NovelToon NovelToon
Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Chicklit / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19: Gadis yang Hilang

Ia membangun benteng untuk bertahan hidup.

Rayhan masih berlutut ketika fajar menyentuh kaca kamar Keira.

Kakinya mati rasa. Punggungnya basah oleh keringat dingin. 023 membuat seluruh tubuhnya terasa seperti dipenuhi pasir basah, berat dan sulit digerakkan. Namun ia tidak jatuh. Tidak setelah Keira melemparkan bantal kecil itu dengan alasan lantai tidak boleh lecet.

Keira akhirnya bangun pukul lima lewat.

Ia duduk di tepi ranjang, menatap Rayhan yang masih berlutut. Wajah pria itu lebih pucat daripada semalam, tetapi matanya tetap sadar.

"Masih hidup?" tanya Keira.

"Masih, Bu Keira."

"Bagus. Kau masih harus membuat sarapan."

Rayhan menunduk. "Baik."

Keira berjalan ke kamar mandi tanpa membantu. Baru ketika pintu tertutup, Rayhan perlahan meletakkan satu tangan ke lantai untuk berdiri. Lututnya seperti bukan miliknya sendiri. Ia hampir jatuh, tetapi menahan tubuh di sisi ranjang.

Di meja kecil, pisau buah semalam masih tergeletak.

Ia menatap benda itu lama.

Kebodohan punya bentuk yang sederhana. Kadang hanya sebilah pisau kecil di kamar perempuan yang sudah terlalu sering disakiti.

Pukul sembilan, setelah sarapan selesai dan semua pisau dapur dihitung di depan pengawas Liem, ponsel rahasia Rayhan bergetar.

Sinar.

Rayhan menerima panggilan itu di ruang cuci, satu-satunya tempat ia bisa bicara tanpa terlihat seperti sedang mengkhianati tugas.

"Tuan," suara Sinar terdengar rendah, "data keluarga Liem sudah saya dapat sebagian."

"Katakan."

"Hendrik Liem memiliki empat anak yang tercatat publik. Darren, Morgan, Kevin, dan seorang putri bungsu yang diumumkan meninggal sekitar tiga belas tahun lalu. Nama publiknya tidak pernah disebarkan penuh. Namun dokumen internal lama menyebut inisial K.L."

Rayhan memejamkan mata.

K.L.

Keira Liem.

"Penyebab meninggal?"

"Tidak ada jasad. Hanya pernyataan keluarga setelah insiden kecelakaan dan hilangnya anak tersebut. Ada rumor ia jatuh ke sungai setelah diserang, lalu dinyatakan meninggal demi menutup pencarian publik."

Jari Rayhan mencengkeram sisi mesin cuci.

"Usianya?"

"Cocok dengan Keira."

Sinar berhenti sebentar, lalu melanjutkan, "Ada satu lagi. Dua belas tahun lalu, pada malam kecelakaan mobil yang melibatkan Tuan, kamera lalu lintas rusak. Tapi ada laporan paramedis tentang seorang gadis remaja dengan luka di lengan yang menolak diperiksa karena terus mencari anak laki-laki yang ia tarik dari mobil."

Napas Rayhan tertahan.

Luka di lengan.

Dalam ingatan kaburnya, ada tangan kecil yang berdarah, menampar pipinya agar ia tetap sadar.

Jangan tidur. Kalau kau tidur, kau mati.

Suara itu tidak pernah benar-benar hilang.

Selama bertahun-tahun, ia mengira suara itu milik Anya karena Anya pernah mengulang kalimat yang mirip. Sekarang ia baru sadar, Anya bisa mendengar cerita itu dari siapa saja. Yang tidak bisa ia tiru adalah rasa takut di baliknya.

"Kirim semua," kata Rayhan.

"Baik, Tuan."

Panggilan berakhir.

Rayhan berdiri di ruang cuci dengan tangan bergetar. Di luar, suara Keira terdengar memberi instruksi kepada staf legal lewat telepon. Tenang. Dingin. Hidup.

Gadis yang menyelamatkannya dulu hidup di rumahnya selama tiga tahun.

Ia menyuruh gadis itu makan sendirian. Membiarkannya dihina. Menuduhnya murahan. Memanggil nama perempuan lain saat menyentuhnya.

Perut Rayhan seperti dipukul.

Ia berbalik dan hampir menabrak keranjang pakaian.

Keira berdiri di pintu ruang cuci.

"Kau lama sekali mencuci dua kemeja."

Rayhan menatapnya.

Untuk sesaat, semua kata hilang.

Keira menyipit. "Kenapa melihatku seperti itu?"

"Tidak apa-apa."

"Bohong."

Rayhan menunduk. "Maaf, Bu Keira. Saya akan lanjut."

Keira melihat ponsel di tangannya. "Panggilan dari siapa?"

"Sinar."

"Anak buahmu?"

"Iya."

"Masih menyelidikiku?"

Pertanyaan itu tenang, tetapi udara langsung berubah.

Rayhan tidak ingin berbohong. Tidak lagi.

"Iya."

Keira tertawa pendek. "Setelah membawa pisau ke kamarku, kau masih merasa berhak?"

"Aku sudah menemukan jawabannya."

"Lalu?"

