menjadi sukses dan kaya raya tidak menjamin kebahagiaanmu dan membuat orang yang kau cintai akan tetap di sampingmu. itulah yang di alami oleh Aldebaran, menjadi seorang CEO sukses dan kaya tidak mampu membuat istrinya tetap bersamanya, namu sebaliknya istrinya memilih berselingkuh dengan sahabat dan rekan bisnisnya. yang membuat kehidupan Aldebaran terpuruk dalam kesedihan dan kekecewaan yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni Luh putu Sri rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"Lilia..." Gumam Aldebaran pelan.
Saat itu entah bagaimana pikirannya melayang kembali pada gadis itu, yang kini mungkin sedang menunggunya pulang. Di saat yang sama ia merasakan hangat di hatinya, namun Aldebaran tahu ia mungkin tak pantas mengharapkan hal semacam ini dari Lilia setelah apa yang telah ia perbuat.
"Apa aku pantas mengharapkan hal semacam ini?" katanya penuh dengan emosi.
Dengan susah payah ia berusaha menenangkan dirinya sendiri, Aldebaran berjalan menuju lift, langkahnya gontai seperti seorang pria yang sedang ditertawakan dunia.
Di dalam lift, Aldebaran menekan tombol lantai ke unit apartemennya. Saat suara denting lift berbunyi lembut perlahan pintu lift terbuka di lantai unit apartemennya. Aldebaran keluar dari lift dan menuju pintu apartemennya, meski ada sedikit keraguan untuk membuka pintu dan masuk, namun, Aldebaran tahu ia harus tetap kembali kesana di mana Lilia—putri angkatnya menunggunya pulang.
Perlahan Aldebaran memutar kenop pintu setelah ia memasukan kode nomor pintunya, suara dering lembut pintu yang terbuka memecah keheningan apartemen mewah itu. Begitu ia masuk pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah sosok mungil yang tampak duduk di meja makan yang langsung menghadap dapur mewah dan futuristik di sebelahnya, tubuh itu membungkuk membelakanginya dengan kepala yang bersandar di meja makan.
"Lilia..." Aldebaran merasakan desiran aneh pada dirinya ketika melihat Lilia yang tertidur, tampak rapuh dan rentan, tapi ia berusaha menepis perasaan itu ia tahu dia harus bersikap wajar sebagaimana seorang ayah pada umumnya.
Aldebaran mengalihkan pandangannya, ia tahu, ia harus menjaga jarak yang wajar sebagai seorang ayah. Namun, ia tahu hatinya berkata lain.
Aldebaran masih berdiri di Bambang pintu, mengamati bagaimana bahu gadis itu naik—turun setiap kali ia bernapas. Napasnya lembut dan teratur. Perlahan Aldebaran mendekatinya. Di atas meja makan, Aldebaran melihat makan malam sederhana yang Lilia masak untuknya, mungkin makanan itu tidak mewah namun itu cukup untuk menyentuh hati Aldebaran, ia tahu gadis itu masih memperhatikannya dengan cara yang sederhana.
"Lilia... Maaf, aku pulang terlambat." Ucap Aldebaran lembut, namun ia berlalu begitu saja tanpa membangunkan Lilia yang masih tertidur di meja makan.
Baru beberapa langkah ia melangkah Aldebaran berhenti, ia menghela nafas panjang seolah tak bisa membiarkan gadis itu tidur di meja makan, ia menolah kembali ke arah Lilia, Aldebaran melihat wajah Lilia yang damai saat ia sedang tidur dan dan bagaimana kulitnya yang lembut dan pucat berkilau di bawah cahaya lampu yang redup.
Aldebaran menghela napas, lalu perlahan ia berjalan mendekati Lilia yang masih tidur. Untuk beberapa saat Aldebaran memperhatikan bagaimana cara gadis itu tidur dengan pulas dan menggunakan tangannya yang ramping sebagai bantal. Dengan lembut Aldebaran mengulurkan tangannya yang besar, jari-jarinya yang panjang dengan hati-hati dan perhatian menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Lilia ke telinganya yang mungil.
Untuk beberapa saat yang hampir terlalu lama Aldebaran membiarkan jari-jari tangannya yang panjang dan kapalan berada di telinga Lilia yang halus dan lembut.
"Cantik sekali..." gumamnya pelan, nyaris seperti bisikan yang lebih pada dirinya sendiri.
Kemudian perlahan Aldebaran melepaskan jas kerjanya dan menyelimuti tubuh mungil Lilia dengan jasnya yang tampak sangat besar dan membungkus tubuh gadis itu. Sebelum akhirnya ia menarik Lilia ke dalam pelukannya dengan hati-hati dan menggendong gadis itu dengan lembut di dadanya.
Lilia menggeliat pelan saat merasakan perubahan posisi dalam tidurnya, lengan ramping gadis itu secara naluriah melingkari leher Aldebaran seolah sedang mencari kenyamanan dalam tidurnya. Sontak napas Aldebaran tercepat di tenggorokannya merasakan lengan Lilia yang mungil dan ramping melingkar di lehernya dan hidung gadis itu hambur bersentuhan dengan kulit leher Aldebaran, ia menelan ludah dengan susah payah dan jakunnya bergerak naik-turun dan membuat detak jantungnya semakin terpacu.
