"Adek itu penerang hidup kami semua. Mas janji, Mas akan melakukan cara apapun agar Adek bisa sembuh dari kanker. Mas janji, Sayang."
Apalah daya jika janji yang terucap, akan terkalahkan jua oleh takdir yang mutlak. Manusia memang punya rencana, tapi tetap Tuhan yang mengambil kendali dalam segalanya.
Berurai air mata, Ammar berusaha menenangkan sang adik tersayang. Ditemani Sadha dan Dhana yang tak kalah sedih melihat kesedihan sang adik. Dhina menatap ketiga masnya dengan mata yang sembab. Tak menyangka akan hal yang kini terjadi pada dirinya, membuatnya takut, suatu saat nanti penyakit mematikan itu akan merenggut nyawanya.
Ammar, Sadha dan Dhana pun tak kalah terpukul akan kabar buruk yang menimpa sang adik. Takut, khawatir, dan sedih semuanya bercampur aduk. Membuat ketiganya harus tetap kuat dan tegar menerima semua ini, demi sang adik dan kedua orang tua mereka yang tak kalah lebih terpukul.
Akankah Dhina bisa sembuh dari sakitnya?
Apakah Dhina sanggup melewati semua ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DN YM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 ~ Terpukul
...🍀🍀🍀...
Ammar kembali masuk ke dalam ruangan UGD untuk memanggil Pak Aidi dan Bu Aini. Saat masuk Ammar melihat kedua orang tuanya itu sedang menangis karena kondisi putri mereka satu-satunya yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidur.
Ammar pun kembali berpikir untuk memberitahu hal yang sebenarnya kepada mereka setelah melihat itu. Namun Ammar juga tidak bisa menyembunyikan rahasia ini terlalu lama pada mereka semua.
Lama Ammar berdiri melihat kedua orang tuanya. Ammar pun menghela nafas panjang, lalu dengan langkah kaki yang berat Ammar menghampiri Pak Aidi dan Bu Aini.
"Ayah, Ibu... bisa kita bicara sebentar? Dokter Ronald meminta kita untuk ke ruangannya karena Dokter Ronald ingin bicara sesuatu tentang kondisi Adek." ujar Ammar seraya meraih bahu Pak Aidi dan Bu Aini.
"Bicara tentang apa Nak? Adek kamu kenapa?" tanya Bu Aini yang masih menangis lalu melihat ke arah Ammar.
"Lebih baik kita ke sana dulu, Bu. Kita dengar penjelasan Dokter Ronald. Biarkan Dokter menjelaskan semuanya sama kita." ujar Pak Aidi yang membujuk Bu Aini.
"Ibu ingin tetap di sini, Ayah. Ibu ingin menemani anak Ibu di sini. Ibu tidak ingin ke mana-mana." jawab Bu Aini yang terus menangis seraya menggenggam tangan putrinya itu.
"Ibu tidak boleh seperti ini, kalau putri kita melihat Ibu seperti ini, dia juga akan sedih, Bu. Ibu mau membuat Adek sedih? Ayo kita ikuti Ammar untuk ke ruangan Dokter Ronald." tegas Pak Aini yang membantu istrinya itu berdiri.
"Ibu pergi sebentar ya, Sayang. Nanti Ibu kembali lagi ke sini." ucap Bu Aini yang mencium kening Dhina.
"Ayo, Ibu, Ayah." ujar Ammar yang berjalan di depan kedua orang tuanya.
Ammar pun berhasil membawa kedua orang tuanya keluar dari ruangan UGD walaupun sempat sulit untuk membujuk Bu Aini. Setelah sampai di luar, Sadha, Dhana dan juga Ibel yang sudah berada di sana melihat Pak Aidi dan Bu Aini yang baru keluar dari ruangan. Sadha yang melihat kondisi sang ibu begitu lesu pun langsung menghampiri Bu Aini dan membantunya berjalan.
"Ibu... Ibu kenapa Yah?" tanya Sadha seraya menghampiri Bu Aini yang sejak tadi menangis karena Dhina belum sadar dari pingsannya.
"Ibu kamu tidak apa-apa, dia hanya tidak ingin pergi dari ruangan ini. Tapi karena dokter ingin bicara pada kita semua, Ayah memaksa Ibu untuk keluar." jelas Pak Aidi yang masih memegangi istrinya itu.
