Reno Sebastian seorang Mafia yang kejam di dunia bawah tanah, sifat kejamnya tidak luput dari kejadian masa lalu yang menyakiti dirinya, hingga dia memulai membalas dendam dengan seorang wanita yang diduga anak dari dalang penyebab kematian orang tuanya yaitu Dara Pratiwi.
"Mas, sakit mas tolong jangan siksa aku lagi, sudah cukup mas aku mohon ada anak kita di dalam tubuh ku ini" ucap Dara dengan pasrah.
"Aku tidak peduli dengan anak sialan itu, yang penting orang tuamu harus mengalami kesakitan yang sama denganku!"
Bagaimana jadinya, jika ternyata selama ini Reno salah paham sehingga dengan tega dia menghabisi nyawa anak kandungnya sendiri yang bahkan belum lahir, apakah Dara akan memaafkan kesalahan Reno atau Dara kembali berbalik membalas dendam dengan Reno.
Semua itu dapat terungkap di dalam cerita "Penyesalan Balas Dendam"
Note, baca terlebih dahulu season 1 yang berjudul "Istri Kejam Milik Devan" agar teman-teman paham dengan alurnya nanti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mimicoco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlambat
Keesokan harinya, Reno memulai keberangkatannya menuju ke rumah mertuanya.
"Mas, aku ikut ya kalau kamu mau ke rumah orang tuaku, takutnya nanti kamu apa-apakan lagi orang tuaku," ujar Dara yang masih belum yakin dengan perkataan Reno semalam.
"Hmm, jadi orang tidak percaya, ya sudah kamu ikut saja denganku," jawab Reno dengan sedikit acuh dan setelahnya mulai memasuki mobil dengan diikuti Dara dari belakang.
Perjalanan Reno kali ini memakan waktu yang sangat panjang, apa lagi di daerah perkotaan seperti ini yang selalu macet saat pagi maupun sore hari.
"Aduh, kenapa hatiku tiba-tiba sangat gelisah sekali ya," batin Dara dalam hati, karena sedari perjalanan menuju ke rumah orang tuanya, tiba-tiba saja ada perasaan gelisah yang menghinggapinya untuk segera buru-buru pulang menuju ke rumah kedua orang tuanya.
"Ini masih lama enggak sih Mas, macetnya" ucap Dara.
"Diam lah, kamu masih punya mata kan, jadi bisa melihat kalau sekarang kita sedang mengalami macet parah!" sentak Reno yang membuat Dara diam seketika.
Karena sudah tiga puluh menit waktu yang terbuang sia-sia, akibat kendala macet yang mereka alami.
Tanpa terasa, saat ini perut Dara tiba-tiba berbunyi dengan jelas, sangking jelasnya membuat Reno menoleh kepadanya dengan tatapan sinis.
"Ck, sangat memalukan, kenapa tadi tidak sarapan dulu saat di rumah." Ucap Reno saat menoleh ke arah Dara. Setelahnya, Reno mencoba merogoh kantung tasnya dan memberikan satu bungkus roti yang memang telah ada di dalamnya.
"Ini, makanlah dulu rotinya, dari pada kamu pingsan di jalan nanti, kan aku juga yang susah," ucap Reno seraya melemparkan rotinya kehadapan Dara.
Sementara Dara yang dilemparkan roti oleh Reno, hanya mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih Mas, atas rotinya dan ternyata aku baru tahu kalau Mas Reno suka menyediakan makanan di dalam tasnya," imbuh Dara yang membuat Reno hanya menganggukkan kepala saja.
Sebab, Reno hanya hoki saja saat meraba di dalam tasnya, eh tidak sengaja menemukan roti yang entah kapan terakhir kali dia membelinya dan tidak melihat-lihat tanggal kadaluarsanya.
Di saat perjalanan mereka hampir sampai, lagi dan lagi rasa gelisah Dara malah kian bertambah, entah kenapa sedari kemarin Dara seperti merasakan suatu firasat buruk, tapi entah firasat apa yang dia rasakan.
"Hei, kita sudah sampai di kampung mu, sekarang katakan dimana letak tempat tinggal orang tua mu," ucap Reno dan segera Dara menunjukkan jalan ke arah rumahnya.
"Setelah jalan ini, belok kiri Mas dan abis itu belok kanan sampai mentok," jawab Dara dan setelahnya Reno mengikuti instruksi yang Dara berikan.
Selama lima belas menit, akhirnya Reno dan Dara sampai juga di tujuan rumah orang tua Dara.
Dengan segera, Dara terlebih dahulu memasuki rumahnya. Namun, baru beberapa langkah sebelum masuk ke dalam rumahnya, Dara dikejutkan dengan keadaan rumah yang terlihat berantakan, bahkan terlihat kalau rumah yang ditempati oleh kedua orang tuanya sangat menyedihkan keadaannya, seperti tidak terurus sama sekali.
