Patah hati karena cintanya harus kandas tanpa sempat bersemi membuat Agam Mahardika semakin tidak tersentuh. Meski kerap menghabiskan malam panas bersama banyak wanita cantik yang rela menyerahkan diri untuk menemani malam-malamnya, namun pria tampan dengan berjuta pesona itu tetap memilih menutup rapat pintu hatinya. Menguncinya bersama satu nama yang sudah sedari awal mendiami relung hatinya.
Namun, pertemuan tidak terduga dengan seorang gadis cantik yang terpaut usia jauh di bawahnya, perlahan mulai mengusik relung hati.
Akankah pintu hati yang telah lama tertutup itu kembali terbuka, atau akan tetap terkunci tanpa tersentuh, membiarkan hatinya tetap layu tanpa pernah bersemi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Perlahan Viona mengetuk pintu ruang kerja Agam. Ujung jarinya sempat tertahan di udara sebelum akhirnya menyentuh permukaan kayu, seolah ragu, sementara di dadanya, detak jantung berdenyut tak beraturan.
Ia sudah terlambat lebih dari satu jam mengantarkan pesanan Agam. Bukan karena sengaja berlama-lama, melainkan karena tugas lain yang menuntut perhatiannya.
Pintu besar itu terbuka dari dalam. Seorang wanita melangkah keluar.
"Mbak Yuni," sapa Viona lirih.
Ia mengangkat baki di tangannya sedikit lebih tinggi. "Saya mengantar pesanan Tuan Agam."
Yuni, wanita yang merupakan salah satu sekretaris Agam tampak mengangguk kecil, lalu mendorong pintu lebih lebar, memberi ruang bagi Viona untuk masuk.
Agam berdiri di balik meja kerjanya ketika Viona melangkah masuk. Punggungnya tegak, satu tangannya bertumpu di tepi meja sementara jari-jarinya mengetuk permukaan kayu. Aroma nasi goreng yang Viona bawa terasa menguar di udara, namun tidak sedikitpun melunakkan ekspresinya.
Matanya menelusur Viona dari ujung kepala hingga kaki, singkat, tajam, lalu kembali tertuju pada jam dinding di belakang gadis itu. Jarum jam yang bergerak pelan seolah menjadi bukti yang tak terbantahkan.
"Lebih dari satu jam. Kau sengaja ingin membuatku kelaparan?" ucap Agam. Nada bicaranya datar, tapi sarat tekanan.
Ia bersandar sedikit ke meja, menatap Viona lekat-lekat. "Sepertinya, kau masih tidak mengerti tugas wajibmu."
Viona menunduk lebih dalam daripada sebelumnya. Jari-jarinya tanpa sadar mencengkram erat tepi baki.
Dengan gerakan hati-hati, ia melangkah mendekat ke meja Agam. Piring nasi goreng ia letakkan perlahan, begitu pula dengan cangkir kopi dan gelas air mineral.
Bulu matanya bergetar saat ia menarik tangannya kembali. Bahunya sedikit turun. Tatapannya menghindari wajah Agam, memilih berlama-lama pada permukaan meja yang mengkilap.
"Maaf, Tuan," suaranya keluar nyaris seperti bisikan. "Tadi, saya..."
"Pergilah. Bawa kembali makanan ini," ucapnya datar. Nadanya sedikit meninggi. "Aku sudah tidak berselera."
Ia menggeser piring itu menjauh, selera makannya mendadak menguap.
Viona mendongak. Menatap wajah Agam dengan sorot mata penuh penyesalan. "Tapi, Tuan. Saya sudah..."
"Bawa kembali makanan itu!" potong Agam. Nadanya semakin meninggi tak terbantahkan.
Viona menelan keras ludahnya, jantungnya berdebar kencang. Dengan tangan yang begetar, buru-buru ia memindahkan semua hidangan itu kembali ke atas baki dan mengangkatnya.
"Saya mohon maaf, Tuan," ucapnya sebelum berbalik badan.
"Ini peringatan pertama untukmu," ucap Agam. sorot matanya tajam menatap Viona yang tertunduk lesu. "Jangan pernah lagi mengabaikan perintahku," imbuhnya.
