NovelToon NovelToon
Pembalasan Istri Yang Terbuang

Pembalasan Istri Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Alana tidak menyangka pernikahannya dengan Rendi harus berahir di tengah derasnya air sungai,Rendi dan Lisa selingkuhannya,dengan teganya membuang Alana kesungai untuk menghabisinya dan menguasai harta peninggalan orang tua Alana .Untung saja ada Arka yang menolongnya,dengan di bantu Arka,Alana kembali bangkit membalas penghianatan Suaminya dan mengambil hartanya yang sudah dirampas Rendi dan Lisa
Bagaimana selanjutnya kehidupan Alana Dan Arka ??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengusiran Lisa

Malam jatuh dengan berat di atas kota Jakarta. Angin kencang berembus membawa awan mendung yang pekat, menciptakan atmosfer yang mencekam di sekitar penthouse mewah di kawasan Menteng.

Di dalam ruang kerja pribadinya yang berantakan, Rendy Pratama duduk dengan mata merah dan rambut yang acak-acak. Botol wiski di sampingnya sudah kosong setengah, namun alkohol sama sekali tidak mampu mematikan rasa panik yang membakar dadanya.

Waktu empat hari yang tersisa dari vonis Elena Van Doren terus berdetak di dalam kepalanya seperti bom waktu. Setiap detiknya terasa mencekik. Usahanya sepanjang hari untuk mencari pasokan semen dan baja dari jalur alternatif selalu menemui jalan buntu. Semua pintu seolah telah dikunci oleh kekuatan raksasa yang tidak ia ketahui asal-usulnya.

Pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka dengan sentakan kasar. Lisa melangkah masuk dengan gaun tidur sutra hitamnya. Wajahnya tampak pucat, namun matanya memancarkan kemarahan yang membara setelah sehari penuh ia dikurung di dalam penthouse tanpa kejelasan status, pasca-surat pemecatan sepihak yang dikeluarkan Rendy.

"Sampai kapan kau mau bersembunyi di sini, Rendy?!" pekik Lisa, suaranya yang melengking menusuk kesunyian malam. "Kau memecatku dari jabatan Direktur Pemasaran, kau mengabaikan teleponku, dan sekarang kau duduk di sini seperti pecundang yang mabuk! Kau pikir kau bisa menyingkirkanku begitu saja setelah semua yang kita lakukan?!"

Rendy tidak mendongak. Ia hanya mendengus kasar, memutar gelas wiski di tangannya dengan jemari yang gemetar. "Keluar, Lisa. Aku sedang tidak punya waktu untuk meladeni kegilaanmu."

"Kegilaanku?!" Lisa tertawa sumbang, melangkah mendekat hingga ia berdiri tepat di depan meja marmer Rendy. Ia menggebrak permukaan meja dengan kedua tangannya. "Jangan lupa, Rendy! Siapa yang membantumu berdiri di atas panggung kemewahan ini! Siapa yang memberikan ide untuk membuang Alana ke sungai malam itu?! Tanpa rencanaku, kau tidak akan pernah menyentuh hak suara mayoritas saham perusahaan ini! Kau tidak akan pernah mendapatkan uang asuransi lima puluh miliar itu!"

Mendengar kata asuransi dan Alana disebut dengan begitu lantang, seolah ada percikan api yang menyambar tangki bensin di dalam diri Rendy. Tekanan psikologis dari ancaman mangkraknya proyek Adiguna City, dikombinasikan dengan rasa frustrasinya yang mendalam, membuat sisa-sisa kewarasan Rendy runtuh seketika.

Rendy bangkit dari kursinya dengan kecepatan yang mengerikan. Sebelum Lisa sempat menghindar, tangan kanan Rendy sudah melesat maju, mencengkeram rahang Lisa dengan sangat kuat hingga wanita itu memekik kesakitan.

"Jaga mulutmu, jalang!" desis Rendy, wajahnya maju hingga hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Lisa.

Matanya melotot penuh dengan urat-urat merah yang mengerikan. "Kau pikir kau siapa, hah?! Kau hanya parasit yang menempel padaku sejak aku masih bersama Alana! Kau yang mendesakku setiap hari untuk menyingkirkannya karena kau serakah, kau ingin memakai perhiasannya, kau ingin menjadi nyonya di rumah ini!"

Cenckeraman Rendy semakin kuat, membuat air mata Lisa meleleh menahan rasa sakit di rahangnya.

"Asal kau tahu, Lisa," suara Rendy merendah, menjadi bisikan yang sarat akan racun. "Gara-gara kegoblokanmu menyusun draf pemasaran yang murahan itu, Elena Van Doren meragukan profesionalisme perusahaan kita! Dia mengirimkan tim audit forensik yang sekarang sedang menguliti seluruh buku kas keuangan kita! Jika mereka menemukan aliran dana asuransi Alana yang kita gunakan secara ilegal untuk modal awal, aku akan hancur! Dan itu semua karena kau membawa sial ke dalam hidupku!"

