Judul: "LOVE IS NOT BASED ON BIBIT BEBET BOBOT" [Linbo BBB]
Pada umumnya, cinta selalu memandang harta, tahta, dan kasta. Lalu, bagaimana dengan Khumaira? Seorang gadis biasa, tidak kaya, dan berasal dari keluarga yang amat sederhana. Yang tengah patah hati lantaran bibit-bebet-bobot yang tidak sepadan. Adakah kiranya seseorang yang akan mencintai dia tanpa melihat latar belakangnya?
Dari sinilah, kisah "Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot" bermula ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oot Nasrudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inikah Rasanya Patah Hati?
☕🍜Subuh telah menyentuh, mengundang segala yang tenang di hati. Dan sesuatu yang tak pernah ingin ku lewati. Ya, secangkir kopi beraroma rindu. Rindu yang bermahkota namamu. Katanya, “Selamat pagi, kamu.”🍜☕
Di ruang kamar yang bernuansa serba gelap, diterangi sedikit cahaya temaram dari lampu tidur yang berpijar di atas nakas.
Beberapa detik lalu, pemilik kamar itu mengempaskan tubuhnya ke ranjang. Saat ini dia sedang terkapar sembari memeluk erat dadanya.
Getaran bak gempa bumi yang sempat menyambar dadanya ketika mendengar kabar kembalinya gadis pujaan hatinya, hingga kini getaran itu masih sangat terasa.
Masih terus membuncah di dalam dada. Pria itu memegang erat dadanya berharap rasa senang yang berlebihan itu bisa meredam.
Bibirnya tampak berkomat-kamit, “Ini sara, ini sara, ini sara, ini sara ….” Begitu terus berulang-ulang cukup lama.
Pria berjambang itu mendesah panjang. Logikanya terus bertarung melawan perasaan bahagia yang teramat sangat.
Kabar kembalinya gadis itu adalah hal yang sangat dinantikan. Wajar saja jika dia senang bukan kepalang ketika kabar itu akhirnya sampai di telinganya.
Namun, malang nian nasib bujang lapuk ini, sebelum ia mendengar kabar bahagia tersebut dia lebih dulu mendapati suatu fakta yang tak mengenakan soal perasaannya yang dibilang sara.
“Apakah benar-benar sara?” lirih pria itu, bertanya pada dirinya sendiri.
Dia menatap langit-langit kamar, sesekali berkedip. Tampak sedang memikirkan sesuatu.
“Papa mama juga beda ….”
Juan sempat berseru senang mengingat kedua orangtuanya yang berbeda keyakinan. Namun, sedetik kemudian, dia urung merasa senang.
Tiba-tiba dia ingat jika mereka sudah berpisah. Juan mendesah kecewa. Termenung lagi, mencoba mencari alasan yang bisa untuk menyanggah perasaannya yang dianggap sara.
Tapi, bukan bahan untuk sanggahan yang dia dapat. Melainkan sebuah pertanyaan baru yang justru membuat pendapat temannya semakin kuat.
“Mengapa papa dan mama berpisah setelah sekian lama damai bersama bahkan hingga aku berusia 25 tahun?”
Sejurus kemudian, sejumlah pertanyaan mulai bermunculan. Selama 25 tahun hidup bersama papa, mama, dan adiknya, mereka hidup dengan keyakinan yang berbeda.
Luhut—papanya hidup membersamai mereka sebagai seorang muslim. Dan baik-baik saja.
Pertanyaan semakin banyak bermunculan. Hingga sebelum Rizky mengatakan tentang perasaan cinta yang dialaminya adalah sesuatu yang sara, Juan masih menganggap bahwa hal itu adalah sesuatu yang tidak perlu dipermasalahkan dan tidak perlu dipikirkan.
Dia baru menyadari, bahwa semua itu adalah hal yang sara.
Lalu, apa yang selama ini dia rasakan sebagai seorang kristiani? Apa yang dia dapat setiap kali dia datang ke gereja yang katanya untuk beribadah?
Apakah selama ini dia sudah menjadi seorang kristiani yang baik? Atau jangan-jangan ibadah yang dia lakukan selama ini hanyalah untuk rutinitas saja?
Selama ini dia menjalani hidupnya sesuai dengan apa yang ditanamkan oleh mamanya. Yaitu, menjadi manusia yang senantiasa berbuat baik dan tidak jahat kepada sesama. Melakukan ibadah rutin ke gereja, dan meyakini Yesus sebagai Tuhannya. Dua puluh delapan tahun lamanya dia menjalani kehidupan yang demikian. Ya, hanya sebatas itu, tidak lebih.
