Alana tidak menyangka pernikahannya dengan Rendi harus berahir di tengah derasnya air sungai,Rendi dan Lisa selingkuhannya,dengan teganya membuang Alana kesungai untuk menghabisinya dan menguasai harta peninggalan orang tua Alana .Untung saja ada Arka yang menolongnya,dengan di bantu Arka,Alana kembali bangkit membalas penghianatan Suaminya dan mengambil hartanya yang sudah dirampas Rendi dan Lisa
Bagaimana selanjutnya kehidupan Alana Dan Arka ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya kesombongan Lisa,dan kemenangan untuk Alana
Lorong-lorong Tamara Tower kembali ke dalam pelukan kesunyian yang dingin setelah derap langkah kaki para petugas kepolisian dan seretan langkah Rendy Pratama menghilang di balik pintu lift.
Aroma sisa kopi, wiski, dan ketakutan yang pekat perlahan menguap, digantikan oleh embusan udara dari pendingin ruangan yang monoton. Di dalam kantor megah berlantai marmer itu, kini hanya tersisa dua orang: Alana dan Arka.
Alana masih berdiri di posisi yang sama, menatap pintu ganda yang tertutup rapat. Tubuhnya yang sebulan ini dipaksa tegap dan kaku di bawah nama Elena Van Doren mendadak bergetar hebat. Bahunya merosot.
Air mata yang sejak tadi ditahannya kini mengalir deras tanpa suara, membasahi pipi hasil rekonstruksi bedah terbaik yang pernah dibeli dengan uang. Itu bukan air mata kesedihan; itu adalah air mata dari sebuah pelepasan beban yang teramat sangat besar. Beban dari rasa terhina, rasa dikhianati, dan rasa sakit luar biasa saat tubuhnya dihempas ke dalam sungai yang gelap gulita.
Sebuah kehangatan yang kokoh perlahan melingkari bahunya. Arka melangkah mendekat, menyelimutkan jas hitamnya ke atas pundak Alana yang gemetar, lalu membalikkan tubuh wanita itu dengan lembut agar menghadap ke arahnya.
"Menangislah, Alana," ucap Arka, suara baritonnya terdengar begitu lembut, jauh dari nada dingin penuh intimidasi yang ia gunakan pada Rendy beberapa menit lalu. "Habiskan seluruh sisa air mata dari masa lalumu malam ini. Kau telah menyelesaikan bagian terberat dari perjalanan ini. Kau telah merebut kembali takdirmu."
Alana menyandarkan dahinya di dada Arka, membiarkan kain kemeja hitam pria itu menyerap tetesan air matanya. Tangannya mencengkeram erat lengan jas Arka, seolah pria itu adalah satu-satunya tiang pancang yang menjaganya agar tidak runtuh di tengah badai pasca-kemenangan.
"Rasanya ... masih sangat tidak nyata, Arka," bisik Alana, suaranya parau dan bergetar. "Melihat dia berlutut, melihat ketakutan di matanya saat topengku terbuka ... Aku mengira aku akan merasa sangat bahagia hingga ingin tertawa keras. Tapi mengapa yang tersisa di dalam dadaku sekarang hanyalah rasa hampa yang begitu sunyi?"
Arka mengelus rambut bob hitam Alana dengan gerakan yang menenangkan.
"Karena kau adalah manusia dengan jiwa yang utuh, Alana. Bukan monster mekanis seperti Rendy atau Lisa. Balas dendam, sebersih apa pun kita mendesainnya, tetaplah sebuah proses pembedahan tumor yang menyakitkan. Kau tidak merindukan Rendy, kau hanya sedang berduka untuk ketulusanmu yang pernah diinjak-injak di masa lalu. Dan malam ini, masa berduka itu telah resmi berakhir."
Arka menuntun Alana untuk duduk di sofa kulit yang empuk, lalu menyerahkan secangkir teh kamomil hangat yang baru saja ia tuang.
Alana menerima cangkir itu dengan kedua tangannya yang masih sedikit bergetar, membiarkan uap hangatnya menyentuh wajahnya.
"Lalu, apa yang akan terjadi pada mereka sekarang?" tanya Alana setelah berhasil menguasai emosinya kembali, tatapan matanya kembali menajam, memancarkan sisa-sisa ketegasan Elena Van Doren.
Arka duduk di sampingnya, menyandarkan punggungnya seraya menatap dokumen-dokumen yang berserakan di lantai.
"Hukum akan bekerja dengan sangat kejam untuk orang-orang seperti mereka, Alana. Rekaman suara dari ponsel Lisa adalah bukti primer yang tidak bisa dibantah oleh pengacara manapun di negeri ini. Jaksa akan menggunakan pasal pembunuhan berencana yang gagal, ditambah dengan pasal penipuan klaim asuransi korporasi dan pencucian uang."
