NovelToon NovelToon
PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:20.4k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.

​Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!

​Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.

​"Welcome to the real hell."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Kekacauan di Pintu Keluar

​​"Transaksi disetujui, Nona. Kontainer senjata resmi menjadi milik Aegis Corp."

​Pelayan berseragam rapi itu menyerahkan sebuah mesin pencetak struk berukuran kecil. Kertas putih panjang keluar dari celah mesin, menampilkan bukti transaksi mutlak senilai seratus miliar rupiah tanpa ada penolakan sama sekali. Pelayan itu kemudian mengambil sebuah map kulit tebal berisi surat jalan berstempel basah dan menyodorkannya ke arah Riana dengan sikap sangat hormat.

​"Kerja sama yang memuaskan." Riana mengambil map kulit tersebut, lalu menyimpannya dengan hati-hati ke dalam tas kecilnya bersama kartu kredit platinum milik Bramantyo.

​Riana membalikkan badannya dan melangkah turun dari atas panggung podium. Dia sama sekali tidak repot-repot kembali ke meja bundarnya semula. Perempuan bergaun merah marun itu memilih berjalan lurus menuju lorong khusus staf katering yang terletak di sisi kiri aula pelelangan. Tangannya menyingkap tirai beludru tebal, lalu masuk ke dalam area yang jauh lebih redup dan sepi.

​Jace sudah berdiri menunggunya di sana. Pria tinggi berjas hitam Vivaldi itu bersandar santai di dinding lorong, memutar-mutar kunci mobil di jarinya.

​"Lama banget lo belanja. Gue kira lo ketiduran di depan mesin kasir," protes Jace berbisik pelan, melangkah mendekati Riana.

​"Sistem perbankan mereka butuh waktu lama buat verifikasi perpindahan dana seratus miliar, Jace. Otak lo harusnya paham itu," balas Riana mutlak tanpa menghentikan langkah kakinya. "Ayo keluar lewat pintu belakang sekarang juga sebelum paman lo sadar ada yang aneh dari daftar nama pemenang lelang."

​"Jalan keluarnya lewat arah dapur hotel. Ikuti gue."

​Mereka berdua menyusuri lorong pelayan yang sepi. Aroma bumbu masakan dan suara piring beradu terdengar lamat-lamat dari arah ruang staf. Jace mendorong pintu darurat berbahan besi tebal, membawa mereka berdua keluar menuju area lobi belakang hotel yang langsung terhubung lurus dengan area parkir khusus tamu VIP.

​Udara luar ruangan terasa sangat dingin menusuk kulit Riana. Angin berhembus cukup kencang menyapu pelataran aspal.

​Namun, langkah Riana dan Jace terhenti seketika.

​Tiga pria berjas abu-abu terang sudah berdiri berjajar memblokir jalan keluar mereka menuju area parkir. Postur tubuh ketiga pria itu sangat tegap dan kaku. Di dada kiri jas mereka, tersemat sebuah pin kecil berbentuk kepala serigala. Itu adalah lambang mutlak milik klan Diwantara Group.

​"Serahkan surat jalan kontainer senjata itu dengan baik-baik ke tangan kami, Nona Aegis Corp," ancam pria berwajah penuh bekas luka di posisi tengah. Suaranya serak dan sangat berat. "Atau kami harus memotong kedua tangan lo buat mengambil paksa map kulit itu."

​Riana sama sekali tidak mundur. Dia justru melirik sinis ke arah Jace yang berdiri tepat di sampingnya.

​"Paman lo ternyata main kotor juga," bisik Riana pelan. "Dia mengirim anjing pelacaknya buat merampok barang gue tepat di depan pintu keluar."

​"Dia memang selalu jadi bajingan rakus di keluarga kami," balas Jace mendengus kasar.

​Jace tidak punya waktu untuk berdebat. Pria itu langsung menarik kerah jas Vivaldi miliknya tinggi-tinggi ke atas, menutupi separuh wajahnya dari hidung hingga bagian dagu. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam agar profil wajah aslinya benar-benar tersembunyi di balik bayangan remang-remang lampu lobi hotel.

