan diri.
Mari kita simak kelanjutan kisah ini dalam novel berjudul Rahim Bayaran Milik Emma.
Salam buat semua pemirsa 🎂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Hermione Menolak Percaya
Jade terpaku diam, tatapannya menoleh ke arah papanya.
Soraya buru-buru berjalan masuk ke ruang makan untuk membersihkan kekacauan yang Jade lakukan baru saja.
"Biar saya bersihkan meja makannya, baru saya akan hidangkan makanan buat kalian berdua." ucap Soraya seraya mengelap meja makan dari genangan air minum yang tumpah.
"Oh, eh, yah, maaf, aku baru sadar, tak sengaja menumpahkan nya." sahut Jade buru-buru bangun dari kursi makannya dan menjauh.
"Saya sarankan buat anda segera mengganti pakaian anda, coba anda lihat baju nona terkena tumpahan air dan basah." kata Soraya.
"Oh, tidak. Ya, ampun, aku baru menyadari nya." sahut Jade sambil mengibaskan tangannya ke arah gaunnya.
"Pergilah ke kamarmu, Jade. Dan segeralah ganti pakaian mu. Tidak baik membiarkan nya basah seperti itu, nanti kamu masuk angin." sambung papa serta memperhatikan ke arah Jade yang berdiri di pinggir kursi makan.
"Tapi... Jade belum makan siang, dan Jade sudah tidak sabar lagi ingin menyantap daging panggang rusa itu, papa." tolak Jade. "Jade rasa ini bukan suatu masalah besar bagi Jade."
"Dengan pakaian sebasah itu, kau pikir kami akan ijinkan. Jangan membantah lagi, Jade. Dan segeralah pergi ke kamarmu, ganti lah pakaianmu." perintah papa.
"Ayolah, papa. Jade bukan anak kecil lagi sekarang, Jade tahu mana yang baik untuk Jade." sahut Jade.
"Jade. Dengarkan kata-kata papa!" ucap papa dengan nada menekan tegas.
Jade tak lagi bisa membantah perintah papa nya, ia berbalik badan menuju luar ruang makan, ia berjalan pelan sembari menunduk kecewa.
Papa Jade cuma menggeleng pelan, melihat kelakuan putrinya itu sedangkan Soraya cuma tersenyum lembut menanggapi reaksi majikan nya.
"Tolong antarkan makanannya jika Jade sudah selesai berganti pakaian, kurasa anak itu agak kecewa karena sikap tegas ku pada nya." kata papa.
"Baik, pak." sahut Soraya.
"Biar dia makan siang di kamarnya, aku tahu dia pasti kehilangan selera makan nya karena situasi ini." kata papa.
"Saya mengerti, pak." jawab Soraya dengan anggukkan kepala.
"Yah, terimakasih atas pengertian nya, Soraya." kata papa.
"Sudah semestinya demikian, pak." sahut Soraya sembari tersenyum halus.
"BLAM... !"
Pintu kamar Jade tertutup dari dalam kamar, Jade bersandar berdiri di depan pintu kamarnya saat dia tiba di sana.
Jade menarik nafas pelan sambil memandang ke bawah.
"Bisa-bisanya aku ceroboh, menumpahkan minuman ke pakaian ku, mana lagi pakaian ini salah satu koleksi Dior favorit ku." keluh Jade sambil mengibaskan tangannya ke arah pakaiannya.
Jade menoleh ke meja riasnya, ia berjalan ke arah meja tersebut.
"Ya, Tuhan... Penampilan ku kacau sekali. Pantas saja kalau papa menyuruh ku segera berganti pakaian baru." ucapnya.
Jade bercermin pada kaca rias di hadapannya, memperhatikan seksama gambaran dirinya pada cermin tersebut.
"Sebaiknya aku cepat berganti pakaian dengan pakaian yang bersih lalu mengabari Hermione." ucapnya.
Jade lekas menuju kamar gantinya, berniat mengganti pakaian nya yang ketumpahan air minum, tak lama kemudian ia telah berganti pakaian dan keluar dari ruangan gantinya setelah ia mandi, kali ini ia lebih berpenampilan sederhana daripada penampilan nya sebelum nya.
Ia bergegas menuju laci lemari, bermaksud mengambil laptop miliknya yang tersimpan di sana.
"Aku akan menghubungi Hermione sekaligus Anita melalui jaringan internet pada laptop, akan lebih mudah berbicara paralel dengan mereka lewat laptop." ucap Jade lalu mengeluarkan seperangkat laptop dari laci lemari.
Jade meletakkan laptop miliknya ke atas tempat tidur lalu menyalakan nya.
"Selamat siang, Hermione..." sapanya melalui panggilan video call dari kamera laptop.
Layar laptop milik Jade menampilkan gambar sosok Hermione yang sedang menghadap ke arah Jade.
"Selamat siang, Jade. Apa kamu sudah makan siang ?" Hermione membalas sapaan Jade lewat layar laptop.
"Aku sebenarnya tidak ingin menyampaikan apa-apa padamu, tapi masalah nya ini menyangkut keselamatan kita semua, maksudku kita bertiga, aku, kamu, dan Anita." kata Jade.
Jade menatap serius pada layar laptop di hadapan nya, ia terdiam, menunggu reaksi Hermione.
