Bagaimana hidupmu jika terdampar seorang diri di pulau yang hanya berisi seribu wanita cantik?
Apalagi jika mereka mengganggap kamu sebagai Dewa yang harus dilayani dengan setia dan sepenuh hati?
Bercerita tentang seorang manusia biasa bernama Bejo yang dikira sebagai Dewa oleh Para Peri di Pulau Bidadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon krucilpolos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batu Kegelapan
Memikirkan apa yang dijelaskan tuannya, Ratu Ivana jadi sangat khawatir dengan keadaan bidadari leluhurnya.
Selain karena kondisi leluhurnya yang mungkin memburuk, tuannya juga pernah menyampaikan bahwa ada bahaya di dalam ruang rahasia.
"Tuan, apakah kita hanya diam saja?" ucap cemas Ratu Ivana.
"Apa pendapatmu?" tanya Bejo sambil duduk bersandar dengan santai seolah tidak ada kekhawatiran.
Ratu Ivana hanya bisa menghela nafas melihat tuannya yang tidak memberikan solusi seperti biasanya.
Ratu Ivana juga paham. Tuannya seperti itu bukan karena tidak peduli. Tapi karena memang tidak ada yang bisa mereka lakukan, dengan kekuatan mereka saat ini.
"Apakah kita tidak bisa mempercepat peningkatan kekuatan kita?" tanya Ratu Ivana.
Saat ini, kekuatannya mungkin tidak bisa berbuat apa apa. Tapi dia yakin, tuannya pasti punya cara untuk meningkatkan kekuatannya dengan lebih cepat.
"Bahkan, jika aku mecapai puncak kekuatan tertinggi ku. Dan kamu juga mencapai tahap Bidadari. Kita mungkin tidak bisa membantu leluhurmu" kata Bejo berspekulasi.
"Mengapa begitu? Bukankah kekuatan Raja Dewa adalah yang terkuat?" tanya Ratu Ivana seolah tidak percaya.
"Raja Dewa dan Ratu Bidadari sebelumnya, pasti juga sangat ingin menolongnya" kata Bejo mencoba menyadarkan pemikiran Ratu Ivana.
Mendengar ini, Ratu Ivana jadi merasa kehilangan harapan. Ternyata tuannya telah mempertimbangkan banyak hal.
Ratu Bidadari sebelumnya sampai meninggalkan kekuatan yang begitu besar, untuk melindungi bidadari leluhurnya. Jika bisa menyelamatkannya, dia tentu tidak akan berdiam diri.
Tapi, kondisi apa yang dialami leluhurnya? Mengapa Raja Dewa dan Ratu Bidadari bahkan tidak bisa menyelamatkannya? Pikir Ratu Ivana merasa heran.
Namun melihat sikap tenang tuannya. Ratu Ivana yakin, dia pasti memiliki rencana.
"Seperti apa kekuatan Raja Dewa jika memiliki seribu bidadari?"
"Apalagi, jika salah satunya adalah Ratu Bidadari?" kata Bejo seolah bicara sendiri.
Mendengar ini, Ratu Ivana menatap tuannya dengan takjub. Ternyata benar, tuannya punya Rencana sendiri.
Dalam sejarah para dewa dan bidadari, Raja Dewa pertama adalah yang terkuat.
Dan salah satu alasan dia bisa menjadi yang terkuat, adalah karena memiliki 10 bidadari yang membantunya dalam setiap ritual.
Lalu bagaimana jika tuannya memiliki seribu bidadari? Ratu Ivana merasa melihat sebuah harapan.
"Sudahlah, itu bukan urusanku" kata Bejo seolah tak peduli.
"Jadi itu rencana tuan" ucap Ratu Ivana tersenyum mulai memahami rencana tuannya.
"Itu bukan rencanaku" kata Bejo tak ingin mengambil pujian atas usaha orang lain.
"Maksud tuan, Ratu Bidadari telah meramalkan semua ini?" tanya Ratu Ivana seperti menyadari sesuatu.
"Ramalan tidak pernah menunjukkan hasil akhir. Jangan terlalu berharap" kata Bejo mengingatkan.