Melihat kondisi Bu Aini yang sangat sedih dengan kondisi Dhina saat ini membuat Ibel ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Bu Aini. Apalagi Dhina putri satu-satunya dalam keluarga mereka. Lalu dengan berusaha tenang Ibel melangkah menghampiri Bu Aini.
"Biar Ibel yang membantu Tante, Om." ucap Ibel yang meraih tangan Bu Aini.
"Terima kasih, Bel. Bantu Om menenangkan Tante ya. Dia terpukul sekali melihat putrinya sakit seperti ini." ujar Pak Aidi yang memberikan tangan Bu Aini pada Ibel.
"Iya, Om. Ibel mengerti apa yang Tante rasakan sekarang. Jadi Ibel pasti bantu." jawab Ibel yang melihat ke arah Pak Aidi dan dibalas senyuman oleh Pak Aidi.
"Ayo semua. Kita ke ruangan Dokter Ronald. Dia sudah menunggu kita semua." ujar Ammar pada semuanya yang ada di sana.
Semuanya pun berjalan menuju ke ruangan Dokter Ronald yang tidak terlalu jauh dari ruangan UGD. Saat berjalan Ammar tidak berhenti memikirkan apa yang akan Dokter Ronald bicarakan padanya dan keluarganya. Ammar merasa sangat khawatir memikirkan itu.
Sementara Sadha dan Dhana juga berpikir hal yang sama. Mereka penasaran sekaligus khawatir dengan kondisi adik perempuan mereka satu-satunya. Tapi demi kedua orang tua mereka yang kini juga sedang bingung dengan kondisi putrinya, Ammar, Sadha dan Dhana berusaha untuk kuat dan tenang agar orang tua mereka juga tidak terlalu khawatir.
***
Ketika semua orang sedang menuju ke ruangan Dokter Ronald, tiba-tiba tangan Dhina bergerak dan matanya terbuka perlahan. Akhirnya Dhina sadar setelah lama dipengaruhi obat bius yang diberikan oleh Dokter Ronald. Dhina yang baru sadar pun berusaha melihat ke sekitar. Lalu...
"Aku di mana?"
Dhina yang terbangun pun memegang kepalanya yang masih terasa pusing dan berusaha untuk duduk.
"Kepalaku pusing sekali."
Dhina terus berusaha untuk duduk dan bangkit dari tidurnya seraya memegangi kepalanya yang masih terasa pusing dan sangat berat.
"Ini seperti ruangan di rumah sakit. Ada alat-alat rumah sakit di sini. Apa aku sedang di rumah sakit? Baju dan hijabku juga sudah diganti dengan pakaian rumah sakit."
Dhina yang berhasil duduk di tempat tidur pun mengedar pandangan ke semua sisi dan melihat bajunya yang juga sudah diganti dengan pakaian rawat rumah sakit.
"Tapi kenapa tidak ada orang? Apa keluargaku tidak tau aku di sini? Kepalaku sakit sekali."
Dhina berusaha mencari keberadaan orang tua dan ketiga masnya. Namun usahanya gagal karena ruangan itu kosong. Lalu Dhina pun melepaskan paksa jarum infus di tangannya dan beranjak dari tempat tidurnya.
Dengan kondisinya yang masih lemah, Dhina memilih untuk keluar dari ruangan UGD. Kondisinya yang masih lemah membuat Dhina oleng saat berjalan. Tapi ia tetap memaksakan diri untuk mencari keluarganya di luar.
Setelah sampai di luar, Dhina tidak melihat siapa pun. Hanya ada kursi tunggu yang kosong tanpa penghuni di sana. Lalu Dhina pun terus berjalan menelusuri rumah sakit untuk mencari keberadaan keluarganya.
***
Kini Ammar dan keluarganya sudah sampai di depan ruangan Dokter Ronald. Sebelum masuk, Ammar menghela nafas panjangnya lalu mengetuk pintu ruangan Dokter Ronald. Mendengar ketukan dari arah luar, Dokter Ronald pun meminta mereka semua masuk.
"Masuklah, Am. Bawa mereka masuk." sahut Dokter Ronald dari arah dalam.
