NovelToon NovelToon
MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / One Night Stand / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

---


Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Perjalanan menuju pusat kota berlangsung mulus—terlalu mulus, hingga membuat bulu kuduk Daren berdiri sejak mereka meninggalkan rumah.

Jalanan sore itu lengang, tidak ada mobil yang terlihat menguntit dari belakang, tidak ada sepeda motor yang melambat mencurigakan, tidak ada pejalan kaki yang menunjukkan gelagat aneh. Semuanya terlalu rapi. Terlalu normal.

Dan bagi Daren, “normal” justru adalah alarm paling keras.

Di mobil utama, Daren memandangi kaca spion dengan sorot mata yang tak pernah berhenti bergerak.

Pengawal di mobil lain terus melakukan komunikasi via ear-piece.

“Clear di jalur kanan.”

“Clear di perempatan selanjutnya.”

“Tidak ada titik panas terdeteksi.”

Laporan yang seharusnya membuat tenang justru membuat dada Daren makin sesak.

Melisa terlalu pintar untuk melepaskan mereka begitu saja.

Setelah rencana penculikan sebelumnya gagal total, dia pastinya menyusun sesuatu yang lebih gila.

Mendengar gumaman resah dari suaminya, Mala menepuk lengan Daren pelan.

“Sayang, udah… santai. Kita cuma mau makan serabi, bukan perang dunia.”

Daren cuma bisa mengembuskan napas berat. “Iya, tapi aku tetap nggak suka keadaan terlalu tenang begini.”

Mala tersenyum tipis. “Kalau gitu, anggap aja kita lagi syuting film thriller. Bonusnya ada serabi enak.”

Di bangku belakang, Kayla sudah panik duluan.

“Ma… aku ikut karena kamu maksa. Tolong catat, kalau aku mati, tolong bilang sama emak gue: aku mati sebagai pahlawan ngidam.”

Mala cuma ngakak. “Yaelah, Kay, lebay bet. Paling cuma makan serabi juga.”

Tapi kenyataannya… Daren tahu, ini bukan sekadar makan serabi.

Sesampainya di kedai serabi kesukaan Mala, suasana kota tampak lebih hidup. Banyak orang lewat, capé-capé penuh, lampu toko menyala hangat.

Aroma adonan panas dari dapur kedai menyeruak begitu mereka membuka pintu, membuat perut Mala langsung menggeliat.

“Bang… aku mau yang topping coklat keju. Tapi makan di sini ya… aku maunya panas,” ucap Mala dengan mata berbinar.

“Siap, sayang,” jawab Daren sambil mengusap punggung istrinya, lalu masuk ke bagian kasir.

Sementara itu, para pengawal menyebar. Dua di pintu depan. Satu di dekat dapur. Tiga mengamati area luar melalui jendela kaca.

Armand, yang mengikuti dari belakang, berdiri di sisi luar capé sambil memantau jalan.

Kayla langsung duduk di samping Mala, matanya berbinar seperti anak kecil masuk wahana horor.

“Aku sumpah Ma… ini bener-bener kayak film action. Astaga, aku jadi artis dadakan.”

Mala tertawa. “Kalau gitu nanti aku bilangin emak kamu: anaknya sekarang calon aktris laga.”

“Jangan Ma! Nanti aku dikirim mondok!”

Kayla masih bicara, masih tertawa, masih merekam vlog kecil… sampai tiba-tiba—

BRAAK!! DOR! DOR! DORRR!!

Suara tembakan memecah udara.

Bukan satu.

Bukan dua.

Banyak.

Arah tembakan jelas: dari rooftop bangunan seberang capé.

Gelombang pertama peluru menghantam dinding sisi kiri capé, membuat serpihan kayu dan kaca berhamburan.

Pengunjung menjerit panik, beberapa jatuh tersungkur karena meja-meja terbalik saat semua orang berebut mencari perlindungan.

“DOWN! DOWN! DOWN!” teriak salah satu pengawal.

Dua pengawal langsung menutupi tubuh Mala, memaksanya duduk rendah di belakang meja. Kayla pun ikut ditarik dan diseret ke bawah meja.

