"Saya menyukai kamu, Maura. Tapi, saya sadar bahwa perbedaan umur kita terlalu jauh."
Pengakuan Setya membuat Maura mengernyitkan dahi. Mengapa dirinya ini seolah menjadi pilihan pria dewasa dihadapannya?
"Saya bukan pilihan, Pak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biby Jean, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 29 – Penggoda Kampus
Grup dosen langsung heboh akan hilangnya sang donatur dan pendampingnya.
Grup WA: PARA DOSEN PENYAYANG KAMPUS
Bu Rora: (Mengirim foto blur dari jauh: Setya sedang menarik pergelangan tangan Maura menuju parkiran)
"Bapak Ibu, ada yang lihat ini tadi? Habis menang lomba langsung ditarik ke mobil. Padahal acara ramah tamah VVIP belum mulai. 🧐"
Pak Dimas:"Mungkin ada urusan mendesak, Bu. Pak Setya kan orang sibuk."
Bu Sarah:"Mendesak atau disengaja, Pak Dimas? Tadi saya lewat tenda VVIP, suasananya tegang sekali. Pak Setya membela Bu Maura habis-habisan di depan kami. Saya sampai gemetar dengar suaranya."
Dosen Senior 1:"Kurang etis ya. Masih jam kerja, statusnya pendamping tapi malah dibawa pergi begitu saja. Harusnya Bu Maura bisa menolak kalau memang profesional."
Bu Rora:"Menolak? Mana mungkin mau menolak diajak naik sedan mewah begitu, Bu. Tadi saya lihat Bu Maura juga diam saja pas tangannya ditarik. Seperti sudah... ya tahu sama tahu lah."
Pak Hamdani (Dekan):"Mohon tenang semuanya. Pak Setya sudah izin kepada saya secara langsung. Ada agenda diskusi privat mengenai kelanjutan donasi laboratorium yang perlu dibicarakan dengan Bu Maura sebagai perwakilan teknis. Jadi tolong jangan buat spekulasi yang tidak berdasar di grup ini."
Bu Sarah: "Diskusi di dalam mobil yang kacanya gelap begitu ya, Pak Dekan? Hebat sekali laboratorium kita sampai harus dibahas seintim itu. 🤭"
Pak Dimas:"Bu Sarah, jaga bicaranya. Tidak baik menyebar fitnah tentang rekan kerja sendiri."
Mobil melaju membelah jalanan Jakarta yang padat dengan keheningan yang menyesakkan di dalam kabin. Maura terbangun saat sinar matahari menyelinap di sela tirai jendela yang sedikit terbuka. Kepalanya terasa pening, namun kesadarannya pulih seketika saat ia menyadari tangannya masih menggenggam ponsel.
Setya ada di sana, duduk dengan tenang sambil menatap layar tabletnya. Pria itu tidak menoleh, namun suaranya memecah kesunyian.
"Sudah bangun?"
Maura tidak menjawab. Hal pertama yang ia lakukan adalah menyalakan layar ponselnya. Ratusan notifikasi dari grup WhatsApp dosen menyerbu masuk. Awalnya ia hanya ingin memastikan jadwal sore, namun matanya terpaku pada deretan kalimat di grup "PARA DOSEN PENYAYANG KAMPUS".
Wajah Maura yang tadinya pucat karena bangun tidur, kini berubah merah padam. Tangannya gemetar hebat, saat membaca kata demi kata.
"Sialan," desis Maura pelan.
"Ada apa?" Setya meletakkan tabletnya, kini fokus sepenuhnya pada wanita di sampingnya.
Maura mendongak, matanya berkaca-kaca karena amarah yang meluap, lalu menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Setya.
"Ini! Ini yang Bapak mau, kan? Bapak puas sekarang?"
Setya menerima ponsel itu dengan tenang, membaca sekilas rentetan chat merendahkan dari rekan-rekan Maura. Ekspresinya tidak berubah, tetap datar dan sedingin es, yang justru membuat kemarahan Maura semakin memuncak.
"Mereka menyebut saya penggoda! Mereka bilang saya menukar harga diri saya dengan barang-barang mewah dari Bapak!" suara Maura meninggi, bahkan hampir berteriak. "Bapak bilang Bapak sedang membangun reputasi saya? Bapak justru sedang menghancurkan karier saya!"
Maura mencoba merebut kembali ponselnya, namun Setya menahan tangan Maura dengan satu gerakan cepat. Pria itu menatap Maura tajam, mengunci pergerakannya.
"Dan kamu memedulikan ketikan orang-orang yang bahkan tidak berani menatap matamu saat bicara?" tanya Setya rendah.