"Ayo Ayah, Ibu, kita masuk. Sadha, Dhana, Ibel, ayo masuk." ujar Ammar seraya membukakan pintu agar semuanya masuk.
Setelah semua masuk, Ammar pun ikut masuk dan tidak menutup pintunya dengan rapat sehingga pintu itu terbuka sedikit. Sementara Dokter Ronald yang melihat semuanya sudah masuk, langsung meminta mereka semua duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh Dokter tampan itu.
"Silakan duduk, Pak, Bu. Silakan." ujar Dokter Ronald dengan sangat ramah pada keluarga sahabatnya itu.
"Jadi ini yang namanya Dokter Ronald?" tanya Pak Aidi yang baru pertama kali bertemu dengan Dokter Ronald.
"Iya, Pak. Saya Ronald. Saya dokter sekaligus sahabat Ammar di sini." jawab Dokter Ronald dengan ramah pada Pak Aidi.
"Jangan panggil saya seperti itu, terlalu formal. Karena kamu sahabat anak saya, jadi panggil saja Om dan istri saya Tante agar kita bisa lebih akrab." ujar Pak Aidi pada Dokter Ronald.
"Baik, Pak. Maksud saya, baik Om." ucap Dokter Ronald yang sempat salah memanggil Pak Aidi dan dibalas senyuman oleh Pak Aidi.
"Kenapa Dokter memanggil kita semua ke sini?" tanya Ammar pada Dokter Ronald dan membuat suasana menjadi lebih tegang.
"Sebelum saya menjelaskan kondisi Dhina saat ini, saya ingin bertanya pada kamu, Am. Apa Om dan Tante sudah tau hal yang sebenarnya?" ujar Dokter Ronald pada Ammar.
Pak Aidi dan Bu Aini yang mendengar itu saling pandang dan merasa heran. Lalu...
"Hal sebenarnya? Maksud Nak Ronald apa? Saya tidak mengerti." tanya Pak Aidi yang merasa heran dengan perkataan Dokter Ronald.
"Lebih baik kamu ceritakan semuanya sekarang, Am. Jika mereka semua sudah tau kondisi Dhina yang sebenarnya, kita akan lebih mudah untuk mengambil tindakan." ujar Dokter Ronald pada Ammar.
"Apa yang Nak Ronald bicarakan Nak? Apa maksud semua ini? Coba jelaskan ke Ayah dan Ibu." tanya Bu Aini yang mulai menangis lagi setelah tadi sudah cukup tenang.
Ammar, Sadha, Dhana dan Ibel yang sudah mengetahui semua ini hanya terdiam melihat Pak Aidi dan Bu Aini yang mulai khawatir dengan perkataan Dokter Ronald. Melihat Ammar yang masih terdiam mendengar pertanyaan sang ayah membuat Sadha berjalan menghampiri Ammar.
"Mas pasti bisa. Sadha, Dhana dan Kak Ibel mendukung Mas di sini. Mas jangan takut. Sebaiknya Mas beritahu Ayah dan Ibu sekarang." ujar Sadha yang berusaha membuat Ammar yakin seraya memegang bahu Ammar.
"Baik, Mas akan beritahu yang sebenarnya pada Ayah dan Ibu sekarang." ucap Ammar yang sudah merasa yakin dengan keputusannya ini.
"Apa Nak? Cepat beritahu Ibu." ujar Bu Aini seraya meraih tangan Ammar agar Ammar segera bicara yang sebenarnya.
Sebelum bicara yang sebenarnya, Ammar kembali terdiam sambil memikirkan bagaimana cara yang baik untuk memberitahu orang tuanya tentang kondisi adik perempuannya itu. Ia juga butuh hati yang tenang untuk menjelaskan berita yang tidak baik ini pada orang tuanya.
***
Sementara Dhina yang sejak tadi berjalan dan berusaha mencari keberadaan keluarganya, kini sudah sampai di dekat sebuah ruangan. Saat Dhina ingin melanjutkan langkahnya untuk mencari keluarganya, tiba-tiba Dhina mendengar suara Bu Aini yang bicara begitu keras dari arah ruangan yang ada di dekatnya itu.
