Ini adalah kisah tentang Asmara, seorang pramugari berusia 25 tahun yang meniti karirnya di atas awan, tiga tahun Asmara menjalin hubungan dengan Devanka, staf bandara yang karirnya menjejak bumi. Cinta mereka yang awalnya bagai melodi indah di terminal kedatangan kini hancur oleh perbedaan keyakinan dan restu orang tua Devanka yang tak kunjung datang. dan ketika Devanka lebih memilih dengan keputusan orangtuanya, Asmara harus merelakannya, dua tahun ia berjuang melupakan seorang Devanka, melepaskannya demi kedamaian hatinya, sampai pada akhirnya seseorang muncul sebagai pilot yang baru saja bergabung. Ryan Pratama seorang pilot muda tampan tapi berwajah dingin tak bersahabat.
banyak momen tak sengaja yang membuat Ryan menatap Asmara lebih lama..dan untuk pertama kali dalam hidupnya setelah sembuh dari rasa trauma, Ryan menaruh hati pada Asmara..tapi tak semudah itu untuk Ryan mendapatkan Asmara, akankan pada akhirnya mereka akan jatuh cinta ?
selamat membaca...semoga kalian suka yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Dibalik meja kerjanya, wajah Ryan sedikit tegang.
Beberapa berkas terbuka di depannya, laporan keamanan bandara, hasil investigasi internal, dan salinan rekaman CCTV yang baru saja dikirim oleh pihak keamanan parkiran.
Ia menatap layar laptopnya dengan rahang mengeras.
Di layar, terlihat jelas mobil berwarna merah metalik melaju dari arah kanan, terlalu cepat untuk area basement.
Dan sebelum sempat mengerem, mobil itu menyerempet tubuh Asmara yang sedang berlari terburu-buru.
Ryan menekan tombol pause, matanya fokus pada plat nomor yang terlihat sekilas.
Ia lalu membesarkan gambar.
“B 1289 … RN…” kata Ryan pelan, nyaris bergumam.
Tangannya mengepal.
Nomor itu sangat familiar. Ia mengingatnya dengan jelas, itu mobil Olivia, pramugari senior yang beberapa waktu lalu sempat bersitegang dengan Asmara di ruang kru.
“Jadi… Olivia.” Suara Ryan pelan, penuh tekanan.
Ia bersandar di kursinya, menarik napas panjang, tapi matanya tetap menatap layar tanpa berkedip.
Bukan sekadar marah, ia berusaha menahan diri agar tidak gegabah.
Beberapa kilas balik melintas di benaknya, Olivia yang selalu berusaha mendekatinya dengan alasan profesional, Olivia yang memandang Asmara dengan sinis, dan gosip yang sempat menyebar tentang hubungan mereka.
Semuanya kini terasa masuk akal.
“Dia mencelakai Asmara karena aku…”
Ia mengusap wajahnya keras-keras, lalu menutup laptopnya dengan satu gerakan tegas.
Namun belum lama ia berdiri, ponselnya berdering, Dika menelepon dari kantor pusat.
“Ya, Dik?”
^^^“Pak, hasil pengecekan tim keamanan sudah fix. Plat nomor itu terdaftar atas nama Olivia Tanuwijaya. Tapi dia bilang mobilnya dipinjam temannya malam itu.” kata Dika dari seberang^^^
“Teman? Hm… Alasan klasik.” kata Ryan dingin.
^^^“jadi gimana Pak, apa kami langsung teruskan ke pihak polisi?”^^^
“Belum,” kata Ryan tegas, ia terdiam sejenak.
“Jangan dulu ada laporan resmi. Saya mau tahu dulu siapa ‘teman’ yang dia maksud.”
^^^“Baik, Pak. Saya akan selidiki diam-diam.”^^^
“Dan jangan sampai Asmara tahu dulu. Aku nggak mau dia tambah takut.”
Telepon ditutup.
Ryan berdiri di depan jendela, menatap langit langit jakarta yang terik.
