Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Bayangan yang Terungkap
Arvino terus mendekat, terus mencoba, dan terus ditolak dengan dinding baja profesionalisme yang kubangun. Rasa sakit di matanya nyata, tapi hatiku masih menuntut ganti rugi atas satu tahun penderitaan.
Pagi itu, aku berada di rumah sakit untuk jadwal operasi kecil. Setelah operasi, aku ditelepon oleh Papa Hardinata. Nadanya serius, memintaku segera bertemu dengannya di ruangan kerjanya di RS Hardinata.
Saat aku tiba, Papa sudah menunggu. Wajahnya muram, di mejanya tergeletak sebuah amplop cokelat tebal.
"Aluna, duduklah," kata Papa, suaranya pelan.
"Ada apa, Papa? Apakah ada masalah dengan pemulihan Kak Vino?" tanyaku.
"Bukan. Ini tentang... Sarah," kata Papa, menghela napas berat. "Setelah kecelakaan Arvino, aku membersihkan berkas-berkas lamanya di ruang kerja. Aku menemukan ini. Aku tidak tahu apakah aku harus menunjukkan ini padamu, tapi aku pikir... ini akan menjawab semua pertanyaan."
Papa mendorong amplop cokelat itu.
"Ini adalah rekam medis Sarah, sebelum dia hamil," jelas Papa. "Dan juga beberapa hasil konsultasi medis yang dia lakukan secara rahasia, setahun sebelum dia meninggal."
Aku mengambil amplop itu. Tanganku gemetar saat mengeluarkan isinya.
Mataku menyapu baris demi baris, laporan demi laporan. Aku, sebagai seorang dokter, bisa langsung memahami implikasi dari temuan ini.
Diagnosis Terdahulu: Sarah didiagnosis menderita Antiphospholipid Syndrome (APS) ringan, atau sindrom darah kental. Sebuah kondisi autoimun yang meningkatkan risiko pembekuan darah, terutama saat kehamilan.
Konsultasi Rahasia: Sarah berkonsultasi dengan seorang spesialis di Singapura. Spesialis itu telah memperingatkannya: kehamilan akan sangat berisiko tinggi dan dapat menyebabkan Solusio Plasenta (plasenta lepas) dan komplikasi pendarahan fatal, seperti DIC, jika ia tidak menjalani pengobatan antikoagulan yang ketat.
Keputusan Sarah: Sarah memilih untuk tidak menjalani pengobatan antikoagulan secara rutin, takut obat tersebut akan memengaruhi perkembangan janin. Dia memilih untuk mengambil risiko demi kehamilan, dan dia menyembunyikan diagnosis APS-nya dari Arvino dan Papa.
Aku mengangkat wajahku, menatap Papa dengan mata berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena marah dan kelegaan.
"Sarah... dia tahu," bisikku. "Dia tahu kehamilan ini akan membunuhnya."
"Dia terlalu mencintai Arvino, Aluna," kata Papa, suaranya serak. "Arvino sangat ingin punya anak. Sarah tahu dia mungkin tidak akan selamat, tapi dia ingin memberikan Lili pada Arvino sebagai warisan terakhirnya. Dia mengambil risiko ini, dan dia sengaja menyembunyikan rekam medisnya."
Rasa bersalah yang selama ini membebaniku seketika terangkat. Aku tidak gagal. Sarah yang memilih takdirnya. Kematian Sarah bukan karena kelalaian diagnosis, tapi karena komplikasi yang sudah diprediksi dan dipertaruhkan.
"Lalu kenapa Papa membiarkan Kak Vino menyiksaku selama ini?!" tuntutku, suaraku meninggi. "Papa tahu aku dituduh membunuh anak Papa sendiri! Papa tahu dia menyiksaku karena dia percaya aku gagal! Kenapa Papa diam saja?!"
Papa menunduk. "papa tidak ingin menghancurkan citra Sarah di mata Arvino. papa ingin Arvino mengingat Sarah sebagai istri yang sempurna. apap ingin dia fokus pada Lili, bukan pada kesalahan masa lalu Sarah. papa... papa pengecut, Aluna. papa lebih memilih kebohongan yang membuat Arvino stabil, daripada kebenaran yang akan membuatnya hancur."