Arka menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis yang dingin. "Lisa, demi menyelamatkan dirinya dari hukuman mati atau penjara seumur hidup, telah memberikan kesaksian yang sangat memberatkan Rendy. Mereka akan saling mencakar dan saling menjatuhkan di dalam ruang sidang, mempermalukan diri mereka sendiri di depan seluruh media nasional yang sejak sore ini sudah mulai mencium bau skandal besar ini. Rendy akan menghabiskan sisa usia mudanya di dalam sel beton yang sempit, meratapi kebodohannya yang telah melepaskanmu."
Alana menyesap tehnya perlahan, merasakan kehangatan yang mulai mencairkan rasa hampa di dalam dadanya.
"Dan bagaimana dengan Adiguna Group? Perusahaan yang dibangun dengan tetesan keringat ayahku?"
"Besok pagi adalah hari kelima, hari di mana klausul jaminan silang resmi jatuh tempo," Arka menjelaskan, tatapan matanya beralih menatap layar monitor keuangan yang masih menyala di meja kerja. "Tim hukum kita akan memasukkan draf pengalihan saham mayoritas sebesar enam puluh persen ke dalam sistem administrasi hukum negara. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Adiguna Group akan resmi jatuh ke tangan Van Doren Group secara mutlak. Nama Rendy Pratama akan dihapus dari seluruh sejarah perusahaan, seolah-olah dia hanyalah sebuah kesalahan kecil yang menumpang lewat."
Arka menoleh, menatap Alana dengan intensitas yang dalam. "Perusahaan itu akan kembali menjadi milikmu, Alana. Kau bisa mengelolanya kembali, membangun Adiguna City menjadi warisan sejati dari ayahmu, tanpa ada lagi bayang-bayang pengkhianatan di dalamnya."
Alana terdiam, menatap pantulan dirinya di permukaan air teh di dalam cangkir kristal. Wajah di dalam pantulan itu bukan lagi wajah Alana yang dulu,wajah yang penuh kepasrahan dan kelembutan yang naif. Wajah yang ada di sana adalah wajah Elena Van Doren, seorang wanita yang kuat, anggun, dan telah melewati api penyucian yang paling membakar.
"Aku tidak ingin kembali menjadi Alana yang dulu, Arka," ucapnya tegas, mendongak menatap sepasang mata hitam pria di sampingnya. "Alana yang dulu terlalu lemah. Aku akan tetap menjaga nama Elena Van Doren di dunia bisnis. Aku ingin dunia mengenal wanita ini sebagai sosok yang membangun kembali reruntuhan Adiguna Group dari kehancuran."
Arka tersenyum, sebuah senyuman tulus yang sangat jarang ia tunjukkan kepada siapa pun di dunia ini. Sorot matanya memancarkan rasa bangga yang teramat dalam terhadap transformasi wanita di hadapannya. "Pilihan yang sangat bijaksana, Madam Elena. Nama itu telah memiliki reputasi yang terlalu besar untuk dibuang begitu saja."
Tiga jam kemudian, malam telah mencapai puncaknya. Sebuah sedan mewah hitam milik Arka bergerak membelah jalanan Jakarta yang mulai sepi menuju ke kawasan perumahan elit di pinggiran kota, tempat sebuah vila kolonial tua berdiri dengan pengamanan yang sangat ketat.
Tempat itu adalah fasilitas isolasi pribadi milik jaringan bisnis Arka,tempat di mana Lisa saat ini ditahan sementara sebelum diserahkan sepenuhnya kepada otoritas kejaksaan minggu depan.
Alana meminta Arka untuk membawanya ke sana. Ada satu draf penutup yang ingin ia selesaikan secara pribadi dengan wanita yang telah merebut suaminya dan mencoba melenyapkan nyawanya.
Pintu kayu jati besar vila itu terbuka, menampilkan koridor remang-remang yang dijaga oleh dua orang pria berbadan tegap mengenakan setelan jas hitam.
Budi menyambut kedatangan Arka dan Alana, lalu menuntun mereka menuju sebuah ruang tamu luas yang didominasi oleh perabotan kayu tua.
Di sudut ruangan, duduk Lisa di atas sebuah sofa beludru merah yang usang. Penampilannya sangat mengenaskan. Gaun tidur sutra hitam yang ia kenakan saat diusir Rendy semalam kini tampak kusut dan kotor di beberapa bagian. Rambut panjangnya yang biasanya ditata rapi di salon mewah kini acak-akan, dan wajahnya bengkak akibat tangisan dan bekas cengkeraman tangan Rendy yang mulai memar membiru
Begitu mendengar suara langkah kaki, Lisa mendongak dengan cepat. Matanya yang dipenuhi ketakutan instan membelalak saat melihat Elena Van Doren melangkah masuk bersama Arka.
