NovelToon NovelToon
Hijrah Cinta Mafia

Hijrah Cinta Mafia

Status: tamat
Genre:Romansa / Roman-Angst Mafia / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Pengantin Pengganti / Pengganti / Persaingan Mafia / Tamat
Popularitas:154.4k
Nilai: 5
Nama Author: Andropist

Takdir telah membuat Asiyah harus menikah dengan laki-laki yang angkuh dan dingin karena calon pengantin wanita sebelumnya meninggal. Asiyah menggantikan adik dari ayahnya yang dijodohkan dengan lelaki itu. Tak disangka laki-laki itu seorang mafia.

Mampukah Asiyah mengarungi bahtera rumah tangga yang tidak diinginkan bersama mafia itu? Akankah Asiyah jatuh cinta dan bisa menerima suaminya yang seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andropist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Sebuah pintu besar telah dibuka. Beberapa orang berpakaian hitam nan menyeramkan mengiringi lngkah Askara. Masing-masing diantara mereka membawa senjata yang berbeda-beda. Senjata itu akan digunakan untuk menyiksa Askara.

Askara diikat dalam sebuah tiang besar. Tangannya dikunci dalam tali rantai yang menggantung di kedua sisi. Kepala Askara tertunduk lemah karena tak sadarkan diri. Para algojo itu sudah siap di posisinya masing-masing.

"Dung." Sebuah gong besar dibunyikan. Tanda dimulainya penyiksaan. Ketua iku menyaksikan dari arah penonton. Ternyata, pintu neraka ialah sebuah arena besar yang melingkar. Askara berada tepat di tengah-tengah arena tersebut. Kursi penonton nampak ramai. Diisi oleh para anggota mafia yang ingin menyaksikan pertunjukan keji yang jarang sekali diadakan.

Para penonton berteriak histeris saat algojo naik ke panggung penyiksaan. Ketua bahkan sedikit mencondongkan tubuhnya agar bisa menyaksikan dengan jelas.

"Sret." Suara cambuk yang keluar dari tempatnya membuat bulu kuduk merinding. Salah satu algojo ternyata akan mencambuk Askara.

"Cling." Suara pisau belati tak kalah nyaring dari suara cambuk tadi. Algojo lain mengacungkan pisau belati untuk menyiksa Askara.

Disusul dengan gada, bara api, dan beberapa binatang buas yang disiapkan untuk Askara.

Ketua berdiri, menembakkan senapan kearah langit. Itu berarti penyiksaan sudah boleh dilaksanakan.

Algojo pertama yang memegang cambuk mulai memegang dan mengibas-ngibaskan cambuknya. Cambuk itu kini hampir mengenai kulit Askara.

"Sret." Cambuk pertama mulai mengenai kulit Askara. Membuat punggung menitikkan darah sedikit demi sedikit. Saking sakitnya rasa cambukan pertama bahkan membuat Askara terbangun dari pingsannya.

Saat ia terbangun, ia mulai merasakan rasa panas yang menggerayapi punggungnya. Askara perlahan menerawang daerah sekitar. Ia baru sadar kalau ia kini tengah dalam masa penyiksaan. Askara mencoba untuk kabur tapi tak bisa. Saat menyadari sekujur tubuhnya telah diikat dan tangannya dijerat oleh rantai Askara hanya bisa terdiam.

Algojo itu kembali melayangkan cambukan yang kedua, kali ini mengenai dada Askara. Darah mengalir lebih banyak, apalagi mengenai luka operasi. Askara sudah tak tahan. Rasa sakit yang ia rasakan amat tak tertahankan.

Di tengah-tengah kesakitan itu, muncul secercah harapan. Penonton tiba-tiba histeris. Pertunjukan dibuat kacau oleh sekelompok penyusup yang datang entah dari mana.

Penyusup itu berhasil melumpuhkan para penjaga dan algojo yang berada di sekitar Askara.

Salah satu penyusup membuka tali dan rantai yang menjerat Askara.

"Kau siapa?" Tanya Askara.

"Jangan banyak bicara dan tutup mulutmu " ucap penyusup itu. Askara nampak tak asing dengan suara itu.

