Beberapa bab akan mengandung konflik keras. Tidak diperkenankan berkomentar buruk dan sok tau sebelum membaca sampai bab terakhir. Yang tidak kuat harap SKIP.
Bukan aku tidak mencintai gadis impianku, Bukan tidak menyayangimu. Aku menjaga dirimu dan kehormatanmu. Memilihku adalah pilihan berat untukmu, Jika kamu sabar..tunggulah aku. Kulindungi wanita pilihanku, Karena aku mencintaimu selalu walau Nyawa ada di ujung peluru.
Aku Ardian Putranto, Lettu Ardi.. memilihmu dalam hatiku Adinda ku...
Bersama kisah Lettu Rama Satria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Berkorban
"Nggak apa-apa Rama. Dia baik-baik saja. Mama sudah periksa keadaannya. Dia lagi hamil" kata ibu Sany. Seorang bidan yang juga ibu dari Lettu Rama Satria. Pria yang menabrak Adinda tadi.
"Tekanan darahnya sangat rendah, matanya cekung. Apa mungkin dia lari dari kejaran suaminya? Atau mungkin mengalami KDRT??" ibu Rama menerka.
"Cckk.. Ada-ada saja ulah pejantan jaman sekarang. Pria macam apa yang tega menyakiti hati wanita" keluh Rama.
"Andai mama sudah punya menantu. Pasti sekarang mama sudah punya cucu" kata Bu Sany.
"Ya Allah ma, sabar. Rama bukan nya nggak berusaha. Tapi jodohnya belum Allah kirim buat Rama"
"Umurmu sudah 26 tahun lho Ram!" kata mama Sany.
"Lebih baik Rama menikah tua daripada salah pilih jodoh ma. Menikah hanya sekali seumur hidup saja" jelas Rama.
***
Ardi frustasi menelusuri sekitar tempatnya hingga sampai ke kota. Badannya yang tadi basah terkena air hujan kini sudah kering di badan.
Ponselnya dari tadi berdering, tapi hanya ada nama Vania disana. Tiga puluh panggilan tak terjawab, tidak menyurutkan wanita itu untuk terus menghubungi Ardi.
Ada pesan masuk disana.
Vania : Mas ibu demam. Segera pulang! Vania tunggu!!
"Aarrgghh.. cara lama. Dulu juga seperti ini ibu memperlakukan Safira" Teriaknya marah sambil memukul kemudi mobil dengan kencang.
"Tapi sekarang berbeda, Adinda mengandung anak ku Ya Allah.. Apa dia baik-baik saja? Apa Dinda sudah makan? Apa Dinda kedinginan? Apa Dinda ketakutan?" gumamnya dalam kecemasan yang dalam.
***
"Abang..." Adinda mengigau dalam tidurnya. Air mata menetes di pelupuk mata.
"Ini gimana ma? Dia demam. Nggak ada identitas atau petunjuk apapun yang dia bawa" kata Rama.
"Mama sudah kasih obat. Mama khan sudah bilang dia ini seperti tertekan. Mungkin keluarganya memperlakukan dia dengan buruk" kata Bu Sany.
"Ini pelajaran buat kamu. Kalau kamu harus memperlakukan istrimu dengan baik" kata Pak Dedy papanya Rama.
"Iyalah pa, Insya Allah Rama menjaga istri baik-baik"
-_-_-_-_-
Bu Sany tak tega melihat wanita yang di tabrak anaknya itu menangis di dalam kamar. Bu Sany memindahkan Adinda di kamar milik Rama.
"Siapa namamu cah ayu? Kalau boleh tau, ada masalah apa nak?" tanya Bu Sany mengusap punggung Adinda.
"Nama saya Adinda Bu. Dinda sengaja kabur dari rumah" jawab Adinda.
"Kenapa? Disini saya bidan. Saya harus melaporkan kalau ada tindak kekerasan dalam rumah tanggamu"
"Dinda tidak ingin ibu mertua Dinda bertengkar dengan Bang Ardi hanya karena Dinda" kata Adinda.
"Apa suamimu kasar padamu?" tanya Rama yang sedari tadi menguping pembicaraan mamanya dan Adinda. Ia tidak tahan jika ada wanita di perlakukan dengan tidak baik.
"Nggak! Bang Ardi sangat baik dan sangat mencintai Dinda. Dinda menyayangi ibu mertua seperti ibu Dinda sendiri. Hanya saja.. Dinda takut karena ibu ingin menggugurkan anak Dinda.. Dan Dinda takut suatu saat Bang Ardi berubah pikiran dan tidak menginginkan anak ini.
"Kamu tinggal dimana dek? Abang akan cari informasi" tanya Rama yang merasa Adinda jauh lebih muda darinya.
"Tenang saja. Bang Rama bisa melindungi kamu. Dia tentara" kata Bu Sany.
"Jangan bang. Suami Dinda juga tentara" cegah Dinda.
"Kamu istri Ardian Putranto??" tanya Rama.
"Iya bang. Abang kenal??"
