Perselingkuhan? Itulah yang dilakukan Liora, perselingkuhan yang tidak sengaja dilakukannya kala dipaksa meminum minuman keras. Seorang pemuda rupawan yang merenggut kesuciannya. Kesucian yang seharusnya dijaga untuk suaminya. Walaupun dirinya menikah hanya karena hutang budi.
Suami yang cacat, buruk rupa akibat kebakaran. Sang suami yang telah pergi meninggalkannya ke luar negeri untuk urusan bisnis, selama lima tahun.
Dirinya menangis terisak, merutuki kebodohannya yang menikmati malam dengan pria lain. Pemuda yang mengulurkan tangannya, tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Terimakasih," ucap sang pemuda, mengecup punggungnya. Namun wanita itu hanya menangis.
"Apa yang harus aku katakan pada suamiku saat dia pulang nanti?! Aku sudah memiliki suami! Dasar sialan!" umpatnya memukul sang pemuda.
Sang pemuda mengenyitkan keningnya, ini juga yang pertama baginya. Namun, meniduri istri sendiri memang terasa menyenangkan.
"Rahasiakan dari suamimu, jadikan aku simpananmu,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Save
Tubuh Liora diturunkan sejenak olehnya, wanita mabuk yang berpegangan pada tubuhnya. Kala pemuda itu mulai menekan kode akses kamar. Liora merayap, berjalan berpegangan pada tembok, mencoba pergi."Aku mau pulang..." gumamnya tertawa.
Pintu kamar yang terbuka, jangan fikir ini diawali dengan adegan romantis. Arga kembali mengejar istrinya, memeluknya dari belakang. Berusaha menarik sang istri ke dalam kamar.
Bug!
Pintu akhirnya tertutup, dikunci sempurna olehnya. Liora tiba-tiba bangkit, menatap ke arah pemuda di hadapannya."Kamu siapa? Apa si dangkal?" tanya Liora, mengendus-endus lebih dekat lagi."Baumu seperti si dangkal?" racaunya.
"Si dangkal?" Arga mengenyitkan keningnya.
Wanita di hadapannya mengangguk."Si dangkal, dia meninggalkanku. Katanya agar aku tidak berselingkuh dia tidak ingin tidur denganku. Itu sama artinya tidak ingin memiliki anak dariku, kan?" ucapnya dengan air mata mengalir.
Tangan pemuda itu gemetar, tertegun menatap ke arah istrinya."Bukannya begitu mungkin dia,"
"Lima tahun, aku lebih suka jika dia tidak meniduriku karena impoten. Jadi aku masih memiliki alasan untuk setia padanya. Tapi alasannya menguji kesetiaanku. Benar-benar dangkal, karena itu aku tidak mencintainya lagi..." racaunya masih dengan air mata yang mengalir.
Arga menarik tubuh istrinya, memeluknya erat."Maaf," ucapnya tidak ingin kehilangan wanita ini. Cinta pertama? Mungkin iya, wanita yang dapat membuatnya meninggalkan rumah untuk pertama kalinya. Wanita yang tidak peduli dengan wajah dan berapa banyak uang yang dimilikinya.
"Aku masih mencintaimu, maaf..." ucap Arga lagi tepat di dekat telinga Liora, melerai pelukannya. Dua pasang mata yang bertemu saling mendekat, mulai terpejam perlahan.
Ueekk!
"Sial!" umpat Arga masih berusaha keras tersenyum. Pakaian Liora, lantai, bahkan pakaiannya kotor karena muntahan.
Berjalan mengambil telepon menghubungi cleaning service."Tolong bersihkan kamar 304!" ucapnya, kemudian memasuki kamar mandi. Kembali menarik sang bebek yang kotor.
Air hangat di bathtub disiapkannya. Pintu kamar mandi dikuncinya dari dalam. Menghela napas berkali-kali melucuti pakaian istrinya. Mengapa nasibnya begitu sial? Mengira akan dapat menghabiskan malam dengan saling melepaskan kerinduan.