“Kalau benar Olivia yang melakukannya… aku tidak akan diam.” bisik Ryan.
Wajahnya dingin, matanya menajam seperti menatap musuh yang belum muncul.
Ia tahu, sejak hari itu, segalanya sudah berubah, bukan hanya soal cinta dan pekerjaan, tapi soal perlindungan.
...🌿...
Siang hari – Di Rumah Mami Rosa 🏡
Udara terasa tenang, hanya suara burung dan gesekan lembut tirai yang menari di tiupan angin.
Di dalam kamar tamu, Asmara duduk di tepi ranjang sambil melipat pakaian satu per satu ke dalam koper kecil miliknya.
Gerakannya pelan, tapi matanya kosong, seolah pikirannya tak benar-benar ada di sana.
Sesekali, ia berhenti, menatap pakaian seragam pramugarinya yang sudah disetrika rapi.
Bibirnya mengerucut lirih, dan napasnya terdengar berat.
“Aku cuma ingin jadi diriku sendiri, aku merasa tidak pantas di sini.” gumam Asmara pelan, ia berbicara pada dirinya sendiri.
Ia menutup koper, lalu berdiri, menatap sekeliling kamar, kamar yang selama beberapa hari ini begitu nyaman, penuh perhatian dari Mami Rosa dan perlindungan dari Ryan.
Tapi justru semua kenyamanan itu kini membuatnya semakin merasa tertekan.
Asmara teringat obrolan Mami Rosa pagi tadi, tentang harapannya agar hubungan Asmara dan Ryan bisa langgeng, tentang doa dan restu seorang ibu yang terdengar begitu tulus.
Namun di sisi lain, hati Asmara bergetar oleh rasa tidak layak.
Asmara menatap ke jendela.
“Mereka orang besar, keluarga terpandang... sedangkan aku?” ia tersenyum getir.
“Aku cuma pramugari biasa. Aku bahkan nggak bisa pastikan siapa yang menabrakku kemarin.”
Tangan Asmara meraih koper, lalu menariknya pelan menuju pintu.
Langkahnya berhenti ketika melihat Mami Rosa berdiri di ambang pintu, mengenakan gaun santai berwarna biru lembut.
“Asmara, kamu mau ke mana, Sayang?” tanya Mami Rosa langsung.
Asmara tersenyum sopan.
“Aku… mau pulang, Mami. Sudah cukup aku merepotkan Mami beberapa ini.”
Mami Rosa menghela napas lembut.
“Kamu sama sekali nggak merepotkan. Rumah ini malah terasa lebih hangat sejak kamu ada.”
Asmara menunduk.
“Tapi aku nggak bisa disini lama-lama, Mi..apa kata orang nanti.”
Mami Rosa menatapnya dalam diam, membaca setiap keraguan yang bersembunyi di balik senyum Asmara.
Namun ia tak memaksa, hanya mengusap lembut lengan gadis itu.
“Kalau begitu, janji satu hal saja… tetap jaga diri, ya? Ryan pasti akan marah besar kalau tahu kamu pergi tanpa pamit padanya.”
Asmara tersenyum kecil.
“Aku tau Mami. Tapi nanti aku akan hubungi Ryan.”
Asmara menunduk, lalu melangkah pelan menuruni tangga.
Sinar matahari menyambutnya di halaman depan, hangat tapi terasa berat di dada.
Asmara menarik napas panjang, menyeret kopernya perlahan.
Ia akan kembali ke apartemen kecilnya, tempat sederhana yang dulu ia tinggalkan ketika ia takut dengan gangguan Devanka. lalu ia memutuskan tinggal di apartemen Ryan, namun kali ini dengan penuh tekad, Asmara ingin kembali seperti dulu saja, tak mau bergantung pada Ryan, karena ia merasa tak pantas.
“Mungkin di sana, aku bisa jadi diriku lagi… bukan seseorang yang harus menyesuaikan diri dengan dunia Ryan.” kata Asmara dalam hati, rasa insecure-nya bersanding dengan Ryan lebih besar daripada rasa takutnya sewaktu di kejar Devanka.
