Kyalowng, nama dunia dari sebuah game petualangan online bernama Deep Dive.
Tak disangka ngototnya seorang pemuda tampan ketika harus mempertahankan gelarnya sebagai pemain terbaik pada game tersebut justru mengundang mala petaka. Tanpa diduga dia masuk ke dalam dunia milik Deep Dive.
Siapa yang membawanya ke sana? Bagaimana mungkin di dunia nyata, seseorang bisa masuk ke dalam dunia game? Tidakkah itu hanya mimpi semata?
Entahlah! Author tidak bisa membuat deskripsi dengan baik. Selanjutnya akan author sertakan nomor bab yang ada gelutnya, menghindari bosan terhadap cerita yang tidak jelas. Mohon dimaklumi. Thanks
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BaDiPra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penukaran Item (revisi)
Langit kemerahan di ufuk timur pertanda matahari belum menampakkan diri. Namun Natura telah bangun dari tidurnya. Dia duduk bersila sambil mengetuk-ngetuk kamar di penginapan sederhana. "Nek, cepat bangun! Aku membutuhkan bantuan dari nenek."
Setelah beberapa saat, nenek Alia membuka pintu dan jongkok di hadapan Natura dengan wajah yang masih terlihat kantuk. Dia lalu menempelkan kertas jelly pada kening Natura sebab dia tahu apa yang ada di pikiran remaja itu. "Kau bisa membeli sabun itu pada penjual item. Tanyakan letak tempat itu kepada karyawan penginapan ini ... Kau selalu saja berisik di waktu seperti ini."
"Baiklah. Nenek harus ingat, kita sebentar lagi menuju tempat ahli buff."
"Ya ya."
Setelah menyantap sarapan, Natura lalu pergi menuju tempat penjual item. Berbekal denah yang diberi oleh karyawan penginapan Natura dapat menemukan tempat itu.
Terlihat pemilik toko item adalah kakek tua. Dia sedang membersihkan debu di atas meja menggunakan pengebut. "Selamat datang, apa yang bisa aku bantu, Tuan Muda?"
Natura lalu mengeluarkan pin yang menunjukkan itu adalah item sempurna tipe serangan sihir. "Apakah aku dapat menjual item itu, Kek?"
Mata kakek itu berbinar-binar melihat pin itu. "Selama persediaan uang pada toko ini masih ada, maka kakek akan membeli item-item semacam ini."
"Aku mau menjualnya."
Kakek itu lalu mengambil karung koin bertuliskan 4,3S dan disodorkan kepada Natura.
"Apakah toko Kakek juga menerima penjualan item dasar dan item lanjutan, Kek?"
"Ya tentu. Walaupun toko ini terlihat kecil, namun banyak pedagang item di pedesaan yang mampir ke sini, karena kakek menyediakan item dasar dan lanjutan juga."
Kakek penjual item itu ternganga ketika melihat Natura mengeluarkan banyak item dasar dan item lanjutan. Dia lalu menggunakan koin pemindai harga untuk memeriksa pin item tersebut yang menumpuk di mejanya.
"Du-dua puluh delapan koin besar? Tuan muda, persediaan uangku tak cukup untuk membayar ini semua," ucap kakek itu seakan tak percaya dengan apa yang dilihat.
"Hah? Mengapa bisa semahal itu?" tanya Natura yang juga terlihat penasaran.
Sang kakek lalu memeriksa item yang mungkin tak biasa. Dia kembali tersenyum bahagia sebab melihat tujuh item yang memiliki warna ungu.
"I-ini, sungguh ini adalah item dasar legendaris. Ini lebih mahal daripada item sempurna ... Ah mengapa sekarang semua koinku sedang tak ada di sini?" ungkap kakek itu dengan perasaan campur aduk tak menentu.
"Item dasar legendaris? Maksud Kakek tujuh pin warna ungu itu adalah item yang tak umum di dapatkan oleh seseorang?" tanya Natura yang semakin penasaran.
"Demikian. Seperti yang kita ketahui jika pin berwarna silver menunjukkan item dasar, warna putih kebiruan menunjukkan item lanjutan, dan item warna hijau toska menunjukkan item sempurna; Sedangkan item berwarna ungu menunjukkan item dasar legendaris, item warna merah maroon menunjukkan item lanjutan legendaris, dan item warna oren yang berdenyut-denyut menunjukkan item sempurna legendaris atau yang terkenal sebagai item legendaris."
"Jadi, apakah itu berarti tak semua orang dapat mempunyai item ungu seperti ini, Kek?"
"Ya, bahkan sekarang tiada satupun penjual item yang dapat menciptakan item dasar legendaris maupun di atasnya."
