"Kau benar-benar sempit dan nikmat."
Akibat jebakan seseorang, Aksara tanpa sadar meniduri seorang gadis tidak bersalah. Gadis yang tidak dikenalnya, namun menjadi gadis pertama yang ia nikmati.
Bukan hanya gadis itu yang pertama, namun Aksa juga. Dia mengambil mahkota gadis itu secara paksa di bawah kendali obat.
Aksa menyelidiki gadis itu, yang ternyata hanya seorang pengantar makanan di restoran milik paman dan bibinya.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya, apakah Aksa akan bertanggung jawab atau justru lari??
Update setiap hari‼️
Follow Ig : Alfianaaa05_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur diluar
Aksa dan Ayesha sampai di rumah mereka, tepatnya di apartemen. Sampai di sana Ayesha langsung diberi tugas untuk mengobati luka di tubuh Aksara.
Ayesha mengompres dengan hati-hati sudut bibir dan juga kening Aksa, namun tetap mengudang ringisan kecil dari bibir pria tampan sejuta pesona itu.
"Tuan, saya sudah pelan-pelan." Kata Ayesha, sejenak menghentikan gerakannya yang sedang mengobati.
"Tiup, Ay. Kau pikir aku batu yang tidak bisa merasakan sakit." Timpal Aksa dengan kesal.
Ayesha manggut-manggut, dengan polos gadis itu mendekatkan wajahnya ke wajah Aksa dan meniup kening serta sudut bibir Aksa.
Ayesha melakukannya dengan hati-hati dan tulus, gadis itu benar-benar fokus namun Aksa justru dibuat menelan gumpalan salivanya berkali-kali.
Selain wajah cantik, Ayesha ternyata memiliki kelebihan lain. Entah seperti apa malam itu ia melihatnya, namun yang pasti ia kini mulai curi-curi pandang.
Posisi Ayesha yang sedikit menunduk membuat Aksa bisa melihat belahan dada yang mengintip dan seakan ingin melompat keluar mencari perhatiannya.
"Tuan, apa masih sakit?" Tanya Ayesha pelan.
Aksa hanya diam, pria itu entah mengapa bisa tiba-tiba hilang fokus karena sesuatu yang sudah halal untuk ia sentuh.
"Tuan." Panggil Ayesha melambaikan tangannya.
Aksa tersadar, ia mendorong Ayesha sampai gadis itu terduduk di sebelahnya.
"Kenapa kau dekat sekali, aku tidak bisa bernafas." Ucap Aksa tanpa menatap istrinya itu.
Ayesha tersadar, ia seketika menjauhkannya tubuhnya sedikit agar Aksa merasa lebih nyaman.
"Luka di tangan anda sudah saya bersihkan juga, lebih baik anda istirahat." Tutur Ayesha seraya bangkit dari duduknya.
"Kau mau kemana?" Tanya Aksa dengan dingin.
"Ke dapur, Tuan. Ini semua harus di taruh kan." Jawab Ayesha menunjukan bekas kompres luka Aksa tadi.
"Letakkan saja itu, mulai besok akan ada yang bersih-bersih rumah." Ucap Aksa.
"Dan satu lagi, aku ingatkan padamu untuk jangan pernah memasak. Aku tidak suka wanita bau bumbu dapur." Tambah Aksa mengingatkan.
"Baik, tapi apa yang akan saya lakukan jika semua pekerjaan sudah ada yang melakukannya?" Tanya Ayesha lagi.
"Mengurusku, apalagi. Kau pikir aku tanaman liar yang bisa tumbuh tanpa di rawat." Jawab Aksa sedikit kesal seraya menunjuk dirinya sendiri.
Ayesha terdiam sebentar, gadis itu berusaha untuk mencerna kata-kata Aksa. Kepalanya mengangguk setelah mengerti maksud ucapan Aksara.
"Baik, akan saya ingat." Sahut Ayesha nurut.
"Lalu–" ucapan Ayesha terhenti karena Aksa bicara.
"Apalagi? Kau mau bertanya dimana kau tidur?" Tanya Aksa memotong ucapan Ayesha.
"Kau tidur di luar saja." Tambah Aksa lalu memijat pelipisnya.
Ayesha menghela nafas. "Baik." Balas Ayesha lagi-lagi hanya bisa nurut.
Gadis itu sudah membalik badan dan siap pergi dari kamar, hal itu membuat Aksa melototkan matanya.
"Gadis menyebalkan!!" Cibir Aksara.
Aksa bangkit dari duduknya, ia lekas mendekati Ayesha yang sudah meraih gagang pintu.
Digendongnya tubuh mungil gadis itu, lalu ditendangnya pintu kamar sampai tertutup kembali.
"Tuan!!" Pekik Ayesha.
Aksa tidak menyahut, pria itu membawa tubuh mungil Ayesha dan membaringkannya diatas ranjang. Di tarik nya selimut sampai menutupi perut gadis itu.
"Tuan, anda bilang saya harus tidur diluar?" Tanya Ayesha dengan polos.
"Jika kau bicara lagi, aku akan merobek pakaianmu. Kau kira aku akan membiarkan anakku menderita, tidak!" Jawab Aksa kesal.
Ayesha melototkan matanya, ia sejenak tertegun mendengar ucapan Aksa yang ingin merobek pakaiannya.
"Jangan, Tuan." Cicit Ayesha melingkarkan tangannya di dada.
Aksa menatap gadis itu dengan lekat, wajahnya yang polos seketika berubah ketakutan. Aksa bingung dan heran, sampai otaknya menjangkau satu perkiraan, yaitu Ayesha trauma akan kejadian diantara mereka.
"Ay, aku hanya mengancam mu. Sekarang tidurlah, aku tidak akan menyentuhmu." Ucap Aksa lembut, suaranya begitu rendah dan hangat.
Ayesha menatap Aksa dengan ragu-ragu, ada rasa takut yang masih menyelimutinya. Ayesha masih belum bisa sepenuhnya melupakan rasa sakit yang pernah ia rasakan.
"Tidur, Ay!" Tegur Aksara.
"Anda tidur dimana, Tuan?" Tanya Ayesha.
"Dimana lagi, tentu saja disini." Jawab Aksa lalu ikut berbaring di sebelah Ayesha.
Ayesha menahan nafas sejenak, ia memberanikan diri untuk melirik Aksara sebentar yang ternyata sudah memejamkan matanya.
"Jika kau masih terus memperhatikanku, aku akan menarik kata-kataku sebelumnya." Ucap Aksara dengan mata terpejam.
"M-maaf." Cicit Ayesha lalu menutupi tubuhnya sampai kepala dengan selimut.
Setelah beberapa menit, Aksa pun membuka matanya kembali, ia menoleh dan melihat Ayesha yang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Pelan, Aksa mengubah posisinya menjadi menyamping, ia menarik selimut dan membuat wajah Ayesha yang sudah terlelap bisa ia lihat.
Aksa menghela nafas, ia tidak menyangka jika dirinya akan menikah dalam waktu yang cepat. Penolakannya terhadap oma Nuri selama ini nyatanya sia-sia. Ia tetap menikah dengan gadis yang menjadi teman satu malam nya.
Tatapan Aksa turun ke perut Ayesha, ia pun tidak menyangka jika disana hidup calon keturunannya. Keturunan seorang Aksara Delvin Abiputra.
"Jika ini takdir, rasanya lucu sekali." Gumam Aksara.
LUCU KAYAK AUTHOR NYA🤗
Bersambung..................................