Nasib Shafiya terjebak dalam pernikahan yang dimulai dengan niat dendam dari seorang pria bernama Arash. Kematian kekasihnya yang tidak mendapat pertanggungjawaban dari keluarga Shafiya membuat pria tempramental itu menikahi kekasih yang seharusnya menjadi istri dari tunangannya.
Shafiya harus menerima takdirnya menjalani pernikahan dengan laki-laki yang tidak mencintainya, rumitnya pernikahannya dengan lika-liku drama pernikahan yang dia alami.
Apakah Shafiya akan bertahan dalam pernikahannya? atau justru pada akhirnya Shafiya menyerah karena lelah? tetapi apakah Arash akan melepaskannya?"
Jawabannya hanya ada di bab-bab berikutnya...
Jangan lupa di follow Ig saya.
ainunharahap 12
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 Mungkin Dia Sudah Luluh.
Arash dan Shafiya saling menatap. Shafiya menunggu jawaban Arash yang masih diam terpaku.
"Apa aku akan menjadi sasaran kemarahan kamu? Karena kehilangan seseorang yang kamu cintai?" tanya Shafiya.
Arash kesulitan menelan ludah, kedua bola matanya terus memperhatikan mata cantik yang berkaca-kaca itu sehingga akhirnya terlihat menetes air mata yang sudah lama tidak dilihat oleh Arash.
"Kamu mengingat apa yang terjadi padamu Selami ini?" tanya Arash.
"Pada akhirnya aku menyadari semuanya dan tidak mungkin bisa melupakan bagaimana kita menikah," jawab Shafiya.
Arash memejamkan mata dengan mengalihkan pandangannya. Mungkin Arash berhasil menyembuhkan Shafiya dengan caranya sendiri, mentalnya sedang membaik dan mungkin akan kembali menjadi orang normal, tetapi siapa sangka luka itu tidak bisa hilang, dalam penyembuhan mentalnya sudah pasti harus mengingat kembali luka yang dihadapinya selama ini.
"Ini sudah hampir malam, kita sebaiknya pulang!" ajak Arash berdiri terlebih dahulu.
Arash tidak ingin membahas pernikahannya, mungkin bisa saja Shafiya akan semakin terluka jika mengingat semuanya. Menurut Arash mental Shafiya belum sepenuhnya pulih dan tidak cukup menerima semua ini.
Arash membantu Shafiya untuk berdiri. Shafiya menurut saja.
"Ayo pulang!" ajak Arash berjalan terlebih dahulu, tetapi tangannya tiba-tiba saja tertahan membuat Arash kembali melihat istrinya ternyata tidak bergerak.
Shafiya mendekatkan dirinya pada Arash dengan memegang pipi Arash. Tatapan mata cantik itu tampak sendu, penuh harapan, menginginkan kedamaian.
"Aku mohon jangan sakiti aku lagi!" pinta Shafiya terdengar begitu lirih.
Jantung Arash berdebar mendengar permintaan yang ingin dikasihani itu.
"Aku akan berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk kamu, istri penurut, tapi aku mohon jangan melampiaskan kemarahan kepadaku, aku akan berusaha untuk melayani kamu dengan sepenuh hati, tetapi tolong jangan paksa aku melakukannya, tolong jangan rendahkan harga diriku," ucap Shafiya dengan air mata yang jatuh.
Arash tidak berkomentar apapun. Arash hanya diam, diam tanpa kata menatap Shafiya.
"Aku sel....."
Shafiya tidak melanjutkan kalimatnya ketika Arash akhirnya membungkam bibirnya dengan ciuman lembut, membuat Shafiya memejamkan mata perlahan.
Apakah Arash benar-benar luluh dengan perkataan penuh kelembutan Shafiya dengan kesadaran yang penuh atas permintaannya. Arash akhirnya tidak dapat mengendalikan dirinya.
Ciuman romantis di pantai hanya berlangsung sebentar, tetapi tetap saja Arash tidak memberi jawaban apapun.
Saat ini Shafiya berada di gendongannya yang digendong ala bridal style dalam keadaan tertidur dengan kedua tangan Shafiya di kalungkan di leher Arash.
Shafiya sudah begitu banyak menghabiskan energi, mengingat semua kembali apa yang terjadi dan pada akhirnya menyadari pernikahan yang seperti apa dengan Arash, cukup banyak berbicara sehingga membuatnya pingsan yang mengakhiri ciuman singkat mereka berdua.
Dengan langkah yang begitu gagah Arash membawa istrinya itu sampai menuju mobil. Shafiya tidak terbangun dalam gendongan itu. Arash mendudukkan di jok mobil, memakaikan sabuk pengaman dan Shafiya tetap saja tidak terbangun.
Tidak terasa akhirnya mereka kembali sampai kerumah Arash. Shafiya masih tetap tertidur lelap yang berada di tengah-tengah ranjang dengan selimut sampai dadanya dan sementara Arash berada di sampingnya. Arash memperhatikan wajah Shafiya dengan nanar.
Tatapan matanya begitu dalam, melihat bagaimana Shafiya tidur sangat cantik dan tenang. Tangan Arash mengeluarkan tangan Shafiya dari dalam selimut dengan menarik ujung lengan bajunya dan melihat pergelangan tangan itu memerah akibat cengkraman yang sebelumnya dia lakukan kepada istrinya.
Arash menghela nafas, tidak pernah menyangka di pikirannya jika semua yang dia lakukan ternyata membekas bukan hanya di tubuh Shafiya, tetapi di hatinya, dipikiran dia bahkan sangat cepat Shafiya menyadari bahwa dirinya adalah laki-laki yang sangat jahat.