"Maksud Kakek, apakah penjual item dapat menciptakan item sendiri?" tanya Natura yang semakin penasaran.
"Tentu, tetapi itu hanyalah keahlian khusus bagi sebagian orang berlencana verifikasi, sayangnya aku hanyalah orang biasa yang tak dapat menciptakan item dengan kekuatan sihir. Tidak seperti ka ..." Ucapan kakek itu tak terselesaikan ketika tak sengaja melihat lencana berwarna merah di dada kanan Natura.
"... Ka-kau, tuan muda, siapakah dirimu? Mengapa orang sepertimu ada di tempat kumuh?" tanya kakek itu terbata-bata.
"Mohon jangan berlebihan, aku hanya orang biasa."
"Tak mungkin orang yang memiliki lencana verifikasi warna merah adalah orang biasa. Sungguh si tua ini merasa terhormat dapat dikunjungi oleh tuan muda."
"Jika item ungu seperti ini tak dapat dimiliki setiap orang, maka aku tak jadi menjualnya. Aku pernah protes cara mendapatkan item legendaris yang hanya mengandalkan harta si pemilik." ucap Natura sambil menggruk-garuk keningnya menggunakan telunjuk sebab merasa aneh dengan perlakuan sang kakek yang kini berbeda dari sebelumnya.
"Sungguh tuan muda memiliki cara berpikir yang sama seperti raja Highend Beast."
"Aku baru tahu hal itu. Andai saja item legendaris tak bisa diciptakan dan hanya bisa didapatkan dengan usaha keras seperti membunuh monster atau dragon raksasa. Tentu hal itu tak masalah bagiku, dan aku setuju."
"Sepertinya kakek harus mengoreksi ucapan tuan muda ... Di zaman ini, sudah tiada lagi orang yang dapat menciptakan item legendaris dan turunannya. Bahkan jarang sekali orang yang dapat memakai item tersebut. Orang yang memiliki item jenis legendaris biasanya hanya warisan atau mereka berhasil membunuh monster yang telah berevolusi. Itu pun tak pasti ... Sebagai pengingat saja, item jenis legendaris dilarang digunakan di negara ini oleh raja kita. Beliau mengutuk penggunaan item tersebut entah apa alasannya."
"Jika memang bisa adil seperti itu, maka aku akan menjual item dasar legendaris. Kakek kuat membeli berapa buah?"
"Kakek hanya mampu membeli tiga item dasar legendaris itu; dan semua item dasar dan lanjutan biasa ini."
"Baiklah, maka akan aku simpan empat lainnya." tanggap Natura sambil menyimpan kembali empat item warna ungu.
Enam belas koma enam koin besar didapatkan Natura dari penjualan item-item tersebut. Kebahagiaan terlihat jelas di wajah kakek itu. Mereka lalu menyimpan benda hasil transaksi.
"Apakah tuan muda masih memiliki item lainnya? Koinku di sini masih tersisa 1,3B, kakek siap membelinya lagi."
"Ada." jawab Natura sambil mengeluarkan sekitar enam puluh pin berwarna hijau toska.
Kakek itu tersenyum dengan rasa sedikit menyesal telah membeli item dasar legendaris yang sulit untuk dijual kembali daripada puluhan item sempurna di hadapannya. Beruntungnya kakek itu memiliki persediaan koin yang cukup banyak sehingga tak termakan jebakan Natura.
"Tuan muda, kakek ini tak pernah barang sekali menolak pembelian item dasar dari siapapun. Tuan muda dapat mengandalkan ucapanku."
"Baiklah."
Kakek itu mengeluarkan koin bertuliskan 0,351B untuk membayar item milik Natura.
"Apakah tuan muda memiliki kebutuhan lain di toko ini?"
"Ya, aku ingin membeli 1000 kertas jelly untuk mandi. Selain itu, aku harap Kakek membimbingku untuk membeli perlengkapan bagi seorang petualang."
"Tidakkah tuan muda lebih baik membeli sabun berbentuk koin saja daripada seribu kertas sabun ajaib? Koin itu tak akan pernah habis layaknya kertas sabun walau harganya memang cukup mahal, sekitar 100 koin sedang."
"Baiklah, aku akan membeli koin sabun itu."
Kakek itu lalu mengambil koin sabun dan beberapa barang serta beberapa jenis potion yang mungkin akan dibeli oleh Natura. "Mungkin, ini semua adalah kebutuhan dasar seorang petualang. Apakah tuan muda hendak memberi hadiah kepada petualang lain?"
"Aku yang membutuhkannya."