“ASTAGA INI BENERAN?!” Kayla histeris.

Tapi Mala…

Mala tetap tenang.

Saking tenangnya, begitu pelayan menaruh sepiring serabi di meja, ia malah menarik piring itu ke bawah meja—dan mulai makan.

Seolah hujan peluru hanya efek suara film bioskop.

“Ma… Ma… lo serius?!” Kayla melongo.

Mala mengunyah santai. “Ngidam nggak bisa ditunda, Kay.”

Di luar, Daren yang sempat terlambat bergerak karena melihat Mala nongkrong sambil makan, langsung naik pitam.

“Sayang, tiarap!”

“Aku udah tiarap… sambil makan,” jawab Mala santai.

Daren sempat bengong sepersekian detik.

“Ya Tuhan… ini istriku apa terminator?”

Peluru kembali dimuntahkan dari rooftop. Pengawal-pengawal Daren membalas tembakan terukur, berusaha menekan posisi penyerang.

Armand bergerak cepat ke balik mobil, memberi instruksi melalui radio.

“Sisi timur sudah dikurung. Tim B, naik dari tangga darurat! Jangan biarkan mereka kabur!”

Ledakan kecil terdengar ketika tim bayangan Armand melempar flashbang ke lantai rooftop.

Asap putih membumbung. Jeritan singkat terdengar.

Lalu—sunyi sesaat.

Di bawah meja, Kayla tampak pucat, berkeringat dingin.

“Mal… gue mending disuruh skripsi 10 kali daripada begini…”

Mala masih tetap dengan piringnya.

“Kalau nasinya hangat sama serabinya panas, udah nggak kerasa takut, Kay.”

“Ini bukan soal takut, Mal! Ini soal nyawa!”

“Tenang. Kan ada suami gue.”

Daren yang mendengar itu hampir jatuh saking speechless.

Setelah tiga menit yang terasa seperti tiga jam, suara tembakan berhenti.

Hanya tersisa suara langkah kaki tim Armand dan dengungan sirene keamanan kawasan.

Satu per satu para penyerang berhasil dilumpuhkan. Dua ditangkap hidup-hidup. Satu pingsan akibat ledakan flashbang.

Di kejauhan terdengar bunyi BOOM! kecil—tanda bahwa satu penyerang mencoba kabur dan memicu bahan peledaknya sendiri.

Armand masuk ke capé yang sudah berantakan.

“Mala aman?”

Daren mengangguk, tapi wajahnya campuran antara syok, kesel, lega, dan… tidak percaya.

“Dia aman. Lebih dari aman… dia malah makan.”

Armand menatap Mala yang masih mengunyah serabi.

“Serius?”

Mala mengangkat serabinya. “Papa Armand mau? Mumpung masih panas.”

Armand mengusap wajah. “Anakmu nanti bakal jadi legenda.”

Daren akhirnya menghampiri Mala, berlutut, memeriksa wajah istrinya.

“Sayang… kamu bener-bener nggak kenapa-napa?”

Mala menatap serabinya. “Nggak… cuma ini gosong sedikit.”

Kayla memegang dadanya sendiri. “Aku… aku jamin umurku berkurang 10 tahun hari ini.”

Armand berdiri di tengah capé, bicara lewat ponsel.

“Tangkap semua yang masih hidup. Kita cari tahu siapa yang mengirim mereka. Tapi aku yakin… ini Melisa lagi.”

Di luar, langit sore berubah keemasan. Angin mengusir sisa-sisa asap, namun ketegangan masih menggantung di udara seperti benang tak kasatmata.

Namun di tengah semua kehancuran—meja terbalik, kaca pecah, teriakan panik, dan aroma mesiu—ada satu hal yang tetap berdiri tegak tanpa peduli pada dunia:

Ngidamnya Mala.

Dan bagi semua orang yang menyaksikan…

Itu jauh lebih menakutkan daripada serangan mafia manapun.

Assalamualaikum selamat siang

Selamaat membaca..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!