Rendy menghempaskan wajah Lisa dengan kasar hingga wanita itu terhuyung ke belakang, menabrak rak buku kayu jati sebelum jatuh terduduk di atas lantai.

Lisa memegangi pipi dan rahangnya yang memar. Rasa sakit fisik itu tidak sebanding dengan rasa hancur di dalam dadanya saat melihat pria yang ia puja selama ini menatapnya dengan pandangan penuh rasa jijik yang murni.

Ketakutan di hati Lisa mendadak berubah menjadi nekat. Kebencian mengambil alih akal sehatnya.

"Kau menyalahkanku, Rendy?!" Lisa berteriak histeris, air matanya merusak sisa riasan wajahnya, membuatnya tampak seperti wanita gila. "Kau pikir kau bisa mencampakkanku demi Elena Van Doren?! Kau pikir wanita Eropa itu akan menerimamu jika dia tahu kau adalah seorang pembunuh?!"

Lisa bangkit berdiri, menunjuk wajah Rendy dengan jari yang bergetar hebat. "Aku punya bukti, Rendy! Aku merekam seluruh percakapan kita di dalam mobil malam itu, tepat sebelum kau mendorong Alana dari tebing! Aku menyimpan salinan rekaman suaramu yang panik saat memastikan dia tenggelam! Jika kau berani mengusirku dari sini, demi Tuhan, aku akan membawa rekaman itu langsung ke kantor polisi besok pagi! Kita lihat, apakah Elena Van Doren mau berinvestasi pada seorang narapidana yang menunggu hukuman mati!"

Ancaman Lisa bagaikan godam yang menghantam dada Rendy. Selama ini, ia mengira Lisa berada di bawah kendali mutlaknya karena mereka berbagi rahasia berdarah yang sama. Ia tidak pernah menyangka bahwa ular yang ia pelihara di dalam selimutnya telah menyiapkan taring beracun untuk menusuknya dari belakang.

Gelap mata dan dipenuhi kepanikan yang absolut bahwa seluruh hidupnya akan hancur, Rendy melangkah memutari meja kerja. Langkah kakinya berat dan penuh dengan niat membunuh yang pekat.

Melihat kilatan monster di mata Rendy, Lisa mendadak sadar bahwa ia telah membuat kesalahan besar dengan memprovokasi pria yang baru saja melakukan pembunuhan sebulan lalu. Lisa berbalik, mencoba berlari menuju pintu keluar. Namun, Rendy jauh lebih cepat. Ia menyambar rambut panjang Lisa dari belakang, menariknya dengan sentakan kasar hingga wanita itu menjerit histeris dan jatuh terlentang di lantai koridor penthouse.

"Kau mau melapor ke polisi, Lisa?! Silakan!" bentak Rendy. Ia mencengkeram kerah gaun tidur Lisa, menyeret tubuh wanita itu di atas lantai marmer menuju pintu utama penthouse tanpa memedulikan jeritan, pukulan, dan cakaran Lisa yang mengenai lengan dan wajahnya.

Rendy membuka pintu ganda penthouse-nya yang megah dengan satu tangan, lalu dengan kekuatan penuh, ia melempar tubuh Lisa keluar ke koridor luar gedung apartemen. Tubuh Lisa menghantam lantai karpet koridor yang dingin.

"Rendy! Jangan lakukan ini! Aku mohon!" ratap Lisa, egonya mendadak runtuh digantikan oleh ketakutan bahwa ia akan ditinggalkan di jalanan tanpa perlindungan apa pun. Ia mencoba merangkak kembali ke arah pintu.

Namun, Rendy justru memungut sebuah tas koper kecil milik Lisa yang sebelumnya sudah disiapkan oleh pelayan atas perintahnya, lalu melemparkannya tepat ke arah tubuh Lisa.

"Mulai detik ini, kau tidak punya hak apa pun di rumah ini, di perusahaanku, atau di dalam hidupku!" desis Rendy, napasnya memburu seperti binatang buas yang terluka. "Pergilah sejauh mungkin, Lisa. Jika aku melihat wajahmu lagi di sekitar kantor atau rumah ini, aku bersumpah ... sungai tempat Alana membusuk masih memiliki ruang yang cukup luas untuk menampung mayatmu."

Brak!

Pintu ganda itu ditutup dengan bantingan yang sangat keras, lalu terdengar suara kunci elektronik yang mengunci secara otomatis dari dalam. Koridor apartemen super eksklusif itu kembali sunyi, meninggalkan Lisa yang terisak sendirian di atas lantai dengan pakaian tidur yang berantakan dan tubuh yang penuh memar.