"Setidaknya, itu sedikit menunjukkan arah" kata Ratu Ivana tersenyum penuh harapan.
"Jangan terlalu mengkhawatirkan seseorang. Mereka memiliki takdir hidupnya sendiri" ucap Bejo menasehati.
Meski sedikit melihat jalan, Bejo merasa rencananya belum tentu berhasil. Dia tentu tidak ingin Ratu Ivana kecewa, jika sampai tidak bisa menyelamatkannya leluhurnya.
"Terima kasih atas ajaran tuan. Ivana akan berusaha sebaik mungkin" jawab Ratu Ivana mengingat nasehat Bejo.
"Lagipula. Apa yang terjadi dengan leluhur mu, mungkin adalah pilihannya sendiri" kata Bejo dengan wajah bermartabat.
"Sepertinya masih banyak rahasia yang belum tuan ceritakan" kata ratu Ivana dengan tatapan merayu.
"Aku belum akan mati" kata Bejo tidak ingin ditanya lagi seolah besok akan mati.
Ratu Ivana tentu memahami maksud tuannya. Hal yang belum diceritakan tuannya, mungkin diluar kemampuannya sebagai Ratu Peri.
Ratu Ivana hanya harus menunggu sampai tuannya merasa dia telah layak mengetahui.
...
(Di Dunia para dewa)
Di sebuah istana yang megah, seluruh Dewa tinggi tampak sedang berkumpul. Mereka terlihat memikirkan sesuatu dengan wajah bermartabat.
"Penasehat Agung, apakah ada yang salah dengan Gerhana Matahari tadi?" tanya salah satu dewa yang berdiri paling depan menghadap singgasana kosong Raja Dewa.
Dewa itu mengenakan pakaian seperti jubah perang mewah dengan pedang panjang tersangkut di pinggangnya.
Dia adalah Dewa Lukman, Jenderal tertinggi yang memimpin seluruh tentara dewa. Dia adalah dewa terkuat sekaligus merupakan keponakan dari Raja Dewa sebelumnya.
Singgasana Raja Dewa saat ini memang kosong, karena Raja Dewa dan Ratu Bidadari telah meninggal.
Meski sempat memiliki dua penerus, namun kedua putra mereka telah meninggal bahkan sebelum Raja Dewa dan Ratu Bidadari wafat.
Putra tertua raja dewa dikabarkan meninggal di usia muda, karena penyakit aneh. Sedangkan putra keduanya, bahkan meninggal sebelum sempat lahir ke dunia oleh serangan Raja Iblis.
"Aku juga belum tau pasti. Yang jelas, aku memang merasakan aura iblis yang kuat saat itu" Jawab Dewa Rahmat yang duduk disamping singgasana kosong Raja Dewa.
Dewa Rahmat adalah Penasehat Agung Kerajaan di dunia para dewa. Dia juga ayah kandung dari Dewa Lukman, sekaligus merupakan adik beda ibu dari Raja Dewa sebelumnya.
Meski Dewa Rahmat juga keturunan Raja Dewa, tapi dia tidak dapat menjadi Raja Dewa berikutnya.
Dewa Rahmat tidak terlahir dari Ritual Raja Dewa dan Ratu Bidadari. Melainkan lahir dari salah satu bidadari yang menjadi selir Raja Dewa.
Dewa Rahmat menjadi Penasehat Agung bukan hanya karena adik dari Raja Dewa, melainkan karena memang memiliki kebijaksanaan tertinggi diantara para dewa yang lain.
"Apakah mungkin para iblis merencanakan sesuatu?" tanya salah satu dewa yang hadir.
"Tidak perlu menduga hal yang tidak pasti. Aku telah mengirim beberapa dewa untuk memeriksanya" jawab Penasehat Agung dengan senyum bijaksana.
"Tuan, mengapa anda tidak menobatkan Jenderal Tertinggi sebagai Raja Dewa?"
"Kekuatan Dewa Lukman cukup layak untuk memimpin kami" usul Dewa Sasongko yang menjadi wakil Jenderal tertinggi.
"Apa kamu begitu ingin melihat ku mati?" ucap kesal Dewa Lukman mendengar pengusulannya menjadi Raja Dewa.