Namun kenyataan tidak sesuai realita. Arga mati-matian menelan ludahnya sendiri, mengapa istrinya dapat secantik ini? Ingin tidak melihatnya? Tapi juga ingin melihatnya. Benar-benar sial! Seharusnya dirinya membawa Liora ke luar negeri.
Sungguh bodoh pria yang dapat dengan santainya meninggalkan istri yang secantik ini. Tubuh yang kini ada dalam bathtub ditutupi busa, menggosok tubuhnya perlahan. Wanita yang hanya tersenyum, mungkin dalam keadaan setengah sadar.
Suara cleaning service yang membersihkan kamar terdengar. Membersikan sisa muntahan Liora di atas lantai.
Tidak menyadari hal yang mulai terjadi di kamar mandi. Pemuda yang mulai mencicipi bibir istrinya, seakan melupakan segalanya. Rambut wanita itu yang basah, menetes di atas kulit putihnya.
Bukan bathtub yang sempit namun bathtub yang cukup luas. Tentunya pemuda itu tidak ingin melepaskan keperjakaannya di kamar yang murah.
Mulai melucuti pakaiannya sendiri, ikut memasuki bathtub, sepasang lidah yang bermain-main. Tubuh menempel tanpa sehelai benangpun sebagai pembatas.
"Aku si dangkal yang kamu ceritakan," bisik Arga pada istrinya.
Mimpi? Mungkin Liora menganggap ini sebuah mimpi, suara? Aroma? Semuanya menyerupai Arga. Wajah yang hanya ditatapnya samar. Seperti mimpi, dirinya tidak dapat mengendalikan segalanya, perceraian? Mungkin hal itu besok akan diingatnya. Namun malam ini tidak, karena ini bagaikan mimpi baginya.
Bug!
Suara pintu tertutup terdengar, pertanda cleaning service telah pergi meninggalkan kamar.
"Aku ingin," ucap Arga, menciumi seluruh wajah istrinya. Pemudanya yang benar-benar merasa rugi. Mengapa dapat seperti ini? Seharusnya dirinya pulang 2 tahun lalu kala operasinya selesai. Tidak, seharusnya dirinya tidak pergi.
Air dalam bathtub terlihat tidak stabil. Lenguhan wanita itu terdengar, menjambak rambut Arga pelan. Pemuda yang tidak ada henti-hentinya menjelajahi tubuh istrinya.
*
Hingga pada akhirnya segalanya tidak tertahankan lagi. Deru suara mesin AC terdengar, ruangan dengan penerangan yang minim. Menghangatkan diri di bawah selimut tebal, tubuh mereka yang basah membuat sehelai selimut itu terasa nyaman.
Kain sprei dicengkeram wanita itu erat, bibirnya dibungkam dalam ciuman. Kuku-kukunya menancap menggores punggung sang pemuda.
Selimut putih tebal menutupi segalanya. Teriakan yang tertahan, mungkin benar-bebar terasa menyakitkan. Bibirnya seakan tiada henti dicumbui.
"Liora," ucapnya membuat kembali tanda di leher istrinya.
Ini benar-benar gila, bagaimana rasanya dapat seperti ini. Matanya menatap ke arah istrinya, wanita yang seakan mulai nyaman. Mendekap tubuhnya erat, wanita yang peralahan menikmati segalanya.
Jeritan Liora benar-benar terdengar. Lenguhan yang perlahan terdengar bersamaan. Merasakan detak jantung dan napas yang seirama, kala dirinya mendekap tubuh wanita yang mulai memejamkan matanya.
"Tidak perlu pulang," gumam Liora, mulai tertidur.
"Cerewet! Jika aku tidak pulang kita akan bercerai! Kamu ingin anak kan? Kita akan memilikinya!" tegas Arga, memeluk tubuh itu erat. Nyaman? Sangat nyaman, wajah yang tidak bosan-bosannya ditatapnya.