"Kau ..." Lisa terbata-bata, tubuhnya gemetar hingga ia merapatkan punggungnya ke sandaran sofa, seolah mencoba menjauh dari Alana sejauh mungkin. "Mau apa lagi kalian?! Aku sudah menandatangani berkas pengakuan itu! Aku sudah memberikan semua yang diminta oleh orang-orangmu! Jangan bunuh aku ... aku mohon ..."
Alana tidak segera menjawab. Ia berjalan mendekati sofa tempat Lisa duduk, lalu berhenti tepat satu meter di depannya. Alana menatap Lisa dari atas ke bawah dengan pandangan mata yang sangat dingin, seolah sedang melihat seonggok sampah yang membusuk di tepi jalan.
"Aku tidak datang untuk membunuhmu, Lisa," ucap Alana. Nada suaranya kembali ke intonasi aslinya,suara yang sangat dikenal oleh Lisa selama bertahun-tahun mereka berteman di masa lalu.
"Membunuhmu hanya akan membuat tanganku yang bersih menjadi kotor oleh darah seorang parasit sepertimu."
Lisa tersentak hebat saat mendengar karakteristik suara itu tanpa draf aksen Eropa. Ia menatap wajah Alana dengan mata yang melebar karena syok yang luar biasa. Ingatannya berputar cepat, mencocokkan nada suara itu dengan bayangan seorang wanita yang selalu ia khianati di belakang layar.
"Suara ini ... tidak mungkin ..." Lisa menjerit kecil, tangannya menutup mulutnya sendiri yang bergetar. "Kau ... Alana?! Kau masih hidup?!"
"Ya, Lisa. Aku masih hidup," sahut Alana, bibirnya melengkung membentuk senyuman kejam yang sangat dingin. "Aku adalah hantu dari masa lalu yang kau dan Rendy coba tenggelamkan di sungai itu. Aku kembali untuk mengambil semua yang telah kau curi dari hidupku."
Lisa menggelengkan kepalanya histeris, air matanya kembali tumpah. "Alana ... maafkan aku! Aku khilaf! Rendy yang memaksaku! Dia yang tidak sabar untuk menguasai saham milik ayahmu! Aku hanya mencintainya, Alana ... Aku tidak bermaksud menyakitimu!"
"Kau tidak bermaksud menyakitiku?" Alana memotong dengan tawa kecil yang terdengar sangat mengerikan di dalam kesunyian ruangan. "Kau tidur dengan suamiku di dalam rumah yang dibeli dengan uang ayahku. Kau merancang draf pencairan asuransiku bahkan sebelum tubuhku mendingin di dasar sungai. Dan kau bilang kau tidak bermaksud menyakitiku?"
Alana membungkuk sedikit, menatap langsung ke dalam manik mata Lisa yang dipenuhi oleh teror yang absolut. "Kau tahu apa yang paling memuaskan dari semua ini, Lisa? Melihat bagaimana Rendy melemparmu keluar dari penthouse-nya semalam seperti sampah yang tidak berharga. Kau mengorbankan kehormatanmu, dan moralitasmu demi seorang pria ... yang pada akhirnya mencopot harga dirimu dalam sekejap hanya karena silau oleh kekayaan palsu yang kutunjukkan sebagai Elena Van Doren."
Lisa meratap, ia menjatuhkan dirinya ke lantai, mencoba meraih ujung gaun Alana untuk memohon belas kasihan. "Alana, tolong ... aku mohon, cabut tuntutan itu! Aku tidak mau masuk penjara! Aku akan melakukan apa saja! Aku akan menjadi budakmu jika kau mau!"
Alana menarik gaunnya dengan cepat dari jangkauan tangan Lisa, melangkah mundur mendekati Arka yang sejak tadi mengawasinya dengan pandangan protektif yang kokoh.
"Kau akan masuk penjara, Lisa. Bersama dengan Rendy," ucap Alana dengan nada final yang tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk negosiasi. "Kau akan menghabiskan sisa masa mudamu di balik jeruji besi yang dingin, tanpa kemewahan, tanpa tas-tas mahal, dan tanpa ada satu pria pun yang akan melihatmu. Itulah harga yang harus kau bayar karena telah bermain-main dengan nyawa Alana Adiguna."
Alana membalikkan badannya, tidak lagi sudi melihat ratapan wanita di bawahnya.
Ia melangkah keluar dari ruangan itu bersama Arka, meninggalkan Lisa yang menjerit dan menangis histeris di atas lantai koridor vila tua yang sunyi.
Di luar, langit malam Jakarta mulai meneteskan air hujan yang rintik-rintik, membasahi bumi seolah sedang membersihkan sisa-sisa kotoran dari sebuah drama pengkhianatan yang panjang.
Alana mendongak menatap langit, merasakan udara malam yang dingin meresap ke dalam kulit wajah barunya.
Badai telah berlalu, reruntuhan masa lalu telah dibersihkan, dan kini, di atas tanah yang bersih itu, Elena Van Doren siap membangun kerajaannya sendiri bersama pria yang selalu menjaganya dari balik bayangan.