"Aku bukan pelakor, sekalipun yang aku lakukan adalah untuk merusak rumah tangganya!"
Hanin, terpaksa pulang kampung dan bekerja pada mantan kakak iparnya demi membalaskan dendam Naura. Menggoda laki-laki itu dan membuatnya berlutut lalu ditinggalkan adalah tujuan Hanin mendekati Firman. Akankah dendam itu tuntas sampai akhir? Atau malah justru Hanin sendiri yang malah terjebak pada lingkar kerumitan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 29
Dah lah, pake pov author aja hihi. Happy reading :)
***
Sagara pikir, meninggalkan Hanin di apartemen adalah pilihan yang tepat. Nyatanya, laki-laki yang menemui Hanin beberapa waktu lalu di kos kini berada disana dan sedang...
Bugh!
Sagara tanpa diduga memukul wajah Harsa hingga cengkramannya di tangan Hanin terlepas.___ "Breng sek!! Beraninya sama cewek doang!" ejek Sagara setelah berhasil membuat cengkraman di tangan Hanin terlepas, segera ia mendorong Hanin untuk berlindung di belakangnya, sebelum menghabisi Harsa.
"Gara, udah! Dia bisa ma-ti."
"Biarin, tau rasa dia. Udah punya istri masih suka cari gara-gara!" Gara masih tak menyerah, ia menarik paksa krah Harsa, "jangan ganggu pacar gue!" tegasnya sebelum benar-benar melepaskan laki-laki itu.
"Cih, dia adik iparku betewe!" sengak Harsa tak terima.
"Adik ipar?" Sagara mengepal, kembali mendekat hingga berhasil membuat Harsa buru-buru mundur.
"Pergi gak, Lo!"
Hanin sudah terduduk lemas, mengibaskan tangannya yang memerah akibat cengkraman Harsa. Tak menyangka, mantan sekaligus iparnya dengan mudah menemukan dirinya disini.
"Nin?" buru-buru Sagara mendekat dan meraih Hanin yang masih syok.
"Tarik napas pelan, tenang oke!"
Keduanya kini duduk di sofa tamu apartemen Sagara, pemuda itu sigap mengoleskan salep pereda nyeri ke pergelangan tangan Hanin yang memerah.
"Kalau mau hancur, hancur sekalian. Jangan berbelas kasih lagi dengan keluargamu. Mereka gak pantas disebut keluarga!"
Deg...
Hanin tertegun, apa yang diucapkan oleh Sagara memang ada benarnya. Ia punya keluarga, tapi lebih mirip gadis malang yang bahkan kasih sayang pun tak didapatkan.
Dulu ibunya sangat lembut, tapi sekarang berubah. Dan Hanin masih tak mengerti apa yang membuat Ibunya menjadi manusia jahat.
"Nin,—"
Hanin mengibaskan tangannya ke atas, "stop it Gara, jangan bahas soal keluarga. Aku gak apa-apa."
Sagara menghela napas, lalu mengulurkan tangannya. "ayo aku antar ke atas."
Sagara janji, ia akan berusaha melindungi Hanin meski itu dari kejauhan. Bibirnya berkedut melihat pergelangan tangan Hanin yang masih merah, tak sepantasnya laki-laki breng-sekk itu berbuat sesukanya.
***
Pikiran Hanin benar-benar pening sekarang, kepalanya terasa sangat berat dan itu karena perkataan Sagara tadi siang.
'Kalau mau hancur, hancur sekalian. Jangan berbelas kasih,—'
Hanin memejam, ia benar-benar lelah sekarang.
Hanin mendial nomor seseorang, dan tak berselang lama panggilan itu terangkat.
"Nin,—"
"Mas, aku capek. Aku bener-bener capek banget sama semua ini. Ibu, Mbak Naura, Mas Harsa, Mereka—" tangis Hanin benar-benar pecah, dan itu membuat laki-laki di seberang sana khawatir.
"Nin, kirim alamat kamu di Jakarta sekarang!"
Poor Hanin! Ia salah menghubungi orang dan tak seharusnya ia mengusik Firman setelah apa yang laki-laki itu alami.
"Maaf, Mas."
Hanin mematikan panggilannya lalu melempar ponsel itu ke samping, "maaf selalu bikin kamu repot. Maaf, Mas."
Pukul sebelas malam, Hanin terbangun. Rupanya ia tertidur dari sore dan belum mandi, belum juga makan. Begitu turun dari ranjang, ia merasakan bunyi perutnya yang keroncongan. Hanin lapar, maka ia putuskan keluar kamar dan berharap masih bisa order makanan apapun itu asal membuatnya kenyang.
Matanya tertegun pada meja, ada sebuah kresek berlogo resto cepat saji disana. Dan sebuah kertas kecil di atasnya.
"Jangan lupa makan." Hanin membaca tulisan singkat yang diakhiri oleh simbol titik dua bintang
Bibir Hanin membentuk senyuman tipis, itu pasti dari Sagara. Ternyata laki-laki itu manis juga perhatian, Hanin merasa bersyukur bertemu laki-laki itu.