"Tentu saja saya peduli! Saya harus bekerja dengan mereka setiap hari! Saya membangun nama saya dengan susah payah, Pak Setya! Saya bukan aset, saya bukan mainan Bapak!" Maura menyentak tangannya hingga terlepas. "Turunkan saya sekarang. Saya mau kembali ke kampus dan menjelaskan semuanya."
Setya justru terkekeh, suara yang terdengar sangat sinis di telinga Maura. Lalu, menyandarkan punggungnya kembali, menatap lurus ke depan.
"Menjelaskan apa? Bahwa kamu dipaksa masuk ke mobil ini? Bahwa kamu tertidur lelap di samping saya karena kamu merasa cukup aman untuk menutup mata?" Setya menoleh kembali, kali ini dengan sorot mata yang mengintimidasi. "Semakin kamu membela diri, semakin mereka merasa benar. Dunia tidak bekerja dengan cara meminta maaf, Maura."
" Bapak sengaja membiarkan mereka melihat kita, sengaja menarik saya keluar. Bapak hanya ingin menunjukkan kekuasaan Bapak, tanpa peduli bagaimana nasib saya setelah ini," lirih Maura, napasnya tersengal karena emosi.
Setya terdiam sesaat, lalu ia mendekatkan tubuhnya, membuat Maura kembali terpojok ke pintu mobil.
"Dengar, Maura. Saya tidak peduli pada grup sampah itu. Tapi jika kamu sangat terganggu dengan sebutan penggoda itu..." Setya menatap dalam tepat di mata si wanita, “kenapa tidak sekalian kita buat nyata.”
PLAK!
Suara tamparan itu menggema di dalam kabin mobil yang kedap suara, menciptakan keheningan yang jauh lebih mematikan daripada sebelumnya. Kepala Setya teralih ke samping akibat kerasnya hantaman tangan Maura.
Maura terengah-engah, tangannya yang baru saja mendarat di pipi Setya terasa panas dan bergetar hebat. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini benar-benar jatuh membasahi pipinya.
"Bapak keterlaluan. Bapak pikir karena Bapak punya segalanya, Bapak bisa menghina harga diri saya sesuka hati?" bisik Maura dengan suara pecah.
Setya tetap diam selama beberapa detik, lalu dengan perlahan menggerakkan rahangnya, merasakan nyeri yang berdenyut di pipi kirinya. Alih-alih marah, pria itu justru menoleh kembali ke arah Maura.
"Sudah selesai?" suara Setya terdengar sangat rendah, hampir seperti bisikan predator.
"Turunkan saya," tuntut Maura, jemarinya mencengkeram tuas pintu mobil dengan putus asa. "Sekarang!"
"Kunci pintunya," titah Setya tanpa mengalihkan pandangan.
Sopir di depan, yang sejak tadi berusaha tuli, segera mengunci sistem pintu secara otomatis. Klik.
Maura menarik tuas itu berkali-kali, namun nihil. Tubuh mungil itu merasa seperti burung yang terjebak dalam sangkar emas yang menyesakkan.
"Bapak mau apa lagi?! Belum cukup Bapak membuat saya jadi bahan gunjingan satu universitas?"
Setya tiba-tiba bergerak maju, merangkap kedua tangan Maura dan menguncinya di atas sandaran jok dengan satu tangan besarnya. Jarak mereka kini benar-benar hilang. Maura bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berpacu liar melawan dada bidang Setya.
"Saya tidak pernah menghina harga dirimu. Saya hanya memberikanmu pilihan untuk berhenti bersikap naif. Kamu ingin dihormati? Maka jadilah seseorang yang mereka takuti, bukan seseorang yang mereka kasihani karena terlihat tertindas," ucap Setya, setiap katanya ditekan dengan emosi yang tertahan.
"Dengan menjadi gunjingan? Itu yang Bapak mau?!" tantang Maura, matanya menatap tajam meski basah oleh air mata.
"Memangnya kita ini apa sampai saya harus mengandalkan Bapak?" lanjut Maura dengan suara serak yang memilukan.
Setya tidak bergeming. Alih-alih menjauh, pria itu justru memajukan wajahnya hingga jarak di antara mereka benar-benar terkikis habis. Maura bisa merasakan embusan napas Setya yang hangat dan aroma sandalwood bercampur peppermint yang kini menguasai seluruh indranya.
Bibir Setya hampir menyentuh bibir Maura, hanya menyisakan ruang setipis udara yang membuat jantung Maura seolah berhenti berdetak.
“Kalau begitu, apa yang kamu inginkan dari hubungan ini, Maura?” Setya menatap bibir Maura yang bergetar, lalu kembali ke matanya.
kapan ini ceritanyaaa berlanjut ???