Rayhan mengangkat mata. "Kau Keira Liem."

Tidak ada suara mesin. Tidak ada suara laut. Bahkan napas Rayhan sendiri terasa terlalu keras.

Keira diam.

Diamnya bukan pengakuan biasa. Itu diam seseorang yang pintu rahasianya disentuh tanpa izin.

"Dan kau gadis yang menyelamatkanku dua belas tahun lalu," lanjut Rayhan pelan.

Wajah Keira tidak berubah, tetapi tangannya yang memegang tablet mengencang.

"Jangan memakai masa laluku untuk membersihkan dosamu," katanya.

Rayhan seperti ditampar.

"Aku tidak..."

"Kau pikir setelah tahu aku pernah menyelamatkanmu, semua yang kau lakukan menjadi lebih tragis? Lebih mudah dimaafkan?" Keira melangkah masuk. "Tidak, Rayhan. Fakta itu hanya membuat semuanya lebih menjijikkan."

Rayhan menerima setiap kata tanpa membela diri.

Karena Keira benar.

"Aku tahu."

"Kau tidak tahu." Mata Keira akhirnya memerah sedikit, tetapi suaranya tetap stabil. "Malam itu aku menarik seorang anak laki-laki dari mobil yang terbakar. Aku tidak tahu namanya. Aku hanya tahu dia tidak boleh mati. Bertahun-tahun kemudian, anak laki-laki itu menjadi suamiku, dan ia membiarkanku hidup seperti pelayan di rumahnya sendiri."

Rayhan menunduk.

"Keira..."

"Bu Keira."

Ia memejamkan mata. "Bu Keira."

Keira menatapnya lama, lalu berkata, "Mulai hari ini, kau berhenti menyelidiki masa laluku tanpa izin."

"Baik."

"Semua data yang sudah kau dapat, serahkan kepadaku."

"Baik."

"Dan jangan pernah menyebut gadis dua belas tahun lalu di depanku lagi seolah itu milikmu."

Rayhan mengangguk.

Keira berbalik hendak pergi.

Namun di ambang pintu, ia berhenti.

"Anya pernah mengaku sebagai gadis itu?"

Rayhan menjawab sangat pelan, "Iya."

Keira tertawa sekali, pahit. "Tentu saja."

Ia berjalan keluar.

Rayhan tetap berdiri di ruang cuci, tangan kosong, dada kosong, semuanya kosong.

Di ponselnya, dokumen dari Sinar masuk satu per satu. Foto laporan paramedis. Catatan keluarga Liem. Potongan berita lama tentang putri bungsu yang meninggal tanpa jasad.

Sesuai perintah Keira, ia mencetak semuanya.

Sore itu, Rayhan meletakkan amplop cokelat di meja kerja Keira tanpa satu kata pun. Keira membuka halaman pertama, melihat inisial K.L., lalu menutupnya kembali.

"Hanya aku, kau, dan Sinar yang tahu sejauh ini?" tanyanya.

"Iya."

"Pastikan tetap begitu."

"Baik, Bu Keira."

Keira memasukkan amplop itu ke laci paling bawah dan menguncinya. Kunci kecil itu ia genggam beberapa detik, seolah yang terkunci bukan hanya kertas, tetapi juga seorang gadis lima belas tahun yang pernah hilang dan dipaksa hidup dengan nama lain.

Rayhan berdiri di depan meja, tetap diam cukup lama, tidak berani meminta tempat dalam ingatan itu.

Rayhan membuka foto buram dari malam kecelakaan.

Di sudut gambar, ada seorang gadis remaja berdiri membelakangi kamera, lengan kirinya diperban kasar, rambutnya basah oleh hujan.

Wajahnya tidak terlihat.

Namun Rayhan tahu.

Ia baru saja menemukan orang yang selama ini ia cari.

Dan ia sudah kehilangan hak untuk memanggilnya penyelamat.

1
Diah Susanti
ini salah satu keahlian orang Indonesia, bisa mengetahui kehadiran seseorang yang dikenal dari suara kendaraannya. bahkan dari langkah kaki juga batuk/dehemannya😄😄😄
Tri Septi
pembalasan ya.....maaf aku kurang sreg😔🙏
Tri Septi
ayo nyalakan apinya 🔥🔥🔥🔥🔥 semangat 💪💪💪
Tri Septi
satu per satu kesalahan harus dipertanggung jawabkan 😇
Tri Septi
semoga keira selamat😯
Tri Septi
sudah terlambat ray🔥🔥🔥
Tri Septi
wah, keira 👍 lanjutkan Thor, makasih 🙏🙏
Tri Septi
taktik Rayhan setelah tahu keira siapa .... telat bro! 🔥
Tri Septi
ini baru permulaan 😆😆😆
Tri Septi
ternyata jago beladiri😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....orang kaya mah bebas ya, lanjut thor👍
Tri Septi
en in en......gimana kelanjutannya, tunggu episode berikut....😁🤣🤣🤣
Tri Septi
ayo mulai babak baru 👍😍
Tri Septi
lanjut Thor 👍 suka' 😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....teh hijau sudah muncul🤔
Tri Septi
selamat datang kembali menuju kehidupan baru keira 😍😍😍
Tri Septi
aku mampir thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!