​"Lo yakin mau pakai gaya bertarung ninja dadakan begini?" ejek Riana menatap aneh kelakuan rekan aliansinya.

​"Tutup mulut lo dan fokus habisi mereka, Kara. Kalau mereka lihat wajah gue dengan jelas, penyamaran kita tamat hari ini juga," desis Jace tajam, matanya mengunci pergerakan ketiga preman Diwantara tersebut.

​Pria berwajah penuh bekas luka itu mendecih kasar melihat targetnya malah asyik bisik-bisik. Dia mencabut pisau taktis dari balik jas abu-abunya.

​"Bunuh laki-laki penakut itu! Potong kaki perempuannya!" raung pria itu memberikan komando.

​Ketiga preman Diwantara menerjang maju secara serentak. Riana tidak menghindar sedikit pun. Perempuan itu membungkuk kilat, melepas kedua sepatu hak tingginya yang berujung runcing berbahan baja murni.

​"Mati lo, jalang!" Preman pertama mengayunkan pisaunya mengincar leher Riana.

​Riana menangkis lengan preman itu menggunakan tas kecilnya, lalu memutar pergelangan tangannya. Dengan kecepatan luar biasa, Riana menancapkan hak sepatu bajanya lurus menembus otot bahu pria tersebut. Bunyi daging terkoyak terdengar nyaring. Preman itu menjerit melengking, senjatanya terlepas jatuh bergemerincing ke lantai keramik lobi.

​Di saat yang bersamaan, Jace melesat memotong jalur dua preman lainnya. Satu tangannya terus memegangi kerah jas dengan kuat menutupi wajahnya, sementara tangan kanannya bergerak secepat kilat menyambut serangan.

​Jace memiringkan tubuhnya menghindari sabetan pisau mematikan, lalu mendaratkan pukulan telak tepat ke arah jakun preman kedua. Hantaman itu membuat si preman tersedak hebat, matanya melotot kehilangan pasokan udara, dan langsung jatuh berlutut memegangi lehernya sendiri.

​Preman ketiga tidak tinggal diam. Dia melayangkan tendangan memutar ke arah rusuk Jace. Jace menangkap kaki lawan menggunakan lengan kanannya, memanfaatkan momentum putaran itu untuk menendang balik lutut lawan sekuat tenaga.

​Bunyi tulang patah terdengar sangat keras. Preman ketiga merintih kesakitan, kehilangan keseimbangannya secara total. Jace tidak memberi celah ampun sama sekali. Dia memutar tubuhnya dan mendaratkan hantaman sikut keras ke tengkuk preman tersebut. Pria itu ambruk mencium lantai dan pingsan seketika.

​Riana menyusul dengan menendang rahang preman pertama yang masih merintih memegangi bahunya. Hantaman kaki telanjang Riana sukses membuat pria berbekas luka itu tersungkur ke lantai, tidak sadarkan diri.

​"Selesai. Jalan keluar sudah bersih. Ayo lari ke mobil!" instruksi Riana cepat.

​Riana menginjak punggung preman yang tumbang itu sebagai pijakan, lalu berlari lincah tanpa alas kaki menuju mobil sedan hitam mewah mereka yang terparkir sepuluh meter dari pintu lobi.

​Jace berlari tepat di belakang Riana. Angin malam berhembus semakin kencang dan liar menyapu pelataran parkir yang luas, menerbangkan dedaunan kering di sekitar mereka.

​Tanpa Jace dan Riana sadari, bahaya murni sedang mengintai mereka dari arah yang sangat tidak terduga.

​Di balik pilar beton raksasa yang gelap gulita, berjarak sekitar lima puluh meter dari posisi mereka berlari, Gideon berdiri gemetar hebat. Pria gempal yang baru saja dilempar keluar secara memalukan oleh sekuriti pelelangan itu mengintip dengan napas memburu. Kedua tangannya memegang erat sebuah ponsel pintar kelas atas. Lensa kamera ponsel tersebut sudah diperbesar maksimal, membidik lurus ke arah punggung Riana dan pria berjas hitam di belakangnya.