"Kau mau bawa aku ke mana?" Askara kembali bertanya.

"Sudah kubilang tutup mulutmu atau kubiarkan kau dihabisi dengan konyol di sini!" Penyusup itu semakin kesal dengan Askara.

Penyusup itu kini berhasil membuka seluruh ikatan tali yang menjerat Askara. Askara lalu dibawanya kabur dari tempat itu.

Para penyusup pun mulai bergerak mundur. Mereka mencoba untuk melarikan diri dari arena itu. Bukan hal mudah, penjagaan yang amat ketat dan berlapis membuat sulit gerak mereka. Belum lagi seluruh sistem keamanan mafia telah dipusatkan kepada mereka begitu mereka ketahuan menyusup.

"Jangan bergerak." Ucap mafia yang berhasil mengahadang para penyusup itu.

"Memangnya kalian mau apa hah?" Ucap salah satu penyusup dengan berani.

"Kalian tidak bisa lari lagi. Setelah ini, kalian akan kami masukkan semua ke arena. Hahaha." Mafia itu tertawa puas.

"Jangan senang dulu, tangkap kami jika bisa." Ucap penyusup itu. Seketika penyusup itu langsung naik ke atas seperti laba-laba. Mereka berhasil melarikan diri lewat atas.

"Arrrggghhh! Sial!" Ucap salah satu mafia.

Para penyusup melewati lorong kecil, mereka berusaha keluar dari tempat itu. Setelah menaiki lift darurat mereka akhirnya berhasil keluar dari ruangan itu.

Para penyusup itu kemudian berlari menuju mobil yang ada di depan mereka. Askara ikut dibawa masuk oleh mereka.

"Kalian siapa? Kalian mau apakan aku hah?" Askara mulai curiga dengan gerak-gerik gerombolan penyusup itu.

"Oh, tenang. Kami hanya akan bersenang-senang denganmu sebentar. Kami butuh kau untuk beberapa alasan." Ucap salah satu penyusup yang wajahnya masih tertutup topeng hitam.

"Apa maksudmu? Siapa kalian hah? Lepaskan aku sekarang juga!" Askara mulai memberontak. Ia sudah merasa curiga dari awal melihat kemunculan mereka. Apa jangan-jangan mereka jugalah yang telah menyembunyikan Asiyah istrinya.

"Siapa kalian! Katakan! Dimana kalian menyembunyikan istriku hah!" Ucap Askara dengan marah.

"Ah, akhirnya kau tahu juga siapa kami. Ya, istrimu memang ada bersama kami. Tenang saja. Ia baik-baik saja. Ia aman ditangan kami. Hahaha." Penyusup itu tertawa, diikuti oleh penyusup lainnya.

"Kau sembunyikan istriku dimana hah! Cepat katakan!" Askara memberontak dengan sekuat tenaga tetapi sisa tenanga dan kondisi tubuhnya terlalu lemah.

"Kau sungguh ingin mengetahui kabar istrimu? Baiklah, sebentar ya." Penyusup itu merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah telepon. Ia lalu menyalakan telepon itu.

"Lihatlah baik-baik." Penyusup itu menyodorkan teleponnya ke hadapan Askara.

"Aaaa! Tolong! Siapapun! Kumohon, tong bebaskan aku. Keluarkan aku dari sini. " Terdengar rintihan dan jeritan ketakutan yang tak lain adalah Asiyah dari dalam telepon itu. Mendengar itu Askara langsung bereaksi.

"Kau apakan istriku hah!" Ucap Askara dengan murka.

"Aku hanya sedikit bermain-main dengannya. Tenang saja, tidak sampai melukai kok. Ahaha." Ucap penyusup itu dengan puas.

"Beraninya kau." Askara benar-benar murka. Ia langsung menyikut penyusup itu dengan kencang sehingga matanya lebam.

"Jangan pernah kau sentuh atau celakai istriku sekecil apapun." Gertak Askara.

"Kenapa? Kenapa hah? Apa aku takut dengan ancamanmu? Kau akan apa? Melihat kondisimu yang seperti ini, mana bisa kau melawan kami." Ucap penyusup itu.