Viona keluar dari dalam ruangan Agam, ia menunduk penuh penyesalan. "Tuan Agam benar, seharusnya aku lebih mementingkan perintah beliau," gumam Viona pelan. "Tapi, aku juga tidak bisa mengabaikan tanggung jawabku di sini," lanjutnya sambil melangkah pelan.
"Apa pria pemarah itu memarahimu lagi?" tanya Hyun santai. Ia berdiri tidak jauh dari Viona. Hendak kembali ke ruangan Agam.
Menghentikan langkah, Viona hanya mengangguk pelan. "Wajar Tuan Agam marah, aku memang bersalah," jawabnya lirih.
Tersenyum tipis, Hyun melangkah mendekati Viona. "Sepertinya kau harus belajar cara menjinakkannya," bisik Hyun, lantas menarik tipis sudut bibirnya.
****
"Kau yakin mengajakku ke tempat ini?" tanya Hyun, matanya berkeliling penuh bingung saat mereka memasuki sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kawasan itu.
Agam tidak menjawab. Ia justru mempercepat langkah, menembus keramaian menuju lantai paling atas.
"Agam," panggil Hyun sambil berusaha mensejajarkan langkahnya, "setidaknya beri aku alasan kenapa kita harus datang ke sini." Napasnya sedikit terengah. "Kalau hanya ingin membeli sesuatu, kau bisa menyuruh orang lain atau bahkan Viona."
Agam akhirnya berhenti melangkah ketika seorang pria berseragam rapi tiba-tiba menghadang di depannya dengan sikap hormat.
"Tuan Agam," ucap pria itu ramah, "silahkan, biar saya antar ke ruangan Tuan Vino."
Mengangguk tipis, Agam kembali melangkah mengikuti pria berseragam yang berjalan di depannya. Gerakannya sopan, memandu mereka menuju ruangan tempat Ayah Vino biasa bekerja setiap kali berkunjung ke salah satu pusat perbelanjaan miliknya.
Hyun berjalan di belakang dalam diam. Tanpa perlu penjelasan, ia sudah memahami situasinya. Sahabatnya itu tidak datang untuk membeli sebuah barang, melainkan untuk menyelesaikan sebuah persoalan penting.
Beberapa jam berlalu di dalam ruang kerja Ayah Vino. Ketika akhirnya mereka keluar, masalah yang nyaris membuat pusat perbelanjaan itu merugi telah cepat teratasi berkat campur tangan Agam.
Di dalam lift, Hyun meregangkan tubuhnya, menggerakkan bahu dan lengannya seolah baru selesai latihan berat, padahal di dalam ruangan tadi, ia hanya duduk sambil menatap layar ponsel. Berbeda dengan Agam yang sibuk dengan layar laptop dan berdiskusi serius dengan staf lainnya.
"Apa kita akan kembali lagi ke kantor pusat?" tanya Hyun santai.
Agam melirik pantulan Hyun di dinding lift yang mengkilap. "Sepertinya kau butuh peregangan," sindirnya datar.
Senyum lebar langsung mengembang di wajah Hyun. "Bolehkah aku..."
"Pergilah," potong Agam cepat. Nadanya tenang, nyaris tanpa emosi. "Cassandra pasti sudah menunggumu."
Senyum Hyun semakin merekah. Sahabatnya itu seperti seorang cenayang yang bisa membaca pikirannya.
Pintu lift perlahan terbuka. Agam melangkah keluar.
"Kau serius?" tanya Hyun sambil melangkah santai di belakang Agam. Keduanya lantas menyusuri deretan toko yang ramai.
"Pergilah bersenang-senang. Pastikan wanita itu tidak lagi berani menginjakkan kaki di apartemenku," jawab Agam.
"Tentu saja. Akan ku pastikan, wanita itu sulit berjalan hingga memilih kembali pergi daripada mencarimu," sambar Hyun cepat. Wajahnya cerah membayangkan malam panjang nan panas bersama Cassandra.
Agam yang tidak berniat merespon ucapan Hyun, melangkah lebih cepat, namun saat melewati sebuah restoran, langkah Agam mendadak terhenti.
Tubuhnya membeku sejenak. Sorot matanya berubah, ada keterkejutan yang bercampur emosi lain yang sulit dibaca. Dari tempatnya berdiri, ia melihat seorang wanita duduk sendirian di sudut restoran, wajah yang terlalu ia kenal untuk diabaikan.
