Ardan Putra Anjaya seorang dosen lulusan khairo di Universitas Trisakti Bangsa. Penerus satu-satunya keluarga Anjaya. Demi bakti pada orang tua Ardan menerima perjodohan dengan wanita pilihan sang Bunda.
Zahwa Andana Srinata salah satu mahasiswa tempat Ardan mengajar. Memiliki paras yang cantik dan budi pekerti yang baik membuat Marwa menjadi idola kampus, tak ada lelaki yang tak tertarik dengannya. Namun prinsip warna tetap teguh tiada kata pacaran sebelum menikah sesuai ajaran orang tuanya.
Akankah pernikahan Ardan dan Zahwa berakhir bahagia? jika disaat benih cinta mulai muncul kedatangan orang masa lalu yang tak lain adalah kakak dari Zahwa datang untuk menagih janji Ardan untuk menikahinya? apakah yang akan dilakukan Ardan mempertahankan pernikahannya atau justru meninggalkan Zahwa demi sang kakak istrinya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulia Nofika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sadar
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, tak terasa satu bulan sudah semenjak kecelakaan itu. Namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda akan kesadaran Zahwa, seakan dia begitu nyaman dalam tidur panjangnya.
Selama di Rumah sakit, tak sedikitpun Ardan meninggalkan Zahwa. Atas usulan dan pengertian dari orang tuanya Ardan memutuskan resain dari kampus dan memilih mengurus perusahaan ayahnya saat nanti Zahwa sudah membaik.
Seperti saat ini sudah dari subuh tadi Ardan berada di Kamar rawat Zahwa, memandangi wajah pucat istrinya yang masih setia menutup mata.
Ardan menenggalamkan kepalanya di sisi tangan Zahwa, rasa lelah tentu saja dirasakannya. Selama ini waktunya hanya dihabiskan menemani Zahwa hingga waktu istirahatnya sangat berkurang. Tapi Ardan sama sekali tidak mempermasalahkan itu, baginya yang terpenting saat ini hanyalah Zahwa.
Baru saja Ardan hendak memejamkan matanya, namun gerakan yang menyentuh rambutnya membuat Ardan kembali mengangkat kepalanya. Mata Ardan terbuka lebar tak percaya, diiringi senyuman haru yang menghiasi wajahnya hingga tanpa sadar air mata mengalir di pipinya.
Apa yang dilihat saat ini benar-benar membuat dunia Ardan kembali, istri yang selama ini dirundukannya kini tersenyum dihadapannya meskipun hanya senyuman kecil yang nyaris tak terlihat.
"Ha..us" gumaman kecil yang terucap dari bibir pucat Zahwa, kembali menyadarkan Ardan dari keharuannya.
Dengan segera Ardan mengambil gelas yang berada disisi ranjang, kemudian membantu meminumkannya pada Zahwa.
"Kamu disini sendiri dulu ya, mas mau panggil dokter buat cek kondisi kamu ya" ucap Ardan setelah mengembalikan gelas tadi pada tempatnya.
Zahwa hanya menyerjapkan matanya menanggapi perkataan Ardan rasanya terasa sulit dan lemah walau hanya sekedar mengangguk atau merespon lainnya.
Masih dengan pancaran kebahagian Ardan berjalan keliar kamar Zahwa. Melihat anaknya yang tersenyum bahagia dan berjalan dengan buru-buru membuat sang bunda heran, dan lansung bertanya pada Ardan.
"Ardan ada apa?"
"Zahwa bunda.."
"Zahwa kenapa nak, ayo bilang sama bunda Zahwa kenapa?" desanya memotong ucapan Ardan.
"Zahwa sudah sadar bunda, istriku sudah kembali" jawab Ardan dengan senyuman kebahagian.
Mendengar jawaban Ardan membuat Sinta meneteskan air matanya, rasa bahagia begitu dia rasakan. Hal yang dinanti-nanti kini telah terjadi menantu yang begitu disayanginya telah kembali bersama mereka.
"Aku akan panggil dokter, bunda kabari mama dan papa ya kalau Zahwa sudah sadar?" kata Ardan kemudian berlalu setelah mendapat anggukan dari Sinta.
***
Di Rumahnya Linda juga menangis haru mendengar kabar yang baru saja diterima dari besannya. Marwa yang melihat sang mama menangis lansung menghampirinya.
"Mama, mama kenapa?"tanya Marwa penasaran.
"Marwa adik kamu sayang, Zahwa sudah sadar" jawab Linda dengan air mata yang masih memenuhi wajahnya.
"Beneran ma, Zahwa sudah sadar" tanya Marwa tak percaya.
"Iya nak, tadi bunda Ardan yang mengabarinya"
Marwa lansung memeluk sang mama, rasa bahagia juga dirasakannya. Selama satu bulan ini dia begitu menderita melihat adiknya kini Zahwa telah sadar, menghapus kesedihan yang selama ini dirasakan semua orang.
Satu minggu lamanya dulu dia meyakinkan orang tuanya, melakukan berbagai cara untuk mendapat maaf dari keluarganya, sekarang saatnya dia melakukan hal yang sama pada Zahwa. Zahwa mengalami semua ini karena dirinya, hatinya tak akan mendapatkan ketenangan sebelum maaf didapatkan dari adiknya itu.
"Kamu siap-siap ya, mama akan kabari papa, kita kerumah sakit sekarang" kata Linda.
Marwa hanya menuruti perintah mamanya, bergegas menuju kamar untuk bersiap-siap. Dia juga sudah tidak sabar untuk melihat Zahwa sekarang.
.
.
.
.
langsung saja aku kasih vote
*hujan dibalik punggung
*suamiku ceo ganas