Kiran begitu terluka ketika mendapati kekasihnya berdua dengan wanita lain di dalam kamar hotel. Impiannya untuk melanjutkan hubungannya ke arah yang lebih serius pun sirna.
Hatinya semakin hancur saat mendapati bahwa pada malam ia merasa hampa atas pengkhianatan kekasihnya, ia telah melalui malam penuh kesalahan yang sama sekali tidak disadarinya. Malam yang ia habiskan bersama atasannya.
Kesalahan itu kemudian menggiring Kiran untuk membuka setiap simpulan benang merah yang terjadi di dalam kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma hajid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karina Hardiyanti Widjadja
Namanya Karina Hardiyanti Widjadja. Setahu Ariana, bayi perempuan mungil yang cerah lagi ceria itu dipanggil dengan sebutan Karin. Diberikan nama Karina sebab kepanjangan dari Kamil dan Rina, nama dari kedua orang tuanya. Sok mesra! Itulah yang terbersit di pikiran Ariana ketika mendegarnya. Tak mau kalah, putri mereka yang lahir jauh setelah Ari, mereka namai Raisa. Kepanjangan dari Ariana dan Mahesa.
Setelah Rina melahirkan putri pertama mereka, entah bagaimana ceritanya, Kamil langsung keluar dari rumah keluarganya, keluarga almarhum Abimanyu Widjadja. Setelah itu, tak pernah lagi Ariana maupun Mahesa mendengar kabar temannya itu. Ia bagai lenyap ditelan bumi. Kabar terakhir yang ia dapatkan dari adik Kamil---Sandi Sanjaya, mengabarkan bahwa mereka sekeluarga telah meninggal dunia dalam kecelakaan.
"Sekarang ceritakan pada kami apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa kau harus menyembunyikan nama dan identitasmu? Kenapa tidak langsung cerita ke Mama sewaktu Mama cerita bahwa wajahmu seperti wajah teman Mama--Rina." Mama Ariana menatap Kiran yang duduk di sampingnya dengan tatapan serius sekaligus teduh, menggenggam tangan gadis itu dengan kedua tangannya.
Begitu acara selesai dan para tamu beranjak pulang, mereka segera menarik Kiran masuk ke dalam rumah. Sementara Radit masih menghadapi teman Ari yang bingung kenapa pernikahan yang terjadi adalah pernikahan Radit dan bukan teman mereka.
Kiran menatap Mama Ariana dan Tuan Mahesa yang berada di hadapannya dengan ragu. Kemudian dia menundukkan kepalanya. "Maafkan saya, Tante," katanya lirih. "Saya hanya menjalankan pesan Papa."
"Sstt ..., Mama. Panggil Mama, Kiran. Sekarang aku adalah mertuamu dan kau adalah menantuku. Kau tau kan artinya menantu? Kau sama seperti putriku, anak perempuanku." Ariana menyela memandang Kiran dengan tatapan sayang.
Kiran menatap wanita di sampingnya dengan perasaan haru, kemudian mengulas senyum di wajahnya, "Terima kasih, Ma," ucapnya lirih. Perasaan hangat hinggap di hati keduanya.
"Sekarang jelaskan, kenapa kau tidak memberitahu nama aslimu?!" Tuan Mahesa menginterupsi kedua wanita di hadapannya yang sedang menyelami perasaan masing-masing. Fokus pada asal muasal pembicaraan ini.
"Papa hanya bilang agar jangan memberitahu nama asli saya kecuali jika saya menikah." Ariana menepuk pungguk tangan Kiran.
"Sekarang kau adalah menantu kami, Kiran. Jadi tidak usah terlalu formal. Asal kau tahu saja, dulu aku hampir mengadopsimu."
Mata Kiran mengerjap, belum memahami. "Mengadopsi?"
"Pada saat itu aku terlalu menginginkan anak perempuan, hingga aku memintamu pada Rina."
"Apa mungkin karena itu, makanya Papa menyuruh Kiran bekerja di Perusahaan TJ Company, ya?" Kiran seperti bicara sendiri. Ia sedang memahami semuanya sekarang.