"Memangnya masalah apa yang kita hadapi sekarang, jangan kamu katakan tentang nenek bau busuk itu lagi karena aku tidak lagi mau mendengar nya, Jade." kata Hermione sambil mengikir ujung Kuku-kukunya.
"Tapi aku memang akan mendiskusikan tentang dia pada kalian." sahut Jade.
Hermione menghentikan gerakan tangannya lalu menoleh ke arah Jade dari layar laptop.
Ia sedang mengunyah permen karet sembari memandangi Jade kemudian berkata acuh.
"Untuk apa kita diskusi kan manusia buruk rupa dan bau busuk itu lagi, kurasa kita tidak ada hubungannya, dan kamu menghubungi ku hanya hal sepele itu ?!" ucap Hermione terlihat kesal.
"Jangan jelek-jelek kan dia lagi. Kamu tidak tahu status wanita tua itu, Hermione." kata Jade.
Hermione semakin kesal, ia menatap tajam sembari melipat kedua lengannya ke depan dada lalu berdecak keras.
"Ck... Ck... Ck... Kenapa denganmu, Jade. Tiba-tiba membela dia, apa kamu tahu status dia sekarang dan kamu memilih membelanya mati-matian ?!" ucapnya.
"Bukannya aku membela wanita tua itu, jika kamu tahu apa yang akan aku ceritakan padamu tentang dia maka kamu akan terkejut bahkan kamu harus siap-siap menghadapi akibatnya, Hermione." sahut Jade.
"Ya, ampun, Jade..." ucap Hermione disertai tawa pendek. "Kamu idiot, kenal saja dengan nenek bau itu tidak, tapi kamu justru ketakutan, cuma mendengar status sosial dia."
Hermione semakin mempercepat kunyahan permen karet di mulutnya, menatap sinis lalu memaki Jade.
"Dasar tolol. Pakailah sedikit sebagian otakmu itu, Jade." ledeknya. "Jelas-jelas dia berstatus miskin, kamu nya saja yang membesar-besarkan cerita nenek busuk itu dan menganggap tinggi status dia."
"Tidak seperti itu kenyataannya, Hermione." sanggah Jade bersikeras.
"Kenyataan apa ? Hah ?" tegur Hermione mulai tersulut emosinya.
"Pada kenyataannya, Nyonya Charlotte adalah komisaris utama perusahaan. Dan dia benar-benar nenek dari CEO Noah Jones, dan kamu harus tahu itu, Hermione."
Sejenak kata-kata Jade membuat tercengang Hermione namun dia cepat-cepat menutupi keterkejutan nya itu.
Hermione berdehem pelan, pandangan nya tertunduk sesaat lalu dia tertawa canggung.
"Yang benar saja, Jade. Itu tidak mungkin. Kamu cuma mengkhayal saja, nenek bau itu tidak mungkin seorang komisaris utama bahkan aku menganggapnya cuma sampah busuk." ucapnya.
"Aku punya rekaman video wanita tua itu bersama seorang pria dewasa yang dipanggil nya dengan nada sayang, kurasa pria itu adalah cucu laki-laki nya." tegas Jade.
Hermione semakin tertawa mengejek, ia tersenyum sinis. Ia arahkan jari tangannya ke kepalanya.
"Jade... Jade... Aku tidak mengerti diri mu lagi meski kita berteman cukup lama, tapi aku tidak mengenal mu lagi sekarang." sindir nya. "Mana ada nenek-nenek bau sebusuk itu punya keturunan sempurna."
"Aku akan tunjukkan bukti rekaman video nya padamu, dan kamu tidak lagi bisa menyangkalnya, Hermione." sahut Jade.
Jade mengeluarkan gawai miliknya lalu menunjukkan hasil rekaman video Nyonya Charlotte kepada Hermione dari arah layar laptop nya.
"Lihat kan ! Bukti aku punya rekaman video tentang nenek itu, mana aku berbohong padamu." tegas Jade.
Jade memperlihatkan rekaman video berisi Nyonya Charlotte sedang bersama-sama Juan, cucu laki-laki wanita tua renta itu.
Bukannya Hermione menerima kenyataan dengan hati lapang dada malah dia semakin tertawa mengejek.
"Ayolah, Jade. Kamu suruh aku percaya pada hasil rekaman konyol itu. Jelas-jelas nenek bau itu terlihat seperti pembantu pria kaya raya, coba perhatikan cara mereka berjalan. Canggung !" tegas Hermione seperti dia tidak terima kenyataan tentang Nyonya Charlotte yang sebenarnya.
Hermione kembali duduk di sofa kamarnya, ia masih mengunyah permen karetnya dengan asal. Ia tersenyum tipis dengan tangan melipat di dada lalu berkata pada Jade.
"Kamu buang-buang waktu ku percuma, Jade." ucap Hermione sambil memalingkan muka. "Lelucon ini tidaklah lucu bagiku, aku tidak suka kamu mempermainkan ku seperti ini."
Jade terlihat sedih bahkan sangat kecewa karena usahanya untuk membuktikan pada Hermione tentang Nyonya Charlotte dianggap angin lalu saja oleh sahabatnya itu.
"Tapi, Hermione... Aku tidak sedang melucu atau membuat lelucon konyol. Karena ini kenyataan yang sesungguhnya tentang wanita tua itu, maksudku Nyonya Charlotte." sahut Jade.