"Kenal. Karena di desa sebelah yang jadi tentara hanya dua. Yang namanya Ardi hanya satu. Kalau di desa ini hanya Abang sendiri" jelas Rama.
"Baiklah kalian ngobrol saja dulu. Mama mau antar pasien yang mau operasi ke rumah sakit sama papa"
-_-_-_-
Rama bingung harus berbuat apa melihat Adinda yang terus saja muntah. Bukan tak tau obat apa yang harus di minum Adinda. Tapi ia bingung jika harus menyentuh Adinda. Terlebih itu adalah istri Lettu Ardi.. Littingnya.
"Maaf ya, Abang nggak bermaksud apa-apa. Abang hanya berniat membantu mu saja" Kata Rama sambil memijat tengkuk Adinda.
Adinda memuntahkan segala isi perutnya yang tidak sempat terisi apa-apa dari pagi. Hanya cairan pahit kekuningan yang keluar dari kerongkongan. Adinda tidak kuat lagi, saat berbalik.. Dinda pingsan menubruk Rama.
"Ya Allah dek.. Kamu lemah sekali" Rama menggendong Adinda sampai kamarnya.
"Dinda..bangun dek.. Lihat Abang!!!" Rama menepuk pipi Adinda. Adinda setengah sadar, ia sedikit menghindari sentuhan Rama karena tubuhnya sangat lemah.
"Percayalah.. Abang tidak akan macam-macam"
"Kamu belum makan ya?" tanya Rama lembut.
"Dinda nggak lapar bang!" ucapnya menangis dan terisak mengingat suaminya.
"Kamu harus makan. Kasihan anakmu!" bujuk Rama.
"Kamu mau makan apa? Biar Abang carikan"
Adinda masih belum menjawab. Pastinya ada rasa sungkan dalam hatinya. Ia di perlakukan baik oleh orang yang bahkan baru bertatap muka dengannya hari ini.
"Suka nasi goreng?" tanya Rama.
"Apa saja bang" jawab Dinda.
Rama menyeberang ke depan jalan. Karena rumah orang tuanya di dekat pinggir jalan raya. Banyak pedagang berjualan disana. Terlebih mamanya adalah seorang bidan. Rama memesan nasi goreng untuk Adinda di rumahnya.
Tak lama Rama melihat mobil Ardi melintas pelan. Wajah Ardi begitu murung penuh beban pikiran. Ardi membeli sebotol air minum lalu menegaknya sampai habis. Ardi bersandar pada jok mobilnya, nampak sekali kelelahan dalam wajahnya. Setelah menerima nasi goreng pesanannya. Rama menghampiri Ardi.
"Ardi..!!" Sapa Rama.
"Eehh.. Rama. Kamu lagi disini juga?" Ardi memaksakan senyumnya.
"Iya, kemarin ada tugas di kota sebelah.. jadi sekalian pulang" jawab Rama.
"Eehhmm.. Ardi.. ada yang mau aku bicarakan"
"Maaf Ram.. Aku harus mencari istriku. Aku sedang ada masalah dengannya" tolak Ardi.
"Sebentar saja Ar.. ini tentang.........."
"Maaf Ram..lain kali saja..Aku benar-benar sibuk" Ardi tancap gas. Rama tau pikiran Ardi sedang kacau saat ini. Tapi ia sangat menyayangkan karena informasi yang akan ia berikan adalah tentang istrinya.
"Istrimu disini Ardi.. bersamaku" gumam Rama.
-_-_-_-
Ardi masuk ke dalam rumah. Langkahnya gontai. Ardi membuka kamarnya ibunya. Ada Vania yang asyik bercanda ria dengan ibunya. Bapaknya sehari hari tidak begitu banyak terlihat di rumah.
"Pulang kamu Vania!!" perintah Ardi.
"Sini duduk sama ibu nak. Untuk apa kamu sibuk mencari janda genit itu"
"Janda itu punya nama bu. Dia Adinda.. istri Ardi" Ardi sampai menggebrak pintu kamar ibunya saking kesalnya.
"Apakah ini yang ibu inginkan??? Ardi nggak tau Adinda pergi kemana. Dia sedang membawa nyawa kecil di tubuhnya Bu. Jantung kecil itu berdetak. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Dinda dan anak Ardi. Seumur hidup.. Ardi akan membenci ibu" ucapnya dengan mata berkilat memerah penuh amarah. Ardi memilih keluar dari rumah ibunya dan pergi ke rumah kakek dan nenek.
-_-_-_-_-
Adinda makan lama sekali. Dia teringat biasanya Ardi akan menyuapinya dengan telaten.
Rama sangat tidak tega melihat keadaan Adinda. Ia ingin menghubungi Ardi, tapi ia tidak punya nomer Ardi karena ponselnya juga baru di reset ulang.
"Maaf kalau Abang lancang. Abang tau Abang salah. Bolehkah Abang menyuapimu?"
.
.
kalau ibu yg seperti ini, hanya ada neraka bagi kehidupan anaknya... 😡