Dhina pun berjalan ke arah ruangan itu dan kebetulan pintu ruangan itu tidak tertutup dengan rapat. Jadi Dhina bisa melihat ke dalam. Setelah sampai di depan ruangan itu, perlahan Dhina melihat ke dalam. Dhina melihat orang-orang yang ia cari sejak tadi sedang berada di ruangan itu.
Ayah, Ibu, Mas Ammar, Mas Sadha, Mas Dhana dan Kak Ibel. Mereka semua di sini? Sedang apa mereka di sini? Siapa dokter itu? Apa yang sedang mereka bicarakan. Gumam Dhina dalam hati.
Tanpa semuanya ketahui, bahwa kini Dhina sudah sadar dan sedang berdiri di depan ruangan Dokter Ronald. Dhina berniat ingin masuk dan menghampiri semuanya. Namun saat ingin membuka pintu ruangan itu, Dhina kembali mendengar suara Bu Aini yang begitu keras saat bicara pada Ammar.
Dhina menghentikan langkahnya dan memilih untuk mendengar pembicaraan mereka. Sementara Ammar yang tadinya diam dan sudah merasa lebih tenang, kembali melanjutkan pembicaraan tanpa menyadari bahwa adik perempuannya itu sedang melihat mereka semua di dalam ruangan Dokter Ronald.
"Ayo Nak. Apa yang ingin kamu dan Nak Ronald jelaskan? Kenapa kamu diam saja?" tanya Bu Aini lagi karena belum mendapatkan jawaban dari putra sulungnya itu.
Apa yang ingin Mas Ammar katakan? Kenapa ekspresi semua orang di ruangan ini sangat tegang. Gumam Dhina dalam hati.
Dhina yang masih berdiri dibalik daun pintu ruangan Dokter Ronald pun masih terus memantau dan mendengarkan pembicaraan mereka.
"Ammar harap Ayah dan Ibu bisa tenang saat mendengar apa yang akan Ammar katakan ini." ucap Ammar yang gugup sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Katakan, Nak. Apa yang ingin kamu beritahu? InsyaAllah Ayah dan Ibu akan tenang mendengarkan penjelasan kamu." ujar Pak Aidi yang ikut berdiri dan menghampiri Ammar sambil meraih bahu putra sulungnya itu.
Ammar benar-benar berada di situasi yang tidak menyenangkan saat ini. Tapi semuanya sudah terlanjur dan Ammar harus memberitahu semuanya.
"Sebenarnya... Adek... Adek... Adek positif kanker darah stadium dua, Yah, Bu!"
Jgeeer!
Terkejut dan terpukul, itulah yang Dhina rasakan saat mendengar berita yang dikatakan oleh Ammar pada kedua orang tuanya. Dhina pun kehilangan kekuatan untuk berdiri hingga membuatnya terduduk di depan pintu. Bulir bening pun lolos begitu saja. Namun suaranya tertahan akibat rasa sesak yang memenuhi dadanya.
Dengan sisa kekuatan yang ada, Dhina pun berusaha bangkit dan memilih untuk pergi dari depan ruangan itu. Dhina berlari menjauh dari ruangan itu seraya menangis setelah mendengar kenyataan pahit yang terjadi di dalam hidupnya.
Aku sakit kanker darah? Tidak, tidak mungkin! Jadi sakit kepala, mimisan, dan semua itu adalah kanker. Stadium dua? Tidak, tidak, tidak mungkin. Gumam Dhina dalam hati.
Kenyataan pahit bahwa dirinya saat ini sedang sakit keras membuatnya terus berlari hingga kini ia sudah berada di taman rumah sakit yang ada di belakang rumah sakit. Dhina terduduk di kursi taman dan menangis. Tiada siapa pun yang mengetahui keberadaan dirinya saat ini.
***
Sementara di ruangan Dokter Ronald, Pak Aidi yang mendengar perkataan Ammar bahwa putrinya kini sedang sakit hanya terdiam dan tidak bisa berkata lagi. Sedangkan Bu Aini kembali menangis setelah mendengar berita buruk ini. Sadha dan Dhana yang juga ikut menangis pun menghampiri ibunya.
"Ibu yang sabar ya, Bu. Ini semua ujian dari Allah untuk keluarga kita. Ibu harus kuat menerima semua ini." ujar Dhana yang memeluk ibunya dari belakang.
