Davin seorang pimpinan perusahaan yang ganteng dan dingin mendapatkan seketaris yang ya g di rekomendasikan oleh sang om karena gadis itu tak lain adik ipar sang om. Namun setelah bertemu dengan gadis itu Davin di buat kaget karena ternyata gadis itu, gadis tiga tahun lalu yang pernah dia tiduri atas permintaan teman sekaligus sahabat ya g saat ini menjadi rivalnya di dunia bisnis. Davin ya g selama tiga tahun ini di bayangi dengan rasa bersalah atas kejadian itu bahkan berusaha mencari informasi tentang gadis itu, namun kini dia di buat terkejut setelah tahu bahwa gadis itu adik ipar sang om.
Namun gadis itu tidak mengingat dengan Davin karena memang Alma tidak terlalu mengenal Davin. Alam pun bersikap biasa saja.
Apakah Davin bisa menebus kesalahannya pada Alma?
Apa yanga kan di lakukan Alma setelah tahu laki-laki ya g telah menodainya adalah bosnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersikap Dingin.
Davin menatap Mala dengan tatapan tajam, namun Mala tidak merasa takut dia malah mendekati Davin dan hendak merayu Davin lagi namun saat tangan Alam akan membelai wajah Davin, Davin langsung menahan tangan Mala.
"Lo pikir gue bisa di bohongi" sambil menghempaskan tangan Mala.
Mala bukannya takut dia malah tersenyum lalu mengambil ponselnya dan menunjukan vidio yang dia ambil salam.
"Gimana masih gak percaya kalau semalam kita... " ucapnya tergantung.
Davin langsung turun dari tempat tidur dan langsung masuk kamar mandi. Davin mengguyur tubuhnya dengan air dingin karena dia benar-benar merasa jijik dengan tubuhnya dan telah mengkhianati Alma.
Davin keluar dari kamar mandi dan dia sudah rapi lalu dia memberikan sejumlah uang pada Mala.
"itu kan yang lo mau? " ucapnya dengan nada marah lalu pergi meninggalkan Mala di dalam kamar.
Saat di lorong tiba-tiba ponselnya berdering dan itu panggilan masuk dari Kian. Davin langsung mengangkatnya dan Kian menyuruh Davin untuk segera ke rumah sakit. Davin langsung bergegas menuju rumah sakit karena dia khawatir Alma kenapa-napa.
Sesampainya di rumah sakit Davin langsung menemui Kian.
"Ada apa om? " tanya Davin.
"Ada masalah" jawab Kian dan Davin hanya mengerutkan kening menunggu lanjutan ucapan Kian.
"Faiz dan Erika hilang, untuk masalah kemarin juga itu ulah Rusli dan aku minta kamu handel semua kerjaan di lapangan, aku akan mencari Erika dan Faiz. Untu Alma dia sudah baikan dan mungkin nanti sore dia sudah di perbolehkan pulang" lanjut Kian dan Davin hanya mengangguk tanda setuju.
"Kalau gitu masuk dulu temui Alma, biar nanti mama yang jagain Alma" titah Kian.
"Gak usah om, biar aku langsung ke proyek saja" ucap Davin dan Kian tidka bisa memaksa karena dia tau jika Davin sangat sedih.
"Ya sudah kalau gitu ayo! " ajak Kian.
Mereka pun berjalan menuju parkiran dan langsung masuk mobil, namun saat Kian tak sengaja melirik leher Davin dia kaget di kerja baju Davin ada bekas lipstik. Namun Kian tidak mau bertanya mungkin dia akan selidiki sendiri. Sekarang dia akan fokus mencari istri dan anaknya.
Alma dia hanya bisa meneteskan air mata saat tau Davin datang tapi tidak masuk untuk menemuinya. Sang mama melihat Alma sedih dia hanya bisa diam karena dia gak bisa berbuat apa-apa.
"Ma, Alam harus gimana? " tanya Alma saat merasakan tangan sang mama yang membelai rambutnya.
"Kamu sabar dulu, mungkin Davin butuh waktu untuk menerima ini semua" balas sang mama mencoba menenangkan Alma.
Sorenya Alma pulang dan saat di rumah Alma melihat Davin sudah di rumah dan sedang berbaring di tempat tidur sambil bermain ponsel. Davin melihat Alma masuk dia langsung bangkit dan membantu Alma untuk berbaring di tempat dengan tidak bicara satu patah kat pun. Alma yang melihat itu dia juga hanya diam tidak mau memulai pembicaraan.