Arash mengembalikan tangan itu ke dalam selimut. Mata Arash tertuju pada foto di atas nakas, foto Chantika bersama dengan dirinya yang sudah kembali diberi bingkai.
Arash terlihat bimbang dengan kesulitan menelan ludah, sampai akhirnya Arash berdiri dari tempat duduknya mengambil foto tersebut dan mengambil kardus yang terdapat di bagian bawah laci lemari dengan kemudian memasukkan foto itu dengan menyimpannya.
Arash terlihat memasukkan barang-barang yang ada di kamar itu dan entahlah barang-barang apa itu yang disatukan dengan foto-foto tersebut dimasukkan ke dalam kardus.
Arash juga membuka lemarinya dan terlihat mengeluarkan beberapa barang yang cukup unik dari dalam lemari tersebut menyatukan di dalam kardus. Mungkinkah barang-barang itu merupakan barang-barang pemberian dari Chantika atau barang-barang yang berhubungan dengan mereka berdua.
Setelah menyatukan semua barang-barang tersebut dalam satu kardus yang kemudian diberi perekat cukup kuat. Arash keluar dari kamar dengan membawa kotak tersebut.
"Bi!" Bibi kebetulan lewat dari hadapannya membuat asisten rumah tangga menundukkan kepala berhenti di hadapan Arash.
"Kamu masukkan ini ke dalam gudang," ucap Arash.
"Baik tuan!" jawab Bibi mengambil dengan cepat tanpa harus bertanya apa isinya dan kemudian langsung pergi.
"Apa aku sudah mengambil keputusan yang tepat?" tanyanya masih terlihat keraguan tetapi ada tindakan besar yang diambil.
Hatinya bimbang, di sisi lain ada wanita yang sangat dia cintai dan mati sia-sia, takut jika wanita itu marah karena sepertinya hatinya sudah mulai beralih pada wanita yang dia sakiti, Arash hanya mencoba untuk melakukan yang terbaik dalam pernikahannya, mungkin seperti apa yang dikatakan Nenek, masih banyak kesempatan untuk memperbaiki sebelum semuanya terlambat.
*****
Pagi ini Nenek terlihat menuruni anak tangga. Nenek tidak jadi menghampiri meja makan ketika melihat pasangan suami istri Shafiya dan Arash yang menikmati sarapan bersama dengan duduk saling berhadapan.
Nenek tersenyum melihat bagaimana cucunya itu semakin tampan ketika melihat Arash baru saja selesai memberi selai pada setangkap roti dan kemudian memberikan pada Shafiya.
"Sudah aku katakan jika aku yang paling mengenal dirimu dan aku tahu bagaimana dia? Arash cucuku tidak pernah berubah," batin Nenek tersenyum merasa begitu lega.
Dia tidak pernah putus berdoa untuk kesadaran cucunya agar tidak memiliki dendam lagi. Nenek percaya lama kelamaan Arash pasti akan sadar atas perbuatannya.
*****
Malam ini Shafiya terlihat cantik di dalam kamarnya. Shafiya duduk di meja rias dengan menyisir rambutnya.
Krekkk.
Pintu kamar terbuka membuat Shafiya menoleh ke belakang, melihat bagaimana Arash baru saja pulang dari kantor dengan meletakkan jasnya di lengannya.
Arash tidak mengatakan apapun dan hanya melihat sebentar ke arah Shafiya. Arash meletakkan tas dan jasnya di sofa.
Saat berbalik badan Arash kaget dengan keberadaan Shafiya yang sudah berada di sana membuat Arash cukup.
"Ada apa?" tanya Arash.
"A_a_ aku akan mencobanya!" ucap Letisha.
"Maksud kamu?" tanya Arash.
"Tetapi jangan marah dan menuntut lebih, aku hanya berusaha untuk melakukannya agar aku memberikan hak kamu," ucap Letisha.
Arash mengerutkan dahi dengan pernyataan aneh sang istri. Arash tiba-tiba saja kaget saat pergerakan tangan istrinya melepas ikatan pada piyama panjang yang dia gunakan.
Dalam hitungan detik tiba-tiba saja piyama itu terlepas, pandangan Arash hanya fokus melihat wajahnya tanpa melihat kearah bawah bagaimana tubuh istrinya yang sudah pasti hanya menggunakan pakaian dalam yang cukup minim.
Shafiya mungkin merasa tertekan dengan keinginan Arash yang menginginkan dirinya, menginginkan melayani suaminya dan bahkan hal itu di ungkapan Arash secara langsung di depan kedua orang tuanya karena ketidaksempurnaannya.
Arash menghela nafas dengan mengambil piyama yang terjatuh di atas lantai dan kemudian memakaikan pada Shafiya.
"Saya tidak memintamu untuk melakukannya dan jangan melakukannya karena keterpaksaan," ucap Arash kemudian membawa Shafiya ke dalam pelukannya.
Pelukan itu terasa begitu hangat, memeluk sangat erat dengan mengusap-usap rambut belakang Shafiya. Mencoba untuk memberikan kenyamanan dan pada Shafiya.
"Aku tidak sejahat itu Shafiya, jangan melakukan apapun yang tidak kamu inginkan dan jangan melakukannya hanya karena kau dan berusaha untukku, kamu cukup menjadi diri kamu, kamu akan sembuh dan maka baik-baik saja," ucap Arash begitu lembut berbicara membuat Shafiya tampak tenang dengan meminjamkan matanya perlahan di dalam pelukan itu.
Bersambung.......