"Iya, Bu. Kita harus bisa menerima semua ini. Ini juga demi Adek. Kalau dia tau semua ini, dia akan lebih terpukul dari kita, Bu." timpal Sadha yang duduk di depan sang ibu seraya meraih tangan Bu Aini.
Ibel yang melihat Bu Aini yang semakin pecah tangisnya, langsung menghampiri ibu dari pria yang ia cintai itu untuk menenangkan dan meyakinkan Bu Aini kalau Dhina akan baik-baik saja.
"Tante harus kuat, demi Dhina dan yang lainnya. Tante harus bisa menerima semua ini. Ini sudah takdir hidup Dhina. Jadi Tante harus kuat ya, Ibel akan selalu ada untuk Tante." ujar Ibel seraya memeluk Bu Aini yang masih menangis.
"Ammar minta maaf pada Ayah dan Ibu. Ammar baru bisa memberitahu hal ini sekarang. Ammar, Sadha dan Dhana sudah tau hal ini sejak kemarin. Kami bertiga memutuskan untuk memberitahu Ayah dan Ibu hari ini setelah pulang dari acara itu. Tapi rencana yang kita buat tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Adek tiba-tiba pingsan, lalu Sadha dan Dhana langsung membawa Adek ke rumah sakit. Mungkin ini jalan yang diberikan untuk Ayah dan Ibu agar bisa mengetahui hal yang sebenarnya. Ammar minta maaf Ayah, ammar minta maaf Ibu." jelas Ammar yang meraih tangan Pak Aidi yang masih berdiri sejak tadi.
"Tidak, Nak. Kalian sudah melakukan hal yang benar. Kalian memilih untuk memberitahu Ayah dan Ibu setelah acara itu karena kalian tidak ingin Ayah dan Ibu sedih saat menghadiri acara itu bukan? Ayah bangga pada kalian semua. Kalian bisa mengatasi semuanya dengan baik. Saat ini yang paling penting adalah kesembuhan adik kalian. Jadi jangan merasa bersalah seperti ini ya." ujar Pak Aidi yang membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Ammar.
"Ayah benar-benar tidak marah?" tanya Ammar yang merasa belum yakin dengan ucapan sang ayah.
"Tidak, Nak. Ayah tidak marah pada kalian." jawab Pak Aidi yang berusaha tegar di depan putranya.
"Terima kasih Ayah. Ayah sudah mengerti situasi dan kondisi seperti ini. Ammar dan Dokter Ronald akan melakukan yang terbaik untuk Adek. Ayah dan Ibu jangan khawatir." seru Ammar sambil memegang tangan sang ayah.
"Ayah percaya sama kamu. Lakukan yang terbaik, Ayah dan Ibu akan bantu dengan do'a." ujar Pak Aidi yang begitu tegar setelah mendengar kenyataan pahit ini.
"Iya, Ayah. Ammar akan berusaha semaksimal mungkin. Terima kasih, Ayah." ucap Ammar sambil memeluk Pak Aidi dan Pak Aidi membalas pelukan itu dengan erat.
Sebenarnya Pak Aidi juga sangat terpukul mendengar semua ini, sama seperti Bu Aini. Tapi karena posisinya sebagai kepala keluarga, Pak Aidi harus bisa tegar dan tenang di depan istri dan anak-anaknya agar mereka semua juga bisa tenang dalam menghadapi masalah ini.
Sementara Bu Aini masih menangis dalam pelukan Ibel. Sadha dan Dhana juga sedang berusaha menenangkan ibunya yang sedang menangis.
Dokter Ronald yang melihat kesedihan keluarga sahabatnya itu juga ikut merasakan kesedihan. Dokter Ronald membiarkan mereka tenang terlebih dahulu, sebelum ia akan mengatakan sesuatu tentang kondisi Dhina saat ini.
.
.
.
.
.
Happy Reading All❤️❤️❤️
biasanya klau tokoh utamanya sakit, ya udah pasti bakal kesana mikirnya
tapi ngeliat kebahagiaan, canda tawa, rasanya gak rela bgt kalau dhina dah gak ada
thanks buat author yang membuat cerita keren dan membuat banjir air mata
ttp aja nangis...
tingglkn jejak dulu ya