My Careless Wife
Berawal dari perjodohan yang dibuat orang tua Arvin. Mau tidak mau ia harus menikahi wanita yang notabene nya merupakan pelayan cuci piring di restoran miliknya.
Perbedaan usia yang jauh 10 tahun. Arvin 28 tahun, dan Zakiya 18 tahun. Membuat Arvin harus ekstra sabar menghadapi tingkah kekanak-kanakan Zakiya yang selalu membuatnya jengkel, kesal, terkadang menggemaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayy hermione, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : first night failed
Zakiya tersenyum saat melihat moment seperti itu, ia mengambil handphone di saku celana nya dan memfoto arvin dan riski yang sedang tertidur.
Zakiya tersentuh, ini terasa seperti ayah dan anak.
Zakiya tersenyum saat melihat hasil jepretannya, ia mendekatkan wajahnya ke wajah arvin yang tertidur pulas di bangku sofa.
Zakiya mencium pipi kanan arvin dengan penuh kasih sayang, arvin telah bekerja keras hari ini.
*****
Zakiya menggerakan bahu arvin untuk membangunkan nya, suaminya terlihat sangat lelah sekali, tapi meskipun begitu zakiya sangat bangga, karena suaminya benar-benar memenuhi janjinya.
Suaminya ternyata begitu serius untuk membantu nya, menyapu meskipun hasilnya ga ada, menjaga riski meskipun awalnya menolak mentah-mentah.
"Pak arvin bangun" ucap zakiya mengguncangkan badan arvin lembut.
"Hemm" arvin menggeliatkan badannya mendengar suara zakiya.
"Pak arvin" ucap zakiya menepuk kedua pipi arvin.
"Iyaaaa" arvin membuka matanya perlahan dan melihat zakiya yang kini tengah berada dihadapannya, wajah zakiya menunduk dekat dengan wajahnya.
"Kiya bangga sama pak arvin.
Pak arvin udah banyak bekerja keras hari ini, hebat" ucap zakiya tersenyum sambil memegang bahu arvin.
"Kamu cuma kasih pujian aja?" Arvin memutar bola matanya malas, ia sudah berusaha keras tapi hanya mendapatkan pujian, padahal ia ingin hadiah nya yang lain.
Arvin menundukan kepalanya, ia melihat bayi mungil yang sudah terlelap dalam gendongannya.
Arvin tak menyangka ia ternyata bisa menjaga bayi dan membuatnya tertidur nyenyak.
Apakah bakat arvin menjadi seorang ayah telah sempurna?
"Kan memang benar pak arvin hebat"
"Iya saya memang sudah terlahir hebat dari sana nya, jadi jangan puji saya hebat lagi.
Kamu adalah wanita ke-1000 yang memuji saya laki-laki hebat.
Saya gamau pujian itu, ga spesial, ga menarik, udah terlalu biasa, dan gamau gamau gamau. Pokoknya gamau!
Yak! Kamu gamau kasih saya hadiah atau apa gitu? Sebagai apresiasi atas keberanian saya menjaga si mungil ini?
Saya maunya hadiah spesial yang belum pernah kamu kasih ke siapapun " protes arvin.
Melihat arvin yang terus-terusan protes, terlihat seperti mama burung yang sedang memarahi anak-anaknya karena terbang terlalu jauh.
Suaminya itu memang paling lucu kalau udah protes panjang, bawel nya kebangetan, jadi gemas.
"Hahahaha, yaudah hadiahnya apa? terserah pak arvin aja mau apa? Kiya nurut aja"
"Hahaha benar nih? Oke harus ikhlas, ga boleh ada protes, penolakan, dan merasa terpaksa" ucap arvin tersenyum smirk, ia menepuk sofa sebelahnya agar zakiya duduk bersamanya.
Zakiya menuruti perintah arvin dan duduk di sebelahnya.
Arvin mendekati wajah zakiya dan berbisik dengan sangat pelan di telinga kiri nya.
"Saya ingin first night sekarang"
Arvin menjauhkan wajahnya dan melihat wajah zakiya yang sangat merah, arvin yakin zakiya pasti sangat gugup karena permintaannya.
Tapi ya mau gimana lagi, kalau sudah menikah semuanya halal dan bebas melakukan apapun yang di inginkan bersama pasangan masing-masing.
*Pasangan sendiri loh ya, bukan pasangan tetangga apalagi pasangan teman hahaha, nanti yang ada bisa di keroyok massa dan di geret paksa ke tempat pak RT.
Oke arvin serius jangan bercanda, lanjut ke topik.
"Pak arvin serius?" Ucap zakiya terkejut.
"Apa saya terlihat sedang bercanda?"
Zakiya terdiam.