Tidak ada rasa ingin mencari tahu lebih dalam. Sama sekali tidak tertarik untuk lebih mengoreknya lagi. Baginya, itu sudah cukup.
Sangat berbeda saat ia pertama kali mendengar sebuah kisah tentang peristiwa Isra’ Mi’raj. Secara otomatis dia langsung menelusurinya.
Bahkan, ia rela mengorbankan waktunya hingga larut malam demi mendapatkan sebuah jawaban bernama keyakinan.
Juan masih terjaga. Pikirannya masih berkutat dengan sejumlah pertanyaan yang timbul di benaknya.
Sejak malam kemarin, sejak ia baru mengetahui adanya peristiwa Isra’ Mi’raj dalam Islam. Dalam hatinya sudah terbersit untuk menanyakan hal itu pada papanya.
Begitu juga dengan malam ini. Keinginan untuk menanyakan hal yang sedang berkecamuk di dadanya, kembali timbul.
Sebenarnya, hampir setiap hari mereka berkomunikasi. Tapi hanya sebatas bertegur sapa dan menanyakan kabar. Tidak lebih dari itu.
Keinginan untuk bertanya tentang alasan mengapa orangtuanya memutuskan berpisah, sudah ada dalam hati Juan sejak pertama kali dia mengetahuinya.
Namun, keinginan itu selalu ia tepis dengan alasan menjaga perdamaian. Bagi Juan, menerima tanpa bertanya itu adalah keputusan terbaik.
Setidaknya dia masih merasa bersyukur. Sebab, tidak seperti kasus broken home yang dialami oleh kebanyakan orang.
Kedua orangtuanya berpisah dengan cara yang damai. Tidak ada kekerasan ataupun pertengkaran yang Juan alami dan saksikan dalam keluarganya.
Padahal yang sebenarnya, Juan hanya ingin bertanya pada papanya tentang mengapa mereka dulu bisa menikah padahal mereka berbeda? Tapi, entah mengapa selalu urung dilakukannya.
Juan masih merasa ragu, dan takut jika ternyata hal itu benar seperti apa yang dikatakan oleh Rizky, bahwa, perasaan cinta beda keyakinan adalah sara.
Tepatnya, dia masih belum menerima jika fakta mengatakan bahwa perasaan yang dialaminya adalah sara. Dia ingin mencari tahu lebih dalam, demi mendapatkan suatu kebenaran.
Dalam keadaan tubuh terlentang, Juan menarik napas panjang. Sebuah keputusan dari sejumlah pertanyaan yang muncul di benaknya, sudah ia dapatkan.
Dia mengembuskan napas perlahan. Akhirnya, dia memutuskan untuk mencari tahu seorang diri. Dengan cara yang dia bisa.
Seperti malam kemarin, Juan meraih ponselnya dari saku celana. Jemarinya kembali menyusuri laman KamuTube.
Ia memasukan kata kunci Hukum Menikah Beda Agama.
Beberapa video rekomendasi bermunculan. Video per video mulai dia simak dengan seksama.
Dari video yang disimak, seorang Ustadz memaparkan penjelasannya dengan sebuah ayat yang terkandung dalam kitab suci Al-Qur’an, yang artinya;
“Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia lebih menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke Syurga dan ampunan dengan izin-NYA. (Allah) menerangkan ayat-ayat-NYA kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.”
(QS: Al-Baqarah:221)
Setelah menyimak ayat yang dibacakan oleh seorang Ustadz ternama tanah air bergelar Lc.MA itu, Juan menghela napas berat. Dia kecewa. Sangat kecewa.
Meski begitu, tak membuatnya berhenti mencari lagi. Masih ada sebuah pikiran yang mengganjal. Yaitu, mengapa papanya yang seorang muslim mau dan bisa menikahi mamanya padahal dia seorang kristiani.
Sebagaimana yang terkandung dalam ayat suci Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 272, bahwa Allah memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-NYA. Mungkin demikianlah kiranya yang sedang terjadi pada pria berjambang itu.
Dia kembali menjumpai ayat yang dapat memberikan jawaban atas pertanyaan yang masih mengganjal di benaknya.