"Tidak mencintaiku lagi? Perasaanmu sudah hilang? Dengan tegas mengatakan ingin bercerai? Jangan harap, karena aku akan membuatmu jatuh cinta kembali," janjinya tersenyum.
*
Kamar hotel yang cukup luas, bisa dibilang ini adalah kamar terbaik di hotel ini. Liora perlahan membuka matanya, tubuhnya terasa berpelukan dengan seseorang. Mata yang benar-benar terbuka sempurna.
Wajah seorang pemuda terlihat disana, kulit putih pucat, kontras dengan rambut hitamnya, bentuk alis yang terlihat tegas, hidung mancung, dan bentuk bibir yang benar-benar menggoda."Aku bermimpi dipeluk selebriti," gumamnya tersenyum kembali membalas pelukan sang pemuda.
Sedetik, dua detik, bahkan hingga detik ke sepuluh otaknya baru ter-restrart sempurna. Wanita yang bangkit duduk di tempat tidur, menutupi tubuhnya dengan selimut. Sejenak memeriksa di bawah selimutnya.
Wajahnya tiba-tiba pucat pasi."Apa yang sudah aku lakukan?!" gumamnya, mengacak-acak rambutnya sendiri.
Liora menghela napas kasar, berusaha berfikir tenang."Tidak apa-apa, ketika Arga pulang nanti dia tidak akan memeriksa aku masih perawan atau tidak. Lagi pula aku akan menyeretnya ke pengadilan begitu dia sampai di bandara,"
Kata-kata yang sejatinya didengar oleh Arga, pemuda yang kini tengah berpura-pura tertidur."Bagaimana ini?" batinnya, tidak dapat mengatakan dengan gembira. Selamat kamu sudah ditiduri suamimu atau selamat suamimu tercinta telah pulang.
Pemuda yang tengah berfikir apa yang harus dilakukannya setelah ini.
"Apa dia g*golo? Bayarannya pasti mahal. Aku tidak hanya kehilangan banyak uang hari ini, tapi juga melanggar prinsipku untuk tidak berselingkuh. Kenapa juga aku memimpikan si dangkal, hingga bisa seperti ini," gumam Liora terdiam masih duduk di atas tempat tidur, menatap ke arah jendela yang menampakkan matahari terbit dari celah beberapa gedung pencakar langit.
Arga membuka matanya, tidak pernah ada pria lain dalam hati istrinya. Ini kesalahannya dari awal menghukum Liora atas perbuatan yang dilakukan Lisa. Mencurigai istrinya, tidak ingin kehilangannya.
Wajah wanita yang mulai menitikkan air matanya itu terlihat jelas."Ya Tuhan, maafkan aku karena berbuat dosa malam ini. Aku berjanji akan berusaha menjadi hamba-Mu yang baik," ucapnya memejamkan mata.
"Terimakasih," Arga memeluknya dari belakang, mencium punggungnya. Bukan orang yang akan mengkhianatinya, seharusnya dirinya lebih menghargai istrinya lagi.
Liora membuka matanya, memukul sang pemuda menggunakan bantal. Mungkin untuk menghindari uang pembayaran jasa g*golo."Apa yang harus aku katakan pada suamiku nanti saat dia pulang nanti?! Aku sudah memiliki suami! Dasar Sialan!"
Sifat yang benar-benar berubah, wanita yang dulu biasa menggodanya di tempat tidur. Arga menghela napas kasar, mungkin hanya dapat mengambil hati istrinya kembali dengan cara lain.
Memeluk paksa tubuh itu erat."Rahasiakan dari suamimu, jadikan aku simpananmu,"
yg aku khawatirkan David, kalau Lim sih kagak
bisa jadi rival Arga nih selain Lim
selingkuhan Liora suaminya sendiri, gmn saat tau nanti akan semakin membenci Arga atau gmn
kepikiran dgn anaknya Lisa yg di adopsi Liora, jadi masalah gak ya nanti nya
walaupun ditinggal untuk bisnis dan berobat agak nyesek ya lima lho