"Tuan, selain anda siapa yang layak diantara para dewa?" Dewa Sasongko berusaha mengagungkan kemampuan Dewa Lukman.
"Jika ada yang sanggup menjadi Raja Dewa, dia tidak akan menunggu kamu usulkan" jawab Dewa Lukman.
"Jangan berdebat. Siapa pun yang mampu duduk di singgasana Raja, aku akan mengakuinya sebagai Raja Dewa berikutnya" ucap Penasehat Agung tersenyum.
"Sasongko, mengapa kamu tidak mencoba? Siapa tau kamu lebih layak dariku" kata Dewa Lukman menawarkan dengan senyum mengejek.
Dewa Sasongko hanya tertunduk menghindari tatapan kesal Dewa Lukman sang Jenderal Tertinggi.
Awalnya, Dewa Sasongko hanya ingin menyanjung atasannya. Lagipula jika Dewa Lukman menjadi Raja Dewa, jabatannya jenderal tertinggi pasti akan beralih padanya.
Tapi ternyata, itu justru membuat Jenderal Tertinggi tersinggung. Sungguh sial.
Singgasana Raja Dewa memang berbeda dari singgasana Raja di dunia manusia. Jangankan untuk duduk diatasnya, Dewa Lukman bahkan tidak dapat menyentuh Singgasana itu.
Jadi mendengar Dewa Sasongko mengusulkan posisi Raja Dewa, itu sama saja dengan menampar wajahnya. Wajar saja jika dia kesal.
"Para Iblis juga tidak memiliki Raja. Jadi, apa yang kalian cemaskan?" ucap Penasehat Agung menenangkan suasana.
"Tuan, apa tidak mungkin muncul Raja Iblis baru?" tanya Dewa Lukman pada penasehat Agung.
"Tentu saja mungkin. Tapi, apakah kamu pernah bertemu Iblis yang lebih kuat dari mu?" tanya Penasehat Agung menatap lembut Jenderal Tertinggi.
"Seingat ku, selain raja iblis sebelumnya memang belum ada yang mengalahkan ku" ucap Dewa Lukman.
Dewa Lukman bukannya sombong. Tapi sebagai Jenderal Tertinggi, memang hanya Raja Iblis yang pernah mengalahkannya dalam pertarungan. Beruntung saat itu Raja Dewa segera datang menyelamatkannya.
"Seorang Iblis yang bahkan tidak mampu mengalahkan Jenderal Tertinggi Dewa, mana mungkin diakui oleh Batu Kegelapan sebagai tuannya." jawab Penasehat Agung.
"Jadi, Raja Iblis harus mendapat pengakuan Batu Kegelapan?" tanya para dewa yang hadir.
Sebagai dewa tinggi dengan umur panjang, para dewa yang hadir saat itu jelas mengetahui tentang Batu Kegelapan.
Batu Kegelapan adalah batu sakti milik Raja Iblis yang bahkan mampu membuat Raja Dewa Kewalahan.
Menurut cerita turun temurun di dunia para dewa. Batu Kegelapan adalah batu terkuat diantara tiga batu langit yang ada.
Dengan Batu Kegelapan itu, Raja Iblis sebelumnya bahkan mampu bersaing dengan Raja Dewa yang bertarung berdampingan dengan Ratu Bidadari.
"Batu Kegelapan memang sangat kuat. Tapi batu itu juga telah lenyap, bersamaan dengan kematian Raja Iblis" ucap Penasehat Agung.
"Tuan, bagaimana jika batu itu ditemukan oleh para Iblis?" tanya Dewa Lukman sedikit khawatir.
"Batu itu bahkan lebih sombong dari Raja Iblis manapun."
"Jadi jangan biarkan ada iblis yang mengalahkan mu, maka batu itu tidak akan bertuan." jawab Penasehat Agung.
Sombong? Apakah Batu Kegelapan memiliki kehendak sendiri? Para dewa yang hadir merasa sedikit bingung. Namun, mereka tidak akan mau terlihat bodoh dengan menanyakan tentang hal itu.
Bersambung...