“Pada hari ini dihalalkan bagimu segala yang baik-baik. Makanan sembelihan (Ahli Kitab) itu halal bagimu, dan makananmu halal bagi mereka. Dan (dihalalkan bagimu menikahi) perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan-perempuan yang beriman, dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu, apabila kamu membayar maskawin mereka untuk menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan bukan untuk menjadikan perempuan piaraan. Barangsiapa kafir setelah beriman, maka, sungguh, sia-sia amal mereka dan di akhirat mereka termasuk orang-orang yang rugi.”
(QS: Al-Ma’idah:5)
Selesai menyimak ayat tersebut, Juan menyentuh icon pause pada video yang sedang ia simak.
Dia termenung sejenak. Mengingat sebuah kopi yang dia berikan kepada gadis pujaan hatinya sebagai bentuk permintaan maaf. Seketika ia tersenyum lega.
Sebab, kini dia mengetahui sebuah fakta yang menurutnya sebelum ini tidak penting namun kemudian menjadi penting. Kopi yang diberikan kepada Maira, halal.
Tak bisa dibayangkan, jika hal demikian dikatakan tidak halal. Maka, Juan akan kembali merasa bersalah sebab sudah memberi gadis pujaan hatinya sesuatu yang tidak dihalalkan menurut kepercayaannya.
Juan menyentuh icon unpause, melanjutkan video yang tadi ia jeda sesaat. Menyimak penjelasan makna dari ayat terkait.
Bahwasanya apabila seorang pria muslim menikahi perempuan ahli kitab maka hukumnya sah. Dengan syarat menikah dengan cara Islam. Dan ditegaskan bahwa jelas perempuan itu adalah seorang ahli kitab yang benar-benar menjaga kehormatannya.
“Apakah ayat ini yang dijadikan landasan papa untuk menikahi mama? Dan meyakini sepenuh hati bahwa mama adalah seorang perempuan ahli kitab yang senantiasa menjaga kehormatannya?” Hati Juan kembali muncul sejumlah pertanyaan lagi.
Video belum selesai. Juan kembali menyimak.
Sebuah penjelasan bahwa haram dan tidak sah hukumnya seorang wanita muslimah menikah dengan laki-laki musyrik.
Jleb!
Penjelasan penutup yang sangat menyakitkan bagi Juan. Sebuah jawaban yang tak pernah diinginkan.
Seketika, dadanya terasa terhimpit. Seolah beban berat menimpa dadanya.
Mendadak tubuhnya terasa lemas. Pandangannya berkunang-kunang. Matanya terpejam, namun dia masih terjaga. Ponselnya diletakkan sembarang.
Disinari cahaya lampu yang temaram. Tubuh atletis dengan wajah yang tampan dari masa ke maslsa itu, kini teronggok lemah di atas ranjang.
Dadanya naik turun dengan tempo yang lambat dan terlihat sangat berat. Seluruh yang ada di dalam dadanya riuh bergemuruh.
Keinginan untuk memiliki gadis pujaan hatinya sempat tumbuh amat besar. Namun, sebuah fakta ketidakmungkinan untuk memiliki gadis itu, sukses membuat hati dan jiwanya luluh-lantak.
Batinnya teriak histeris. Dadanya terasa semakin berat dan sesak. Dia mencengkeram kuat rambut gondrongnya, bibirnya samar-samar terdengar mengerang.
Untuk kali pertamanya, pria bernama lengkap Johanes Raymond Tampubolon, mengalami pedihnya patah hati.
Di luar sana, rembulan sedang berkabut, berselimut awan hitam nan tebal. Andai bulan itu tidak tertutup awan, seharusnya malam ini sedang indah-indahnya.
H+1 malam purnama, biasanya bulan masih berbentuk bulat utuh. Tersenyum indah dengan rona kuning menghiasi cakrawala.
Namun tidak untuk malam ini. Mungkin bulan turut berduka cita, atas hati yang tengah patah yang menimpa Si Bujang Lapuk.
***
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
menimang alias menggendong..
meminang kan tugasnya juan
malah curcol
calon author famous
jadi inget sama novel lawas..yg percakapannya emang dikit dan lebih bnyk narasinya...tapi setiap kalimatnya bermakna banget....
nyari judulnya susah, gak inget full judulnya,, yg ke inget cuma bibit, bebet, bobot😆 syukur Alhamdulillah ketemu🥺
kk othor bikin karya lain Napa di noveltoon ini🙏😍, sungguh cara penyampaian ceritanya 👍 the best.
ya udah segitu aja deh cuap2 nya
sehat2 ya kakak author 🤗🌵
salam dari green💚🌵
assalamu'alaikum 🙏🤗