"Nak Davin sudah makan? " tanya mama pada Davin.
"Belum ma, nanti saja aku beli di luar, mama gak usah masak pasti capek biar nanti beli saja" jawab Davin dan sang mama langsung mengangguk.
Mama pun langsung keluar dan sekarang tinggal Davin dan Alma. Davin duduk di depan jendela sambil bermain ponsel sedangkan Alma dia bersandar di tempat tidur sambil menatap Davin.
"Aku butuh waktu untuk menerima ini semua" ucap Davin tiba-tiba.
"Aku tau bang, tapi apa harus seperti ini abang menghukum ku untuk kesalahan ini? " tanya Alma.
Davin berdiri lalu berkata "Entah lah aku hanya butuh waktu untuk semua ini" lalu pergi keluar meninggalkan Alma sendirian di kamar.
Alma hanya bisa menangis dengan semua ini, dia menyesal telah menunda kabar baik itu pada Davin tapi sekarang sudah terjadi jadi Alma hanya bisa menerima perlakuan Davin padanya yang dingin, entah sampai kapan.
Davin keluar dia pergi mencari makan karena sudah mulai lapar. Davin makan di tempat dan di tidak lupa membungkus untuk di bawa ke rumah. Namun saat dia sedang makan dia tak sengaja mendengar pembicaraan pembeli lain yang membicarakan keluarga Rusli yang tak lain orang yang telah mengakibatkan istrinya mengalami ke guguran.
"Maaf Pak, boleh saya tanya? " tanya Davin.
"Ya den mau tanya apa? " balik tanya orang yang di tanya Davin.
"Tadi saya dengar bapak membicarakan keluarga Rusli, benar mereka orang yang di takuti di kampung ini? " tanya Davin.
"Dulu iya den, tapi saat nak Erika menikah dengan pemilik perumahan di depan sana, keluarga mereka mulai tidka bisa berkutik lagi tapi saat ini mereka malah cari masalah lagi dengan suaminya nak Erika" penjelasan pembeli itu.
"Oh gitu ya pak, makasih ya pak atas infonya" ucap Davin lalu mengambil pesanannya dan pergi dari warung itu.
Davin pulang dan saat masuk dia melihat Alma sedang makan. Davin pun mendekat lalu menyerahkan bungkusan yang di bawa. Alma melihat ke arah Davin lalu berkata "terimakasih".
Davin pun langsung pergi dan masuk kamar lagi. Sang mama merasa kasian terhadap Alma yang harus mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya namun sang mama juga tidak bisa berbuat apa-apa karena itu semua kesalahan Alma.
" Mama juga makan, bang Davin udah belikan makanan"ucap Alma sambil membuka bungkusan yang di bawa Davin.
Alma kaget saat melihat ada bubur untuk nya. Alma senang karena setidaknya Davin masih perhatian padanya walau tidak terlihat.
Davin di dalam kamar menghubungi Kian untuk mencari tau kabar Erika dan Faiz. Namun Kian tidak bisa di hubungi membuat Davin khawatir.
Namun tiba-tiba Alma masuk dan Davin hanya melirik sekilas lalu pergi berbaring dan mencoba menutup mata karena dia masih benar-benar kecewa dengan Alma.
Alma berjalan ke arah tempat tidur lalu dia duduk dan berkata.
"Bang Kian udah menemukan keberadaan kakak Erika dan Faiz sekarang bang Kian sedang menuju ke tempat itu dan tempat itu sulit untuk mendapatkan sinyal".
Davin tidka menjawab dan Alma pun langsung membaringkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Davin. Davin membuka matanya dan di tatapnya punggung Alma.
"Maaf, aku bingung harus bagaimana, aku sudah memaafkan mu atas masalah kamu tidka jujur pada ku, aku saat ini merasa jahat padamu dengan mengkhianati mu" ucap Davin dalam hati dan tak terasa Davin meneteskan air mata.
"Aku sayang banget sama kamu" ucapnya dalam hati.
Davin tau jika Alma menangis namun dia tidak membiarkan Alma menangis dan mungkin seperti i i lebih baik dari pada dia harus bersikap baik pada Alma dan itu akan membuat Davin semakin bersalah.