Tanpa berkata-kata, Agam kembali melangkah, kali ini berbelok masuk ke restoran itu.
Hyun yang semula ingin memanggil dan mempertanyakan sikap aneh Agam menelan protesnya. Ia menghela napas pendek, lalu mengikuti langkah Agam dari belakang, penasaran sekaligus waspada pada apa yang akan terjadi.
"Mayra."
Panggilan itu membuat langkah Agam terhenti seketika. Ia menoleh perlahan, matanya menangkap sosok seorang pria yang dikenalnya tengah melangkah cepat menuju wanita yang duduk di sudut restoran.
Agam tidak bergerak lagi. Ia tetap berdiri di tempatnya, tubuh tegang meski wajahnya berusaha tampak tenang. Tatapannya mengikuti setiap gerak dua orang di hadapannya, terutama pada wanita bernama Mayra, yang tengah tersenyum hangat saat menyambut kedatangan pria itu.
Menyadari perubahan pada diri Agam, Hyun segera melangkah mendekat. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya turun menjadi bisikan. "Sebaiknya kita segera pergi."
Tidak merespon bisikan Hyun, Agam tetap berdiri tegak, tatapannya terpaku pada interaksi dua sosok di sudut sana. Rahangnya mengeras, sementara dadanya terasa sesak melihat senyum hangat yang terukir di wajah wanita itu, senyum yang bukan ditujukkan untuknya.
Hyun menarik napas pendek. "Ayolah, teman," bujuknya pelan, lebih lembut dari sebelumnya. "Lebih baik kita pergi."
Agam tetap bergeming. Bahkan kakinya nyaris melangkah kembali menuju sosok itu. Namun sebelum ia sempat bergerak lebih jauh, Hyun segera meraih lengannya, tarikannya kuat dan tegas.
"Kalau kau tetap mendekat, kau hanya menciptakan luka baru," ucap Hyun pelan, tapi sarat peringatan. "Untukmu... dan untuknya."
Kali ini Agam bereaksi. Ia menoleh perlahan, menatap Hyun dengan sorot mata berbeda, lebih gelap, lebih rapuh, lebih sarat gejolak.
Hyun menahan tatapan itu tanpa mundur selangkah pun. "Sebaiknya kita pergi."
Agam tetap diam, namun napasnya berubah lebih berat, lebih tertahan, seolah ada sesuatu yang menghimpit dadanya dari dalam. Matanya kembali terseret ke sudut restoran, ke sosok Mayra yang masih tertawa kecil di hadapan Ridho Mahendra.
Tangan Agam mengepal di sisi tubuhnya. Urat-urat halus di punggung tangannya menegang.
Hyun merasakan perubahan itu, ia tidak lagi membujuk, hanya berdiri rapat di samping Agam, tubuhnya siap menahan jika sahabatnya kembali nekat melangkah.
"Senyum itu, harusnya hanya untukku," ucap Agam pelan. Ia menutup matanya sejenak. Rahangnya mengeras, menahan perasaan yang hampir meluap. Ketika ia membuka matanya kembali, sorotnya lebih dingin, namun justru di sanalah tersimpan luka yang paling dalam.
Tanpa sepatah kata, ia berbalik.
Langkah pertamanya berat, keduanya lebih mantap, ketiga nyaris kaki. Punggungnya tegak, tapi Hyun tahu betul. Itu bukan sebuah ketegaran, melainkan pertahanan terakhir agar ia tidak runtuh di sana.
Hyun menoleh sekali lagi ke arah Mayra.
Wanita itu masih tersenyum, tidak menyadari keberadaan Agam. Namun hal itu justru membuat Hyun sedikit lega, setidaknya wanita cantik itu tidak akan merasakan ketidaknyamanan. Kini ia hanya perlu fokus pada sahabatnya.
Hyun menarik napas panjang, lalu menyusul Agam keluar dari tempat itu. Ia harus memastikan sahabatnya itu baik-baik saja, sebelum pria patah hati itu kembali menghancurkan dirinya sendiri.
*****
Agam Mahardika.
Btw, dia awet muda ya guys. Yang sudah baca Cinta Mayra pasti paham.