Arvin mengelus rambut zakiya penuh kasih sayang, ia melihat zakiya sepertinya belum siap melakukan itu atau mungkin merasa takut.
"Gapapa, saya ga maksa kalau kamu belum siap"
"Iya" ucap zakiya menganggukan wajahnya sambil menundukan kepalanya malu-malu.
"Iya apa?"
"Iya, kiya siap"
Arvin melihat pipi zakiya yang semakin merah merona, ahh lucu sekali pipi istrinya itu seperti tomat matang.
Arvin mencium pipi kiri zakiya lembut, ia menyayangi istri mungilnya yang ceroboh ini.
Arvin semakin yakin atas keputusannya, ia akan berjuang untuk keluarga kecilnya, ia tak akan memilih vicky kembali.
Sudah saatnya ia menata masa depan panjang.
"Ayo" arvin berdiri dari duduknya dan menggandeng tangan kiri zakiya, ia tersenyum melihat zakiya yang terus menundukan wajahnya.
Arvin menggandeng tangan zakiya dan menuntunnya ke kamar zakiya, ia membuka pintu itu perlahan-lahan dan masuk ke dalamnya, zakiya hanya mengekori langkah arvin dari belakang.
Arvin berhenti di depan ranjang, ia melepas tangan zakiya dari genggamannya.
"Kiya bagaimana cara membuka gendongannya?"
"Biar kiya aja yang buka pak arvin"
Zakiya membantu arvin untuk melepaskan gendongan riski, setelah terlepas ia pun menarik riski yang tertidur di dada arvin perlahan-lahan agar tak terbangun.
Arvin meletakkan gendongan kosong itu diatas ranjang, ia melihat zakiya yang meletakkan badan mungil riski perlahan-lahan ke tempat tidur.
Zakiya mencium pipi gembul riski dan tersenyum lebar, ia sayang pada riski tapi ia juga belum siap seandainya orang tua riski memintanya kembali.
Arvin menggenggam tangan zakiya, ia melihat zakiya dengan penuh cinta.
"Mari kita lakukan" ucap arvin dengan sungguh-sungguh.
*****
Arvin membuka pintu kamar nya sambil menggendong zakiya bridal style, sebelah kakinya mendorong pintu hingga tertutup.
Arvin berjalan menuju ranjang besar nya yang bewarna biru.
Setelah berada di depan ranjang, arvin menurunkan tubuh zakiya perlahan-lahan.
Arvin menatap wajah zakiya yang sangat merah sekarang, arvin mengelus pipi zakiya yang merah itu dengan jempolnya.
Pipi zakiya terasa panas.
Ia juga mengusap kelopak mata zakiya yang tertutup, zakiya bahkan tak berani membuka matanya saking gugupnya.
"Kiya kamu yakin? Saya tanya sekali lagi" ucap arvin memastikan.
Zakiya hanya menganggukan kepalanya tanpa berani membuka matanya.
"Buka mata kamu, tatap mata saya"
Zakiya yang awalnya ragu-ragu, memberanikan diri untuk membuka matanya perlahan-lahan, ia melihat arvin yang kini menatap matanya dalam.
Zakiya melihat bola mata arvin yang berwarna coklat indah, zakiya mengingat kembali kenangan indah tentang suaminya
Suaminya yang pada awalnya adalah seorang bos yang perfect, sombong, sangat menyebalkan, suka mencaci maki, ucapan nya yang tajam dan sarkas dan suka sekali membuatnya kesal, tidak menyangka bahwa kini bos nya itu telah menjadi miliknya.
Arvin merangkak naik ke atas zakiya, ia **** badan mungil zakiya yang berada di bawahnya, ia menopang badannya dengan bertumpu pada lengannya yang berotot.
Arvin membuka kaus oblongnya nya, menampilkan roti sobek arvin yang sangat menggiurkan, bahu arvin yang lebar serta dada nya yang bidang.
Arvin hanya menyisakan celana levisnya di luar.
Arvin melempar kausnya ke segala arah, dan menurunkan badannya perlahan-lahan menghimpit zakiya.
Ia mengecup kening zakiya lama untuk memberikan ketenangan pada zakiya.
"Maaf, pertamanya memang sakit, tapi saya akan melakukannya pelan, saya berusaha tidak akan menyakiti kamu"
Kecupan arvin turun ke hidung mancung zakiya, lalu turun ke kedua pipi zakiya yang sangat merah, dan terakhir bibir ranum zakiya.
Arvin menempelkannya dengan lembut dan menggerakannya perlahan-lahan.
Ia berusaha mencium selembut mungkin agar zakiya menikmatinya tanpa kesakitan ataupun terpaksa.