"Kau... Benar-benar tidak tahu apa yang sudah kau lakukan padaku, Lilia." gumam Aldebaran dalam hati. Lalu diam-diam dan penuh kehati-hatian Aldebaran membenamkan wajahnya di rambut Lilia yang halus dan lembut, menghirup aroma shampo yang familiar di indra penciumannya dan sesuatu yang lebih manis dari aroma shampo di hidungnya, Aldebaran menghirup aroma khas gadis itu dalam-dalam seolah ia ingin mengukirnya dalam ingatannya.
Pelan Aldebaran melangkah menuju tangga ke lantai dua apartemennya, ia melangkah dengan hati-hati agar tak membangunkan Lilia yang masih tertidur di pelukannya.
Saat Aldebaran sampai di pintu kamar Lilia, ia membuka pintu, aroma lavender dan vanila menyeruak memenuhi paru-parunya, sebuah aroma yang khas yang selalu melekat di tubuh mungil Lilia. Sangat berbeda dengan aroma maskulinnya. Aroma itu lembut dan memabukkan.
Dengan lembut Aldebaran, membaringkan tubuh mungil Lilia di atas ranjang empuk dengan beberapa boneka beruang yang tertata rapi di atas ranjangnya—hadiah kecil yang pernah Aldebaran berikan pada gadis kecilnya.
"Selamat malam, Lilia..." ucapnya, kemudian menarik selimut hingga menutupi tubuh mungil gadis itu ia membiarkan jas kerjanya di sana sebagai selimut di bawah selimut tebalnya.
Untuk sesaat Aldebaran masih memandangi gadis itu, ia duduk di tepi tempat tidur membuat tempat tidur itu sedikit turun karena berat tubuhnya. Aldebaran memandangi Lilia sedikit lebih lama, memperhatikan lekukan lembut wajah mungil gadis itu, seolah ia ingin mengingat setiap lekukan dan guratan halus di wajah muda gadis itu.
Dengan ragu-ragu Aldebaran membungkuk dan menanamkan sebuah kecupan lembut di puncak kepala gadis itu, ciuman itu bertahan sedikit lebih lama sebelum akhirnya Aldebaran menarik diri dan bangkit dari tempat tidur.
"Selamat malam, Lilia..." katanya sekali lagi sebelum ia benar-benar menarik diri dari kecupan lembutnya, Aldebaran berusaha keras mempertahankan sikapnya agar tetap terlihat wajar dan ke bapakan.
"Papa..."
Tiba-tiba panggilan lembut Lilia menghentikan langkah Aldebaran yang akan meninggalkan kamarnya, sontak ia berhenti dan berbalik. Jantung Aldebaran berdebar kencang saat Lilia memanggilnya, seketika suasana di antara mereka menjadi tegang. Namun Aldebaran masih berusaha untuk bersikap tenang seperti biasanya.
"Maaf... Papa membuatmu terbangun, sayang." kata Aldebaran.
Lilia terbangun dan duduk di tempat tidurnya, belum ia menjawab, Lilia menggeleng pelan, "Papa... Sudah makan?" tanya Lilia, ia menunduk sambil menggigit bibir bawahnya seolah ada kata-kata yang tak bisa ia katakan pada Aldebaran.
Tiba-tiba hening...
"Belum..." Jawab Aldebaran singkat.
"Kalau begitu... Lilia akan hangatkan sup untuk Papa." tampak jelas gadis itu berusaha bertindak normal di hadapan Aldebaran dan ia tahu persisi apa penyebabnya.
"Lilia... Kau tidak perlu melakukannya, Papa akan melakukannya sendiri..." katanya, "Oya, Lilia..." ia menelan ludah dengan susah payah, Aldebaran merasakan tenggorokannya tiba-tiba kering. "Maaf..." kata Aldebaran pelan, namun cukup keras untuk di dengar oleh Lilia, ia membiarkan kata-kata itu menggantung di udara sebelum ia melanjutkan.
Lilia memandangnya, dengan gugup menunggu apa yang akan Aldebaran katakan selanjutnya. "Maaf? Maaf untuk apa?"
Aldebaran membeku, ia berpikir apa Lilia lupa dengan kejadian beberapa hari yang lalu? "Untuk... Untuk apa yang sudah aku lakukan tempo hari..." Tangan Aldebaran terkepal erat di sisi tubuhnya, ia berusaha menahan gelombang emosi yang ia rasakan saat ini. "Aku... Aku sungguh menyesal, aku tidak bermaksud merusak hubungan kita sebagai ayah dan anak... Aku..." Ucapnya terbata-bata, Aldebaran tak kuasa menahan gejolak emosi dalam dirinya ia tahu Lilia tidak akan memaafkannya.
Bersambung.....
semangat upnya..