Aku memejamkan mata. Papa tidak hanya menyakiti Arvino, dia menyakitiku dengan keheningannya.
"Arvino harus tahu ini," kataku tegas.
"Jangan. Dia baru sembuh. Jangan tambahkan beban ini," pinta Papa.
"Dia harus tahu," kataku, berdiri. "Dia harus tahu bahwa rasa sakitnya selama ini didasari kebohongan yang diizinkan oleh Papa. Dia harus tahu betapa bodohnya dia memperlakukan orang yang mencintainya, hanya demi menghormati bayangan yang bahkan tidak sempurna."
Aku mengambil rekam medis itu, memasukkannya ke dalam tas.
Malam harinya, aku kembali ke rumah. Arvino sudah berada di kamarnya (kamar tamu), menonton berita.
Aku masuk. Wajahku dingin, tapi mataku dipenuhi oleh api kebenaran.
"Kita perlu bicara, Kak," kataku, melempar amplop cokelat itu ke ranjang di sampingnya.
Arvino terkejut melihat dokumen tebal itu. Dia membukanya, menarik keluar rekam medis dan konsultasi rahasia Sarah. Dia membaca, matanya melebar seolah baru saja dipukul.
Keheningan melanda kamar itu. Arvino membaca semua itu. Membaca fakta bahwa Sarah tahu ia punya sindrom darah kental. Membaca fakta bahwa Sarah memilih untuk tidak minum obat. Membaca fakta bahwa Sarah memilih mati, demi memberinya Lili.
Arvino menjatuhkan kertas itu. Tubuhnya gemetar.
"Tidak... tidak mungkin..." bisiknya, wajahnya putih. "Sarah tidak mungkin menyembunyikan ini dariku."
"Dia menyembunyikannya, Kak. Dari semua orang," kataku, nadaku tenang dan dingin. "Dia tidak ingin kau khawatir. Dia tidak ingin kau melarangnya. Dia ingin kau mengingatnya sebagai pahlawan yang memberimu anak."
"Jadi... kematiannya... bukan kesalahan siapa-siapa," kata Arvino, suaranya parau.
"Bukan kesalahan tim medis. Bukan kesalahanku. Tapi itu adalah risiko yang dia ambil, dan risiko itu terjadi," jelasku. "Dan aku, adik yang malang, dituduh membunuh oleh Kakak selama satu tahun ini. Kakak tahu aku benci gelap, tapi Kakak memaksaku tidur di kegelapan. Kakak tahu aku seorang dokter, tapi Kakak meragukan keahlianku. Hanya karena Kakak ingin membenarkan rasa sakit Kakak."
Aku berjalan mendekat, menatapnya.
"Aku memaafkan Sarah atas kebohongannya. Aku mencintainya," kataku. "Tapi aku tidak bisa memaafkan Kakak atas perlakuan Kakak padaku, setelah semua pengorbanan yang kubuat. Aku menyelamatkanmu dari kecelakaan, dan aku menyimpan rahasia Sarah untuk waktu yang lama, hanya untuk melindungi kebohongan yang mengikat kita."
Air mata Arvino mengalir deras. Dia tidak lagi bisa membela diri. Kebenciannya selama ini tidak hanya salah, tapi didasarkan pada idealisme yang palsu.
"Aluna... apa yang harus kulakukan?" Dia meraih tanganku. "Aku sungguh minta maaf. Aku tidak tahu bagaimana harus hidup dengan semua penyesalan ini."
Aku menarik tanganku. "Kau harus hidup, Kak. Kau harus hidup dan membesarkan Lili. Itu penebusanmu. Tapi bukan denganku."
Aku menoleh, berjalan menuju pintu.
"Aku akan menceraikanmu, Kak. Aku akan memberimu waktu sampai besok sore untuk menandatangani surat itu. Setelah itu, aku akan pergi. Aku lelah menjadi pahlawan yang tidak terlihat."
Aku keluar, meninggalkan Arvino yang hancur sendirian, dikelilingi oleh rekam medis yang menguak bayangan Sarah. Kini, Arvino tahu kebenarannya. Dia harus memilih: terus hidup dalam kehancuran, atau berusaha bangkit dan meraih Aluna yang sudah menjauh.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca 💞
Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️