Tangan zakiya kini merangkak naik dan mengalungkan lengannya di leher arvin.
"BABY ARVIIIN, KIYA SWEETIE, YUHUUUUUU PRINCESS MASA DEPAN DATANG"
JEGERRRRRR
Arvin melepaskan ciumannya dan menjauhkan tubuhnya dari zakiya karena kaget.
Suara melengking itu, siapa lagi yang punya selain mamanya.
Mamanya sangat mengganggu suasana indah arvin, memaksa minta cucu 10, tapi baru mau di buat 1 sudah diganggu dengan teriakan cemprengnya.
Arvin bangun dari tubuh zakiya dan duduk di tepi ranjang, ia memijat keningnya yang pusing karena gagal.
"Aaaa mama ganggu suasana aja"
Zakiya juga bangun dari ranjangnya, ia duduk disebelah arvin dan merapihkan pakaian dan rambutnya yang sempat berantakan.
Arvin mengambil kaos nya yang tergeletak dibawah lantai, zakiya memandang arvin kagum atas keindahan perut kotak-kotak arvin.
Sebelumnya, zakiya sama sekali tidak tahu bagaimana tubuh arvin tanpa mengenakan baju.
Dan ini pertama kalinya zakiya melihat secara langsung, ternyata badan suaminya sangat bagus.
Perut suaminya yang sixpack, dan juga dada bidangnya, bahu lebar suaminya sepanjang 60 cm memberi daya tarik tersendiri, sehingga tubuh arvin terlihat tegap.
"BABYYYYY, SWEETIE, ADUH DUA MAKHLUK LANGKA INI KEMANA YA, APARTEMEN NYA ADA, TAPI WUJUD MANUSIA NYA GA ADA" melati terus memanggil zakiya dan arvin sambil berjalan-jalan, ia mencarinya sampai ke sela-sela sudut, yang paling anehnya lagi ia mencari zakiya dan arvin di tong sampah.
"Ya ampun, kalian ini udah di cari di tong sampah tetep ga ada juga" protes melati.
"Sebenarnya kalian ini dima.... na" ucapan melati terhenti saat melihat dua orang yang ia cari sedang duduk di kamar arvin.
Melati berdiri di depan pintu kamar, ia tersenyum manis menatap dua pengantin itu.
Ah entah kapan mereka akan memberikannya cucu idaman.
"Oh ya ampun, mama udah capek loh teriak-teriak, gataunya kalian disini hihihi"
Arvin dan zakiya menengok ke sumber suara, mereka melihat melati yang sedang berdiri di depan pintu dengan muka mupeng.
Arvin mendengus kesal melihat mamanya yang mengganggu suasana pentingnya.
Apalagi kejutan yang akan dibuat mamanya sekarang?
"Hahaha, kalian pasti lagi buat rencana kasih mama cucu ya?" Goda melati.
"Ga jadi gagal" ucap arvin singkat, hampir aja lampu ijo tadi.
Jika di ibaratkan rasanya seperti sedang mengendarai mobil saat lampu ijo, tapi tiba-tiba aja baru beberapa detik lampunya berubah jadi merah, otomatis kita harus mengerem mendadak.
Nah itulah yang dirasakan arvin saat ini.
*****
Arvin dan zakiya duduk di sofa panjang, mereka duduk bersebelahan, sedangkan mamanya duduk di sofa yangg bersebrangan.
"Tumben mama kesini? Jangan-jangan mau bikin hal aneh lagi"
Zakiya menyiku lengan arvin, seharusnya arvin tidak boleh mengatakan itu pada mamanya.
"Kenapa? Emang benerkan omongan saya?" Protes arvin pada zakiya.
"Seharusnya pak arvin jangan ngomong gitu"
"Hahahh" melati tertawa ngakak melihat mereka berdua, ia menepuk kedua tangannya gembira.
"Pasti kalian masih kesal ya, gara-gara kado itu, HAHAHAHA"
"Tuh tau" arvin memutar bola matanya kesal, peka juga mamanya terhadap kode nya.
Semoga mamanya cepat sehat dari ide absurd nya itu.
"HAHAHAHA" melati tertawa lagi, tapi sedetik kemudian wajahnya berubah jadi datar dan serius.
"Oke, ehem ehem ehem" melati berdeham untuk mengecek suaranya.
"Oke jadi gini, maksud dan tujuan mama kesini adalah ingin memberi info penting bahwa papanya riski telah berada di indonesia"
"APAAA" ucap arvin dan zakiya kaget. Bukankah harusnya sebulan? Ini saja belum sampai dua minggu, baru seminggu lebih mereka menghabiskan waktu bersama riski.
"Kenapa kalian kaget seperti itu? Hemmh tadinya mama ingin sekali kalian merawat riski selama sebulan.