Sementara itu..
Suasana di ruang kerja Ryan Pratama masih sibuk.
Ia duduk di balik meja besar dari kayu walnut, menatap layar laptop penuh data laporan penerbangan dan dokumen internal.
Di sampingnya, Dika, sekretaris pribadinya, sedang menjelaskan tentang jadwal inspeksi armada minggu depan.
Namun suara getar ponsel di atas meja menghentikan pembicaraan.
Nama “Mami Rosa” muncul di layar.
Ryan segera mengangkatnya.
“Halo, Mami. Ada apa?” jawab Ryan dengan suara tenang.
^^^“Ryan, kamu masih di kantor, kan? Asmara… dia baru saja pergi, Nak.” kata Mami Rosa di seberang.^^^
Ryan mengerutkan alis.
“Pergi? Maksud Mami?”
^^^“Barusan dia pamit sambil membawa koper, katanya mau kembali pulang ke apartemennya.”^^^
Ryan spontan berdiri dari kursinya.
Nada tegas dan datar di wajahnya langsung berubah jadi cemas.
“Lalu dia bilang apa lagi, Mi ?”
^^^“Dia hanya bilang ingin pulang, itu saja...Ryan, Mami takut dia masih merasa canggung tinggal di sini. Jangan-jangan… dia salah paham soal sesuatu.”^^^
Ryan menarik napas berat.
“Aku akan cari tahu. Mami nggak perlu khawatir, aku akan menemuinya.”
Begitu telepon ditutup, Ryan langsung menutup laptopnya dan mengambil jas di sandaran kursi.
Nada bicaranya ke Dika berubah cepat, tegas seperti biasanya.
“Dik, siapkan mobil. Sekarang juga.”
“Baik, Pak. Ke rumah Bu Rosa?” kata Dika sigap.
“Tidak, Saya mau ke apartement.”
“Baik, Pak.”
Ryan berjalan cepat melewati koridor kantor SkyAir, pegawai-pegawai menunduk memberi salam.
Namun tak satu pun berani bicara , karena sorot mata Ryan begitu tajam, seperti menyimpan amarah yang nyaris tak bisa dikendalikan.
Beberapa menit kemudian,
Pintu lift terbuka, dan Ryan melangkah keluar dengan napas terengah, seolah ia baru saja berlari sepanjang jalan.
Langkah panjangnya membawanya menuju pintu apartemen mewah yang sebulan terakhir ditempati Asmara.
Tangannya gemetar saat membuka kunci pintu.
Begitu pintu terbuka, suasana sunyi langsung menyambutnya.
Apartemen itu rapi, terlalu rapi, seperti tidak ada kehidupan di sana.
Ryan berdiri di ambang pintu, pandangannya menyapu seluruh ruangan.
Ia berjalan ke kamar Asmara, membuka lemari, dan kosong.
Hanya ada gantungan baju yang tersisa, bergoyang pelan seperti mengejek keheningan.
Ryan berdiri di tengah ruangan, memijat pelipisnya, lalu menatap keluar jendela besar apartemen itu, ke arah langit Jakarta yang berawan.
“Kamu pikir aku bakal diam aja, Mara? Aku akan cari kamu… di mana pun.” bisik Ryan dengan nada tajam, tapi sedih.
Ia meraih ponselnya, menekan nomor Dika.
“Dik, aku butuh kamu cek data Asmara, dimana alamat apartemen dia yang terdaftar, segera kirim ke saya.”
^^^“Siap, Pak. Saya segera kirimkan.”^^^
Ryan meletakkan ponsel, menarik napas panjang.
Di matanya, tampak jelas, campuran amarah, khawatir, dan ketakutan kehilangan.
...🌺...
...🌺...
...🌺...
...Bersambung......
kan sama2 masih singgel?moga2 aja yg pada ngiri akan dapat balesan
mantan kekasihnya yg masih Ter obsesi sama Asmara