Jauh di lubuk hatiku, aku menolak pernikahan ini. Tapi bagaimanapun, aku tidak bisa mengecewakan kedua orang tuaku.
Aku terpaksa menikah dengan laki-laki yang tidak aku cintai sama sekali. Ini di karnakan, pacarku yang akan menikah denganku, menghilang. Bisakah aku mengubah rasa terpaksa ini menjadi rasa cinta pada suamiku? Haruskah aku bertahan dengan orang yang dingin seperti Adya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Tapi yang paling penting, aku tidak ingin bertemu Bram saat ini. Aku memilih untuk menghindar dengan berbalik arah dan menjauh darinya. Tapi belum sempat aku lakukan hal itu, suara Bram dengan cepat menghentikan langkahku.
"Kaila tunggu!" Teriak Bram dengan sangat kuat.
Berbarengan dengan kata itu, Bram berjalan cepat untuk mencegah aku pergi dari sana. Ia memegang erat tanganku untuk menahan langkah kakiku agar tidak berjalan.
"Lepas!" Teriakku sambil menghempaskan tangannya dengan kuat.
"Jangan kurang ajar kamu padaku, jangan coba-coba sentuh aku. Aku ini kakak ipar kamu saat ini," kataku sambil menatap kesal wajahnya.
"Iya, aku tahu kamu adalah istri mas Adya. Dan kamu sangat bahagia dengan status yang kamu miliki saat ini. Aku tidak bermaksud buat ganggu apalagi kurang ajar padamu. Aku hanya meminta kamu untuk berhenti dan tidak melarikan diri dariku, itu saja."
"Tidak perlu meminta aku untuk berhenti. Siapa kamu berani meminta aku untuk berhenti, hah!"
"Kaila, aku tahu kamu marah padaku. Hingga detik ini, kamu pasti sangat benci padaku sampai kamu tidak ingin menemui aku. Tapi bagaimanapun, kamu tidak bisa terus menghindar dari aku, Kaila. Aku tahu aku yang salah, tapi sekarang, aku tidak punya pilihan lain selain sadar dan menerima hukuman atas kesalahan yang aku perbuat."
Aku terdiam saat Bram bicara seperti itu dengan tutur kata yang penuh dengan penyesalan. Amarahku yang awalnya memuncak, kini tiba-tiba turun drastis. Entah kemana emosi yang aku rasakan seperti gunung api yang meledak-ledak tadi.
"Kaila. Bisakah kamu memberi aku sedikit kesempatan untuk bicara padamu layaknya kita dahulu," kata Bram dengan wajah memelas.
"Tidak. Aku tidak bisa bicara padamu seperti dahulu. Aku yang sekarang, bukanlah aku yang dulu. Dan itu semua kamu yang mau," kataku dengan nada yang ikut melemah.
"Aku tahu aku yang salah. Aku hanya ingin kita bicara baik-baik, Kaila."
"Apa yang ingin kamu bicarakan. Tidak ada yang bisa kita bicarakan lagi Bram. Sebelumnya sudah aku katakan, kalau tidak ada yang bisa kita bicarakan lagi."
"Kaila. Aku ingin kamu tidak membenciku. Aku ingin kamu memaafkan aku dan tidak lari jika melihat aku. Aku bukan hantu yang harus kamu hindari."
Ingin sekali aku katakan pada Bram saat ini, kalau dia memang bukan hantu seperti yang tidak terlihat oleh mata pada umumnya. Tapi dia adalah hantu yang telah membuat aku tersiksa dan sangat terluka selama ini.
Tapi hal itu aku tahan. Aku tidak ingin sampai menitikkan air mata di hadapan Bram. Berharga sekali dirinya sampai aku harus menangis di hadapannya.
"Sudahlah Bram. Anggap saja aku sudah memaafkan kamu sekarang. Aku tidak ingin membahas soal masa lalu. Jalani hidup kita masing-masing sekarang," kataku berusaha tegar walau hati menangis saat ini.
"Kaila, apa boleh aku tanya satu hal padamu?"
"Mau tanya apa?"
"Apa kamu bahagia bersama mas Adya?"
Aku tidak bisa langsung menjawab pertanyaan Bram yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan. Masa iya, dia bertanya apa aku bahagia atau tidak setelah menikah dengan kakaknya. Yang benar sajalah.
Kalau aku jawab aku bahagia. Apakah benar aku bahagia saat ini? Kalau aku jawab tidak, aku juga tidak merasa kalau aku menderita sekarang.
"Sudahlah, jangan menanyakan sesuatu yang tidak perlu kamu ketahui. Aku dan hidupku, tidak ada urusannya dengan kamu lagi sekarang," kataku memilih menjawab dengan jalan tengah saja.
"Jika kamu tidak bahagia bersamanya, aku akan selalu ada untuk kamu, Kaila."
Aku menatap kesal pada wajah yang bicara tanpa ada rasa malu saat ini. Ingin sekali aku cakar-cakar wajah itu biar pemiliknya sadar. Dan tidak lupa diri seperti saat ini.
"Kamu tidak sedang tidurkan Bram? Jika sedang tidur, bangunlah. Hari sudah sangat siang, bukan pagi lagi."
"Aku sadar dengan apa yang aku katakan Kaila. Meskipun kamu tidak mungkin kembali dan aku miliki. Aku akan tetap ada untukmu, walaupun kamu tidak pernah mengaggap kalau aku ada."
APA KATA BRAM TADI? CINTA SESAAT.. PENGEN NGAKAK AKU,APA BRAM AMNESIA? MALAH WAKTU ITU DIA SENDIRI NGAKU DENGAN MAYA DIA GAK MENCINTAI KAMU,NIKAH JUGA ORTU YG MAKSA,DIA BILANG TERGILA-GILA DENGAN MAYA,UDAH MAU NIKAH AJA MASIH SELINGKUH,ORANG KALO SEKALI SELINGKUH TETAP AKAN SELINGKUH,APAPUN ALESANNYA,DIA SUDAH MEMPERMALUKAN PIHAK KELUARGA WANITA..🙄🙄🙄