"Begini, kau dan istrimu, kami hanya butuh kau sebentar. Dan mungkin kedua orang tuamu. Kita akan bersenang-senang di sana. Setelah itu... Akan jadi kejutan dan tidak akan kuberi tahu sekarang, ahahaha." Penyusup itu tertawa kencang dihadapan Askara.

"Kau." Askara mencoba untuk menyerang orang itu dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Tetapi percuma, orang itu berhasil meringkus Askara duluan.

"Jangan bertindak bodoh dasar gegabah!" Orang itu menyuntikan obat bius ke tangan Askara. Seketika Askara langsung tak sadarkan diri.

Askara lalu dibawa ke sebuah gua. Di situ ia di tempatkan di sebuah kursi yang berhadapan dengan Asiyah. Asiyah sendiri sudah diikat dan mulutnya ditutup oleh lakban hitam. Asiyah berteriak dengan kencang saat melihat Askara yang dibawa dwngan kondisi yang sangat menghawatirkan.

Askara lalu dibangunkan dengan sebuah pukulan keras. Askara sulit untuk terbangun karena rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya. Saat bangun hal yang pertama kali ia lihat adala6wajah istrinya. Reflek Askara hendak bangun dan menghampiri istirnya tetapi tidak bisa. Ia sudah di tali dengan kuat berama kursi itu. Askara juga melihat kedua orang tuanya yang diikatkan tangannya dan dicekal oleh orang-orang misterius itu.

"Selamat datang Askara." Ucap penyusup tadi dengan mengenakan penutup wajah yang berbeda.

"Siapa kau sebenarnya hah? Mengapa kau menahan keluargaku juga? Apa salah mereka?" Ucap Askara.

"Siapa aku? Yakin kau tidak mengenali ku? Baiklah akan ku buka topengku." Orang itu lalu hendak melepas topengnya. Semua orang di sana termasuk Askara kaget saat melihat orang itu hendak membuka topengnya. Mereka bertanya-tanya siapa sebenarnya orang itu yang menjadi dalang dibalik penculikan keluarga Askara. Apakah ia ada kaitannya dengan para mafia?

1
Amin.oy
askia
Amin.oy
p
si cantik
kalu S2 oke lah ya ini s3 wlpn di dunia novel rasanya GK masuk akal ajah gitu
fransisca brahara
terhura
fransisca brahara
jngn bilng ortu nya Sadewa ituh mafia jugak
fransisca brahara
dih
fransisca brahara
sopo
fransisca brahara
owlh
fransisca brahara
hdeh
fransisca brahara
critny bgus sih
ꪶꫝMeitha.V.Aꪶꫝ
Sadewa&Dewangga karna nama depannya sama jd cuma belakangnya yg beda! Ternyata Sadewa masuk dunia mafia karna kembarannya yg kabur jd dia yg kena imbas ya! Coba kalo Asiyah itu selain cantik, sholehah&pintar dibikin agak2 bar-bar&jago beladiri supaya bisa saling melindungi sm Sadewa apalagi untuk menghadapi para mafia juga sodara kembarnya sulit untuk di hadapi sendiri berat bgt thor...
🌷💚SITI.R💚🌷
sdh baca thoor
🌷💚SITI.R💚🌷
alhamdulillah happy ending..rasay rindu bngt ke baitullah..smg di mudahkn...aisyah askara s.g trs bahagia smp kake nenek..sukses trs thoor
🌷💚SITI.R💚🌷
alhamdulillah sekarang aakara bs hidup tenang imi semua jg ata semangaty dr aisyah..lanjuut
dewi susanti
bnran tu udh tamat kak ko bentar amat y msh mau lanjut pdhl aplg skrg udh ad generasi ny
Patimah Atim
lanjut thoor semangat up Nya.
Azizah Ummu Hafsoh
apakah akan tamat🥺
Ilfa Yarni
semoga mrk semua udah bebas dan antek2nya wirga jgc ga ada
dewi susanti
semoga stlh badai berlalu kebahagiaan trus menyelimuti kalian sekeluarga
Titin Itin
lnjuuuut thoooor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!