Di dalam mobil van hitam yang terparkir di seberang lobi gedung apartemen Menteng tersebut, dua orang pria mengenakan earphone militer duduk di depan deretan layar monitor yang menampilkan visual kamera pengawas koridor dan frekuensi penyadapan suara. Salah satu dari mereka adalah Budi.

Budi melepaskan earphone-nya secara perlahan, lalu menekan tombol panggilan cepat pada ponsel khususnya.

"Tuan Arka," ucap Budi begitu panggilan terhubung dengan ruang kerja rahasia di Pacific Place. "Drama malam ini telah selesai. Rendy Pratama baru saja menggunakan kekerasan fisik dan mengusir Lisa dari penthouse Menteng. Sesuai prediksi Anda, Lisa sempat mengancam Rendy menggunakan rekaman suara malam kejadian di jembatan."

Di seberang saluran, Arka yang sedang duduk di sofa kulit bersama Elena mendengarkan laporan itu melalui pengeras suara. Arka melirik ke arah Elena yang duduk tegak, mendengarkan setiap detail pengusiran wanita yang telah menghancurkan hidupnya.Wajah Elena tampak beku, namun ada kilatan kepuasan yang dingin di dalam matanya.

"Di mana Lisa sekarang, Budi?" tanya Arka dengan nada suara baritonnya yang tenang namun sarat akan otoritas mutlak.

"Dia baru saja turun menggunakan lift pelayan, Tuan. Penampilannya sangat berantakan dan dia tampaknya sedang mencoba menghubungi taksi daring dengan tangan bergetar. Dia membawa koper kecilnya," jawab Budi.

Arka melirik Elena sekali lagi, memberi kode tanpa suara seolah bertanya ("Apakah kau ingin membiarkannya berkeliaran, atau kita eksekusi sekarang?"). Elena mengangguk kecil, memberikan jawaban yang sudah mereka sepakati dalam strategi jangka panjang.

"Jangan biarkan dia pergi ke kantor polisi dulu, Budi," perintah Arka ke telepon. "Dia adalah bidak catur yang terlalu berharga untuk diserahkan kepada hukum biasa saat ini. Kita membutuhkan kemarahannya untuk merusak sisa mental Rendy. Amankan dia dengan cara yang paling halus. Bawa dia ke fasilitas khusus kita di luar kota."

"Dimengerti, Tuan Arka. Tim lapangan kami sudah bergerak untuk mencegatnya di luar gerbang utama," sahut Budi sebelum mengakhiri panggilan.

Elena menghela napas panjang, lalu bersandar pada sofa. Ia memandangi jemarinya yang kini terasa dingin. "Satu per satu ... mereka mulai merasakan dinginnya malam tanpa tempat berlindung, Arka. Dulu aku berdiri di tepi tebing itu, memohon belas kasihan dari Rendy saat Lisa tertawa di dalam mobil. Sekarang ... Lisa merasakan bagaimana rasanya dilempar seperti sampah oleh pria yang sama."

Arka menuangkan teh kamomil hangat ke dalam cangkir Elena, lalu menggesernya mendekat. "Ini barulah permukaan dari penderitaan mereka, Elena. Ketika seseorang membangun istananya di atas fondasi pengkhianatan, dinding-dinding istana itu sendiri yang akan runtuh dan menjepit mereka hingga hancur. Rendy telah mengusir pelindung rahasianya, dan sekarang dia benar-benar sendirian menghadapi badai yang kita kirimkan."

Elena menyesap tehnya, membiarkan kehangatan cairan itu menjalar di tenggorokannya, mengusir sisa-sisa rasa mual akibat bayangan masa lalunya.

Retakan di antara kedua pengkhianat itu kini telah resmi menjadi jurang pemisah yang mematikan, dan Elena tahu, langkah berikutnya adalah memastikan Rendy melompat ke dalam jurang tersebut dengan sukarela.

1
sunaryati jarum
Emak ingin tahu hasilnya
MayAyunda: ditunggu 😁
total 1 replies
sunaryati jarum
Sudah dah dig dug Rendy.Kau sebenarnya belum pandai berbisnis dan memimpin perusahaan,tapi sifat tamakmu membawamu sampai tahap ini Kamu belum menikmati harta yang kau rampas, sudah masuk penjara.
MayAyunda: He he
total 1 replies
MayAyunda
siap kak ,ditunggu kak 😍🙏
sunaryati jarum
Ayo lekas beraksi ,Elena
MayAyunda: ok siap beraksi kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Kutunggu langkah pembalasan kamu,Elena
MayAyunda
terimkasih kak
sunaryati jarum
Nah jangan nangis bangkit dan atur strategi untuk membalas mereka serta merebut kembali semua harta milikmu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!