​"Lo pikir lo bisa hancurkan harga diri gue dan melenggang pergi begitu saja, Riana?" gumam Gideon penuh dendam kesumat. Gigi pria itu gemeretak marah.

​Tepat sebelum Jace menarik gagang pintu mobil, angin kencang berhembus sangat liar menerpa tubuhnya. Kerah jas yang Jace gunakan untuk menutupi wajahnya mendadak tersingkap paksa selama sepersekian detik akibat dorongan angin kuat tersebut.

​Wajah tampan Jace yang sangat khas, lengkap dengan rahang tegasnya, terpampang jelas tanpa penghalang di bawah siraman cahaya lampu jalan pelataran parkir.

​Klik. Klik. Klik.

​Gideon menekan tombol jepret di layar ponselnya secara bertubi-tubi tanpa jeda. Lampu kilat kameranya dimatikan, memastikan targetnya tidak menyadari aksi penyadapan visual tersebut.

​Gideon perlahan menurunkan ponselnya, lalu menatap hasil deretan foto di layar terang itu dengan mata melotot lebar. Jantungnya berdegup kencang. Senyum gila, penuh kejahatan, dan kemenangan mutlak perlahan mengembang di wajahnya yang masih merah padam. Tangannya gemetar kegirangan. Dia menemukan senjata paling mematikan untuk menghancurkan musuhnya.

1
Susilawati
kayaknya bakalan terjadi kekacauan besar nih, gimana ya cara Riana nanti membela diri nya
Susilawati
apakah penyamaran Riana dan Jace akan terbongkar secepat ini, jadi deg deg an.
Muft Smoker
bos anda mungkin pintar mengurung Riana di ketek Leo ,,
tp km lupa bos ,,
Riana tu cerdas ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
pengen ketawa tp takut di dor ,,🤭🤭🤭
Savana Liora: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Muft Smoker
aduuuh kalo aq di posisi Riana ,, langsung ku peluk si bos 🤭🤭🤭🤭 ,,
eeeeeh slah ,,
langsung meleleh aq ,, cosplay jdi air hujaan ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣
hana: jurus apaan itu🤣
total 2 replies
This Is Me
Memang panjang akal bu bos kepatuhan ini🤣🤣
Muft Smoker: kn udh dibilang kak ,, bramantyo mungkin pintar ,,
tp Riana tu cerdas , licik Dan efisien ,,
si bramantyo kecolongan lgii🤭🤭🤭
total 1 replies
This Is Me
Yah...dikukung gini, gimana beraliansi sama Jace?😱😱
Savana Liora: sabar 🤣🤣🤣
total 1 replies
This Is Me
Waduh...makin serem
This Is Me
Ayooo Jace, selamatkan diri. Riana, siapkan alasan setelah disodori foto dari Gideon
This Is Me
Ahhh....gimana Jace???😱😱😱
This Is Me
Ya ampunnn😱😱
This Is Me
Nah looo...Gimana nih/Gosh//Gosh/
This Is Me
Waduh...bahaya lebih besar mengintai
Septi Lahat
pas bnget momentumnya,, smg mereka bisa, selamat meloloskan diri dri gedung tsb
semangat kak thor🥰
Muft Smoker
duuuh deg2an deeh liat mereka berdua ,,
semoga aj mereka Selamat ,,
FHR
Ya ampuuun...kok aku yang tegang siiih..😥
FHR
Good luck 👍
Semoga sehat dan tetap semangat 💪
Susilawati
mantap Riana 👍👍👍
Susilawati
hati2 Riana, kayaknya si Gideon sengaja mau menjebak
This Is Me
Yeyyyy....ditunggu up nya
Savana Liora: okeee
total 1 replies
This Is Me
Ini pancingan aja seprtinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!