Melihat hal itu, Dara langsung terburu-buru untuk masuk ke dalam rumahnya.
Saat Dara mulai memasuki rumahnya, dia dikejutkan lagi dengan keadaan kedua orang tuanya yang sudah bersimbah Dara, bahkan sangat terlihat jelas, ada beberapa luka sayatan di beberapa anggota tubuhnya, seperti di leher, di bagian perut, atau pun di bagian sisi pergelangan tangan.
"Gubrak," seketika Dara langsung terjatuh di lantai dengan keadaan tubuhnya yang lemas. Bahkan terlihat, air matanya mulai bercucuran dengan mulutnya yang masih terbungkam.
Tepat dihadapannya sendiri, Dara melihat dua orang yang dia sayangi, tidak bernyawa dengan kondisi yang sangat memperihatinkan.
Sementara Reno, yang baru menyusul Dara masuk ke dalam rumahnya, dirinya juga ikut terkejut, saat melihat kedua orang tua Dara tewas dalam keadaan yang mengenaskan.
Reno hanya bisa terdiam di tempat. Sebab melihat keadaan kedua orang tua Dara, kembali menjadi mengingatkannya akan kematian kedua orang tuanya.
Kembali dengan Dara, yang saat ini mencoba berjalan perlahan-lahan mendekati jenazah kedua orang tuanya.
Walaupun rasanya Dara tidak sanggup. Namun mau tidak mau dirinya ingin melihat lebih jelas terkait kondisi kedua orang tuanya yang mungkin bisa diselamatkan. Ya walau kemungkinan itu sangat mustahil.
"Ayah... Mama, kenapa kalian tidak bernapas, ayo bangun lah, Dara mohon jangan tinggalkan Dara seorang diri," histeris Dara saat mencoba mencari denyut nadi di kedua tangan orang tuanya yang sudah tidak ada.
Suara Dara yang terlampau kuat, mengundang beberapa para warga yang berada di sekitar lingkungan rumahnya untuk langsung bergegas masuk ke dalam rumahnya.
"Astaga, kenapa mereka sangat mengenaskan sekali." Ucap salah seorang warga yang melihat kondisi orang tua Dara.
"Benar, apa jangan-jangan ini ada kaitannya ya dengan beberapa mobil hitam yang berhenti di rumah ini, soalnya aku mengintip sedikit dari jendela rumah ku," sahut warga lain yang membuat Dara mengerutkan keningnya.
"Bu, apa benar yang kamu katakan, jika ada beberapa mobil ke rumah ini?" tanya Dara pelan.
"Benar Nak, bahkan ibu juga sedikit melihat beberapa orang berseragam hitam, masuk ke dalam rumah ini, ya Ibu pikir itu mungkin tamu Pak Yuda," jelasnya yang membuat Dara mengarahkan tatapannya ke arah Reno.
Tanpa aba-aba, Dara langsung berlari ke arah Reno dan menamparnya dengan sangat keras.
"Plak."
"Pasti ini semua ulah kamu kan Mas, oh jangan-jangan tadi malam kamu menanyakan keberadaan orang tuaku, hanya untuk membunuh mereka bukan, jawab Mas!" bentak Dara keras, yang membuat Reno terheran, karena baru ini lah dirinya dituduh, tanpa bukti.
"Maksud kamu apa Dara," balas Reno pelan.
"Ck, jangan sok tidak tahu ya Mas, kamu kemarin malam menanyakan keberadaan orang tuaku, hanya untuk membunuh mereka saja kan, kau pikir aku tidak tahu orang seperti apa kamu Mas, dasar pembunuh!" ucap Dara dengan mendorong dada Reno kuat.
Mendengar perkataan Dara, membuat mereka menatap tajam ke arah Reno dan segera tanpa aba-aba, beberapa bapak-bapak langsung mengikat tangan Reno dengan seutas tali untuk mereka serahkan kepada pihak kepolisian.
......................
Sementara itu, di sisi lain tampak seseorang sedang mengukir senyuman lebar, karena rencananya kali ini sangat berjalan dengan lancar.
Apa lagi, dia tidak menyangka. Sebab sekali rencananya berhasil, langsung mendapatkan dua tangkapan besar, dimana dirinya berhasil membunuh saksi mata kematian orang tua Reno dan sekaligus tanpa disengaja juga membuat Reno dipenjara.
"Hahaha, akhirnya aku berhasil juga membuatnya hancur, rasakan itu Reno, lihat kan Michella, anakmu sekarang akan dipenjara dan dia tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi, padahal kan aku sudah bilang, lebih baik kau bersamaku dari pada dengan bajingan seperti Devan," ujarnya sambil memeluk tubuh Michella yang sudah tidak bernyawa lagi.
hajat Reno untuk bersatu kembali dengan Dara tak kesampaian....