"Apa maksudmu?" tanya Tuan Mahesa dan Mama Ariana tak memahami pernyataan Kiran.
"Sebelum meninggal, Papa memberikan beberapa ijazah atas nama Kiran Irmayasari. Papa juga bilang bahwa ijazah SMA Kiran akan dibuat dengan nama itu juga. Semua berkas resmi Kiran sudah berubah nama. Papa bilang mulai hari itu nama Karin sudah berubah menjadi Kiran. Kemudian pesan Papa, jika Kiran sudah selesai kuliah maka bekerja dulu selama tiga tahun di GRI Corporation. Setelah itu melamar di perusahaan TJ. Papa bilang, hanya perusahaan itu yang bisa melindungi Kiran."
"Kau tahu kenapa bisa begitu?"
Kiran menggeleng pelan. Bisa jadi karena perusahaan itu yang bisa memudahkanku untuk balas dendam, batin Kiran. Namun gadis itu memendamnya. Belum saatnya kedua mertuanya tahu.
"Papa cuma bilang bahwa di luar sana ada orang yang tidak ingin melihat Kiran bahagia meskipun hanya dengan menduduki posisi terendah pada sebuah perusahaan. Namun tidak untuk TJ." Kiran melirik raut wajah mertuanya, memastikan ekspresi apa yang mereka tampilkan.
"Kau bilang ada orang yang tidak ingin melihatmu bahagia. Siapa orangnya? Apa Kamil mengatakannya?" tanya Tuan Mahesa.
"Tidak. Papa tidak mengatakannya." Kiran tidak sepenuhnya jujur dan tidak sepenuhnya pula berbohong mengatakan ini. Papanya memang tidak pernah memberitahunya, namun Kiran sudah menyelidiki sendiri, dan dia tahu pasti siapa orangnya.
"Dia terlalu angkuh untuk meminta tolong pada kita. Bahkan untuk cerita saja dia tidak mau." Ariana sedikit merasa kesal. Menyayangkan sifat tertutup sahabatnya itu.
"Dia tidak mau membebani kita. Itu yang benar." Tuan Mahesa menyela.
"Kapan dia mengatakan itu?" tanya Tuan Mahesa menatap Kiran.
"Satu pekan sebelum dia meninggal," ucap Kiran.
"Jadi dia benar meninggal? Lalu bagaimana dengan Rina? Apa memang benar kalian sekeluarga mengalami kecelakaan?"
Kiran mengernyitkan alisnya. "Mama pergi saat Kiran masih kelas enam SD. Sejak itu tidak pernah lagi Kiran melihatnya. Papa meninggal karena sakit jantung." Ariana menganga. Sakit jantung? Bukankah Kamil tidak punya riwayat sakit jantung. Dia sangat sehat. Atau dia terserang penyakit itu sejak ia ditinggal Rina?
"Makanya kau begitu terpukul ketika sakit jantungku kambuh waktu itu?" Kiran mengangguk. Ariana jadi mengingat momen kali pertama mereka berjumpa. Pantaslah gadis ini begitu histeris.
"Kau mengatakan Kamil membawa ijazah atas nama Kiran kemudian mengganti semua identitasmu menjadi Kiran. Lalu darimana identitas itu ia dapatkan?"
"Kiran adalah nama anak sepupunya Paman Willi yang memiliki usia sama dengan Kiran namun dia sudah meninggal dunia."
"Willi? Orang kepercayaan Kamil? Apa kabarnya sekarang?" tanya Tuan Mahesa antusias.
"Terakhir kali berjumpa saat Kiran kecelakaan. Setelah itu mereka menghilang."
"Mereka?"
"Ya, Paman Willi dan keluarganya. Kiran hidup sendiri setelah itu."
"Apa kau tahu, apa alasan Kamil merubah identitasmu?"
"Agar dia berhenti."
"Siapa?"
"Orang tadi, yang tidak suka Kiran bahagia."
