Enam bulan setelah Kirei Zhaklyn—perempuan tangguh di balik kesuksesan industri teknologi—tewas tragis dalam kecelakaan akibat sabotase keji, hidup Vaxerion Mahendra ikut hancur. Konglomerat otomotif itu memilih mundur dari dunia bisnis, hidup seperti cangkang kosong yang didera kedukaan mendalam.
Namun, di sebuah malam gala internasional, pintu aula terbuka. Di sana muncul sepasang manusia: Andi Clark, miliarder pemegang kendali perbankan global asal Swiss, menggandeng seorang wanita yang memiliki wajah, sorot mata, dan senyuman yang seratus persen persis dengan almarhumah Kirei.
Dia adalah Kirei Alexandra. Datang dari Eropa dengan pembawaan ketus, jutek, dan dingin, dia langsung menepis kasar pelukan Vaxerion: "Jaga jarak Anda, Tuan Mahendra. Saya bukan barang peninggalan masa lalu Anda."
Apakah wanita jutek ini adalah Kirei yang bangkit dari kubur untuk membalas dendam, atau ada rahasia adopsi yang sengaja dikubur sejak bayi? Di tengah adu kekayaan tingkat tinggi dan gesekan harga diri melawan Andi Clark, takdir baru yang jauh lebih berbahaya siap menggoncang Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Deru Napas yang Tenang dan Anggrek di Meja Tamu
Kelelahan yang menumpuk selama berhari-hari akhirnya menumbangkan seluruh pertahanan Kirei. Setelah malam yang menguras energi di ruang server untuk meringkus Sastro, Kirei tidak kembali ke apartemennya yang sepi. Langkah kakinya yang goyah membawa tubuh rampingnya pulang ke tempat teraman yang ia tahu: rumah Oma. Pagi ini, di dalam kamar masa kecilnya yang sederhana dengan dinding bercat putih gading, Kirei tertidur dengan sangat pulas.
Dia berbaring miring di atas ranjang kayu jati kuno, mengenakan kaus katun longgar berwarna putih polos yang sudah agak usang dan tipis. Tidak ada blazer kaku dengan potongan bahu yang tajam, tidak ada kemeja sutra champagne yang formal, dan tidak ada sisa sapuan riasan tebal di wajah cantiknya. Kulit wajahnya yang bersih tampak merona alami. Rambut hitam panjangnya yang tebal tersebar acak di atas bantal kapuk yang dibungkus sarung linen bermotif bunga samar.
Di bawah siraman cahaya matahari pagi yang menembus celah gorden kain yang tipis, Kirei kelihatan begitu rapuh sekaligus damai. Deru napasnya terdengar halus, teratur, dan mengalir pelan. Sesekali kelopak matanya yang lentik bergerak kecil, pertanda otaknya sedang melepaskan sisa-sisa ketegangan dari barisan kode komputer, ancaman Bianca, dan intrik busuk dewan komisaris yang menguras tenaga. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama dipaksa berdiri tegak menghadapi badai Jakarta, Kirei bisa tidur nyenyak tanpa perlu mengepalkan tangan di balik selimut kainnya. Wajahnya yang biasa kaku kini melunak seutuhnya dalam pelukan keheningan kamar.
Di luar rumah, sebuah SUV listrik hitam matte berhenti dengan suara putaran roda yang nyaris tidak terdengar di depan pagar besi halaman. Vaxerion melangkah masuk ke halaman rumah Oma tanpa mengenakan jas formal tiga potongnya. Pria itu hanya memakai kemeja rajut kasual berwarna abu-abu terang yang melar pas membungkus dada bidangnya yang tegap, memancarkan kesan santai namun tetap berwibawa tinggi. Langkah kakinya yang kokoh tidak menimbulkan suara saat menginjak lantai semen teras.
"Eh, Nak Vaxerion. Kirei-nya masih tidur di kamar, Nduk. Kasihan, badannya capek banget waktu pulang subuh tadi," bisik Oma saat membukakan pintu kayu depan dengan suara rendah agar tidak menimbulkan kebisingan yang bisa mengganggu istirahat cucunya.
Vaxerion mengangguk pelan penuh penghormatan yang tulus. "Saya tahu, Oma. Saya ke sini cuma mau mengantarkan sup herbal hangat titipan Ibu untuk Kirei. Apa saya boleh melihatnya sebentar?"
Oma tersenyum teduh, lalu menggeser tubuh tuanya memberi jalan masuk. Vaxerion melangkah pelan di atas lantai tegel rumah, nyaris tanpa suara. Dia mendorong pintu kamar Kirei yang sedikit terbuka, lalu berdiri mematung di ambang pintu, menatap siluet ramping wanitanya yang sedang terlelap di balik selimut.
Pandangan mata jernih Vaxerion seketika melembut dengan kilat ketulusan yang sangat jelas tanpa ada rahasia. Pria itu melangkah mendekati sisi ranjang kayu, lalu berlutut dengan satu kaki di lantai semen yang dingin agar posisinya sejajar dengan kepala Kirei. Menatap wajah polos Kirei tanpa topeng kekuasaannya selalu berhasil membuat dada Vaxerion berdesir hebat. Dia mengulurkan tangan kirinya yang besar dan hangat, dengan gerakan yang kelewat lembut menggunakan ujung jarinya, dia menyingkirkan seuntai rambut panjang yang menempel di pipi merona Kirei yang sedang terlelap.
Kirei melenguh pelan dalam tidurnya, merasakan sentuhan hangat yang akrab di kulitnya, namun dia tidak terbangun dari tidur nyenyaknya. Dia justru mengerutkan hidungnya sedikit lalu menarik selimut kainnya lebih tinggi untuk menutupi leher, membuat Vaxerion tidak bisa menahan senyuman tipis yang luar biasa tampan di wajah tegasnya. Pria itu bangkit berdiri dengan tenang, membetulkan posisi selimut Kirei agar menutupi bahunya dengan sangat protektif, lalu melangkah keluar kamar dan menutup pintu dengan desis halus yang sangat lambat.
Namun, begitu Vaxerion melangkah kembali ke ruang tamu kecil milik Oma, ketenangannya langsung runtuh dalam satu detik.
Di atas meja kopi kayu jati kuno di dekat tirai jendela, ada sebuah vas kaca besar berisi buket bunga anggrek biru langka yang sangat segar dan berkelas. Di sela-sela kelopak bunga eksotis yang mahal itu, terselip sebuah kartu ucapan kecil berwarna perak dengan gurat tulisan tangan yang langsung membuat rahang tegas Vaxerion mengeras kaku.
“Untuk kopi susu yang terganggu kemarin sore. Semoga tidurmu nyenyak hari ini, Kirei. Sampai jumpa di barisan depan Gala Dinner. — Devan Atmadja.”
Sepasang mata jernih Vaxerion mendadak mendingin seketika, memancarkan kilat kecemburuan seorang pria yang sangat nyata. Kehadiran Devan Atmadja yang nekat mengirimkan bunga langsung ke rumah Oma Kirei benar-benar menyulut api persaingan ego di jajaran atas Jakarta. Vaxerion menatap buket anggrek biru itu dengan pandangan tajam, seolah dia sedang bersiap menghancurkan seluruh rencana investasi Atmadja Capital sebelum matahari terbenam sore ini demi menjaga wanitanya.