"Ka-kakek minta maaf atas ucapan itu." tanggap kakek itu yang terlihat gugup. " ... Kalau begitu, mohon tunggu sebentar." pinta kakek itu yang langsung pergi ke belakang mencari sesuatu. Kakek itu kembali lagi sambil membawa kotak berisi kacamata. "Ini adalah kacamata yang dapat melihat harga barang, level seseorang, status karakter seseorang, termasuk waktu rehat skill dan ultimate seseorang. Kacamata ini termasuk item dasar legendaris. Entah mengapa raja tak melarang seseorang menggunakan item perlengkapan jenis ini."
"Berapakah harga kacamata itu, Kek?"
"Karena item ini termasuk item perlengkapan, maka harganya cukup murah, sekitar 0,3B."
"Kalau begitu aku beli tiga." Ucapan Natura di sambut senyum bahagia pria tua itu.
"Lalu bagaimana dengan Handsfree ini?" tanya kakek itu lagi sambil memperlihatkan batu yang seperti handsfree di bumi.
"Handsfree?"
"Ya, Handsfree. Selain memiliki fungsi sebagai pendengar, handsfree ini juga dapat menjadi alat komunikasi layaknya batu telekomunikasi. Tentunya ini lebih berkelas daripada batu telekomunikasi. Harganya 0,1B."
"Baiklah, aku beli tiga."
Selain benda itu, Natura juga membeli 20 potion berwarna putih guna menanggulangi luka dari elemen soul.
Setelah membayar semua barang itu, Natura lalu meminum satu potion berwarna putih, dan luka sayatan kecil di pipinya langsung hilang.
"Terimakasih atas ilmu yang aku dapatkan dari kakek. Aku pamit Kek."
"Terimakasih kembali. Senang berbisnis dengan anda ... Tuan muda, jika berkenan, bolehkah kakek tua ini mengenal nama tuan muda?"
"Namaku Natura, Kek." jawab remaja tampan itu sambil berjalan mundur keluar dari toko item.
Kakek penjual item itu tersenyum bahagia sebab matahari baru muncul namun dia mendapatkan item dasar legendaris yang tak terduga. "Item sihir yang dapat mengeluarkan racun setara 5% kapasitas bar darah lawan setiap satu menit, dan tidak dapat ditepis menggunakan potion penawar racun? Mengesankan ... Sayang aku hanya bisa menjualnya di negara lain."
Ketika Natura berjalan kembali ke penginapannya, tiba-tiba saja suara imut yang tidak asing terdengar di telinganya kembali. "Hai hai, padahal tubuh Natura dapat menyerap semua item di dunia ini, dan dijadikan sebagai peningkat status karakter. Lantas, mengapa Natura tak menggunakannya?"
"Lagi? Sungguh kau bicara seperti itu tepat ketika aku telah menjual banyak item?" tanya Natura sambil memperlihatkan wajah kesalnya.
Suara tawa indah Ortuna terdengar di kepala Natura.
"Oi Ortuna, apatah alasanmu mempermainkanku seperti ini?" tanya Natura.
"Maka amatilah. Jawabannya ada pada dirimu sendiri."
Orang-orang yang melihat Natura berjalan seketika terhenti dan terus menatap Natura. Tentu tak lain karena mereka mendengar nama Ortuna yang tidak asing bagi mereka. "Ortuna? Benarkah dia berbicara dengan peri Ortuna?"
Menyadari orang-orang mendengar ucapannya, Natura lalu menepuk dadanya hingga lencana verifikasi warna merah berada di genggamannya. "Sungguh jika orang-orang sampai melihat lencana berwarna merah, mereka pasti akan membuatku repot." batin Natura.
Setelah menyimpan lencana itu, sekarang lencana verifikasi pada dada kanan Natura kembali berwarna biru.
Dua wajah kesal terlihat ketika Natura melihat bangunan berlantai dua, tempatnya menginap. "Nenek kira kau akan tersesat di kota ini." ucap nenek yang terlihat kesal itu, dia adalah nenek Alia. Enenga juga mengangguk, tanda setuju dengan pemikiran nenek Alia.
"Aku tidak selinglung itu, Nek." tanggap Natura.
"Kalau begitu kita langsung berangkat menuju ahli buff saja."
"Siap Nek."
.
.
Bersambung..........
Dan semoga novel2 tentang olahraga ranjang yg ikut nimbrung di genre ini bisa terpindah semuanya ☺
rya anda bagus👍
trus kata notifikesong nya lumayan mengganggu 🤭
di tambah setiap kata dari karakter MCnya yang pintar main game tapi tolol saat di dalam game gak masuk akal.. 👎