Tapi tiba-tiba aja papanya riski pulang mendadak, jadi mama tidak bisa menitipkan riski lebih lama.
Mama sudah bilang pada papanya riski untuk menemui kalian, tapi dia bilang besok dia akan menemui kalian di restoran "
Arvin menghela nafasnya kasar, kenapa ia menjadi merasa sedih? Harusnya kan ia senang karena tidak ada lagi pengganggu yang merusak waktunya dengan istrinya.
Tidak ada lagi bayi yang mengambil perhatian zakiya dari nya, karena jika bayi itu tidak ada 100% perhatian zakiya sepenuhnya untuk arvin.
Tapi kenapa arvin merasa hampa?
Arvin melirik zakiya yang hanya menunduk, ia memperhatikan raut wajah zakiya yang sepertinya terlihat sedih.
Arvin yakin pasti zakiya sedih karena kehilangan riski.
Arvin berusaha untuk menenangkan zakiya, ia merangkul bahu zakiya dan menyenderkan kepala zakiya di lehernya.
Ia tak ingin melihat zakiya bersedih seperti itu, itu membuat hatinya sakit.
"Mama harap kalian sudah mengambil pelajaran dari semua ini.
Ilmu yang kalian dapat saat menjaga riski itu yang akan kalian pakai saat punya anak nanti "
*****
Arvin menghampiri zakiya yang sedang duduk di atas ranjang.
Ia melihat istrinya sedang menatap riski sedih sambil mengelus rambut hitam tebal riski.
Mamanya sudah pulang dari 15 menit yang lalu, sebelumnya arvin menyuruh zakiya untuk pergi ke kamar dulu biar ia dan mamanya yang saling bicara.
Arvin mencium rambut wangi zakiya dari belakang, perlahan-lahan bibirnya maju ke depan dan mencium pipi zakiya berulang kali.
Ia melihat bibir zakiya yang cemberut karena sedih.
"Jangan sedih, kita juga bisa buat bayi kayak riski, lebih ganteng dari riski kita bikinnya.
Kamu mau berapa? 10 ? 11 ? Selusin? Sekodi? Atau 1000?" Goda arvin.
"Pak arviiiinn" zakiya memukul bahu arvin, membuat arvin terkekeh.
"Kiya sayang riski" ucap zakiya jujur dari dalam hatinya.
Air mata zakiya menetes, pertama kalinya ia menangis untuk riski.
Ia tidak ingin kehilangan riski sekarang.
"Dasar cengeng" arvin meraih badan zakiya dan memeluknya, ia mendekap kepala zakiya di dada nya dan membiarkan kaos nya basah karena air mata zakiya.
"Hiks hiks hiks, kiya gamau riski pergi sekarang"
Arvin mengusap rambut zakiya lembut, ia jadi bingung bagaimana cara nya agar zakiya berhenti menangis.
Istri imutnya ini kalau menangis semakin terlihat seperti anak-anak.
Zakiya melepaskan pelukan arvin dan menatap arvin dengan wajahnya yang sudah memerah.
Zakiya mengelap air matanya yang berjatuhan dengan punggung tangannya.
"Kiya harus gimana biar riski ga pergi? Hiks hiks" zakiya mengusap air matanya lagi.
"Kamu bisa ga berhenti nangis kayak gitu?"
"Emangnya kenapa?"
"Kamu kalau kayak gitu semakin terlihat seperti anak umur 5 tahun yang ga di beliin mainan"
"pak arviiiiiiiiiiin" zakiya memukul tubuh arvin sebal, ia terus memukul tubuh arvin tanpa ampun.
"Aww awww, saya itu jujur bilangnya"
Zakiya memukulnya bertubi-tubi, arvin selalu saja menggodanya.
"Kiya tuh udah gede pak arvin"
"Tapi kamu keliatan menggemaskan kalau nangis kayak gitu, sangat cute"
Zakiya tiba-tiba memberhentikan pukulannya dan menatap arvin dengan mata puppy eyes.
"Iyakah?" Zakiya merasa senang saat di puji oleh suaminya seperti itu.
"Iya"
"Aaaa makasih" zakiya memeluk arvin senang.
"Peluk pas ada maunya, istri kayak gini bagusnya diapain ya?" Ucap arvin langsung menatap zakiya dengan senyuman jahilnya.
"Diapain?"
"Di.... kelitikin" arvin pun mengelitiki zakiya tanpa ampun.
"HAHAHAHA, AH UDAH PAK ARVIN AH GELI HAHHAHAA"
"HAHAHA emang enak ha, rasain rasain"
"HAHAHAHA PAK ARVIN GELIIII, UDAH"