"Kiran ..., mungkin ini terdengar aneh. Tapi aku ingin sekali bertanya hal ini setelah mendengar ceritamu." Tuan Mahesa menatap Kiran dengan sorot mata serius, "Apa kau yakin Papamu memang meninggal dunia?"
"Apa maksud ucapanmu, Sayang?" Ariana melirik suaminya dengan tatapan heran.
"Papa hanya merasa aneh. Seakan-akan dia sudah tahu jika mau meninggal, sehingga ia bisa mempersiapkan semuanya."
Bahkan Tuan Mahesa pun berpikiran sama.
"Ada dua hal menurut Papa. Jika tidak bunuh diri, ya kabur dengan Rina. Tidak mungkin kan meninggal gitu aja."
"Papa meninggal karena sakit jantung, Pa. Setelah mendengar jika perusahaan yang dia bangun bangkrut begitu saja. Maksudnya dihancurkan begitu saja." Kiran menyela.
"Papa ini memang mengada-ada. Kan sudah Kiran jelaskan jika Kamil meninggal karena sakit jantung." Ariana mengibaskan tangannya. "Kalau memang dia mau kabur, dia kan bisa membawa Kiran."
"Aku hanya memprediksi." Tuan Mahesa mengelus dagunya yang baru saja dicukur.
"Kau yakin, memang Papamu meninggal dan dikubur?"
"Pertanyaan macam apa itu?" Ariana menautkan kedua alisnya. Kiran menatap Tuan Mahesa tak percaya.
"Papa memang meninggal di hadapan Kiran. Tapi waktu Papa dimandikan, disholatkan dan dikuburkan, Kiran tidak bisa memastikan. Sebab semua diurus oleh Paman Willi dan Papa sudah dibungkus."
Mama Ariana bersitatap dengan Tuan Mahesa. "Yang penting sekarang kau sudah aman dengan kami, Kiran. Ehmm, Mama panggil Kiran atau Karina?"
"Kiran aja, Ma. Kiran sudah terbiasa dengan nama itu."
"Baiklah, sayang," ucap Mama Ariana.
"Ma, ada yang ingin Kiran tanyakan." Ariana menatap wajah Kiran dengan tatapan sayang. "Kau mau tanya apa, Nak?"
"Kenapa Pak Radit yang menikah dengan Kiran? Dimana Ari?" Tuan Mahesa dan Mama Ariana saling melempar tatapan lalu menghela nafas pelan.
❇❇❇
"Kak, bukannya seharusnya Ari yang nikah?" tanya salah satu dari mereka memulai percakapan setelah mereka mengajak Radit berbicara di tempat yang jauh dari lalu lalang orang yang akan pulang.
Radit tidak langsung menjawab. Pria itu malah menilik sahabat Ari satu-persatu. "Apa kalian semua teman yang dijumpai Ari dua hari lalu?"
Merasa bingung, sebab Radit bukannya menjawab malah bertanya balik. Namun mereka menjawab juga dengan serentak, "Iya, Kak. Dia mengundang kami di acara akad nikahnya. Kenapa, Kak?"
"Ari belum ditemukan ya, Kak?" Agung yang tadinya diam saja kini menyela. Menyeruak ke depan.
Radit menghela nafas berat. "Seperti yang sudah Kakak bilang padamu, Gung. Ari belum kembali bahkan sampai hari ini. Kakak tadi hanya menggantikannya." Wajah Radit berubah sedih.
"Kakak sudah jadi telpon Bowo kemarin?"
"Sudah, tapi tak aktif."
"Bowo memang bilang tidak bisa hadir hari ini, Kak. Karena saudaranya juga ada yang pesta. Tapi nanti coba Agung tanya ya, Kak. Mana tau dia tahu sesuatu tentang Ari."
"Terima kasih, Gung. Kakak juga mau minta tolong pada kalian semua. Tolong bantu Kakak, jika menemukan informasi apapun tentang Ari, kabari Kakak segera."
"Baik, Kak," jawab mereka serempak.
❤❤❤💖
Like, komen n vote. Thanks