Luna Xaviera, gadis berusia 18 tahun terpaksa harus menikah dengan seorang pria yang tak lain adalah gurunya sendiri Devan Alexander.
Pernikahan yang tanpa di dasari rasa cinta di antara keduanya akankah berakhir dengan bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Keesokan harinya, Luna benar-benar mendiamkan Devan. Sejak pulang dari rumah sakit, bahkan sampai sekarang gadis itu sama sekali tidak mengajaknya bicara.
"Luna, bisakah kita--''
Luna bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar menuju ke mobil. "Kak Leon, bisakah kamu mengantarku ke sekolah?'' tanya Luna.
Leon melirik Devan yang sudah memberikan tatapan tajam padanya. Ingin sekali ia menolak, namun di sisi lain ia tidak tega pada Luna.
Gadis itu mengerti kemana arah pandang Leon dan berdecak. "Sudahkah, aku akan minta Kak Lucas atau Aldo menjemput ku.'' ujar Luna berlalu dari sana.
"Tuan, bagaimana ini?" tanya Leon menggaruk kepalanya yang tak gatal karena bingung harus memilih siapa.
"Antar dia, aku akan berangkat sendiri nanti."
Leon mengangguk dan mengejar Luna yang mungkin belum jauh dari sana.
''Bagaimana caranya merayu agar tidak marah lagi." gumam Devan. Ia teringat pada Zelin, sahabat Luna dan meminta Aldo untuk mempertemukan mereka berdua.
.
.
"Apa Bapak yakin, Luna marah karena itu?" tanya Zelin sedikit curiga. Pasalnya Luna bukanlah tipe gadis pencemburu. "Bisa juga, karena Bapak tidak jujur padanya dari awal."
"Aku lupa jika waktu itu Amara memberiku nomor ponselnya. Tapi sejujurnya aku sudah tidak memiliki perasaan padanya." jelas Devan.
Aldo merasa kasihan pada kakaknya, tapi dia juga kesal karena sudah membuat gadis yang pernah ada di dalam hatinya itu bersedih dan mungkin menangis.
"Aku dan Zelin tidak akan ikut campur urusan rumah tangga kalian, jadi lebih baik Kakak selesaikan sendiri saja." tegas Aldo menarik tangan Zelin agar pergi dari sana.
Dering ponsel terdengar dari saku celana Devan, siapa lagi yang menelfon kalau bukan Amara. Ini sudah ke lima kalinya wanita itu menghubunginya dan ingin bertemu, namun diabaikan olehnya.
"Sebenarnya apa yang wanita ini inginkan. Apa belum cukup dia membuat gadis kecilku ngambek." gerutu Devan kesal.
..."Kalau kamu tidak mengangkatnya, aku akan datang ke rumah dan menemui kedua orang tuanmu, Devan."...
Devan meremat ponselnya lalu beranjak dari duduknya. Ia berniat untuk menemui Amara dan menyelesaikan semua kesalahpahaman yang sudah wanita itu buat.
Apakah dirinya sudah mulai membuka hati untuk Luna, istrinya?
Di sebuah Cafe yang cukup terkenal di kota, disinilah Devan berada bersama dengan seorang wanita yang duduk dan menatapnya.
"Katakan apa mau mu, Amara!"
Amara terkekeh, ia berdiri dan duduk di samping kanan Devan. "Kenapa tidak menjemput ku tadi malam?" Raut wajahnya sedikit kecewa.
"Aku sibuk. Kamu punya kaki dan juga ponsel untuk menghubungi ayahmu, bukan?"
"Ayah sudah meninggal." Amara menghembuskan nafas. "Karena itu aku pulang, Devan.''
Devan terhenyak. Sekarang ia benar-benar tidak tau harus berbuat apa. Amara menangis lalu bersandar di bahunya yang kokoh.
Wanita itu mencurahkan segala isi hatinya pada Devan, berharap dia mau menghiburnya. Sama seperti saat kecil dulu.
"Dulu, kamu selalu ada untukku Devan. Dalam hal apapun. Kenapa sekarang aku merasa kamu semakin jauh.'' jelas Amara.
"Dulu dan sekarang itu berbeda."
"Aku masih mencintaimu, sangat. Aku bahagia saat kemarin bertemu denganmu tanpa sengaja. Atau karena memang kamu berniat mencari ku, hum?" Amara menarik wajah Devan agar menghadapnya.
"Kamu bukan gadis itu, Amara!"
Deg!
Kalimat Devan berhasil membuat amara diam.
"Kamu membohongiku, aku kecewa padamu."
"A-Apa maksud kamu, Devan. Tentu saja aku Amara yang sama dengan foto itu." Mencoba menjelaskan pada Devan yang sebenarnya.
"Aku ragu kalau kamu adalah anak kandung tuan Daniel."
...----------------...
ckk.. sok sokan nggak peduli aslinya cemburu